
Sebenarnya aku pengen cerita Sofia cuma 1 episode, tapi apalah daya sepertinya di episode ini masih betah dengan Sofia.
Mungkin ini yang terakhir mengenai perjalanannya.
Aku sih berharap begituhhhh
***
Cahaya matahari masuk lewat ventilasi jendela kamar yang di tempati Sofia dan Alina. Sofia sudah membersihkan diri dan rapi, bersiap untuk menemui orang yang akan menjadi tuan majikannya. Demikian juga Alina.
Tok, tok, tok. Suara pintu diketuk.
Ceklek.
Rupanya Bono. "Ayo segera keluar dan berkumpul di ruang tamu." Perintahnya cepat.
Sofia dan Alina pun mengikutinya dari belakang. Dan semua sudah berkumpul di sana, termasuk juga Mia.
"Ganti pakaian kalian. Ambil masing-masing satu." Telunjuk Mia mengatah kepada tas yang ada di meja.
Semua menuruti intruksi Mia untuk berganti pakaian.
Sofia tercengang melihat bentuk dan rupa pakaian yang Ia kenakan. Betapa tidak, pakaian yang terlihat begitu seksi di tubuhnya itu. Ia merasa malu, sebab tidak pernah sebelumnya mengenakan pakaian terbuka. Apalagi ditambah gundukan kembar sangat terlihat montok, membuat gairah siapapun yang melihatnya.
Alina yang tubuhnya serba datar, tidak begitu nampak bagian-bagian vulgar miliknya. Jadi Alina merasa biasa-biasa saja.
Setelah berganti pakaian, mereka kembali ke ruang tamu. Sofia yang merasa tidak nyaman sesekali memperbaiki pakaiannya, meskipun sudah benar. Ia temukan tatapan Bono, seakan tatapannya itu menyusuri tubunya dan membuatnya merasa risih.
Sofia yang sedari tadi di kepalanya muncul begitu banyak pertanyaan, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
"Maaf Mbak Mia, apakah bertemu dengan pakaian seperti ini. Saya rasa kurang sopan." Sofia mencoba mengungkapkan protesnya.
"Kamu tidak perlu banyak bicara. Ikuti saja perintah saya kalau kamu masih sayang dengan nyawa mu." Seringai menakutkan muncul. Entah mengapa wanita itu sekarang bisa menjadi ngeri, asao rokok mengepul dari mulutnya. Itu yang membuat Sofia terkejut, kemarin dia begitu sangat ramah.
Apa mungkin Mia telah mencoba menipu diri dan juga yang lain. Pekerjaan apa sebenarnya yang akan Ia beri. Alina mendekatkan tubuhnya pada Sofia, Ia terlihat begitu ketakutan. Sofia berusaha menenangkannya.
"Ini juga berlaku untuk yang lain. Jangan sekali-kali menentang perintah saya." Imbuhnya lagi.
Mereka berlima digiring untuk segera memasuki mobil. Entah akan di bawa kemana. Mereka saling menatap satu sama lain, tidak berani untuk bicara, hanya menyimpan rasa takut dalam hati masing-masing. Sofia dan Alina saling berpegangan tangan. Seakan tidak ingin berpisah.
Mereka tiba di sebuah kawasan perumahan elit. Mobil itu memasuki gerbang tinggi. Lelaki kekar berseragam serba hitam, terlihat berjaga di setiap sudut rumah itu. Model rumah minimalis dengan cat warna putih dan gold, menambah kesan mewah seperti layaknya sebuah istana. Terlihat juga banyak mobil-mobil mewah berjajar di halaman.
Setelah mobil berhenti, mereka segera diminta untuk turun. Dan mengikuti langkah kaki Bono memasuki rumah. Daun pintu besar terbuka lebar, bau asap rokok yang mengepul dan alkohol tercium dari dalam sana. Lelaki paruh baya dengan penampilan perlente tengah duduk bersama seorang wanita muda yang Ia pangku di sofa. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikan. Sesekali terlihat sang wanita menuangkan minuman alkohol itu ke gelas mililk lelaki itu.
"Terimakasih sayang." Ucapnya seraya mencium pipi wanita muda itu.
Tidak ada rasa malu diantara mereka, mengumbar kemesraan di depan orang lain. Sofia begidik melihat pemandangannya itu. Ia takut dan rasanya ingin berlari. Tapi apakah Ia mampu untuk menembus penjagaan ketat di luar rumah ini. Alina tidak pernah melepaskan tangannya sedari awal keberangkatan mereka. Sorot mata takut terlihat jelas. Bagaimanapun Ia akan tetap berpikir mencari cara guna keluar dari sarang istana ini.
Bono dan Mia menghentikan langkahnya di depan lelaki paruh baya itu. "Permintaan Tuan besar sudah saya bawa." Kata Mia menyampaikan.
Lelaki itu meletakan gelasnya di meja dan memberi isyarat kepada wanita dihadapannya untuk turun dari pangkuannya. Kemudian lelaki itu menatap dengan seksama Sofia, Alina dan ketiga yang lain.
Senyumnya mengembang sempurna. "Kau memang sangat pandai, kau tahu apa yang aku inginkan."
Lelaki itu mengeluarkan amplop cokelat dari saku jasnya, dan menyodorkannya kepada Mia. "Aku memberikan bonus kali ini kepada kalian." Ucapnya lagi.
__ADS_1
Mia yang berubah mimik wajahnya ketika mengetahui bahwa amplop cokelat itu berisikan uang, segera menyautnya.
"Terimakasih Tuan. Anda sangat baik sekali."
"Kalian berlima akan tinggal disini. Jangan pernah mencoba untuk keluar apalagi kabur dari tempat ini. Karena nyawa ada di tangan kalian sendiri." Perkataan Mia seolah berupa sebuah peringatan dan ancaman.
Sofia ingin sekali menarik rambut wanita itu, atau bahkan membuatnya mati saja karena telah menipunya. Namun Ia tidak berani jika masih sayang dengan nyawanya. Wajah Ibun dan kedua adiknya terlintar dibenaknya, menbuat Ia merasa sedih sekaligus bersalah. Tempoh hari Ibunya merasa berat akan melepaskan kepergiannya karena hatinya merasa tidak enak, itu merupakan sebuah firasat dari seorang Ibu. Namun, Ia bahkan hanya menganggapnya sebagai rasa kekhawatiran belaka. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi pada dirinya, Sofia baru menyadari betapa besar kesalahan terhadap sang Ibu. Rasanya Ia ingin berlari pulang dan meminta maaf kepadanya.
"Kau yang mengenakan baju merah, tetaplah disini. Temani dan layani aku. Dan yang lain boleh pergi ke kamar masing-masing." Pinta lelaki paruh baya itu.
Sumpah demi apapun, kini Sofia akan bekerja sebagai pelayan lelaki tua. Mungkinkah sama dengan seorang *******?
Sofia diminta untuk duduk di sampingnya.
"Siapa namamu?"
"Sa-saya Sofia." Jawabnya terbata karena takut.
"Tidak usah takut. Saya bukan orang jahat, jika kamu bisa melayani saya dengan baik. Tetapi jika kamu menolaknya, apapun akan saya lakukan untuk menyakiti diri kamu." Seraya menarik dagu Sofia.
Lelaki paruh baya itu bernama Tuan Toni, Ia seorang duda tua kaya raya. Hidupnya hanyalah bersenang-senang dengan para wanita muda. Berfoya-foya demi memuaskan nafsu bejatnya. Dia sudah lama bercerai dengan istrinya. Alasan sering meniduri banyak wanita yang membuat istrinya lebih memilih pergi, meskipun rumah baik istana namun hatinya selalu merana.
Sofia merasa tubuhnya mulai gemetar, rasa takut menguasai dirinya. Wajah pucat pasi, serta tubunya terasa begitu dingin. Sofia tidak berani menatap wajah Tuan Toni. Ia meremas jemari tangannya.
Tangan Tuan Toni meraih pinggang Sofia dan berusaha akan mencium bibirnya. "Ja-jangan Tuan, saya sedang flu. Nanti Tuan akan tertular." Tolaknya dengan alasan.
Tuan Toni mengurungkan niatnya. "Aku tahu kamu belum siap melakukannya, namun kau harus belajar membiasakannya. Semakin lama kau akan menikmati bagaimana rasa indahnya bercinta denganku."
Sofia tidak tahu lagi harus beralasan apa lagi besok, jika sang Tuan meminta kembali atau mungkin bahkan lebih dari sekedar ciuman. Api berkecamuk di dadanya, Ia ingin berteriak sejadi-jadinya. Kakinya ingin keluar dari cengkraman lelaki tua itu.
"Minumlah obat, nanti pembantu rumah ini akan memberikannya kepadamu. Beristirahatlah di kamarmu. Dan nanti malam saya ingin kamu bersiap untuk ikut dengan saya menghadiri undangan pesta ulang tahun rekan bisnis saya. Kamu tidak perlu repot menyiapkan apapun, kamu hanya butuh patuh dan semua keinginan kamu akan terpenuhi." Tuturnya seraya beranjak pergi.
Sofia mendengar ucapan itu dengam rasa takjub. Namun alasan apapun dibalik itu semua tetaplah adalah sebuah kesalahan. Hati nuraninya berulang kali menolak, sedangkan akal sehatnya meminta untuk tidak menyia-nyiakan apa yang akan Ia dapatkan sudah ada di depan mata.
"Carilah rezeki yang halal, meskipun hanya sedikit. Untuk apa harta banyak jika itu didapatkan dari cara yang tidak benar. Toh, semua itu tidak akan berkah." Kalimat itu selalu terngiang ditelinga Sofia. Ibunya selalu menasihati demikian.
Sofia diantar ke kamarnya untuk beristirahat oleh salah satu pembantu di rumah itu. Mereka semua patuh terhadap peraturan Tuan Besar.
***
Sofia terlihat cantik dan anggun dengan gaun biru yang Ia kenakan. Ia merias wajahnya sendiri sengan polesan tipis, lipstik warna merah muda Ia oleskan ke bibirnya. Menambah aura kecantikkan di wajahnya.
Sejak tadi Ia sudah menyusun rencana untuk kabur, Baginya mengikuti acara pesta rekan bjsmis dari Tuan Toni sama dengan memberinya jalan keluar dari istana mengerikan itu. Nanti Ia akan bepura-pura pergi ke kamar mandi misalnya, agar bisa leluasa pergi tanpa harus diketahui oleh Tuan Toni. Mungkinkah bisa semudah itu?
Sofia diminta untuk menemui Tuan Toni yang sudah menunggunya di ruang tamu. Tuan Toni dibuat tidak berkedip melihat pemandangan baru di hadapannya. Jika tidak ingat bahwa Ia imakan pergi menghadiri pesta, rasanya Ia ingin menarik lengan Sofia ke kamarnya. Otak kotornya mulai bereaksi.
"Ayo kita pergi." Ajaknya.
Mobil merci yang mereka tumpangi memecah jalanan malam. Kondisi jalan sangat lengang, sehingga bisa melaju sedang tanpa harus menemui kemacetan.
30 menit kemudian, mereka sampai di sebuah gedung. Hiasan dekor di depan gedung begitu indah seakan menyambut mereka yang baru datang. Sudah barang tentu ini pesta kelas atas.
Sofia turun dari mobil dan mengikuti sang Tuan untuk memasuki ke dalam gedung. Di mana pesta itu berlangsung. Rekan bisnis terlihat ramah menyapanya.
"Wah, mangsa baru nih. Pasti hot." Kata salah seorang lelaki yang juga paruh baya.
__ADS_1
"Itu pasti." Jawabnya dengan tergelak.
Para pelayan menyuguhi beberapa makanan kepada setiap tamu. Berbagai makanan enak tersedia di sana, membuat perut Sofia tidak berhenti untuk minta diisi.
Tuan Toni meminta Sofia untuk mengambilkan makanan untuknya. Sofia berpikir akan segera melancarkan aksi kaburnya. Benar saja Ia pamit untuk pergi ke toilet, tetapi tidak semudah apa yang Ia rencanakan sebelumnya, bodyguard Tuan Toni diminta untuk mengikutinya.
Sofia berdecih selama menuju toilet.
"Apa kau juga akan mengikuti saya sampai ke dalam?." Tanyanya pada lelaki bertubuh kekar itu.
"Tidak Nona. Saya akan menunggu anda di sini."
"Bagus. Tetaplah disini, dan jangan mengintip."
Sofia segera masuk ke dalam toilet. Ia memang tidak ingin buang besar ataupun kecil. Ia di sana kembali berpikir, bagaiman bisa meloloskan diri dari bodyguard itu. Tiba-tiba lampu neon menyala di kepalanya.
Ceklek. Sofis membuka pintu, namun hanya kepalanya saja yang terlihat menyebul keluar.
"Hei kamu, Tuan berotot." Panggilnya setengah berteriak dan membuat lelaki itu datang mendekat.
"Aku sedang menstruasi, bisakah kau membelikan ku pembalut. Aku takut pakaian ku akan kotor dan pasti sangat memalukan." Rengeknya dengan nada memelas.
"Tunggulah sebentar Nona, saya akan membelikannya untuk anda." Katanya menurut.
Ternyata hanya tubuhnya saja yang kekar. Tapi dengan sangat mudah Ia tertipu. Setelah lelaki itu pergi, Sofia mendapatkan kesempatan emasnya untuk segera kabur. Ia berlari mencari arah pintu keluar. Dan tetap waspada jika nanti sampai ada yang mengenalinya. Akhirnya Ia berhasil keluar dari gedung itu, segera Ia berlari dengan sekuat tenaga.
Sementara Tuan Toni dan sang bodyguard kembali menemui Sofia di toilet. Namun alangkah terkejutnya mereka saat tidak menemukan Sofia di dalam sana. Murkalah Tuan Toni mengutuki diri Sofia. Ia segera keluar untuk mencarinya di semua ruangan, namun tetap tidak ditemukan keberadaan Sofia. Semakin menambah kemurkaannya.
Sofia terus berlari hingga kakinya sangat lelah dan berulang kali terjatuh. Terpaksa sepatu tinggi Ia lepaskan, agar semakin mudah Ia berlari.
Suara klakson mobil terus membuntutinya. Meskipun sudah ratusan meter, Tuan Toni pasti akan mudah untuk menemukan di mana dirinya. Sofia terus berlari hingga kaki dan lututnya berdarah.
Anak buah Tuan Toni turun dari mobil dan mengejarnya. Sofia berlari dengan sekuat tenaga dan bersembunyi di balik drum besar yang berjajar. Ia terus berdoa di dalam hatinya, memohon perlindungan. Ia menangis dalam diam. Takut jika anak buah Tuan Toni menemukannya.
Sudah 1 jam Sofia bersembunyi, dan ketika suara deru mobil semakin menjauh. Ia memberanikan diri untuk keluar dan berharap mereka semua juga telah pergi.
Sofia berjalan menyusuri jalan sepi. Dalam hatinya dipenuhi rasa ketakutan. Namun tidak ada pilihan lain, Ia harus tetap pergi entah kemana kakinya akan membawa.
Tiba-tiba ada mobil berhenti tepat dibelakangnya. Sofia nyaris limbung karena tubuhnya gemetar karena ketakutan itu lebih besar menyerangnya. Ia terjatuh dan menangis. Matanya terpejam ketika melihat sosok turun dari mobil itu.
"Saya mohon jangan paksa saya untuk ikut dengan anda, Tuan. Saya mau pulang, biarkan meskipun hidup saya serba sulit. Asalkan saya selalu berada di samping Ibu dan kedua adik saya." Tuturnya dengan nada ketakutan.
"Saya bukan orang jahat. Saya tahu kamu adalah perempuan yang di bawa Toni tadi ke pesta. Lebih baik, kamu ikut saya pulang. Saya pastikan keadaan kamu akan baik-baik saja, dan Toni tidak akan mengetahuinya."
Perkataan itu seperti sebuab pertolongan yang dikirimkan oleh Tuhan untuknya. Sofia membuka mata dan melihat sosok lelaki paruh baya. Sofia berusaha untuk berdiri, namun kaki dan lututnya terlalu sakit. Akhirnya lelaki itu membantunya berdiri dan memapahnya untuk masuk ke dalam mobil.
***
Epilog
Setelah berusaha mencari di manapun keberadan Sofia. Namun nihil hasilnya. .anak buah Tuan Toni kembali untuk melapor.
"Maafkan kami, Tuan. Nona Sofia tetap tidak di temukan dimanapun."
"Kurang ajar. Wanita sialan, tidak tahu diuntung. Awas kau jika ku temukan. Aku akan membunuhmu." Rancau Tuan Toni
__ADS_1