
Setelah semalam Zainab berbicara dengan Ayahnya. Bahwa Pamannya, Ustadz Harun akan datang berkunjung. Dan membicarakan perihal dia telah memiliki pilihan calon suami. Tentu hal itu membuat Mujayasa merasa bangga atas usaha putrinya. Mujayasa hanya menyampaikan jika besok juga akan kedatangan teman sekaligus rekan bisnisnya. Dia tidak menyinggung perjodohan dengan anak rekan bisnisnya itu. Toh, siapa yang akan menjadi calon suami Zainab masih butuh restu darinya dahulu. Dia juga tidak menginginkan Zainab sembarangan dalam memilih pasangan hidup. Bagaimana bibit, bebet dan bobot orang itu.
"Bagaimana, Zai? Tempo waktu yang kita sepakati akan segera berakhir. Apa kau sudah menemukan siapa yang akan menjadi calon suami mu?." Tanya Ayah ketika mereka mengobrol secara pribadi di ruang kerja sang Ayah.
"Alhamdulillah, sebenarnya Zainab juga akan memyampaikan hal ini kepada Ayah. Bahwa besok, insya allah Paman akan datang kemari bersama dengan calon suami Zai." Jawabnya penuh dengan ekspresi senang.
"Baiklah, Ayah akan menemuinya. Apakah dia lolos sebagai calon menantu ku atau tidak." Ujarnya penuh dengan rasa penasaran.
"Ayah pasti akan menyukainya." Zainab melempar senyuman. Dia sengaja tidak mengatakan bahwa laki-laki itu adalah Yusuf. Mungkin saja besok Ayahnya akan merasa terkejut. Zainab yakin, bahwa Ayah pasti akan memberikan restu kepadanya.
"Besok juga Ayah akan kedatangan tamu. Rekan bisnis Ayah dari luar kota." Katanya menyampaikan kabar.
"Hmm, itu artinya Ayah akan kedatangan dua tamu sekaligus." Zainab beranjak berdiri menghampiri kursi Ayahnya. "Zainab berharap bahwa Ayah akan memberikan restu. Karena Zai yakin dialah jodoh yang Allah kirimkan." Senyum itu belum juga hilang dari bibirnya.
"Yakin sekali rupanya kau, ya?" Mujayasa mencubit hidung Zainab. "Kau sudah tumbuh dewasa dan semoga pilihan mu itu tidak mengecewakan Ayah."
Zainab mengaduh sembari memegangi hidungnya. "Zai tidak akan pernah mengecewakan Ayah." Ujarnya penuh keyakinan.
Melihat wajah Zainab yang begitu bahagia, Mujayasa tidak ingin merusaknya. Karena melihatnya sama dengan melihat istrinya. Bagi seorang anak perempuan, cinta pertama dalam hidupnya adalah seorang ayah. Dan kini Zainab akan mengarungi biduk rumah tangga bersama laki-laki pilihannya. Tanpa harus mengurangi cintanya kepada sang Ayah.
***
Hari yang telah ditunggu akhirnya tiba. Jantung Zainab tidak berhenti berdebar. Padahal hampir setiap hari dia berjumpa dengan Yusuf di sekolah. Namun, berbeda dengan hari ini. Dimana akan ada keputusan besar yang menyangkut masa depannya juga Yusuf. Berulang kali Zainab memandangi diri di cermin, mengecek apakah ada yang kurang dengan penampilannya hari ini. Dress dan jilbab dengan warna senada, warna maroon.
Deru mobil memasuki halaman rumah. Zainab keluar untuk melihatnya dari balkon. Namun ternyata itu bukan mobil Yusuf ataupun Pamannya. Dia terlihat kecewa, karena bukan mereka yang datang melainkan rekan bisnis Ayahnya.
"Mungkin saja mereka masih dalam perjalanan, aku saja yang terlalu tidak sabar untuk menanti kedatangan mereka." Gumamnya dalam hati.
Pintu berderit terbuka. "Non, sudah ditunggu Tuan di bawah." Suara itu membuat Zainab terlonjak.
"Mbok Cici." Seru Zainab. "Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?." Tanyanya seraya mengelus dada
"Maaf, Non. Tadi si Mbok sudah mengetuk pintu beberapa kali dan meminta ijin untuk masuk, tapi tidak ada jawaban. Jadi, si Mbok langsung masuk saja." Jawabnya menerangkan alasan.
__ADS_1
"Hmm." Zainab mengangguk mengerti. "Untuk apa Zak turun, bukankah tamu Zai belum datang." Zainab duduk di sofa kamarnya.
"Mbok hanya menyampaikan pesan Tuan saja, Non. Katanya, Tuan ingin memperkenalkan putra dan putrinya kepada rekan bisnisnya itu."
Zainab memutar bola matanya. Dia tidak begitu bersemangat untuk menuruti perintah sang Ayah. Karena hari ini, restu Ayah sangat dibutuhkan maka tidak ada salahnya jika dia patuh. "Baiklah, Zai akan turun." Zainab beranjak dari duduknya berjalan keluar kamarnya.
Obrolan dan renyahnya tawa terdengar nyaring. Entah apa yang tengah mereka bicarakan di sana. Zainab menuruni anak tangga satu persatu, sedangkan Mbok Cici berjalan mengekorinya. Ketika semua mulai menyadari kedatangannya, beberapa pasang mata memperhatikannya. Tampak begitu terpesona dengan kecantikan Zainab yang begitu menawan hati. Polesan natural di wajahnya tidak sedikitpun mengurangi anggunnya Zainab.
Mujayasa yang melihatnya begitu bangga terhadap kecantik rupawanan putrinya itu. Termasuk lelaki muda yang mengalihkan pandangannya. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh, beruntung dengan sigap ponsel itu masih dapat terselamatkan dan tidak membentur lantai.
"Perkenalkan dia putriku, Zainab Maharani." Mujayasa memperkenalkan Zainab kepada Fernando beserta yang lainnya.
Zainab menelungkupkan kedua tangannya memberi ucapan salam. Dan mendapat balasan senyuman.
"Cantik sekali putrimu." Kata seorang wanita paruh baya, istri Fernando. Dia berjalan mendekati Zainab, ingin melihatnya dengan jarak begitu dekat. "Papa, aku ingin sekali menjadikannya sebagai menantu ku." Tuturnya.
Zainab begitu sangat terkejut dengan ucapan wanita paruh baya itu. Dengan cepat dia berpikir, mungkin saja wanita itu sedang bergurau.
"Sabarlah sedikit Mia, bahkan Dinan pun belum mengenalnya." Fernando melirik putra yang ada di sebelahnya.
Mujayasa tertawa, dia tidak ingin menanggapi hal itu dengan serius yang akan membuat diri Zainab terguncang. Mengingat apa yang telah mereka bicarakan semalam. "Mia jangan terlalu berlebihan seperti itu. Putriku pasti akan merasa tidak nyaman mendengarnya." Dia mencoba mencairkan suasana.
"Oh, maafkan Bibi sayang." Mia merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Bi." Sahut Zainab melukis senyum petanda dirinya baik-baik saja.
"Zainab, ajaklah Dinan untuk berkeliling rumah ini." Perintah Ayah.
Zainab mengerutkan dahinya tidak mengerti. Namun, lagi-lagi demi mendapatkan restu sang Ayah. Zainab menuruti apa perintahnya, meskipun dengan berat hati.
"Dinan pergilah." Perintah papanya.
"Iya Pa." Dinan beranjak dan mulai mengikuti arah kemana Zainab mengajaknya berjalan.
__ADS_1
"Mereka berdua terlihat begitu cocok, bukan?." Mia masih belum berhenti dengan kekagumannya terhadap Zainab.
"Mia, biarlah mereka saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Aku tidak ingin memaksakan kehendak sebagai orang tua. Jika suatu saat nanti mereka berdua merasa cocok, pasti mereka akan menyampaikan keinginannya untuk menikah."
"Benar apa yang dikatakan Mujayasa, Ma. Jangan terlalu ikut campur. Biar mereka menikmati proses pengenalan. Yang mau menikahkan Dinan, bukan Mama." Fernando ikut setuju.
"Baiklah, baiklah. Kalian memang benar." Mia akhirnya mengalah. Dia harus memendam keinginannya itu.
***
"Kenapa kau tidak mau ikut andil dalam urusan perusahaan?." Tanya Dinan. Percakapan mereka sudah agak jauh. Canggung perlahan berkurang.
"Aku tidak suka dunia bisnis. Sedari kecil, cita-cita ku menjadi seorang guru. Karena dulu, aku pernah mengidolakan salah satu guru ku disekolah, sehingga itu yang membuatku termotivasi."
"Sangat disayangkan. Perusahaan Ayahmu begitu besar. Fikri tidak akan selalu bisa untuk menghandle semuanya. Jika aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu" Tuturnya dengan pandangan jatuh kepada air kolam yang jernih.
"Semua orang berkata sama seperti dirimu. Bukanlah kau sekolah dulu, membutuhkan seorang guru untuk membantumu belajar? Apa harga diri profesi seorang guru begitu rendah di mata mu?." Zainab kini sudah merasa kesal. Setiap kali seseorang berbicara mengenai pekerjaannya, apalagi dengan orang high class, pasti akan di remehkan.
"Oke, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Ini adalah hari pertama kita bertemu dan berkenalan, aku tidak ingin merusaknya."
Zainab sudah tidak merasa nyaman. Dia ingin segera masuk ke dalam rumah. Hatinya juga selalu bertanya, kapankah Paman dan Yusuf akan datang? "Aku haus." Kata Zainab mencari alasan.
"Baiklah, ayo kita masuk ke dalam." Ajak Dinan mempersilahkan.
Dinan mulai tertarik dengan Zainab. Menurutnya dia adalah gadis langka yang pernah ditemuinya. Zainab berbeda, dia terlihat begitu cantik dengan jilbab panjangnya. Di Perancis, hanya gadis-gadis berpakaian terbuka yang selalu ia lihat. Dia penasaran dengan diri Zainab. Rasa ingin memiliki mulai timbul dalam dirinya. Sudut bibirnya menyeringai.
"Kalian sudah kembali?." Mujayasa mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Ayah, Zainab pamit ke kamar dulu." Pintanya dengan sorot mata memohon.
Jika sudah seperti itu, Mujayasa tidak mampu untuk menolaknya. "Pergilah." Katanya mengabulkan permintaan putri tercinta.
Zainab pun segera minta diri kepada yang lainnya. Akan tetapi ketika hendak melangkah kan kaki, suara salam menghentikannya. Dia kenal dengan suara itu.
__ADS_1
***Bersambung***