Cinta Zainab

Cinta Zainab
Kabar Baik


__ADS_3

Hampir 30 menit Yusuf menempuh perjalanan. Dia sengaja mampir ke kedai martabak "BODOR" yang biasa ia beli. Karena Rere sangat menyukainya. Yusuf menepikan mobilnya.


Kedai itu selalu ramai di kunjungi pembeli, selain enak martabak itu juga memiliki banyak varian rasa. Namun satu yang menjadi favorit Rere, yaitu rasa coklat meises. Tidak tanggung-tanggung dalam memberi isian, banyak dan tebal.


Yusuf harus menunggu antrian, dia duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Dia mengambil ponselnya, untuk mengusir rasa jenuh seraya menunggu gilirannya tiba. Namun ada suara yang mengalihkan pandangannya.


"Pak Yusuf." Laki-laki itu melambaikan tangannya, agar mudah ditemukan oleh Yusuf diantara kerumunan pembeli.


Yusuf menoleh dan memperhatikan siapa laki-laki yang sedang melambai ke arah nya. "Pak Dimas." Dia tersenyum.


"Sering beli martabak di sini juga, Pak?." Tanya Dimas yang berjalan mendekatinya dan mendapat anggukan kepala dari Yusuf. "Dengan siapa?." Dimas celingukan mencari seseorang yang mungkin ada bersama Yusuf.


"Saya sendiri, kebetulan lewat sini dan sekalian mampir. Pak Dimas sendiri juga?." Yusuf balik bertanya.


"Iya saya juga sendirian. Kalau begitu saya duluan. Sampai bertemu besok di sekolah." Pamitnya seraya meraih paper bag yang diserahkan oleh salah satu pelayan kedai martabak kepadanya. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Akhirnya Yusuf tiba mendapat giliran, dia segera memesan marbatak kesukaan Rere. Tidak butuh menunggu lama, martabak yang masih hangat pun segera dia terima.


***


Mobil Yusuf memasuki halaman rumah. Lampu yang temaram, menerangi beranda. Pintu rumah terbuka. Wanita paruh baya keluar guna menyambutnya, sudah mengetahui siapa yang datang.


Krek... Suara pintu rumah berderit. Bersamaan dengan Yusuf menutup pintu mobilnya. Yusuf melepas senyum kepada Ibunya itu, Rere pun tidak ingin tertinggal menyambut kakaknya itu, hanya karena ingin segera menanyakan martabak pesanannya. Usai mengucap salam, Yusuf mencium punggung tangan ibunya.


"Martabak pesanan Rere, mana?." Tanya nya penuh rasa tidak sabar. Dan tanpa menunggu Yusuf menjawab, Rere yang mengetahui paper bag yang bertuliskan "Martbak Bodor" segera menyautnya dari tangan Yusuf dan berlari ke ruang tengah. Dia segera melahap dan menikmatinya.


Yusuf hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu. Dia begitu sangat menyayanginya. Meskipun terkadang seperti Tom dan Jerry, ketika salah satu dari mereka tidak ada, pastilah merasa kehilangan.


"Bagaimana pertemua kamu tadi bersama Ustadz Harun. Beliau bersedia membantumu?."


"Alhamdulillah, lancar dan beliau bersedia mencarikan calon istri untuk Yusuf."


"Ibu senang mendengarnya. Semoga Allah memudahkan urusanmu."


"Aamiin."


Ketika Ibu dan Yusuf sedang asik berbincang, ponsel Yusuf berdering. Dia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang menghubunginya yang tertera di layar. Dia pun menggeser ikon warna hijau.

__ADS_1


"Iya hallo, Assalamualaikum Ustadz."


"Walaikumsalam. Antum sudah tiba di rumah".


"Sudah Ust."


"Afwan, ada yang mau ane sampaikan, jika ane sudah mendapatkan calon istri yang tepat sesuai dengan kriteria yang kamu inginkan. Kebetulan dia juga tadi sempat kemari, dan menyatakan keinginannya untuk mendapatkan pendamping hidup." Ustadz Harun tidak sengaja tidak menyebutkan nama Zainab. Dia takut jika Yusuf akan lebih dulu untuk menolaknya.


Raut wajah Yusuf berbinar. "Masya Allah, sungguh Ustadz? Cepat sekali kabar baik ini datang. Semoga ini adalah kemudahan yang Allah berikan kepada saya." Yusuf masih dalam keadaan tidak percaya akan segera kabar secepat itu. Ibunya pun tidak kalah bahagianya mendengar hal itu, harapan Yusuf akan menikah tidak lama lagi segera terlaksana.


"Alhamdulillah, semoga dia adalah jodoh antum. Banyak-banyak berdoa dan meminta kepada Allah. Insya Allah pekan depan, antum bisa bertatap muka dengannya langsung di sini."


"Insya Allah, Ustadz. Saya akan datang ke sana pekan depan."


Setelah bertukar suara, Yusuf menghambur kepelukan sang Ibu. Menyalurkan rasa bahagianya.


"Semoga dia adalah jawaban dari do'a Ibu selama ini."


Ibu melepaskan pelukannya. "Dan juga do'a kamu." Sambil menepuk dada Yusuf.


"Pasti kamu sangat lelah setelah bepergian, lekas membersihkan diri, sholat dan istirahatlah!." Perintahnya.


***


Zainab yang mendapat sambungan telepon dari Pamannya, seakan mendapat sambutan tanpa diminta. Dia pun segera menyatakan permintaannya yaitu ingin Yusuf yang menjadi pendamping hidupnya. Namun dengan syarat, sang Paman tidak boleh memberitahukan namanya. Sebagai wanita dia malu karena memintanya lebih dulu. Jika permintaan ini di tolak maka dia tidak terlihat menanggung malu yang begitu berat. "Bagaimana, apakah Paman setuju dengan syarat yang Zainab katakan tadi?."


"Baiklah." Dan Ustadz Harun pun menyetujui syarat keponakannya itu.


"Sebenarnya Paman dan Bibi akan menjodohkan kalian, tapi ternyata kamu sepertinya sudah tertarik dengan Yusuf lebih dulu ya." Katanya membocorkan rencana istrinya. "Keponakan Paman sudah besar rupanya. Sudah tidak sabar menahan diri yang kesepian." Ledeknya sambil terkekeh di seberang telepon.


Wajah Zainab memerah, beruntung tidak ada satupun orang yang melihatnya, kecuali dirinya sendiri. "Ahh, Paman. Jangan meledekku seperti itu. Zainab hanya berusaha, agar terhindar dari perjodohan Ayah." Zainab tidak malu untuk mengakuinya meskipun sebenarnya alasan yang dia ungkapkan adalah sebuah kebenaran.


Raina yang mendengar permintaan Zainab dari suaminya pun seakan bersyukur, tidak salah jika dia memiliki ide akan menyatukan mereka berdua. Justru Zainab sudah terketuk pintu hatinya, tanpa dia harus membujuknya terlebih dahulu. Tinggal menunggu jawaban dari Yusuf. Keputusan inilah yang paling mendebarkan bagi semua, terutama Zainab.


Detik berganti menit, jam, hari dan sampai di mana mereka dipertemukan di waktu dan tempat yang sudah disepakati bersama. Zainab tidak sabar menunggunya. Di Sepertiga malam dalam do'anya tiada henti menyebut nama Yusuf, agar menjadi imam baginya. Hatinya sudah terikat di sana. Jiwanya sudah dibawa separuh olehnya. Zainab benar-benar yakin jika Yusuf akan menjadi jodoh baginya di dunia sampai akhirat.


Satu hal yang juga menjadi ketakutannya adalah jika Ayah akan menolaknya.


Ya Allah ...

__ADS_1


Aku tidak berkuasa atas hatiku.


Namun hati ini telah jatuh kepada dia, Yusuf.


Aku ingin dia menjadi imam bagiku.


Salahkah jika aku meminta ini kepada-Mu?


Bukankah hati ini dan apa yang dirasakannya tidak pernah keliru.


Tempatkan rasa cinta ini kepada tempat yang seharusnya menjadi halal.


Aku meminta dia, Yusuf kepada-Mu.


Bukankah dia milik-Mu?


Hatinya, hidupnya juga milik-Mu.


Condongkanlah hanya kepadaku.


Kepada siapa lagi hamba berharap selain kepada-Mu.


Namun jika dia bukan jodohku.


Jauh dan sembuhkan hatiku agar tidak merasa terluka.


Ya Robb.


Luluhkanlah hati Ayah, agar sudi menerima Yusuf.


Hiasilah dia dengan segala kebaikan, agar mudah baginya mendapatkan restu dari Ayah.


Mudahkanlah Ya Allah.


Usai menuntaskan sholat malamnya, Zainab merasa tubuhnya masih sangat lelah. Dia butuh kembali untuk istirahat sebelum besok pagi datang dan dia harus kembali ke sekolah.


Memikirkan jodoh, apakah harus sesulit ini? Pikirnya. Dia sangat berharap jika Yusuf akan mau menerimanya. Zainab tidak sabar menunggu esok, dia kan kembali berjumpa dengan Yusuf di sekolah. Dia harus pandai menutup rasa hatinya rapat-rapat sebekum mengetahui keputusan jawaban dari Yusuf. Bersikap seolah dirinya tidak menaruh hati sedikitpun kepadanya.


Jutek dan galaknya besok akan beraksi lagi. Seringai kewanitaan anehnya mulai muncul lagi. Suatu penyakitkah itu?

__ADS_1


__ADS_2