Cinta Zainab

Cinta Zainab
Dinan


__ADS_3

Zainab melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sengaja mengajak Risa untuk berputar-putar, sebab dia tidak ingin bertemu dengan Dinan ataupun kedua orang tuanya. Sudah 30 menit mereka berada dijalanan. Tidak ada tujuan lain yang akan dia datangi. Dan sudah sejak tadi pula Risa tidak berhenti mengomel, mengajaknya untuk segera pulang. Dia takut jika Mujayasa akan memarahinya. Fikri juga sudah berulang kali untuk menghubungi istrinya, Risa beralasan akan membeli buah namun kedainya sangat ramai pembeli. Tidak masuk akal memang, tapi apa boleh buat. Ponsel Zainab juga terus berdering, dia sengaja untuk tidak menerima panggilan telepon dari siapapun.


"Zai, sebaiknya kita cepat kembali. Nanti Ayah akan marah. Beliau baru saja sembuh, dan kau akan membuatnya sakit lagi?."


"Kau sepertinya menyudutkan aku." Zainab menepikan mobilnya di depan kedai buah.


"Aku tidak bermaksud untuk menyudutkan mu. Memang kalau hati sedang sensitif, apapun yang ku katakan akan selalu salah." Gerutu Risa. "Aku hanya khawatir dengan keadaan Ayah. Itu saja." Sambungnya.


"Katanya Mbak Risa mau membeli buah. Keluarlah dan kita akan kembali pulang." Nada bicara Zainab berubah dingin. Risa harus bisa memaklumi hal itu. Bahwa hatinya sedang berada entah dimana.


"Iya, baiklah." Risa membuka pintu mobil dan segera membeli beberapa jenis buah yang dia inginkan. Kedai itu tidak begitu ramai, jadi Risa bisa memperolehnya dengan cepat.


"Kenapa kau tidak pernah memakai mobilmu?." Risa menanyakan apapun, mulai dari membahas hal yang penting dan tidak penting, agar Zainab mau bicara. Dia sungguh cerewet. Karena sejak keberangkatan mereka hingga kembali pulang, Risa yang selalu berkicau.


"Tidak apa-apa. Hanya malas jika terjebak dengan kemacetan." Katanya terus menatap kedepan.


"Mobilmu bagus, apa kau membelinya sendiri atau...." Zainab memotong kalimat Risa.


"Mobil ini pemberian Mas Fikri, saat ulang tahunku yang ke 25." Jelasnya.


Ternyata suamiku kaya juga. Bukan hanya dari harta orang tuanya saja melainkan uang miliknya sendiri pun tak kalah banyak. Jiwa matre Risa bersorak sorai. Dasar wanita. Namun, dia juga bukan kategori perempuan yang gila harta dan suka berbelanja barang-barang branded. Hanya saja mendapatkan suami orang kaya, hidupnya akan terjamin seutuhnya. Risa mengulas senyum merasa sangat beruntung.


"Dia sangat menyayangi dirimu, Zai." Mendadak nada kalimat yang keluar terdengar sedih.


"Tentu saja dia kakak ku. Dan karena aku adik kesayangannya." Katanya membanggakan diri.


***


Mobil Zainab sudah memasuki pelataran rumahnya. Mobil milik Fernando juga sudah terparkir di sana. Mungkin saja dia sudah sangat lama menunggu kepulangannya. Jika saja mereka tahu, bahwa itu adalah satu bentuk dsri penolakannya secara halus. Akan tetapi mana mungkin mereka mengetahuinya, sebab sudah terang-terangan Zainab mau menikah dengan Dinan.


Zainab dan Risa melangkah masuk, suara beberapa orang sedang berbincang, terdengar dari luar. "Assalamualaikum." Ucap Risa.


"Walaikumsalam." Jawab mereka semua yang ada diruangan itu.


Risa dan Zainab mencium punggung tangan Mujayasa, Fikri dan Bibi Mia. Sedangkan kepada yang lain hanya sebatas menangkupkan kedua tangan saja.

__ADS_1


"Kemana saja kalian, Tuan Fernando sudah menunggu sejak tadi. Kecuali kau, Zainab. Dinan sepertinya sudab tidak sabar untuk berjumpa melihatmu." Mujayasa tersenyun seraya melayangkan pandang kepada Dinan.


"Maafkan kami, Yah. Dan semoga Paman dan Bibi tidak kecewa karena kami terlambat pulang." Risa mengucapkannya dengan penuh nada sesal.


Sementara Zainab, dia hanya diam. Dia tidak mengeluarkan bunyi apapun. Hanya segaris senyum samar.


"Duduk lah kemari, Sayang!." Pinta Mia kepada Zainab. Zainab pun segera menuruti apa kemauan wanita paruh baya itu.


"Bagaimana ice cream nya? Enak?." Tanya Mia seraya membelai kepala Zainab.


"Iya Bibi." Jawabnya singkat.


"Kau tahu, itu adalah salah satu kedai ice cream milik keluarga kami. Kau dan Risa dapat mengujunginya kapanpun kalian inginkan."


"Hmm, Insya Allah. Lain waktu pasti kami akan kembali ke sana. Sebab, Mbak Risa sangat suka sekali ice cream di sana." Kali ini Zainab agak panjang kalimatnya. Dia merasa tidak sopan jila hanya menjawab dengan kalimat yang singkat.


Dinan tidak henti-hentinya memandang Zainab dengan lekat. Ponsel berada di tangannya di putar-putar. Dia begitu terpesona dengan kecantikannya yang menawan hati. Sedang Zainab yang mengetahui hal itu, merasa sangat risih. Dia ingin sekali mencolok kedua mata Dinan dengan sumpit. Begitu juga saat mereka tengah menikmati santap siang, Dinan tidak pernah melepaskan pandangannya sedikitpun.


"Kenapa kau memandangku dengan cara seperti itu?." Tanya Zainab. Kali ini mereka diberi waktu untuk saling mengenal kembali antara satu sama lain.


"Tundukanlah pandanganmu, sebab aku belum menjadi milikmu!." Ujar Zainab tegas.


Dinan tertawa pelan. "Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya. Jadi, sebelum kau menjadi istriku, tentu saja aku harus menyusuri apa yang ada di dalan dirimu. Agar aku tidak menyesal."


"Apa maksudmu?." Zainab merasa tidak mengerti.


"Sudah. Lupakan saja. Itu tidak penting." Dinan segera menyudahi pertanyaan Zainab yang mungkin saja akan menimbulkan pertengkaran.


"Tentu saja itu penting untukku." Zainab masih mengintimidasinya.


"Rupanya kau adalah perempuan yang tidak mudah menyerah. Aku suka itu." Fikri hendak mencolek dagu Zainab, dengan sigap Zainab menghindar.


"Jangan coba untuk menyentuhku. Kau dan aku bukan mahrom." Zainab menatap sinis.


"Ohh, maafkan aku. Mungkin kau saja yang ingin ku sentuh." Dinan menyangkal dengan membalikan tuduhan.

__ADS_1


"Apa kau sudah tidak waras? Aku menjaga diriku dari siapapun yang bukan menjadi mahrom ku. Kau bilang aku ingin kau sentuh?." Zainab sudah merasa sangat kesal.


Dinan tergelak. "Lihat lah kau semakin cantik jika kau sedang marah. Aku hanya bergurau." Kemudian tawanya hilang. "Maafkan aku." Pintanya memohon.


"Sudah. Lupakan saja. Itu tidak lucu." Zainab beranjak dari kursi panjang tempatnya duduk.


"Kau mengulangi perkataanku." Dinan meledek.


"Terserah apa katamu." Zainab melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Dinan yang masih mematung melihat kepergiannya.


"Jika kau sudah menjadi milikku. Aku tidak akan membuatmu berhenti menangis." Gumamnya pelan dengan seringai picik.


***


"Jadi kapan kita tetapkan tanggal pertunangan antara Zainab dan Dinan?." Mujayasa meminta pendapat.


"Bagaimana jika bulan depan saja, bukankah lebih cepat lebih baik." Fernando menyampaikan pendapatnya.


"Papa, bulan depan itu adalah waktu yang lama sekali. Bagaimana jika dua minggu lagi saja?." Mia menyampaikan keberatannya.


"Mama, kita harus mempersiapkannya dengan matang. Para rekan bisnis Papa dan Tuan Mujayasa juga akan di undang. Jadi mana mungkin hanya butuh dua minggu." Fernando menolaknya.


"Bagaimana menurutmu Dinan?." Tanya Mujayasa.


"Terserah Paman dan Papa Mama saja. Dinan ikut saja." Jawabnya tidak mau ambil pusing tentang kesepakatan waktu pertunangannya.


"Baiklah, kita ambil bagian tengah saja. Dalam waktu tiga minggu, pertunangan mereka akan dilaksanakan." Mujayasa menarik kesimpulan.


"Iya, saya setuju." Fernando mengangguk mantap.


"Akhirnya, sebentar lagi kau akan menjadi menantuku, Sayang." Mia tidak berhenti mengucap syukur mengungkapkan kebahagiaannya. Zainab hanya menyunggingkan bibirnya. Namun, entah apa yang terjadi dengan hatinya. Dia sungguh ingin menangis, berulang kali dia menatap langit-langit agar air matanya tidak tumpah.


Kesepakatan waktu pertunangan sudah ditentukan. Zainab tidak lagi bisa menetukan arah hidupnya. Dia seperti boneka yang bernyawa. Mengikuti jalan cerita yang telah dia pilih. Semata-mata hanya untuk membuat sang Ayah bahagia, walaupun hatinya sangat terluka.


Zainab memejamkan matanya. Ada air yang mengalir dari sudut keduanya, yang dia tahan sejak tadi dihadapan semua orang. Dia ingin pergi saja, lari dari kenyataan.

__ADS_1


"Ketika tidak ada lagi bahu untuk bersandar, masih ada sajadah untuk bersujud" Kutipan itu seharusnya membuat dirinya bertahan. Malam-malamnya penuh dengan deraian air mata. Dia meminta yang terbaik untuk hidupnya. Lagi dan lagi, wajah Yusuf selalu ikut hadir bersama do'anya.


__ADS_2