Cinta Zainab

Cinta Zainab
Kesal


__ADS_3

"Zainab, tunggu aku." Teriak Sofia setengah berlari mengejar Zainab.


"Mengapa tadi kau tidak datang untuk membelaku."


"Bukankah tadi ada Pak Yusuf di sana." Dengan terus berjalan menuju arah kelasnya tanpa memperhatikan Sofia berada di sampingnya.


"Bahkan Dia tidak membelaku tadi."


"Dan Pak Yusuf juga tidak membela Dita, bukan.?"


"Kau selalu saja berdebat dengan Dita. Padahal tempoh hari aku sering mengingatkanmu, tapi kau sama sekali tidak mengindahkan dan bahkan mengulanginya lagi. Sudah barang tentu aku malas untuk membelamu." Tanpa menunggu jawaban Sofia, Zainab berlalu masuk ke dalam kelasnya.


"Mengapa kau jahat sekali padaku Zai, aku kan sahabatmu. Gumam Sofia pelan.


Saat Zainab memasuki ruang kelasnya dan ketika sampai tepat di pintu masuk, Zainab terperangah. Bagaimana tidak, Yusuf berada di dalam kelasnya. Dia bersandar di meja Zainab, mimik wajahnya begitu bahagia dan sesekali ikut tertawa dengan anak-anak.


Anak-anak terdiam ketika mulai menyadari keberadaan Zainab yang sedang berdiri di pintu masuk kelas.


"Maaf Pak Yusuf, apakah anda salah kelas?"


"Ini ruang kelas saya dan di jam pertama adalah mata pelajaran saya. Bukankah pelajaran Bapak ada di jam kedua?"


"Atau Pak Yusuf salah membaca jadwal hari ini?." Pertanyaan terus dilontarkan kepada Yusuf dengan sorot mata tajam.


"Maaf Bu Zai." Itu sapaan akrab Zainab di sekolah itu. Dan Yusuf mengikutinya, sudah tentu Ia tahu panggilan itu dari anak-anak.


"Saya memang salah kelas, tapi saat hendak keluar, anak-anak menahannya. Mereka meminta saya untuk memperkenalkan diri. Jadi tolong maafkan saya dan juga anak-anak." Yusuf menjelaskan alasannya.


"Benar apa yang dikatakan Pak Yusuf, Bu. Kamilah yang bersalah." Indra si ketua kelas membenarkan alasan Yusuf.


"Baiklah, saya memaafkan anda Pak Yusuf dan ibu juga memaafkan kalian anak-anak. Tapi, Ibu tidak ingin hal ini terjadi lagi. Peringatan Zainab dikibarkan.


" Iya Bu."Jawab anak-anak serentak.


"Maaf Pak Yusuf, mungkin anak-anak di kelas sebelah sudah terlalu lama menunggu anda." Usir Zainab secara halus.


Yusuf pun segera mengemasi buku-buku miliknya yang Ia letakkan di meja. Dan ketika hendak melangkahkan kaki keluar kelas, Ia berhenti sejenak di samping Zainab.


"Tolong, jangan galak-galak sama anak-anak Bu. Ibu tidak tahu bukan, apa saja yang sudah mereka adukan tentang anda kepada saya." Setengah berbisik. Dan Yusuf sempat melirik ke arah wajah Zainab, ingin melihat perubahan ekspresi di sana. Kemudian dengan diiringi senyum, Ia benar-benar meninggalkan kelas itu.


Zainab mematung setelah mendengarkan kalimat Yusuf. Sepertinya sulit untuk di cerna. Beberapa kali Ia mencoba untuk memahami, namun hasil uang sama yang membuat wajahnya tetao terasa panas dan memerah.


Sombong dan berani sekali dia padaku. Belum genap satu hari mengajar di sini, dia sudah mengatai ku galak. Bahkan mampu mengambil hati dan perhatian anak-anak. Dan apa yang sudah diadukan anak-anak kepadanya. Mana mungkin aku mengorek informasi atas apa yang terjadi tadi saat belum masuk kelas.


Ohh itu tidak mungkin. Sungguh memalukan. Atau Dia ingin membuat perseteruan denganku. Tapi apa alasannya hingga Ia memiliki niat seburuk itu. Gumam Zainab dalam hati. Pikirannya mengikuti ke hal yang tidak-tidak.


"Bu Zai, kok bengong aja disitu. Kita semua sudah siap untuk belajar."

__ADS_1


Suara itu membuyarkan lamunan Zainab, membangun dan mengumpulakan kewarasaanya seperti semula.


"Maafkan Ibu, anak-anak. Mari kita lanjutkan pelajaran kita yang lalu.


Zainab sejenak terheran, melihat semua anak mengikuti intruksinya. Padahal ada saja beberapa siswanya yang tidak mengikuti perintahnya. Kemudian Ia kembali berfikir tentang apa yang sudah Yusuf berikan pada mereka. Tak terasa olehnya, bibirnya mengembang sempurna.


***


Jam istirahat telah tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Ada yang jajan ke Kantin, ke Perpusatakaan, bermain bola basket di lapangan atau hanya duduk-duduk sambil mengobrol tentang kabar terkini di jagat media sosial. Layaknya akun gosip, selalu update setiap waktu.


Yusuf keluar dari ruang guru. Ia berdiri bersandar di pendopo, menonton permainan bola basket di lapangan. Suara riuh juga terdengar dari sisi lain luar lapangan, anak-anak yang meneriakan kata kemenangan saat bola berhasil masuk ke dalam ring.


"Pak Yusuf." menepuk bahu Yusuf pelan.


Yusuf menoleh dan sedikit terperajat."Ooh Pak Karim."


"Sepertinya menikmati sekali nonton anak-anak bermain basket."


"Penghilang rasa jenuh Pak. Bosan jika harus di dalam terus."


Ketika tengah asik berbincang. Zainab melintas di hadapan mereka dengan membawa setumpuk buku yang Ia dekapkan didadanya.


"Bu Zai, dari mana dan mau ke mana?." Dua pertanyaan sekaligus Pak Karim berikan.


"Saya dari Perpusatakaan dan mau kembali ke kantor guru." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Pak Karim. Sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Yusuf.


"Iya silahkan Bu." Zainab pun berlalu dan masih tidak menghiraukan Yusuf yang sejak tadi ikut memandanganya. Mungkin saja masih ada perasaan antara malu, kesal dan tidak enak dihatinya.


Ketika hendak membuka suara, Pak Karim melihat bibir Yusuf menyunggingkan senyum. Dan mulai berpikir ada sesuatu yang tidak bisa diartikan.


"Bu Zainab itu selain cantik, seorang muslimah yang baik, sholeha, cerdas dan enak kalau diajak mengobrol. Ya walaupum bisa berubah galak sewaktu-waktu, jadi ingat istri saya kalau lagi marah-marah semasa dia masih hidup dahulu." Katanya mengingat kejadian masa lampau, senyum manis sekilas melintas di wajahnya.


"Dan satu lagi, Dia itu masih lajang dan pantas untuk dijadikan seorang istri idaman." Pak Karim menyenggol lengan Yusuf disertai senyuman menggoda.


"Saya belum berpikir untuk menikah. Saya masih memiliki tanggungjawab atas Ibu dan adik saya." Terang Yusuf.


Meskipun sebenarnya jauh dilubuk hati yang paling dalam, Ia juga ingin memiliki seorang istri. Namun, tanggungjawab untuk menanggung hidupnya saja masih dirasa pelik. Apalagi mau menafkahi anak perempuan orang.


Sepeninggal kematian Bapaknya, Yusuf masih belum mampu memikirkan hal lain, termasuk urusan untuk meminang seorang wanita. Baginya Ibu dan adiknya adalah hal utama dalam hidupnya saat ini.


"Suatu saat pasti hari itu akan tiba, memang tidak akan terjadi dalam waktu dekat." Pak Karim menepuk-nepuk bahu Yusuf memberi semangat.


Tiba-tiba Maya dan Sofia datang berseloroh bersama teman-temannya yang lain. Mereka menghambur menghampiri Yusuf untuk meminta berfoto dengannya.


"Pak Karim tolong foto kami dengan Pak Yusuf ya." Sinta menyodorkan ponsel miliknya, tanpa meminta ijin lebih dulu kepada Yusuf meminta persetujuan.


Pak Karim kebingungan melihat tingkah laku anak-anak perempuan itu. Dan melihat ke arah Yusuf. Yusuf pun menganggukan kepalanya pelan, kemudian Pak Karim mengambil ponsel itu untuk menuruti permintaan mereka dengan sedikit terpaksa.

__ADS_1


"Yang bagus ya fotonya, Pak." teriak mereka.


Namun sebelum gambar diambil, Yusuf memberi persyaratan agar mereka tidak menyentuhnya. Anak-anak pun mengangguk setuju.


Mereka berpose sesukanya. Kecuali Yusuf yang hanya berdiri, seperti tidak bergerak karena diapit oleh mereka dari kanan dan juga kiri. Hanya senyum yang Ia lepaskan, agar anak-anak merasa senang.


Guru-guru yang melintas disitupun tidak luput dari ajakan anak-anak agar bisa berfoto bersama, Sofia yang ikut terjebak disitu pun girangnya bukan main. Kapan lagi pikirnya.


Entah berapa gambar yang telah diambil oleh Pak Karim. Anak-anak berlonjak senang saat melihat hasil foto itu. Arelah mengucapkan terimakasih, mereka mulai membubarkan diri


Zainab yang melihat dari kejauhan, hanya berekspresi datar. Bahkan hatinya membuka percakapan dengan diri sendiri, memberi nilai buruk pada Yusuf. Pantas jika masuk dalam daftar hitam miliknya.


Tangan Zainab seperti merasa terseret. Ternyata benar, Sofia sudah menarik-narik tangannya menuju Yusuf dan Pal Karim.


"Ayo Zainab, ikut berfoto dengan Pak Yusuf." Ajak Sofia.


"Tidak, tidak, kau saja." Melipat kedua tangan sambil melirik tajam pada Yusuf, menyiratkan bahwa itu adalah tatapan tidak suka.


Atau ada hubungannya dengan kejadian pagi tadi. Mungkin. Bisa jadi.


Karena terus merasa dipaksa, akhirnya Zainab hanya bisa terdiam pasrah. Pak Karim yang menyaksikan, hanya terkekeh geli.


Apalagi ketika akan mengambil gambar, sudah bersiap malah Zainab melebarkan kakinya satu langkah sedikit memberi jarak agak jauh dengan Yusuf. Jujur dia merasa risih dan aneh berada di dekat Yusuf, jantungnya berdebar seakan mau copot. Padahal tadi Ia bilang bahwa sangat kesal padanya. Namanya juga hati, ridak dimengerti apa maunya atau mungkin ini signal yang sebenanrnya. Akan tetapi Zainab belum mampu menejermahkannya.


Sofia yang juga kesal melihat sahabatnya seperti itu. Sudah beberapa kali melakukan gerakan yang sama. Jadi, sejak tadi belum ada gambar yang dipotret oleh Pak Karim.


Karena sebentar-sebentar "Tunggu Pak Karim." Tahan Sofia melambaikan tangan.


"Zainab, kenapa kau menjauh. Nanti hasil fotonya akan jelek." Entah sudah keberapa kali perkataan otu keluar dari mulut Sofia.


Lain lagi dengan Yusuf, Dia tahu ini juga tidak mudah baginya. Apalagi melihat Zainab yang bersikap aneh seperti itu, tidak lain hanyalah menjaga dirinya agar tidak tersentuh, meskipun jarak antara Ia dan Zainab yaitu 30cm. Sedangkan antara Ia dengan Sofia, jika bergerak saja kulit mereka bisa bersentuhan.


"Aku mau difoto dengan jarak segini saja." Tawar Zainab.


"Baiklah, daripada kita tidak jadi berfoto. Mungkin ini adalah pose terbaik sepanjang masa hidupmu." Sofia berkata dengan jengkel.


Akhirnya foto mereka berhasil diabadikan oleh Pak Karim. Sofia hanya bisa tersenyum kecut sambil menatap nanar wajah Sofia.


Zainab yang melihat pandangan Sofia, buru-buru mengambil langkah seribu masuk ke dalam ruang guru. Dan disusul oleh Sofia dari belakang ikut mengejarnya.


Yusuf dan Pak Karim terkekeh melihat dua sahabat itu, layaknya seperti tingkah anak didik mereka sendiri.


***


Semoga kalian suka dengan tuliskan ini. Kangan lupa like, comment dan share ya!!!


Dukungan kalian sangat berarti.

__ADS_1


__ADS_2