
Udara pada malam itu sedang tidak ingin berkawan dengan siapapun. Dinginnya merasuk kedalam sumsum tulang. Mengharuskan siapapun yang hendak terjaga, berlindung mencari kehangatan dibalik selimutnya yang tebal.
Zainab masih mengkhawatirkan keadaan Yusuf, meskipun sebenarnya dia tidak usah merasakan demikian. Sampai waktunya tidur pun, dia belum mampu sejalan dengan kemaunnya. Tapi, dia tidak bisa melakukan apapun untuk Yusuf. Zainab hanya bisa melafatkan do'a kesembuhannya.
***
Sinar mentari menyapa pagi. Hangatnya menguapkan basahnya embun. Awan-awan putih bersih saling beriringan membentuk cakrawala semakin indah. Langit biru terang menghalau ketiadaan mendung disekitarnya.
Pagi itu pula, Yusuf sudah memakai seragam dinas sekolahnya. Ia mematur diri di cermin, memastikan penampilannya sudah rapi. Meskipun keadaannya belum sepenuhnya membaik, tapi Yusuf tetap memaksakan diri untuk berangkat mengajar. Suhu tubuhnya mulai terasa demam sejak menjelang shubuh tadi. Namun, ia abaikan.
Bu Tina tengah menyiapakn sarapan pagi. Rere juga sudah duduk manis ditempatnya, sembari menunggu sang kakak yang belum juga keluar dari bilik kamarnya. Tidak lama kemudian, Yusuf keluar menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan mu sekarang, Suf? Yakin akan berangkat ke sekolah?." Tanya Bu Tina sambil menyendok sayur.
"Insya Allah, Bu." Jawab Yusuf yang sebenarnya tidak merasa yakin.
"Mas Yusuf ko lemes gitu?." Rere memandangi Yusuf jeli.
"Masa sih? Mas baik-baik saja kok." Elaknya dengan mimik wajah dibuat-buat.
"Ayo sarapan dulu, biar kuat!." Bu Tina memberikan piring yang sudah lengkap dengan isinya. Yusuf mengambil alih piring itu, dan melatakkannya di meja. Usai berdo'a mereka menikmati sarapan bersama.
"Biar kuat?." Rere mengulangi beberapa kata akhir Ibunya.
"Iya, biar kuat menghadapi kenyataan." Bu Tina terkekeh sambil mengunyah.
Rere pun sontak tergelak sampai terbatuk-batuk mendengar kalimat sang Ibu. Kenapa akhir-akhir ini Ibunya mendadak suka berkata-kata seperti anak zaman now.
Yusuf pun menyodorkan air minum kepada Rere. Dirinya pun hanya mengulum senyum. Mungkin saja kalimat itu di utarakan untuknya.
"Mas, Ibu tuh semenjak ganti hp android, jadi suka gitu." Rere sedikit berbisik. Namun tetap saja Bu Tina dapat mendengarnya.
"Re!." Seru Ibunya melirikan matanya.
Rere tertawa seraya menutup mulutnya. "Iya Bu."
"Ibu dengar kamu ngomong apa sama Mas mu." Ujarnya.
Yusuf menyudahi sarapan paginya, dia hanya memakan separuh dari yang Ibu isikan di piringnya. Nafsu makannya berkurang. Dia hendak beranjak dari duduknya, dan tiba-tiba dia nyaris limbung. Beruntung tangannya masih bisa berpegangan meja, sehingga dia tidak sampai terjatuh. Bu Tina dan Rere terkejut dan meninggalkan sarapan mereka.
"Yusuf!."
"Mas!."
"Duduklah lagi!." Ajak Bu Tina.
Yusuf menurut, kepalanya kembali terasa pusing. Suhu tubuhnya semakin tidak nyaman dilanda demam.
__ADS_1
Bu Tina mengecek keningnya dengan menempelkan telapak tangan bagian luar. "Astaghfirullah, badan mu panas. Kita ke dokter sekarang!." Kata Bu Tina.
"Tidak, Bu. Yusuf hanya perlu istirahat saja." Tolaknya. Dia tidak ingin Ibunya semakin cemas.
Kali ini jangan membantah!." Kata Bu tina tegas. "Re, tolong pesankan taxi online sekarang!." Imbuhnya memberi perintah kepada Rere.
"I-iya Bu." Rere agak gugup. Rere segera meraih ponselnya di atas meja, menggeser menu aplikasi berlogo nama perusahaan yang terkenal di Indonesia, yang melayani pemesanan secara online.
***
Zainab kini lebih sering mengendarai mobilnya ke manapun. Ini kali pertama dia membawa mobil ke sekolah. Meskipun harus berlama-lama di tengah kemacetan, itu tidak masalah baginya. Perlahan hatinya telah terobati, meskipun belum sepenuhnya sembuh. Setidaknya, kini dia harus belajar ikhlas. Mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dijalankan.
Setibanya di sekolah, anak-anak keheranan melihat mobil yang lewat menuju parkiran. Mobil mewah keluaran teranyar, membuat mereka bisa melihat pantulan diri mereka di sisi badan mobil. Mereka penasaran siapa orang di dalamnya.
"Busyett, mobilnya mentereng euyy.." Kata Bima anak kelas XII. Dia memiliki tubuh tambun.
"Ehh, Bim. Badan loe kok jadi kurus gitu. Coba deh lihat di badan mobil." Sahut Agung.
"Sialan loe." Bima menjitak kepala Agung.
"Auw sakit nih." Agung memegangi kepalanya.
"Rasain." Bima memonyongkan mulutnya.
"Astaghfirullah, kalau yang punya itu cewek. Bakalan gue jadiin pacar, kalau laki-laki gue jadiin teman." Celetuk Diki.
"Misal si empunya tuh mobil Ibu-Ibu, loe mau jadiin dia apaan?." Tanya Bima.
"Bingung gue." Jawab Diki asal.
"Jadiin aja dia tante loe. Kayak tante-tante girang. Lumayan kan mungkin bisa kasih uang jajan." Celetuk Agung yang membuat semua terbahak.
Zainab memang sengaja tidak segera keluar dari mobilnya. Dia sengaja menahan diri tetap di dalam mobilnya, usai mendengar banyolan murid-muridnya itu. Dia ingin mengetahui apa kira-kira yang akan menjadi perbincangan mereka. Mungkin terkesan seperti menguping, namun niatannya baik. Jika mereka keliru, Zainab dapat meluruskan ke arah yang benar.
Zainab membuka pintu mobilnya. "Ehem, bagaimana kalau si pemilik mobil adalah Ibu guru kalian?." Tanyanya membungkam mereka berhenti tertawa.
"Bu Za-Zainab." Diki berucap dengan terbata. Sedangkan yang lain memasang wajah bodoh yang ketakutan. Sebab Sang Guru cantik yang galak ada dihadapan mereka, namun bukan itu masalahnya. Melainkan kesalahan mereka sudah bercanda yang mungkin saja membuat Zainab mendengar apapun yang sudah mereka caķapkan sejak tadi
Zainab berdiri di sisi badan mobil, menatap mereka bergantian.
"Maafkan saya, Bu." Pinta Diki merasa bersalah.
"Saya juga, Bu." Kata Bima.
"Saya juga Bu, minta maaf." Agung menundukan kepalanya. Tubuhnya gemetar.
Zainab mengheka napas berat. "Ibu harap gurauan kalian tidak melewati batas. Jaga etika dan sopan santun kalian. Beruntung itu saya, jika orang lain, bagaimana? Mungkin bukan saja peringatan yang kalian dapatkan."
__ADS_1
"Iya Bu." Ucap mereka bersama.
"Apa kalian tidak ada kegiatan lain selain nongkrong di sini?" Tanya Zainab bersidekap.
"Gak ada, Bu." Jawab Bima memadang eajah cengar-cengir.
"Kalau begitu bicarakan hal yang lebih bermanfaat." Ujarnya seraya pergi meninggalkan mereka.
***
"Zai. Zainab." Panggil Sofia yang datang menghampirinya dengan napas terputus-putus.
"Ada apa?." Tanyanya tanpa menoleh ke arah Sofia sedikitpun.
"Apa kau sudah tahu?." Katanya berbalik tanya.
"Aku baru saja datang, mana mungkin aku tahu apa yang kau maksudkan itu." Jawabnya sedikit sebal.
"Ini tentang Yusuf." Ujar Sofia yang secara otomatis menghentikan langkah kaki Zainab. "Dia sakit. Mungkin saja karena kejadian kemarin, dan para guru akan menjenguknya sepulang sekolah nanti. Apa kau juga akan ke sana?." Tanyanya sambil mengerutkan dahi.
Zainab kembali meneruskan langkah kakinya. "Tidak..." Belum selesai Zainab meneruskan ucapannya, namun Sofia memotongnya.
"Ohh, jadi setelah hubungan kalian tidak mendapat restu, kau sudah acuh kepadanya. Begitukah, Zai?." Ucapnya asal saja.
Raut wajah Zainab sudah tidak manis lagi. "Aku belum menyelesaikan ucapanku, tapi kau sudah memotong dan melantur kemana-mana. Apakah aku akan sejahat itu kepadanya? Kau pikir hatiku... Tidak, tidak, tidak, berhenti bicara soal hati. Dia mungkin saja baru akan sembuh." Zainab menghentikan langkahnya lagi. Kini dia melempar pandangannya ke arah lapangan basket.
"Zai, maafkan aku. Aku memang tidak peka terhadap sahabatku sendiri. Urusan asmara ku juga tidak kunjung ada kejelasan."
"Insya Allah, ba'da ashar aku akan menjenguknya. Aku akan pergi ke toko buku terlebih dahulu."
"Baiklah, aku akan datang menemani mu." Sofia memasang wajah sumringah.
"Apa kau tahu, begitu sulit untuk melupakannya. Ingin rasanya aku meminum obat pelupa, biar aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya sakit yang seperti ini." Zainab mengeluhkan kesahnya.
"Zai. Allah selalu beserta orang-orang yang sabar. Hanya sabar dan sholat, Allah yang akan menyelesaikan semua permasalahan. Bisa jadi saat ini mungkin saja kalian tidak bisa bersatu, mungkin juga suatu saat nanti Allah akan kembali mempersatukan cinta kalian."
"Aku tidak mau berbicara hal yang memiliki kemungkinan. Itu sama saja aku tetap berharap pada hal yang bisa saja tidak akan pernah terjadi. Seadainya atau mungkin, Allah juga tidak menyukai hal itu. Sebab sama saja dengan tidak menerima apa yang sudah menjadi takdir seseorang." Zainab menyandar tubuhnya di pendopo. Dia melepasakan kegelisahan hatinya pada udara yang berhembus. Biar dia turut merasakan pedihnya hati seorang Zainab.
"Hmm, aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Bahwa bukan hanya kamu, tapi Yusuf juga mengalami fase yang sama. Fase menyembuhkan hati."
Zainab membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Yusuf juga merasakan kepedihan yang sama, mungkin saja lebih dalam dari apa yang dia rasakan. Hanya saja dia tak tahu.
"Sudahlah. Lebih baik, sekarang siapkan dirimu untuk berkunjung ke rumahnya nanti. Aku yakin kalin bisa membawa perasaan kalian masing-masing." Sambung Sofia lagi.
"Iya. Kamu benar. Aku tidak boleh cengeng hanya karena masalah perasaan." Zainab merangkul Sofia dengan menyunggingkan senyum.
***Bersambung***
__ADS_1
Maafkan aku readers. Karena kesibukan ku, jadi sering telat update.