Cinta Zainab

Cinta Zainab
Bahagia


__ADS_3

Yusuf menyandarkan tubuhnya di ranjang setelah membersihkan diri. Hatinya tidak berhenti terlonjak bahagia. Wajah Zainab memenuhi isi kepalanya. Dia membaringkan tubuh dengan kedua tangan terlipat di bawah kepalanya. Otaknya memutar kembali pertemuannya dengan Zainab. Rasa tidak percaya akan memiliki mawar secantik dia, akan segera di petiknya keindahan itu.


Namun kegelisahannya kembali mencuat, restu Ayah Zainab akan menentukan kelanjutan hubungan mereka berdua.


*Iya Allah..


Jika Engkau takdirkan kami untuk bersama.


Maka mudahkanlah segalanya.


Aku menginginkan dia. Perempuan yang selalu mengganggu pikiran ku. Aku tidak ingin menumpuk dosa lebih banyak dengan memikirkannya.


Aku ingin menghalalkannya*.


Do'a dan harapan Yusuf dalam hatinya. Dia tidak pernah muluk, membentuk keluarga kecil yang bahagia, memiliki anak sholeh dan sholeha, penghafal Al-Qur'an. Itu saja. Tentu saja dengan Zainab.


"Boleh Ibu masuk?." Suara Bu Tina memecah lamunan Yusuf.


"Iya, Bu." Katanya mempersilahkan.


Bu Tina membuka pintu yang tidak terkunci, seraya membawa teh hangat. Dia duduk di tepi ranjang, memerhatikan raut wajah putranya yang terlihat berbeda sejak kepulangan mereka dari kediaman Ustadz Harun. Sudah barang tentu Bu Tina bisa menebak apa yang tengah di pikirkan Yusuf. "Ibu suka, Nak Zainab. Ibu sudah tidak sabar untuk membawanya ke rumah ini. Apa di culik saja ya, Suf?."


Yusuf terkekeh. "Ibu ini kalau bicara ngawur. Nanti di kira tindakan kriminal kalau di culik."


"Sehari saja, dia diundang makan siang bersama kita. Pasti dia tidak akan menolaknya, bukan?." Usul Bu Tina.


"Yusuf yang mau mencari istri. Kenapa jadi Ibu yang menjadi tidak sabar begini, sih?" Masih dengan kekehannya.


"Karena Ibu sudah kepengen punya cucu. Lihat tuh tetangga sebelah yang anaknya menikah kemarin, sudah hamil. Kan Ibu jadi kepikiran kamu lagi, sudah umur 30-an tapi istri saja belum punya."


Yusuf mendesah. "Untuk apa dipikirkan, kalau memang sudah datang jodohnya pasti Yusuf juga akan menikah. Ibu do'akan saja yang terbaik." Pintanya. "Dan untuk mengajak Zainab makan siang bersama, tunggu setelah ada keputusan dari Ayah Zainab. Yusuf tidak ingin bersikap lancang sebelum mendapat restu dari beliau." Imbuhnya.


"Iya, Ibu mengerti. Semoga Ayah Zainab menerima mu, Nak." Bu Tina memberikan teh hangat yang dia bawa tadi kepada Yusuf.


Mereka melanjutkan obrolan dengan tema pembahasan yang lain. Untuk menghalau sejenak rasa gelisah di hati Yusuf.


***


Setelah di sambut oleh Mbok Cici, Zainab segera menghambur memeluknya. Mbok Cici merasa ada keanehan yang terjadi terhadap Nonanya itu. Namun dari raut wajanya, menyiratkan aura kebahagiaan. Senyum Zainab sumringah menandakan hatinya sedang tidak pilu.


"Hmm, Mbak Risa dimana Mbok?." Tanya nya sambil melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Tadi pergi ke dokter sama Mas Fikri, katanya mau chek-up kandungan. Mau lihat jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan." Jawabnya memberi tahu.


Zainab ber O tanpa suara.


"Zainab......" Suara setengah berteriak itu memanggil namanya. Perempuan itu berlari dari dalam rumah. Wajahnya seperti akan di beri permen. Senang melihat Zainab kembali.


"Sofia? Sejak kapan kau di sini?" Tanya Zainab.


"Sudah 30 menit yang lalu." Jawab Sofia. "Aku hampir saja akan berpamitan pulang karena terlalu lama menunggu mu." Keluhnya.


"Kenapa kau tidak mengabari ku, jika akan berkunjung kemari?." Zainab melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan Sofia pun mengekorinya.


"Sengaja memang. Tapi rupanya kau akhir-akhir ini terlihat sangat sibuk. Sampai tidak ada waktu bersama ku. Kita sudah jarang mengobrol berdua, hangout ke mall atau ke taman kota."


Benar apa yang dikatakan Sofia. Zainab memang lebih menghabiskan banyak waktu untuk mengurus kepentingannya sendiri. Sampai dia melupakan sahabatnya itu. Zainab juga belum menceritakan alasan mengapa akhir-akhir ini selalu mengabaikan dirinya.


"Assalamualaikum." Sapaan salam itu membuat Zainab dan Sofia menoleh.


"Walaikumsalam." Jawab mereka bersamaan.


"Hmm rupanya sedang ada reuni antar dua sahabat ya." Risa memeluk Sofia sebentar. "Kau sudah pulang, Zai?." Tanyanya pada adik iparnya.


"Iya Mbak. Mana Mas Fikri?." Zainab celingukan mencari sosok Kakaknya.


"Ada sesuatu yang tidak aku ketahui, tega sekali kau!!! Bibir Sofia mengerucut.


"Tidak, bukan begitu. Ada alasan mengapa aku tidak memberitahu mu soal ini." Zainab menghela napas memberi jeda. Jantungnya berdebar acap kali membahas nama Yusuf. Dia memusatkan pandangannya pada Risa. "Alhamdulillah, dia memiliki perasaan dan keinginan yang sama dengan Zainab, Mbak."


"Sungguh?." Mata Risa terbelalak lebar. Dia belum yakin dengan apa yang di dengarnya.


Sedangkan Sofia masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka berdua. Seperti seseorang yang bodoh di antara mereka.


Zainab menganggukan kepalanya meyakinkan Risa. "Alhamdulillah, Mbak sangat bahagia sekali hari ini karena mendapat dua kabar baik sekaligus."


"Oh ya?." Zainab memasang wajah serius.


"Kabar pertama, jenis kelamin si junior ini adalah perempuan. Dan kabar kedua, kau akan segera memiliki pendamping hidup." Urai Risa penuh kebahagiaan.


Mendengar kabar pertama, Sofia ikut tersenyum. Namun raut wajahnya berubah setelah mendengar kabar kedua, jika Zainab akan segera menikah. Tragis. Bagaimana dia tidak mengetahui hal sebesar itu.


"Zai?" Lirih Sofia. "Kau akan menikah? Dengan siapa? Kenapa kau tega sekali, kabar sebesar ini tidak memberi tahu ku? Di mana persahabatan kita?" Sederet tanya bak ujian bagi Zainab.

__ADS_1


"Ok. Tenangkan dirimu dulu! Aku akan menjawab pertanyaan mu satu persatu beserta alasannya. Sekarang aku ijinkan makan terlebih dahulu, sebab aku lapar sekali." Zainab memohon agar Sofia mengerti.


Pada akhirnya setelah melewati perdebatan alot, Sofia mengabulkan permintaan Zainab. Tidak tega juga melihat sahabatnya itu menahan lapar. Mungkin setelah makan, dia akan memiliki tenaga untuk menjawab semua pertanyaan darinya. Dan menceritakan apa yang sedang terjadi.


Setelah Mbok Cici menghidangkan semua makanan di meja. Mereka menyantapnya dengan lahap. Fikri pun ikut makan bersama mereka, dirinya pun turut merasakan bahagia usai Risa memberitahu perihal pertemuannya dengan Yusuf.


Tidak ada percapakan di antara mereka. Kecuali suara denting sendok dan piring yang sesekali bertemu. Pikiran Zainab mengawang, jiwanya menerobos mesin waktu. Do'a nya selama ini akan segera terkabul, Yusuf akan menjadi imam dal hidupnya. Raga yang ingin menyatu, namun masih membutuhkan proses untuk menjadikannya bertemu.


Setelah menyelesaikan santap makannya. Zainab dan Sofia melanjutkan percakapan mereka yang terpotong tadi. Mereka berada di kamar Zainab sekarang. "Siapa laki-laki yang akan menikah dengan mu, Zai?."


Zainab membuang napasnya perlahan. Sofia pasti akan sangat terkejut jika dirinya menyebut nama Yusuf. Namun, itulah kenyataannya. "Dia adalah Yusuf." Jawabnya pelan dan penuh kehati-hatian dengan melihat air muka Sofia.


Dan benar saja. Mulut Sofia ternganga. Dia mematung, bahkan kedua matanya sampai tak berkedip. Apakah nama Yusuf telah menyihirnya? Sehingga dia diam untuk beberapa saat.


"Pak Yusuf? Atau mungkin Yusuf yang lain, maksud ku orang lain yang memiliki nama yang sama?" Sofia memastikan sekali lagi.


"Iya, Yusuf." Zainab tersenyum lebar.


Zainab menceritakan apa yang terjadi di antara mereka. Dimana dua minggu lalu, mereka bertemu tanpa terduga di tempat yang sama. Di rumah pamannya yang juga merupakan Ustadz bagi Yusuf. Dirinya dan Yusuf mempunyai niatan yang sama yaitu mencari pasangan hidup. Tanpa di sadari, Bibinya pun ingin menjodohkan mereka berdua. Dan pada akhirnya mendapat kesepakatan yang sama.


"Kini tinggal menunggu restu dari Ayah." Zainab menutup pembiacaraanya yang belum menemui titik akhir.


"Aku yakin, Ayahmu tidak menolak Yusuf. Dia itu kan calon menantu idaman."


"Aamiinn." "Kau sendiri bagaimana dengan Dimas?" Tanya Zainab ingin tahu kelanjutan hubungan mereka.


"Do'akan saja. Sebenarnya kau sekarang sedang dilema." Urainya.


"Dilema?." Zainab menarik salah satu alisnya ke atas.


"Aku bingung antara memilih Dimas atau Kakaknya. Mereka berdua sama-sama tampan dan manis." Sofia membayangkan wajah keduanya.


Zainab memijat kepala nya yang secara tiba-tiba terasa pusing. "Kau ini, genit sekali. Jangan bicara jika kau menginginkan keduanya." Tudingnya.


"Kau pikir aku perempuan apa, menginginkan mereka berdua." Sofia merasa tidak terima.


"Kalau begitu, kau harus memilih salah satu di antara mereka. Jangan serakah, yang lain juga mau."


"Iya. Iya. Cerewet sekali." Menurutmu aku harus pilih siapa?"


Zainab mengernyitkan dahi. "Yang mau menikah dengan salah satu dari mereka kan kau, bukan aku. Kenapa aku yang harus memilih. Mungkin saja jawaban ku tidak akan sama dengan apa ysng kamu rasakan di dalam hatimu." Zainab memberi jeda. "Kau butuh sholat istikharah, Ah akan memberikan jawaban terbaik dan kau tidak kan pernah menyesalinya." Sambungnya menasihati.

__ADS_1


Sofia tampak berpikir, mencerna kalimat Zainab. Ini adalah tentang memilih pasangan hidup, bukan hanya untuk sementara akan tetapi selamanya. Bukan hal sepele dan sembarangan atau sesuka hati dalam menentukan pilihan. Dirinya memang belum yakin akan memilih Dimas atau Deni. Hatinya masih bimbang.


****BERSAMBUNG****


__ADS_2