Cinta Zainab

Cinta Zainab
Ice Cream


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kejadian itu, Zainab hanya bisa menelan detik demi detik pahitnya waktu. Dirinya belum mampu sejalan dengan keputusannya. Menikah dengan Dinan menunjukan bahwa dia sangat menyayangi dan memilih kehidupan Ayahnya dibandingkan dengan masa depannya sendiri. Berulang kali dia mencoba untuk berdamai, namun berulang kali pula hatinya mengusirnya jauh.


Mujayasa juga telah diperbolehkan untuk pulang hari ini. Zainab juga selalu datang ke rumah sakit untuk menemui Mujayasa saat pulang mengajar. Rasa canggung yang tercipta ketika berpapasan secara tidak sengaja atau tatap muka dengan Yusuf, membuatnya langsung menghindar. Dia tidak ingin menenggelamkan diri lagi di sana. Sudah sejauh ini dia terus menuju ke tepi, meskipun itu sangatlah sulit.


Yusuf pun hanya mampu melihatnya dari jauh. Dia tahu rembulan itu tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Perjuangannya telah berakhir. Mungkin saja rembulan itu memilih salah satu bintang di langit yang akan menjadi teman hidupnya. Pil pahit yang ia telan tidak akan bisa lagi dimuntahkan, jika yang memberinya sendiri adalah Zainab.


Mujayasa tampak berseri-seri, Fernando akan datang menngunjunginya hari ini. Sekaligus membicarakan rencana pertunangan putra dan putri mereka. Mbok Cici juga menyediakan banyak makanan. Fikri juga memperbantukan seorang perawat untuk merawat dan menjaga Mujayasa, sebab dirinya ataupun Zainab tidak serta merta selalu ada disampingnya jika membutuhkan sesuatu. Sedangkan Risa, kondisi kehamilannya yang semakin membesar. Tidak mungkin akan membantu mengurus mertuanya. Mbok Cici juga kini memiliki teman baru, namanya Mbak Fera. Dia bisa membantu Mbok Cici memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.


"Dimana Zainab, Mbok?." Tanya Risa yang tidak melihat tanda-tanda Zainab muncul sejak tadi. Karena biasanya anak itu selalu menuju dapur setiap pagi.


"Sepertinya masih di kamarnya, Non." Jawab Mbok Cici yang sedang mengupas wortel.


"Anak itu, tumben sekali." Gumam Risa pelan seraya keluar dari dapur menuju kamar Zainab.


"Mau kemana Sayang?." Fikri yang melihat istrinya lewat pun menghentikan langkahnya.


"Aku ke kamar Zainab dulu sebentar, Mas. Sudah beberapa hari ini dia selalu mengurung diri di kamarnya." Setelah mendapat anggukan dari Fikri, Risa melanjutkan langkahnya.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek. Pintu terbuka tanpa si pemilik kamar itu mempersilahkan masuk terlebih dahulu.


Risa menangkap sosok Zainab yang tengah duduk di depan jendela. Pandangannya pun entah jatuh berada dimana. Dan entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Risa prihatin menengok keadaan adik iparnya itu. Dia tahu bagaimana sulitnya menerima dengan hati.


Risa menghela napas dan mendekatinya. "Zai, apa kau mau ku ajak jalan-jalan? Aku bosan di rumah." Risa mencoba berbasa-basi, ingin melihat seperti apa tanggapan darinya.


Zainab menoleh sebentar. "Kan ada Mas Fikri, ajak saja dia!!!." Katanya seraya memindahkan pandangan ke tempat semula.


"Tapi dia mau nya dengan tantenya yang cantik." Risa menunjuk ke arah perutnya yang buncit. Memberitahukan bahwa anak yang di dalam perutnya lah yang menginginkannya.


"Aku sedang tidak ingin pergi keluar rumah, Mbak." Tolak Zainab.


"Kau tidak kasihan kepadanya? Dia ini kan keponakan mu." Risa memasang wajah cemberut sambil mengelus perutnya.


Jika sudah begitu, perasaan kesalpun akhirnya muncul. Memang itu tujuan Risa, membuatnya kesal dan mungkin saja akan terjadi perdebatan diantara mereka. Melihat Zainab yang murung, seperti redupnya satu cahaya di rumah itu. Dan Risa tidak akan membiarkan itu berlangsung lama.


"Memang Mbak mau ke mana sih?." Zainab mulai dengan nada kesal.

__ADS_1


"Aku ingin makan ice cream." Ujarnya sembari membayangkan salah satu ice cream kesukaannya.


"Minta saja dengan Mas Fikri. Dia akan membelikan satu lemari es untukmu."


"Aku tidak mau. Aku ini sedang masa mengidam, nanti kalau anakku suka itu apa itu ya, aduh apa sih Zai?." Risa menarik-narik lengan Zainab.


"Apa sih Mbak?." Zainab sudab merasa sangat kesal.


"Aku tidak mau anakku suka mengeluarkan air liurnya, jika apa kemauannya selama dalam kandungan tidak diikuti." Risa berkata dengan manja. Agar bujukannya membuahkan hasil.


"Iihhh, apakah menghadapi orang hamil seribet ini sih? Misalnya Mbak Risa kepingin ke bulan, apa Mas Fikri mesti membawa Mbak ke bulan juga?." Zainab memberi satu perumpamaa.


"Iya gak sampai segila itu juga Zai. Dan stop, aku sudah ingin sekali makan ice cream." Risa sudah merasa tidak sabar. "Kita masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum Paman Fernando tiba." Imbuhnya.


Zainab memutarkan bola matanya malas. "Baiklah, hanya pergi untuk makan ice cream saja." Tawarnya.


"Iya." Risa mengembangkan senyumnya. Aku berhasil membujuknya. Bisiknya dalam hati.


Setelah Zainab bersiap, mereka pun segera turun. Rona bahagia terlihat dari wajah Risa. Sedangkan Zainab biasa saja, meskipun dia tidak lagi semurung tadi. Setelah mendapatkan ijin dari Fikri, mereka segera bergegas pergi. Kali ini mereka pergi tanpa bantuan sopir, Zainab memilih mengemudikan mobilnya sendiri.


***


Setibanya di kedai ice cream, Risa segera memesan dua cup ice cream untuknya dan Zainab. Mereka memilih duduk di luar di bawah pohon, hembusan angin sepoi-sepoi sesekali membelai wajah.


"Apa kau pernah kemari sebelumnya, Zai?." Risa duduk dengan menopangkan kwdua tangan di dagunya.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Aku sudah beberapa kali kemari, dan kau tahu bahwa varian rasa ice cream di sini banyak sekali. Dan aku akan mencoba semuanya nanti." Risa sudah tidak sabar menanti pesanannya datang.


"Hmm." Zainab lagi-lagi menjawabnya dengan singkat.


"Ayolah Zai. Jangan pasang wajah murung terus. Kau seperti bukan Zainab yang sama yang pernah aku kenali." Akhirnya Risa mengeluhkan apa yang menjadi kecemasanya.


Zainab menghela napas berat. "Aku merasa tidak ada yang berbeda dariku, sedari Mbak Risa mulai mengenalku. Baik dulu, kemarin ataupun saat ini."


Bibir Risa terkatup saat seorang pelayan mengantarkan pesanan miliknya. Perasaan cemas larut dalam lahapan ice cream dalam mulutnya. Dia begitu menikmati setiap sendok yang meluncur setiap detiknya. Entahlah, apakah seorang ibu hamil itu bisa selalu berubah-ubah seperti itu, pikirnya sendiri.

__ADS_1


Kedai itu ramai pengunjung, karena hari ini hari ahad jadi mereka bisa bersantai dengan menikmati ice cream kesukaannya. Zainab sedang menjatuhkan pandangannya kepada dua pasangan suami istri yang juga tengah menikmati ice cream di kedai itu. Mereka begitu mesra, sang suami menyuapi ice cream miliknya kepada sang istri. Demikian pula istrinya melakulan hal yang sama. Zainab tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.


"Apakah perempuan itu beruntung mendapatkan suami sepertinya, dia begitu bahagia?." Zainab mengaduk ice cream miliknya.


"Tentu saja. Begitupun dengan aku, aku juga beruntung sekaligus bahagia menikah dengan Mas Fikri." Risa menanggapi tanpa berhenti menikmati ice creamnya dengan lahap.


"Apa aku juga akan bahagia dengan Dinan?." Pertanyaan itu menghentikan sendok yang akan masuk ke mulut Risa.


Risa meletakkan sendoknya, kemudian menggenggam tangan Zainab. Ada rona kepedihan tergurat dimatanya. "Bahagia itu kita sendiri yang menentukannya. Rasa bahagia itu tercipta dari hati, percuma saja kita mencoba membuatnya agar bahagia namun kenyataannya tidak bahagia. Aku tahu, ini pilihan yang amat berat untukmu." Risa mengerti kemana arah pembicaraan Zainab.


"Dinan, apakah dia pemuda yang baik untuk menjadi suamiku?." Zainab merasakan hidupnya yang miris.


"Seharusnya itu salah satu pertanyaan yang sudah kau jawab, sebelum kau memutuskan setuju untuk menikah dengannya."


"Iya. Benar. Tapi hatiku selalu tidak sama dengan otakku." Zainab mengaduk ice creamnya yang sudah mulai meleleh.


"Bersabarlah. Mbak yakin kamu mampu untuk melewati ini semua. Dan Dinan, semoga saja dia adalah seorang pemuda yang baik. Ayah tidak akan mungkin akan menjodohkan mu dengan orang sembarangan. Bukankah kau sudah pernah mengobrol dengannya?." Pertanyaan itu mendapat anggukan kepala dari Zainab.


"Kau jorok sekali, Mbak. Kau makan ice cream sampai belepotan, seperti anak kecil." Zainab menarik sehelai tissu dan memberikannya kepada Risa. "Apa nanti anak mu juga akan jorok seperti dirimu?."


"Kau sudah berani meledekku lagi rupanya." Risa meraih tissu dari tangan Zainab seraya tersenyum. Zainab si usil telah kembali lagi. "Lihatlah. Ice cream mu sudah mencair. Aku sudah mentraktirmu dan kau tidak mau memakannya. Pasti dia akan ngambek." Risa mengelus perutnya.


"Semenjak kau hamil, kau selalu menjadikan anakmu kambing hitam. Padahal memang Mbak Risa saja yang sedang mencari kesempatan." Zainab mulai memakan ice cream yang telah mencair.


Raut Risa memerah. "Tega sekali kau, mana mungkin aku menganak kambing hitamkan anakku sendiri. Nanti, setelah kau menikah kemudian hamil. Maka kau akan merasakan aoa yang aku rasakan. Dan aku, akan meledekmu." Risa kemudian tertawa senang.


Ponsel Risa berdering, tertera nama My Husband di sana. Segera dia bertukar suara dengan suaminya itu.


"Mas Fikri meminta kita untuk segera kembali. Karena Paman Fernando sudah datang lebih cepat dari jadwal yang direncanakan." Kata Risa.


"Aku malas untuk pulang. Kita disini saja." Zainab merasa enggan.


"Tadi aku bersusah payah untuk mengajakmu untuk pergi. Dan sekarang aku harus kembali bersusah payah untuk mengajakmu pulang." Risa memukul keningnya pelan.


"Baiklah, aku tidak ingin membuat ibu hamil stress dengan memikirkan ku." Zainab segera beranjak berdiri menuju parkir sembari menunggu Risa membayar ice creamnya.


****Bersambung****

__ADS_1


__ADS_2