Cinta Zainab

Cinta Zainab
Rumah Sakit


__ADS_3

Zainab masih tertidur di kursi dekat ranjang tudur tempat Ayahnya berbaring. Tangannya tidak pernah terlepas sejak semalam. Karena rasa bersalah, membuat Zainab ingin segera menebusnya. Dia ingin menuruti apa permintaan sang Ayah. Tidak peduli meskipun keputusan yang ia ambil bertentangan dengan apa kata hati nuraninya. Fikri dan Risa sebenanya tidak mendukungnya, merekapun meminta agar Zainab memikirkan matang-matang mengenai keputusan itu.


"Coba kau pikirkan lagi, Zai. Aku tidak mau kau menyesal nantinya." Fikri mengingatkan.


"Zainab sudah memikirkan semuanya, Mas. Sekarang giliran Zai yang akan menuruti permintaan Ayah. Ayah sudah banyak berjuang untuk kita. Ini adalah salah satu bakti Zai, kepada Ayah." Tutur Zainab. Meskipun berat tapi segala risiko akan dia hadapi dikemudian hari.


"Mbak khawatir, jika kamu memaksakan kehendak. Akibatnya akan tidak baik." Risa ikut menasihati adik iparnya itu.


"Setelah Ayah membaik, kita coba bicarakan lagi hal ini. Semoga Ayah bisa membuka hatinya." Fikri memberi penawaran.


"Tidak perlu, Mas. Zai takut jika kita melakulan hal itu justru membuat Ayah kembali sakit. Mas dan Mbak hanya perlu mendukung Zai." Pintanya dengan sorot mata memohon. "Zai akan tetap menikah dengan Dinan."


Tangan itu bergerak-gerak. Merasakan ada sumber kehangatan yang memeganginya. Meskipun tubuhnya masih lemah, dia mencoba membuka matanya perlahan. Dan mengetahui siapa sosok yang kini tengah terjaga di sampingnya.


Zainab yang merasa terganggu dengan gerakan itu, akhirnya mengerjapkan kedua matanya. Melihat sosok yang sejak semalam tertidur pulas, kini telah kembali sadar. "Zainab." Panggilnya lirih.


"A-ayah." Zainab segera menghambur kepelukan Mujayasa. Tangis haru bercampur bahagia pecah. Dia takut akan kehilangan orang yang paling disayanginya itu, meskipun memang pola pikir mereka berbeda arah. Namun, seorang Ayah dan anak tetap saja satu aliran darah dan mempunyai keterikatan batin satu sama lain.


Fikri yang merasakan ada suara, ikut terbangun. Dan melihat Zainab sedang memeluk sang Ayah. "Zai," Panggilnya seraya mendekat.


"Fikri." Mujayasa melihat ke arah putranya. Merrka bertiga saling mengeratkan pelukan.


Fikri segera menekan tombol darurat, agar dokter datang ke ruangan itu. Memastikan bagaimana keadaan Mujayasa. Tak berselang lama, dokter dan perawat tiba, mereka meminta Fikri dan Zainab untuk menjaga jarak, sebab dikter akan memeriksa keadaan pasien.


"Bagaimana keadaan Ayah saya dok?." Dikri yang masih tampak khawatir tergambar jelas di raut wajahnya yang lelah.


"Alhamdulillah, kondisinya berangsur membaik. Dan saya akan menjelaskan perihal kesehatan Ayah anda. Mari ikut ke ruangan saya." Ajak dokter itu.


"Baik dok." Fikir pun berjalan mengekor.


"Zai, maafkan Ayah." Ucapnya pelan.


"Ayah jangan terlalu banyak bicara, istirahatlah! Dan seharusnya Zai yang minta maaf kepada Ayah, karena Zai tidak mau menuruti perintah Ayah." Zainab mengusap tangan Mujayasa. "Zai sudah memutuskan, jika Zai akan menikah dengan Dinan." Kali ini kata-katanya sedikit terasa berat ia keluarkan.


"Benarkah, Nak?." Mujayasa tampak berbinar setelah mendengar keputusan Zainab.


"Iya Ayah." Sahutnya seraya tersenyum. Entah apa dari senyuman itu.


Trrrt. Trrrt. Trrt..


Ponsel Zainab bergetar. Dan setelah melihat siapa yang menelponnya, Zainab segera menggeser tombol hijau.


"Hallo, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Zai apa kau ijin tidak masuk lagi hari ini?

__ADS_1


"Iya. Ayah masuk rumah sakit sejak semalam." Katanya menjelaskan.


"Hah? Paman kenapa? Sakit apa? Apa yang terjadi dengannya hingga masuk rumah sakit? Pertanyaan Sofia membuat Zai kesal dan malas untuk menjawabnya.


"Hei, pertanyaanmu banyak sekali. Aku akan menjawabnya jika kau kemari."


"Hm, baiklah. Maafkan aku. Aku hanya terlalu khawatir dengan keadaan Ayahmu. Bagaimana pun beliau telah banyak membantuku."


"Iya aku mengerti."


"Di rumah sakit mana, Ayahmu di rawat?


"Rumah sakit Permata."


"Ok. Aku akan kesana bersama Ibu, nanti."


"Baiklah. Assalamualaikum. Tutupnya Zainab.


"Walaikumsalam."


Zainab menaruh ponselnya ke dalam tas miliknya. Rupanya sejak tadi Mujayasa memperhatikannya. "Sofia yang menelpon, katanya nanti dia akan kemari bersama Ibunya." Zainab mengerti seolah Ayahnya ingin tahu.


Ceklek.


Pintu terbuka dan Fikri menyembul masuk. Wajahnya yang tampak kusut dan lelah. Membuatnya kembali ingin berbarung di kursi panjang di ruangan itu.


"Ayah butuh rawat jalan. Dokter juga tidak dapat memastikan berapa lama waktu untuk kesembuhan Ayah." Setidaknya ini kabar baik yamg dapat mereka terima. "Aku lapar"Kata Fikri sambil memegangi perutnya.


"Baiklah, kita makan bergantin saja. Aku akan menunggu Ayah disini." Ujar Zainab dan mendapat anggukan dari Fikri.


***


"Maaf Pak Karim, apa Bapak melihat Bu Zainab?" Tanya Sofia.


"Sudah 2 hari ini saya tidak menjumpai beliau. Apa beliau sakit, Bu?." Pak Karim bertanya balik.


"Saya juga kurang tahu, saya belum menelponnya lagi. Kalau begitu, terimakasih Pak." Sofia beranjak pergi dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Zainab.


Setelah bertukar suara dengan Zainab dan mendapatkan kabar mengenai Ayahnya tengah dirawat di rumah sakit. Membuat Sofia terkejut. Dia berniat hendak menjenguknya sore hari nanti.


"Pak Yusuf." Sapanya ketika melihat sosok Yusuf.


"Iya, Bu Sofia. Apa ada?" Tanyanya.


"Ayahnya Zainab masuk rumah sakit?."

__ADS_1


Raut wajah Yusuf berubah cemas. Pikirannya melayang. Apakah semua itu ada hubungannya dengam kejadiab kemarin? Dan bagaiaman keadaan Zainab, apakah dirinya baik-baik saja? Karena terakhir setelah pertemuan itu, Mujayasa sangat marah kepadanya.


"Apa anda akan menjengukny, nanti?." Sofia bertanya.


Yusuf bingung, apakah kehadirannya akan diterima nanti. Dia takut akan semakin memperburuk keadaan Mujayasa.


"Insya Allah." Jawabnya singkat.


"Hmm, kalau begitu saya duluan Pak." Sofia minta diri dan Yusuf pun mempersilahkan.


Yusuf tidak tahu harus melakukan apa. Sungguh, hari ini pikirannya hanya 70% saja di sekolah. Sisanya entah tertinggal dimana.


***


"Apa Yusuf harus kesana untuk menjenguknya, Bu?"


"Menurut Ibu, baiknya kau harus kesana. Tidak ada salahnya bukan? Mungkin saja hubungan kemarin bisa membaik." Tutur Bu Tina. Dia bisa melihat kegundahan yang melanda putrnya itu.


"Baiklah, ba'da magrib nanti Yuusf akan ke sana."


"Pergilah. Justru kamu harus tetap berbuat baik, sekalipun kepada orang yang telah berbuat salah kepadamu. Karena kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan."


"Iya Bu."


"Masalah bisa kita ibaratkan sebuah telur dan sebuah kentang. Semua itu tergantung dari kita dalam menyikapi sebuah masalah. Jangan terburu-buru mengambil keputusan atau menyimpulkan sesuatu yang belum jelas titik terangnya. Perlu kita telusuri, mungkin saja alasan dibalik setiap permasalahan itu tidak selalu tidak baik untuk diri kita. Justru mungkin saja bisa membuat kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya." Bu Tina menghela napas panjang sebelum melajutkan perkataannya. "Ibarat sebuah telur, dia memang terlihat sangat rapuh dan mudah pecah. Sedangkan kentang begitu keras, bukan? Ini yang kemudian harus kamu pahami. Apabila kita sama-sama merebus keduanya yang kita perumpamakan sebagai masalah. Maka akan mendapatkan hasil sebaliknya. Setelah matang, kita bisa cek. Telur yang semula rapuh dan mudah pecah, kini memiliki tekstur yang keras. Sedangkan kentang berubah teksturnya menjadi lembek. Itulah perumpamaan, jika masalah sedang menerpa kehidupan kita. Apakah akan membuat kita semakin kuat atau justru lemah." Nasihat Bu Tina panjang lebar.


"Terimakasih, Bu. Entahlah, Yusuf merasa sangat lemah akhir-akhir ini." Keluhnya.


"Mendekatlah kepada Allah, jangan sampai cinta manusia membuat mu terlena. Kemana Yusuf yang dulu?" Tanya Bu Tina seraya tersenyum yang melihat sedikit perbedaan pada Yusuf.


"Ini pelajaran untuk Yusuf, Bu. Bahwa tidak seharusnya Yusuf dibuat lemah karena cinta kepada seorang perempuan."


"Kau harus belajar menempatkan cinta. Agar cinta itu tidak salah arah dan membuatmu jauh dari Allah. Ibu tidak mau kau mencintai orang yang salah, Nak."


"Apakah Zainab tidak pantas untukku, Bu?" Dahi Yusuf berkerut.


"Jika Allah sudah memilihkan dia bagimu, maka artinya dia pantas untukmu. Ibu tidak ingin berharap, meskipun Ibu sangat menyukai Zainab."


"Yusuf ikhlas, jika Allah tidak menjodohkan Yusuf dengannya."


Adzan maghrib berkumandang. Yusuf segera mengambil air wudhu dan hendak pergi menunaikan sholat ke masjid. Usai sholat, Yusuf mulai bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


***Bersambung***


Maafkan atas keterlambatan ku yang hampir sering kayaknya ya. Entahlah sakit ini masih sayang untuk pergi dari tubuhkuhhh..

__ADS_1


Semoga kalian tetap setia menikmati membacanya. Like koment share and vote gitu. biar aku cepat pulih dan bisa menghitung air hujan yang turun dari langit.😉


__ADS_2