
"Yusuf, antum sudah siapkan diri untuk bertemu Ayah Zainab?" Tanya Ustadz Harun sambil mengemudikan mobilnya.
"Insya Allah, ane siap Ust." Jawab Yusuf mantap.
"Bismillah, ane percaya sama antum." Sahut Ustadz Harun. Dia bisa melihat keyakinan pada diri Yusuf. Meskipun sebenarnya, dia juga merasa khawatir. Mujayasa akan kah memberi peluang untuk menerima Yusuf.
Tidak lama kemudian, mereka pun tiba. Ustadz Harun yang sudah lama tidak berkunjung ke rumah Kakaknya itu. Melihat ada mobil yang terparkir di halaman, menunjukan sedang ada tamu di dalam. Keduanya turun dari mobil dan melangkah masuk.
"Assalamualaikum." Ucap Ustadz Harun.
"Walaikumsalam." Jawab mereka.
Semua menoleh ke arah sumber suara. Termasuk juga Zainab, dia merasa kaget sekaligus bahagia. Akhirnya tamu yang dia nantikan datang juga.
Zainab menghampiri keduanya yang masih berada di ambang pintu. "Paman! Serunya seraya mencium punggung tangannya. Dan juga memberi salam kepada seseorang yang selalu membuat jantungnya lepas kendali. "Mari, silahkan masuk." Ajaknya.
Rona wajah Mujayasa pun seketika berubah, bukan karena kedatangannya sang adik, melainkan siapa yang datang bersamanya. "Apa kabar mu?." Mujayasa memeluk erat Harun. Mereka memang jarang bertemu karena kesibukan satu sama lain.
"Alhamdulillah, baik Kak." Harun melepaskan pelukannya. Menatap Kakaknya yang dia kini miliki. Meskipun mereka pernah berada dalam sebuah konflik mengenai hak perusahaan. Namun pada akhirnya, Harun mengalah dan membiarkan perusahaan peninggalan orang tua mereka, sepenuhnya di pegang oleh Kakaknya. Dia sudah menganggap urusan itu telah selesai dan tidak pernah ingin mengungkitnya kembali. Kini, Harun sudah bahagia dan hidup berkecukupan.
"Duduklah!." Ajaknya sembari menepuk sofa yang kosong di sebelahnya. Mujayasa sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Yusuf. Bahkan ketika Yusuf ingin menyalaminya, justru Mujayasa bersikap tidak tahu bahwa dia juga ada disitu.
Yusuf celingukan, karena tidak ada lagi tempat duduk. Dengan terpaksa dia berdiri mematung. Keyakinannya yang kuat mendadak melemah, Ayah Zainab sama sekali tidak memandangnya. Namun, Yusuf mencoba menata kembali keyakinannya. Mungkin saja ini adalah salah satu bentuk ujian untuknya. Hmm seperti anak sekolah saja. Cuma karena tidak mendapat tempat untuk duduk, dia masih sanggup untuk menghadapi ujian-ujian yang lain. Asalkan cinta Zainab tetap di tempat. Tidak beranjak pergi ke hati yang lain.
Dan satu lagi yang membuat pandangannya terganggu, siapa laki-laki muda itu? Apakah dia akan di jodohkan dengan Zainab? Mereka bukan dari kalangan orang sembarangan. Bukan kaum papa seperti dirinya. Ahh Yusuf, kau berpikir terlalu jauh. Orang miskin sepertinya memang mudah merasa tidak berharga, saat berkumpul bersama orang-orang kaya.
"Maaf Muja, sepertinya kau kedatangan tamu yang penting. Kami pamit." Ujar Fernando minta diri. Diapun beranjak diikuti oleh anak dan istrinya.
"Ohh, baiklah. Mampir lah kemari jika kau ada waktu." Mujayasa pun berdiri.
"Tentu. Kami pasti datang kemari."
Mia memghampiri Zainab. "Bibi pamit pulang dulu, sayang. Dan semoga Dinan tidak mengecewakan mu tadi." Katanya berbisik pelan.
Zainab mengerjap kebingungan mengartikan apa maksud Mia. "I-iya Bi." Zainab terbata.
Dinan pun tidak luput memperhatikan Zainab. Entah kapan dia akan bertemu lagi dengan gadis itu. Apapun akan dia lakukan agar mendapatkan Zainab. Selama ini tidak ada satupun wanita yang menyerah untuk bertekuk lutut dihadapannya. Bahkan mengemis cinta, namun sayangnya cinta merupakan hal yang paling mahal dia berikan. Atau bahkan Dinan sama sekali tidak mengerti apa itu cinta. Dia terlalu banyak main perempuan sewaktu tinggal di Perancis. Keburukannya semasa di sana tidak pernah pernah tercium ataupum diketahui oleh orang tuanya.
Yusuf tidak suka dengan cara Dinan menatap Zainab. Ingin sekali dia memukul pria itu. Cemburukah dia? Akal sehat selalu mengajaknya berdamai dengan keadaan saat itu.
"Dinan, apa kau akan terus disini? Memandangi anak gadis Tuan Mujayasa yang belum resmi menjadi milikmu." Fernando menepuk bahu untuk menyadarkan putranya itu.
Dinan terkesiap. "Maafkan aku, Pa. Telah membuat kalian menunggu."
Fernando dan Mia menggelengkan kepala, melihat tingkah laku anak semata wayannya. "Tolong maafkan putraku. Namanya juga anak muda, tidak dapat mengontrol diri jika ada gadis cantik di hadapannya." Pinta Mia sedikit menyelipkan gurauan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Maklum, daun muda." Mujayasa terkekeh. Dan mengantarkan mereka hingga ke beranda.
***
Kini Yusuf bisa duduk di sofa empuk. Kakinya sedikit terasa pegal karena terus berdiri. Mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan santai, tapi tidak dengan Yusuf. Raut wajahnya begitu tegang. Sedangkan Zainab membantu Mbok Cici menyiapkan makanan dan minuman.
"Ada kabar apa yang membawa mu kemari?." Mujayasa membuka percakapan.
"Kedatangan ku kemari akan menyampaikan hal penting, ini juga menyangkut masa depan Zainab." Tuturnya langsung kepada inti pembicaraan.
"Masa depan Zainab?" Mujayasa mengerutkan dahi, walaupun sebenarnya dia sudah tahu makaud dan tujuan adiknya. Akan tetapi, dia akan tetap mengikuti kemana arah pembiacaraan Harun. "Coba katakan lebih jelas, supaya aku mengerti." Pintanya.
"Perkenalkan, dia Yusuf. Mungkin Kakak sudah tidak asing dengannya karena sudah pernah bertemu sebelumnya."
"Iya, aku sudah mengenalnya." Mujayasa memasang wajah tidak suka saat menatap Yusuf. Apa dia yang Zainab maksud? Calon suami Zainab? Mujayasa mulai menduga.
"Kedatangannya kemari, bertujuan untuk meminta restu dari Kakak selaku Ayah Zainab, karena Yusuf dan Zainab memiliki perasaan yang sama." Harun menoleh ke arah Yusuf sebentar sebelim melanjutkan kalimatnya. "Yusuf ingin meminta ijin untuk menikahi putri mu." Lanjutnya sedikit hati-hati.
Mujayasa membenarkan dugaannya. Betapa nekadnya anak muda itu. Dia masih punya keberanian untuk muncul dihadapannya, bahkan menginginkan putrinya. Apa dia lupa yang pernah dikatakannya dulu? Apa sekarang hidupnya sudah benar, hingga ingin kenikah dengan Zainab. Apa dia pikir dengan membawa adiknya kemari, akan mampu merubah pandangannya? Tentu tidak semudah itu.
Mujayasa berdecih. "Apa yang dia miliki untuk menghidupi putriku?."
Yusuf hendak membuka suara. Namun Harun sudah mendahuluinya. "Kakak, tolong lah jangan melihat seseorang dari status sosialnya." Harun sudah mulai merasa kesal. Sejak dulu Mujayasa tidak pernah berubah, ambisinya terhadap harta selalu di nomor satukan. Inilah yang menjadi pertentangan baginya.
Yusuf yang terdiam seribu bahasa, kini membuka suara. Dia tidak mungkin akan terus diam. Dia harus berani memperjuangkan cintanya. Sudah kepalang tanggung jika dia menyerah. Meski memang kenyataannya dia tidak memiliki apa-apa. "Maaf, Pak. Saya memang bukan orang berada. Hidup kami hanya sebatas berkecukupan. Tapi, insya allah saya tidak akan membuat Zainab bersedih. Saya akan membahagiakannya, sebab saya mencintainya."
"Apa cukup anak ku hidup dengan cinta? Mana mungkin aku akan percaya dan menyerahkan putri kesayanganku begitu saja kepada mu."
"Kau meragukannya, Kak?." Sahut Ustadz Harun.
"Lantas, apa yang akan aku banggakan jika dia menjadi menantuku? Hidup ku bersama orang-orang petinggi perusahaan. Dia tidak pantas untuk bersanding dengan Zainab. Kau membawanya kemari, sama saja dengan mempermalukan ku." Hinaan demi hinaan makin terurai.
Teramat sakit semua itu bagi Yusuf. Dia menundukan pandangannya. Dia seharusnya menyadari bahwa dirinya hanyalah sampah. Mungkin sama halnya seperti lantai ubin itu, pantas untuk terinjak-injak. Bahkan sepatunya saja lebih berharga dibanding dirinya.
Sungguh hinaan itu membuat Yusuf masuk ke dasar jurang. Baru kali ini hidupnya dirasa sangat pelik. Demi memperjuangkan cintanya, apa harus sesulit ini? Kenyakinannya semula bangkit, kini telah hancur. Mungkin saja bersama dengan harapan-harapan yang sudah dia rajut. Namun, dia harus tegar. Dia tidak boleh terlihat lemah hanya karena hinaan semacam itu.
"Apabila status sosial kita berada di garis yang sama. Apa Bapak mau menerima saya?." Tanya Yusuf memberanikan diri.
"Harus berapa lama anakku menunggu? Daripada menunggu mu, lebih baik Zainab menikah dengan pria lain." Bibir Mujayasa menyeringai. Dia begitu merendahkan harga diri Yusuf.
"Kakak, berilah kesempatan untuknya. Aku sangat yakin, Yusuf mampu membahagiakan Zainab. Apa kau tidak kasihan melihat putrimu menderita karena cintanya tidak di restui oleh Ayahnya?" Perkataan Ustadz Harun menohok Mujayasa.
"Jaga perkataan mu itu.!" Mujayasa yang semula santai berubah memanas karena Ustadz Harun. "Aku lebih kasihan jika putriku harus hidup sengsara bersama laki-laki miskin seperti dia." Sambungnya dengan menunjuk ke arah Yusuf.
"Allah lah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk Zainab. Kau tidak berhak melarang dengan siapa Zainab jatuh cinta dan kepada siapa dia akan melabuhkan seluruh hidupnya."
__ADS_1
"Aku Ayahnya. Tentu saja, aku akan turut andil dalam hidup putriku. Termasuk dengan siapa dia menikah."
Keduanya hening, tidak lagi melancarkan aksi perdebatan. Ruang tamu itu kini berhawa panas, lebih panas daripada ruang pengadilan. Atau mungkin saja sudah berubah menjadi pengadilan cinta.
"Saya mungkin tidak pantas untuk menjadi suami putri anda karena keadaan saya yang serba kekurangan, akan tetapi bisakah Bapak memberi peluang, meskipun sedikit saja. Agar saya bisa membuktikan bahwa saya sangat mencintai Zainab." Kali ini Yusuf berusaha memohon. Mungkin saja Mujayasa berubah pikiran dan akan menerimanya.
"Apa kau tidak yakin kepadanya? Bahkan setelah dia memohon kepadamu, Kak?." Ustadz Harun menimpali.
"Kau mengenalku, bukan?" Matanya tertuju pada sang adik. "Aku tetap tidak akan...." Kalimat itu tertahan keluar ketika Zainab tiba-tiba memotongnya.
"Ayah..." Panggilnya. Sorot matanya memelas. Air matanya sudah berjatuhan sejak tadi. Saat Ayahnya menghina Yusuf. Jantungnya seperti dihunus pedang.
Mujayasa tahu apa maksud putrinya itu. Netra itu mengatakan juga menginginkan Yusuf. Namun, dirinya tetap tidak bisa menerimanya.
"Maaf, Ayah tidak bisa memberi kalian restu." Jawabnya tanpa berani memandang Zainab. Dia tidak ingin melemah, jika sudah berhadapan dengan air matanya.
Zainab melemas dan terjatuh lunglai ke lantai. Jantungnya seakan berhenti berdetak, hatinya kini redup. Penyangga hatinya tidak bisa menetap dalam hidupnya. Air matanya teus membasahi pipinya. Terisak.
Yusuf yang melihat kejadian itu, ingin segera mendekat. Namun, Ustadz Harun mencegahnya. "Kak." Kata-kata itu terhenti.
"Aku tidak ingin mendengar apapun. Dan kau Zainab, bukalah matamu lebar-lebar. Kau putriku, aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan laki-laki miskin itu.
"Ayah!." Zainab memegangi dadanya yang terasa sesak. Mengapa nasib cintanya begitu miris. "Apa salah Zai?." Dengan masih terisak.
Yusuf pun merasakan nyeri yang sama. Air mata Zainab membuatnya mengerti betapa besar cinta yang dimilikinya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin dirinya masih kuat untuk menerima hinaan, namun melihat orang yang dicintainya menangis, dia pun melemah. Bahkan dirinya pum ingin menitikan air mata, dengan sekuat tenaga dia menahannya. Dia tidak ingin melihat Zainab semakin sedih atas dirinya.
Mereka beradu pandang, menyiratkan bahwa perasaan mereka begitu dalam. Namun mereka takut berdosa jika harus memendamnya. Entah sampai kapan cinta itu berlabuh. Zainab mencoba kembali berdiri, dia seperti menemukan kekuatannya.
"Jangan membuat ku murka. Kau bilang tidak akan pernah mengecewakan kan ku." Kali ini Mujayasa memandang Zainab dengan tatapan tajam. Dan Zainab pun ngeri dibuatnya. "Satpam, bawa laki-laki ini pergi." Teriaknya.
Ustadz Harun terkejut dengan kemarahan Kakaknya itu. Dia benar-benar murka. "Kami bisa keluar sendiri." Sembari menarik lengan Yusuf untuk keluar dari rumah itu. Namun, Yusuf belum mau menyerah begitu saja. Dia tersungkur di kaki Mujayasa, memohon kemurahan hati laki-laki paruh baya itu.
"Saya mohon, berilah saya kesempatan. Agar bisa membuktikan bahwa saya akan membuat Zainab bahagia. Saya sangat mencintai putri Bapak." Tuturnya.
Zainab menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dirinya tidak menyangka bahwa Yusuf akan melakukan hal itu. Dia rela menjatuhkan harga dirinya hanya untuk mendapat restu sang Ayah. Ustadz Harun tidak bisa berbuat apapun selain menyaksikan.
"Aku sudah muak dengan semua perkataan mu anak muda. Satpam, seret dia keluar!!! Perintahnya.
Dua satpam yang sejak tadi sudah siaga menunggu perintah Tuannya, bergerak juga. Mereka dengan sigap menjalankan perintah itu. Mereka menyeret Yusuf keluar, meskipun Ustadz Harun sudah mencoba menghalanginya. Dia tidak habis pikir, dimana hati nurani Kakaknya itu.
"Dan kau Zainab, masuklah ke kamar mu! Apa kau ingin aku melakukan hal yang sama seperti dia?."
Zainab hanya bisa menuruti perintah Ayahnya. Dirinyapun merasa hancur berkeping-keping. Zainab menaiki tangga dengan lunglai, sesekali dia terjatuh. Hati dan pikirannya melayang memikirkan bagaimana keadaan Yusuf di sana.
***Bersambung***
__ADS_1