Cinta Zainab

Cinta Zainab
Sofia dan Dimas


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Sofia, Zainab memenuhi janjinya yaitu membantunya untuk menanyakan perihal Dimas. Mau atau tidak menjalani ta'aruf dengan Sofia. Sebenarnya, Zainab merasa kebingungan, dia harus meminta tolong kepada siapa, akhirnya dia memutuskan untuk meminta tolong kepada Pak Agus, Kepala Sekolah.


Sofia terlihat begitu sumringah, mendengar kabar dari Zainab jika malam nanti dia akan bertemu dengan Dimas di kediaman Pak Agus. Tentu saja Zainab pun ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu.


Sofia duduk bertopang dagu, merasakan jantungnya berdenyut cepat, dia tidak fokus saat di dalam kelas. Pikirannya terbagi, antara mengajar dan bagaimana malam nanti. Apakah Dimas akan menerima ta'aruf dengan dirinya. Dia cemas jika Dimas akan menolaknya mentah-mentah.


"Bu, soal nomor 5 saya enggak bisa." Kata anak perempaun yang duduk paling depan. Namun Sofia tidak menjawab, pikirannya masih melayang entan kemana. Hanya raganya saja yang masih ada di situ. Anak itu mengeraskan suara agar Sofia dapat mendengarnya, dia mengulangi peetanyaan yang sama. Namun nihil tanpa respon. Anak itu beradu pandang dengan teman yang duduk di sampinya. Dia menganggkat bahu.


Anak itu berjalan ke depan dengan membawa bukunya. "Bu, dari tadi saya memanggil tapi Ibu gak dengar.


Sofia terperajat, seperti sukmanya telah kembali ke tubuhnya. "Maafkan Ibu, kamu ngapain di sini?." Dia malah bertanya.


Anak itu mengerutkan dahinya, merasakan ada hal aneh terjadi kepada gurunya itu. "Apa mungkin Bu Sofia kesambet?." Gumamnya dalam hati. "Ini lho Bu, saya gak bisa soal nomor 5." Anak itu menyandarkan tubuhnya di meja.


Sofia menarik buku lembar kerja siswa, dia membaca soal itu dengan seksama. Kemudian dia meminta anak itu untuk kembali ke tempat duduknya. Sofia memberi peringatan agar semua muridnya diam dan coba memperhatikan soal yang akan dia bahas di papan tulis. Namun bel pulang mendahuluinya, sebelum dia berbicara mengenai pembahasan soal tersebut.


Anak-anak gembira bukan main, bagi mereka ini adalah sebuah penyelamatan daripada harus mendengarkan seorang guru.


***


Sofia menjatuhkan diri di kursi Zainab. Zainab yang tengah sibuk merapihkan buku di rak, merasa kaget dan segera menoleh ke arah meja kerjanya.


"Kau tahu, hari ini aku tidak fokus mengajar anak-anak." Sofia membenamkan wajahnya dikedua tangan yang dia lipat di meja.


"Kenapa begitu?." Zainab menanggapi tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Entahlah, apa aku terlalu gugup untuk bertemu Dimas malam nanti." Keluhnya seraya mengangkat kepalanya.


"Tenangkan dirimu, jika sekarang saja sudah gugup lalu bagaimana dengan nanti malam." Zainab menangkap rasa kegelisahan dalam diri Sofia. "Berdo'alah, semoga Allah melancarkan semuanya. Aku yakin Dimas pasti mau."


"Kenapa kau yakin sekali?."


"Kalau begitu aku tidak yakin dia akan menerima mu." Zainab merasa kesal terhadap sahabatnya itu. Dia kan mencoba memberi semangat, namun Sofia meragukannya.


"Arghh, jahat sekali."


"Terserah kau saja." Zainab yang merasa kesalnya bertambah, lebih memlilih untuk segera mengakhiri pembicaraan itu. Dia meraih tasnya dan meninggalkan Sofia dengan raut wajah cemberut. Kepala Sofia dipenuhi pertanyaan, mengapa Zainab menjadi aneh seperti itu. Nah kan, selain Yusuf ternyata Sofia juga menganggap Zainab itu aneh.


***

__ADS_1


Di Rumah Pak Agus


Semua orang yang terlibat dalam pertemuan itu, sudah hadir. Mereka lebih memilih kediaman Pak Agus karena beliaulah sebagai perantara keduanya. Dimas yang di dampingi oleh kakaknya dan Sofia bersama Ibunya, Zainab mendadak tidak bisa hadir karena sejak sepulamg sekolah perutnya tidak berhenti melilit, dia harus keluar masuk kamar mandi berulang kali.


Sofia memegang tangan Ibunya, berharap dapat mengurangi rasa gugupnya yang semakin bertambah. Rasa dingin ditubuhnya berubah menjadi panas. Dia manarik napasnya dalam, menenangkan jiwa yang berkecamuk.


Perasaan Dimas. Dimas masih bingung dengan isi kepalanya. Namun, entah bagaimana dengan hatinya. Sofia memang cantik dari sudut lahiriyah, dan mungkin lumayan tingkatan spiritualnya jika dibandingkan dengan Zainab, maka Zainab lebih baik darinya. Dimas tertarik dengan Zainab, namun dia menganggap Zainab seperi mawar yang berduri. Teramat sulit untum mendapatkannya.


Pak Agus mulai membuka pembicaraan, menanyakan kabar diantar mereka. Dan tiba saatnya arah pembicaaraan menuju inti dari pertemuan itu. Sofia kembali gugup, sesekali dia mengusap keringatnya dengan tisu.


"Nah, bagaimana Dim? Apa kau mau berta'aruf dengan Sofia?." Tanya Pak Agus.


"Bukankah mereka mengajar disatu sekolah, Pak. Saya kira tidak perlu lagi mereka melakukan ta'aruf. Bagaimana jika segera menikah saja." Kakak Dimas, Deni menanggapi.


Dimas dan Sofia terperangah mendengar kalimat Deni. Dimas sendiri tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kakaknya itu. Padahal sebelum keberangkatan mereka, Deni sudah setuju jika mereka harus lebih mengenal terlebih dahulu. Sedangkan saat ini, Deni malah mengubah keputusannya sendiri tanpa meminta pendapat Dimas.


"Anda benar, saya setuju dengan pendapat itu." Pak Agus manggut-manggut. "Lantas bagaimana dengan kamu, Dim?."


Dimas menghembuskan napasnya kasar, dia merasa kesal dengan kakaknya itu. "Kami memang mengajar di sekolah yang sama, akan tetapi..." Kalimat itu terjeda. "Alangkah baiknya jika melibatkan Allah, maksudnya biarkan kami istikharah terlebih dahulu, untuk memantapkan hati." Dimas merasa tidak ingin tergesa-gesa memutuskan.


Sofia yang semula gugup, merasa kata-kata Dimas telah mampu menghancurkannya. Dia pun menyahut. "Benar apa yang dikatakan Pak Dimas, saya setuju dengan pendapatnya itu. Kami tidak perlu terburu-buru memberi keputusan, takut jika pernikahan yang sudah dilakukan tanpa ada campur tangan Allah, akan berdampak tidak baik bagi kami." Sofia tidak ingin egois, meskipun di dalma hatinya tidak ada keraguan akan Dimas. Namun untuk kebaikan bersama, tidak ada salahnya jika dia menyetujui pendapatnya.


"Saya sebagai Ibu, ingin yang terbaik untuk Sofia. Karena laki-laki yang akan menjadi suaminya bukan hanya karena berdasarkan nafsu belaka, tapi dia harus mampu membimbing Sofia ke jalan yang benar. Cinta yang berlandaskan karena Allah, jauh lebih penting." Bu Desi ikut menanggapi. Dia tidak ingin salah dalam memilih calon menantu. Meskipun yang akan menjalani rumah tangga adalah Sofia, namun hati seorang Ibu tetaplah khawatir dan sedih jika anaknya tidak bahagia dan salah dalam memilih suami.


Mereka semua minta diri untuk pulang. Karena waktu sudah menunjukan pukul 22.15. Sofia dan Ibunya juga sedikit khawatir karena kedua adiknya tidak ikut. Mereka berpisah di ointu gerbang, karena rumah mereka tidak memiliki arah yang sama.


***


"Kenapa kau memintaku untuk segera menikahi Sofia kak?." Kau lupa dengan apa yang aku katakan. Dimas mendengus, meleparkan kekesalannya yang dia tahan sedari tadi.


Deni menanggapinya dengan santai, dia tahu Dimas sedang merasa kesal kepadanya. "Untuk apa mengenal lagi, aku pikir kamu sudah banyak tahu tentang Sofia."


"Iya kau benar, tapi ini keputusan untuk hidup bersama selamanya, bukan sehari atau dua hari."


"Apa kau tidak tertarik dengannya? Sehingga memberi alasan seperti itu."


"Aku hanya tidak ingin salah dalam memilih istri nantinya. Setidaknya aku memantapkan diri, untuk mengetahui apa isi hati ku yang sebenarnya. Aku tidak ingin menyakitinya." Dimas mengatakannya seperti ada yang ditekan dalam hatinya.


"Jika nanti hasil dari istikharah mu ternyata jawabannya "Tidak", maka aku yang akan menikahinya." Deni berkelakar. Dia ingin melihat reaksi adiknya itu.

__ADS_1


Dimas mengerutkan dahinya, hatinya merasa tidak suka dengan perkataan kakaknya itu. "Kau gila, aku saja belum istikharah. Kau sudah memounyai rencana untuk menikungnya, lebih parah lagi kau mengatakannya langsung kepadaku."


"Aku kan hanya "Jika hasilnya...." Kalimat Deni terpotong.


"Sudah, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Awas saja kau. Carilah yang lain, jangan Sofia." Kalimat Dimas mengandung penekanan. Entah mengapa kata itu keluar dari mulutnya. Dia tidak ingin Deni memiliki Sofia.


Deni tergelak senang. "Kau ini termakan gengsi, bilang saja dia kau tidak suka jika aku akan merebutnya darimu. Kenapa tidak secara terang-terangan jika kau sebenarnya mau dengannya, kan?." Deni memandang adiknya dengan penuh ledekan.


"Siapa yang gengsi." Dimas tidak mengakuinya.


Mobil mereka terus melaji membelah jalanan kota, kendaraan yang melintas mulai agak sepi. Dkmas menambah kecepatan mobilnya, karena jalanan sedikit lengang. Jantungnya beedegub tidak beraturan, mungkin saja sudah berserakan di jalan. Dan jika ada yang menemukan serpihan itu, dia berharap Sofia yang akan membawa ke hadapannya.


***


Epilog


Ponsel Zainab entah sudah berapa kali berdering, namun dia tidak menggubrisnya. Dia sibuk keluar masuk kamar mandi sembari memegangi perutnya. Rasa melilit yang luar biasa, dan selalu ingin buang air. Obat yang sudah dikonsumsinya, di rasa tidak memiliki pengaruh apapun.


Risa yang melihat adik iparnya yang menderita sakit, begitu prihatin. Zainab tidak mau di ajak ke dokter dengan alasan bagaimana jika nanti selama dalam perjalanan, ia ingin buang air. Larutan gula garam pun belum mampu meringankan diarenya.


"Ayolah Zai, Mbak antar ke dokter. Mbak takut jika kamu kehabisan cairan." Ajak Risa khawatir.


Entah sudah berapa gelas air yang dihabiskan oleh Zainab. Tubuhnya sudah mulai melemah, yang dikatakan Risa memang benar, namun Zainab masih enggan untuk pergi. "Zainab gak mau Mbak. Sebentar lagi juga sembuh kok."


"Daritadi itu terus yang kamu katakan, tapi sejal kemarin kamu masih terus bolak-balik ke kamar mandi. Oh iya tadi tadi Sofia menelpon, dia menanyakan mengapa kamu tidak mengangkat telpon darinya. Mbak bilang kalau kamu sedang diare." Risa memberitahu.


"Astaghfirullah, aku lupa kalau malam ini Sofia melakukan pertemuan dengan Dimas." Zainab menepuk jidatnya sendiri. Dia menyesal mengapa tidak mengangkat telpon darinya dan mengabarkan jika dirinya tengah sakit dan tidak bisa ikut hadir.


Suara deru mobil terdengar, mobil Fikri memasuki halaman rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, dia menemukan istrinya tidam berada dikamar mereka. Fikri pun segera menuju kamar adiknya.


Tanpa permisi, Fikri langsung membuka pintu kamar Zainab.


Ceklek. Suara pintu terbuka.


"Ini obatnya, ayo segera diminum. Semoga bisa lekas membaik." Perintah Fikri tanpa basa-basi seraya menyerahkan palstik putih bertuliskan nama apotek dimana dia membeli.


Zainab meraihnya dan mengeluarkan obat yang dia pesan tadi. Dia pun segera meminumnya, setelah berdoa agar lekas pulih. Setelah merasa lega Fikri dan Risa pamit ke kamarnya dan berpesan jika masih tidak ada kemajuan, terpaksa dia harus mau pergi ke dokter.


****

__ADS_1


Maaf ya up nya lama. soalnya badan kurang fit. semoga kalian tetao setia sama akuhh..


jangan lupa like, koment, favourite n vote.


__ADS_2