
Hujan turun tepat saat Zainab tiba di rumah. Zainab memarkirkan motornya, dia ingat bahwa pada saat turunnya hujan adalah waktu mustajab di mana do'a dikabulkan oleh Allah. Apa yang menjadi do'a dan harapannya adalah sang Ayah akan memberikan kemudahan untuknya dan juga Yusuf.
Hujan semakin deras. Ditambah dengan angin kencang. Zainab segera melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah Sofia dan Risa terdengar sedang asik mengobrol.
"Zai, kau sudah pulang?." Tanya Risa yang mengetahui kepulangannya. Dengan langkah gontai, Zainab ikut duduk di sofa tunggal.
"Kami baru saja membicarakanmu." Sofia berseloroh.
"Pantas saja tadi telinga ku tidak berhenti berdengung." Tutur Zainab seraya mengambil potongan buah yang tersedia di piring, dan memasukan ke dalam mulutnya. "Ternyata diam-diam kalian suka membicarakanku di belakang." Sambungnya dengan mulut masih mengunyah.
"Jangan suudzon!" Sahut Risa.
"Becanda Mbak. Orang hamil memang baperan." Zainab tertawa pelan.
"Masa sih bisa gitu?." Sofia menanggapi serius.
"Zainab kamu dengarkan." Risa membela diri.
"Tapi Mbak, aku serius penasaran deh." Sofia memasang wajah kaku.
"Sudah ku bilang, Zainab itu hanya mengada-ada. Kau mudah sekali untuk terpengaruh." Risa merasa geram. Ditambah lagi dengan melihat Zainab yang kini tertawa terbahak kerena geli.
"Sayang.... aku pulang" Teriakan itu membuat ketiganya menoleh.
"Sayang..." Risa beranjak berdiri menghampiri suaminya. Lalu mendekapnya erat. "Aku rindu." Tuturnya dengan nada manja.
Sofia merasa iri dengan kehangatan mereka berdua sebagai pasangan suami istri. Sedangkan Zainab, sudah tidak mengherankan jika mereka berdua suka bersikap berlebihan.
"Benarkah?" Fikri melepaskan dekapan Risa.
Risa pun mengangguk pelan. "Aku kesepian." Rengeknya.
"Bukankah ada Zainab dan Sofia yang menemanimu?." Fikri mengamati wakah istrinya yang sudah berubah cemberut.
"Bertemankan jomblo itu kan tidak enak, Sayang."
__ADS_1
Zainab dan Sofia merasakan diri mereka tersakiti oleh perkataan Risa. Jahat sekali, bukan? Sofia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Zainab melipat tangan di bawah dadanya. Dia merasa risih melihat pemandangan yang acap kali Fikri dan Risa tontonkan dihadapannya. Mereka sama-sama berlebihan.
"Mbak Risa, Mas Fikri, tahu gak sih kalau kalian tuh bikin aku baper." Sofia menggigit jarinya seperti orang bodoh.
"Makanya cepat nikah! Gak bosan hidup sendiri terus?" Risa berkata menyindir.
"Jodoh belum sampai, Mbak. Masih tunggu sebentar lagi." Kata-kata Sofia penuh frustasi jika mengingat hubungan antara dirinya dan Dimas belum ada perkembangan.
"Kamu yang sabar. Kalau sudah waktunya, pasti dia akan datang. Bukan begitu Zai?." Melihat Zainab yang sejak tadi tidak menanggapi, Fikri kemudian menyelipkan pertanyaan untuknya.
"Hmm." Jawabnya dengan sorot mata jengah.
"Kalian lanjutkan mengobrolnya, Mas Fikri ke kamar dulu." Pamitnya seraya menggandeng tangan Risa menaiki anak tangga. Fikri semakin sayang dan penuh perhatian semenjak tahu Risa mengandung. Apapun akan dia lakukan, hanya untuk melihat istinya bahagia, dia selalu ingat apa pesan dokter, bahwa ibu hamil tidak boleh bersedih, cemas atau merasakan hal apapun yang membuat moodnya buruk. "Buatlah istri anda selalu bahagia, karena itu akan berpengaruh dengan kondisi si ibu dan juga janin yang ada dalam kandungannya."
***
"Hallo. Apa kabar?." Mujayasa tengah menerima telepon di ruangannya.
"Baik, baik. Bagaimana dengan mu?"
"Sama baiknya. Ada apa, tumben sekali menelponku?." Tanyanya pada seseorang di seberang sana.
"Oh, baiklah. Tentu saja ini kabar sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan." Senyum lebar tercipta di bibir Mujayasa.
"Bukankah, kita sudah sepakat jika akan menjodohkan anak-anak kita. Karena anakku Dinan telah pulang dari Perancis. Jadi, saya ingin segera mengenalkannya pada putrimu." Terangnya.
Mujayasa sedikit terlonjak. Rupanya Fernando, sahabat bisnisnya itu masih ingat dengan kesepakatan yang pernah mereka buat. Bukan Mujayasa melupakan itu, namun hanya saja dia juga sudah terlanjur memiliki kesepakatan dengan Zainab. Dia benar-benar ada dalam situasi yang membingunkan saat ini.
"Hallo, hallo." Suara Fernando terus terdengar karena tidak adanya balasan suara.
"Iya Fer, aku mendengarnya. Aku akan memyambut kedatanganmu di rumah." Mujayasa menutup sambungan teleponnya.
Dia memijat keningnya, memikirkan apa yang akan dilakukannya besok. Sebelum Fernando datang, dia harus menanyakan lebih dulu mengenai kesepakatannya itu. Apakah dia sudah menemukan calon suami atau belum. Ini menyangkut masa depan putrinya. Dia tidak ingin melihat Zainab tidak bahagia.
Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mujayasa.
__ADS_1
"Masuklah." Perintahnya seraya mengenakan kembali kaca matanya.
Pintu terbuka dan muncul seorang wanita muda yang tidak lain adalah sekretarisnya, membawa berkas laporan yang harus dia periksa dan di tanda tangani. "Ini Pak, laporan yang Bapak minta." Katanya sembari meletakkan berkas itu di meja. "Dan 15 menit lagi, meeting dengan klien dari perusahaan Jaya Abadi ." Imbuhnya memberikan informasi sesuai dengan jadwal.
"Baiklah, siapkan berkas-berkasnya." Ujar Mujayasa sambil memberi isyarat dengan telunjuk agar sekretarisnya itu keluar.
Wanita itu pun menunduk hormat, sudah paham dengan isyarat Bos besarnya itu. Kemudian menghilang dari ruangan itu.
***
"Apakah kamu sudah siap untuk bertemu dengan Ayahnya Zainab?." Tanya Bu Tina kepada anak lelakinya.
"Insya Allah, Bu. Do'akan semoga besok Ayah Zainab menerima Yusuf dengan baik. Yusuf memang tidak pernah bercerita tentang dirinya pernah dihina oleh Mujayasa, Ayah Zainab. Mungkin Ibu tidak akan pernah menyetujui jika dia menginginkan Zainab. Raut wajah tua itu tidak boleh lagi merasakan kedukaan dan kesedihan.
"Sebagai seorang Ibu, pasti akan selalu mendo'akan anak-anaknya. Tanpa diminta sekalipun. Bawa dia sebagai menantu Ibu, Nak!." Pintanya penuh harap.
"Insya Allah, Bu." Yusuf tidak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa jangan terlalu berharap akan membawa Zainab ke rumah ini sebagai menantu. Akan tetapi melihat Ibunya yang terlampau bahagia, dirinya pun bertekad untuk melakukan ikhtiar agar do'a Ibunya menjadi kenyataan. Namun, ketakutan masih bersarang di dalam hatinya.
"Pasrahkan semuanya kepada Allah. Apapun hasil keputusannya besok, kamu harus berlapang dada. Meskipun Ibu juga mengharapkannya." Wajahnya berubah pias. Ibu juga tidak mau mengenyampingkan perasaan jika Ayah Zainab menolak putranya itu.
Yusuf menggenggam kedua tangan yang kini telah berkeriput. "Yusuf pasti akan membawanya ke hadapan Ibu. Dia akan menjadi menantu di rumah ini." Meskipun memang tidak semudah itu pada kenyataannya. Lanjutnya dalam hati.
"Ibu tidak mau menaruh harapan begitu jauh. Ibu jadi ingat apa yang pernah kamu katakan, jika kita memiliki status sosial yang berbeda. Andai saja dulu, perusahaan Bapakmu..." Bu Tina tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Dia mengalihkan pandangannya kepada pintu yang terbuka, turut merasakan separuh jiwanya yang sedang berkelana bersama jiwa yang telah mati.
"Sudahlah, Bu. Kita harus menerima kenyataan bahwa kepergian Bapak sudah menjadi takdirnya." Yusuf mencoba menghalau kesedihan yang kembali datang.
Kristal hangat itu tertahan di pelupuk mata. Sebisa mungkin tidak menjatuhkannya. Selama ini putranya itu telah banyak berperan dalam kehidupannya. Sebagai anak sulung, Yusuf mengambil alih tanggung jawab penuh semua biaya kehidupan mereka. Dia yang selalu menguatkan disaat hatinya mulai kembali rapuh. "Terimakasih, kau selalu menyenangkan hati Ibu. Kamu benar, Ibu memamg belum sepenuhnya ikhlas melepaskan kepergian Bapakmu. Tidak seharusnya Ibu bersikap seperti ini. Kamu dan Rere masih membutuhkan keberadaan Ibu." Ujarnya seraya menata hati kembali. Perlahan senyumnya mengembang.
"Justru Yusuf yang harus berterimakasih, karena Ibu yang kuat dan selalu berusaha tegar untuk selalu mendampingi Yusuf dan Rere."
"Kenapa Ibu terlihat sedih?." Rere yang tiba-tiba datang memperhatikan wajahnya Ibunya. "Apakah Ibu sakit?." Tanyanya khawatir.
"Tidak, Ibu baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ibu." Jawabnya.
"Baiklah, Ibu memang pandai menyembunyikan apapun dariku dan Mas Yusuf. Tapi, Rere tidak akan membiarkan Ibu bersedih lagi." Rere melingkarkan lengannya di bahu Ibunya dan menciumi pipinya dengan.
__ADS_1
Yusuf tersenyum melihat sikap adiknya itu. Kini dia sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang tangguh. Dia memang gadis belia, namun dirinya tidak pernah menemukan Rere merengek meminta ini dan itu.
***Bersambung***