
Usai dengan keperluannya di toko buku, Zainab segera melajukan mobilnya Tidak lupa dia menghubungi Risa, jika dia akan pulang terlambat. Dia mengikuti petuntuk arah alamat rumah Yusuf yang diberikan oleh Dimas melalui ponselnya. Sedang Sofia tertidur pulas, wajahnya mengungkapkan kelelahannya hari ini. Zainab tersenyum melihat sahabatnya itu. Betapa tidak, dia memang sedikit menyebalkan, tapi dia sosok yang baik sebagai seorang sahabat.
Zainab menepikan mobilnya, dia ingin membeli buah-buahan dan makanan ringan. Kedai itu cukup ramai, dia butuh bersabar sedikit lama. Pukul 14.50, Zainab melihat jam di tanganya. Sore yang sangat syahdu baginya. Hatinya kembali bertengger pada bunga-bunga. Jantung miliknya seakan lolos dari empunya.
Setelah memilih beberapa jenis buah, kemudian membelinya. Zainab kembali melanjutkan perjalanannya. Butuh waktu 45 menit untuk sampai di kediaman Yusuf. Zainab memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah. Rumah itu tampak sederhana, berbeda dengan ruma milik Ayahnya yang megah, namun rumah itu memiliki aura yang asri. Pepohonan dengan sahaja tumbuh di sana.
Sementara di dalam rumah, Rere yang sedang menonton televisi mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera mencari tahu, siapakah gerangan yang datang. Setelah baru saja rekan guru sang Kakak berpamitan untuk pulang. Rere mengintip di balik tirai jendela. Dia merasa penasaran.
"Kamu ngapain, Re?." Tanya Bu Tina kepada anak gadisnya itu yang tengah mengintip.
"Itu Bu, sepertinya kita kedatangan tamu lagi." Jawab Rere dengan masih mencari tahu siapa tamunya.
"Siapa?." Tanya Ibu lagi.
"Rere juga tidak tahu, karena orangnya masih berada di dalam mobil." Jawabnya lagi.
"Hmm, iya sudah nanti sambutlah mereka. Ibu mau ke dapur dulu." Titahnya.
Di dalam mobil, Zainab masih membangunkan Sofia. Dan membereskan beberapa bawaan buah tangan.
"Sof, bagunlah! Kita sudah sampai." Zainab menggoyang-goyangkan tubuh Sofia.
Sofia menggeliatkan tubuhnya, matanya mengerjap dengan sisa kantuk yang masih melekat. "Kita sudah sampai?." Tanyanya mengulangi kalimat Zainab.
"Iya. Ayo turun!." Ajaknya.
Mereka berdua pun segera turun dari mobil. Melangkahkah kaki menuju rumah bercat hijau muda, disuguhi pemandangan banyaknya bunga-bunga yang indah tertanam dalam pot. Sepertinya pemilik rumah, sangat menyukai dengan bunga.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Rere menyambut kedatangan mereka.
"Mbak Zainab!." Seru Rere penuh ketidakpercayaan dengan siapa yang ada di hadapannya. Dia segera menghambur ke pelukan Zainab.
Zainab melepaskan pelukannya, menatap Rere penuh dengan senyuman. "Aku pikir, tidak akan lagi bisa bertemu dengan Mbak Zainab." Ujaranya.
"Allah yang mempertemukan kita." Zainab menanggapi.
"Re, siapa yang datang?." Tanya Yusuf yang baru keluar dari bilik kamar, usai menyelesaikan sholat ashar. Dia keluar hendak mencari angin segar, karena sejak pagi dia sama sekali hanya di dalam kamar.
"Ada Mbak Zainab, Mas." Jawab Rere agak berteriak. "Mari masuk, Mbak!." Ajaknya.
Yusuf menemui mereka yang tengah duduk di ruang tamu. Zainab dan Sofia mengatupkan kedua tangan memberi salam kepadanya.
__ADS_1
"Saya panggilkan Ibu dulu ya, Mbak. Pasti Ibu sangat senang." Pamitnya.
Hening. Tidak ada percakapan diantara mereka. Zainab memainkan jemari tangannya, entahlah jantunglah tiba-tiba hampir berpindah.
"Bagaimana keadaan anda, Pak Yusuf?." Sofia membuka percakapan, seolah tahu dua manusia dihadapannya tengah diliputi perasaan tidak dapat diargumentasikan.
Yusuf berdehem. "Alhamdulillah, sudah membaik."
"Alhamdulillah, jika sudah membaik." Sofia melepaskan senyumnya.
"Apakah tadi Pak Dimas dan yang lainnya juga kemari?." Tanyanya lagi.
"Iya. Mereka semua datang kemari." Jawabnya. Sesekali dia mencuri pandang pada Zainab, gadis itu menunduk dan tidak tahu apa yanh sedang dia pikirkan, mungkin juga apa yang sedang dia tengah rasakan saat ini.
"Ohh.." Sofia menyenggol lengan Zainab yang sejak tadi hanya menyimpan suaranya.
Zainab menoleh kearahnya dan wajahnya menyiratkan pertanyaan "ada apa". Dia tahu sebenarnya Sofia memintanya untuk berbicara juga. Karena sejak tadi, Sofia yanh terua berbicara dengan Yusuf.
"Maaf, saya dan Sofia datang terlambat. Sebab tadi ada urusan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu." Akhirnya Zainab ikut membuka suara.
"Tidak apa-apa. Saya berterimakasih karena Bu Zai dan Bu Sofia sudah sudi datang untuk menjenguk saya." Ucapnya.
"Masya Allah, Nak Zainab.!" Bu Tina merasa tidak percaya jika kedatangan Zainab benar-benar ada. Meskipun Rere telah mengatakannya tadi, namun dia tetap tidak mempercayainya.
"Alhamdulillah, baik." Bu Tina mengalihkan pandangannya ke arah Sofia. "Ini siapa?." Katanya menanyakan.
"Saya Sofia, Bu." Jawabnya dengan senyum mengembang.
"Ohh, mengajar juga?."
"Iya. Kami mengajar di sekolah yang sama."
Rere yang keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan serta buah yang tadi Zainab berikan.
"Silahkan Mbak!." Katanya menawari yang mendapat anggukan dari Zainab maupun Sofia.
Rere memgambil posisi duduk di dekat Ibunya. Tidak tidak ingin melewatkan kedatangan Zainab yang entah kapan akan terulang lagi, mengingat setelah pupusnya perjuangan sang kakak yang telah gagal untuk meminang dan membawanya sebagai menantu di rumah ini.
"Tahu gak Mbak? Ibu itu sudah menanti-nanti kedatangan Mbak Zainab ke rumah ini lho." Celetuk Rere.
"Re!." Seru Yusuf kepada adik perempuannya itu. Rere memberenggut.
"Apa yang dikatakan Rere memang benar adanya. Ibu merasa sangat senang dengan kedatanganmu." Bu Tina membenarkan ucapan Rere. Sebaliknya, meskipun itu memang benar, nyatanya Yusuf tetap memilih diam. Memang, seorang perempuan lebih terbuka ketimbang lelaki. Huft, sebenarnya dia juga tidak mampu menutupi hatinya yang teramat bahagia.
__ADS_1
"Iya Bu. Saya juga senang bisa berkunjung kemari, bisa kembali bertemu dengan Ibu dan juga Rere."
"Bertemu dengan Mas Yusuf juga senang, kan Mbak?" Rere kembali berseloroh.
"Rere!." Panggilan kedua Yusuf bernada mengingatkan.
Zainab memandang ke arahnya dan menyiratkan bahwa tidak masalah dengan perkataan Rere. Mungkin memang sudab menjadi wataknya yang receh seperti itu. Memang tidak dapat dipungkiri bukan, rindu memang tengah bertikai diantara dua jiwa itu.
"Ibu sudah memasak, kalian makan di sini ya?." Pintanya dengan penuh harap.
Zainab dan Sofia saling beradu pandang, bukan tidak ingin namun menolaknya juga Zainab tidak tega untuk mengatakannya. Akan tetapi, waktu senja sudah berpijak. Dia tidak mungkin pulang terlambat karena sesuai dengan ijinnya kepada Risa.
"Bu, lain kali saja. Zainab dan Sofia pasti akan kemalaman nanti di jalan." Yusuf mengerti jika Zainab sedang berada dalam kebingungan.
"Iya Bu benar. Kasihan kan mereka jika pylang terlalu malam." Rere mendukung.
Bu Tina berpikir sejenak, untuk menyamakan hati dan isi kepalanya. Kapan lagi Zainab akan berkunjung. Dia menghela napas berat, seakan mengeluarkan ketidakikhlasan yang bercokol di dalam dirinya. "Baiklah, tidak apa-apa. Keselamatan kalian lebih penting." Ucapnya dengan berat hati.
Zainab mendekati Bu Tina, meraih kedua tangan perempuan tua itu. "Insya Allah, Zainab akan kembali berkunjung kemari Bu. Untuk memenuhi makan bersama di rumah ini." Ucapnya dengan mengulas senyum. Berharap dia akan pulang dengan kerelaan.
Bu Tina menangkup wajah Zainab dengan kedua tangannya, tidak terasa air matanya melaju perlahan. Entah mengapa hatinya terenyuh kepada gadis yang telah menolak putranya dan lebih memilih menikah dengan lelaki lain. Namun, ketika menelusup jauh ke dalam netra Zainab, Bu Tina dapat melihat cinta dan ketulusan gadis itu sangat besar untuk Yusuf. Tapi alasan apa, dia tidak mengetahuinya.
"Ibu mengapa menangis?." Tanya Zainab seraya mengusap air mata di pipi Bu Tina.
Yusuf, Sofia dan Rere menjadi saksi bisu diatara mereka berdua. Yusuf merasakan bersalahnya yang begitu besar. Namun, apa yang dia bisa lakukan? Menikung perempuan itu di sepertiga malam, tentu saja diperbolehkan bukan? Dia masih berharap untuk memiliki mawar indah di hadapannya.
Bu Tina tersenyum tipis. "Tidak apa, Nak. Ibu akan menagih kedatangan mu kemari." Ujarnya penuh harap.
"Insya Allah. Zainab dan Sofia pamit!." Zainab beranjak bangun dari duduknya yang diikuti oleh Sofia juga yang lainnya.
"Terimakasih, sudah berkunjung kemari untuk menjenguk saya." Ucap Yusuf saat mereka di beranda.
"Iya, sama-sama. Saya justru ingin berlama-lama di sini. Suasana di rumah ini sangat sejuk dan bunga-bunga itu hmm, cantik." Sahut Sofia.
"Lain kali boleh kok Mbak, mampir!."
"Insya Allah, Re." Zainab mewakili jawaban Sofia.
"Kami minta diri, Bu." Zainab dan Sofia bergantian mencium punggung tangan Bu Tina. Tidak lupa Bu Tina memeluk Zainab dengan erat.
Pertemuam sekaligus obat kerinduan yang tersembunyi diantara insan yang memiliki cinta yang tak dapat bersatu, hanya mampu membalas ulasan senyum.
Harapan demi harapan terus beterbangan di langit, harapan yang disandarkan kepada sang Maha Pemilik Hati ini. Buliran air mata, bergilir menyemai cinta yang semakin kuat. Entahlah, hati mereka berpadu, namun Tuhan belum mengijinkan mereka tuk menyatu.
__ADS_1
***Bersambung***