
Zainab merasa semangatnya mulai bangkit secara perlahan. Air matanya memang telah kering, meski keduanya masih terlihat sembab bekas menangis. Setelah makannya usai, dirinya mengumpulkan kembali keberanian untuk menemui Ayahnya lagi. Entah apa yang akan terjadi nanti, dia tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah berbicara dengan Ayah, mungkin saja masih ada harapan walaupun sangat kecil. Setidaknya dia sudah mencoba lagi. Zainab belum menyerah.
Zainab berjalan ke ruang kerja Ayahnya. Sebab dia tahu Ayah selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya itu. Dia mengetuk pintu, meminta ijin untuk masuk.
"Masuklah." Suara dari dalam memperbolehkannya untuk masuk.
Pintu terbuka. Wajah tua itu masih menekuri layar laptopnya. Mungkin saja sedang menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Zainab berjalan dan menarik kursi kemudian mendudukinya. Mereka hanya di batasi oleh meja. Rasa takut sekaligus kengerian siang tadi, masih melekat. Namun karena keberaniannya lebih besar, Zainab mencoba menapakan kakinya dengan benar.
"Ayah!." Panggilnya pelan. Suaranya sedikit ada getaran.
"Jika kau masih ingin berbicara membahas laki-laki miskin itu, sebaiknya kau urungkan. Karena keputusan Ayah sudah tidak bisa diganggu gugat." Katanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Dia punya nama, Yah. Jangan panggil dia laki-laki miskin." Nada Zainab sedikit tercekik.
"Lihatlah, kau saja terus membelanya." Mujayasa mendengus. Amarahnya mulai kembali merajai diri. "Ayah sudah putuskan, kau akan menikah dengan Dinan. Bukan dengan dia."
"Apa?." Zainab seperti tersambar petir, tubuhnya teraliri listrik. Betapa terkejutnya mendengar keputusan sepihak, tanpa membicarakannya lebih dulu dengannya. "Zainab tidak mau, Yah. Zainab sama sekali tidak tertarik dengan pria itu. Bagaimana mungkin Zai akan menjalani hidup tanpa cinta bersamanya." Tolaknya. Kristal bening itu meleleh.
"Persetan dengan cinta. Hanya karena laki-laki miskin itu, bahkan kau saja berani menentang keputusan, Ayah." Mujayasa sudah dikuasai amarahnya. Matanya memerah, laptop yang ada di hadapannya hampir saja terjatuh karena di dorong olehnya. "Keputusan Ayah sudah bulat, kau harus menikah dengan Dinan. Seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh dengan sendirinya dan kau pasti akan bahagia hidup bersamanya. Dan kau harus melupakan laki-laki miskin itu." Entah sudah berapa kali Mujayasa memanggil Yusuf sebagai laki-laki miskin. Hati Zainab kembali runtuh. "Satu lagi, besok kau akan berterimakasih kepada Ayah, karena telah menyelamatkan mu darinya. Dia hanya akan menumpang hidup."
Zainab beranjak berdiri dan memohon di kaki Ayahnya, sama seperti apa yang dilakukan Yusuf. "Zainab mohon, Yah. Zainab tidak mau menikah dengannya. Zai hanya menginginkan Yusuf. Zainab mohon." Pintanya dengan terus menangis sesenggukan, memohon dikaki Ayahnya itu. "Tolong jangan hina Yusuf lagi, dia orang yang baik. Zai bisa melihat ketulusan dari kedua matanya."
"Lepaskan tanganmu!." Perintahnya.
"Tidak, sebelum Ayah merubah keputusan itu. Zai akan tetap bertahan di sini memohon kepada Ayah. Dia akan membahagiakan Zai, dia akan membuktikannya kepada Ayah, berilah kesempatan untuk kami!!!"
"Dasar anak keras kepala, seharusnya kau sadar dia tidak pantas bersanding denganmu." Dia membuang napas kasar. "Lepaskan!." Mujayasa telah benar-benar habis kesabarannya. Dia muak dengan orang yang bernama Yusuf itu. Hatinya yang keras, sulit untuk diluluhkan.
"Tidak." Jawab Zainab cepat sebelum Zainab mengaduh kesakitan.
Plak. Satu tamparan keras bersarang di pipi Zainab. Mujayasa pun terkejut, mengapa dia bisa melayangkan tangan kepada putrinya itu. Zainab melepaskan tangan dikakinya, meraba pipinya yang terasa perih. Dia pun beranjak kemudian berlari dari ruang kerja Ayahnya, tangisnya semakin menyayat.
Sementara Mujayasa terus memandangi tangannnya. Tangan yang sudah menampar putri kesayangannya. Tubuhnya bergetar, dia mengutuk dirinya sendiri. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan sakit, dia memeganginya. Mujayasa terjatuh dari kursi tempatnya duduk, kemudian gelap.
__ADS_1
***
Tok, tok. Mbok Cici mengetuk pintu dan memanggil Tuannya berulang kali. Namun tidak juga menyahut. Mbok Cici memaksakan dirinua untuk masuk, mungkin saja Tuan besarnya ketiduran. Dia hendak mengantarkan kopi pesannnya tadi.
"Maaf, Tuan ini kopinya. Tadi saya membuatnya agak lama karena ternyata persediaan kopi sudah habis, jadi saya membelinya terlebih dulu." Mbok Cici meletakkan kopi di atas meja. Namun alangkah kagetnya, Mbok Cici melihat Tuannya terkapar di lantai. Mbok Cici segera berteriak, hingga seluruh penghuni rumah bingung mencari arah sumber suara. Termasuk Zainab, tangisnya pun terhenti seketika.
Fikri dan Risa segera masuk ke ruang kerja Ayahnya. Dan melihat Mbok Cici dengan raut wajah kebingungan. Semuanya panik.
"Mas, Ayah kenapa?." Zainab yang datang ikut terkejut.
"Entahlah. Kita harus segera ke rumah sakit! Fikri memberi intruksi.
Selama di dalam mobil, Zainab masih terus menangisi Ayahnya. Takut jika terjadi hal buruk menimpanya. Risa pun terus berusaha menenangkannya, dia pun terlihat sedih. Fikri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan kendaraan yang nyaris saja dia serempet.
"Hati-hati Sayang!" Risa mengingatkan.
20 menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit, Mujayasa segera di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan dan bantuan oksigen. Zainab terus menangis di pelukan Risa. Dia terus menyalahkan dirinya, sebab terakhir kali Ayahnya begitu sangat marah kepadanya. Mungkin itu yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Dokter yang telah selesai memeriksanya, keluar untuk menemui mereka.
"Tenanglah! Pintanya. " Ayah anda terkena serangan jantung, pembuluh darahnya tersumbat. Namun beruntung anda cepat membawa ke rumah sakit, jika tidak akibatnya bisa fatal atau bahkan nyawanya tidak bisa diselamatkan." Jelas Dokter itu.
"Ayah saya masih bisa sembuh kan, Dok?." Zainab kali ini bertanya.
"Insya Allah. Kalian sebagai anak-anaknya juga harus terus mendukung beliau, agar kesehatannya cepat pulih. Dan jangan membuatnya tertekan, bahagiakan beliau." Nasihat Dokter itu membuat Zainab semakin bersalah.
"Kondisinya stabil, jadi perawat nanti akan memindahkannya." Imbuhnya sebelum pergi.
"Terimakasih Dok, berilah perawatan yang terbaik untuk Ayah kami." Tambah Fikri yang mendapatkan anggukan kepala dari Dokter itu.
***
"Mas, Kapan Mbak Zainab main kemari?." Rere yang sibuk mengunyah makananya, tiba-tiba menanyakannya. Sebab, dia tahu jika hari ini Yusuf menemuinya. Secara tidak langsung dia ingin tahu apakah kakaknya itu mendapatkan restu atau tidak.
__ADS_1
"Habiskan makanan mu, Re!." Perintah Ibu. Dia tahu pasti perasaan Yusuf terganggu.
"Rere pasti akan menghabiskannya, tapi jawab dulu pertanyaanku." Rere memainkan sendoknya. Bibirnya mengerucut.
"Insya Allah, dia akan berkunjung kemari. Tapi Mas tidak bisa memastikan kapan waktunya." Yusuf menanggapinya dengan tenang. Meskipun hatinya bergejolak.
"Kenapa begitu?." Rere bertanya lagi. Belum puas dengan jawaban kakaknya yang menggantung.
"Dia sibuk." Jawabnya singkat.
"Ohh, baiklah. Rere akan memberi kejutan untuknya nanti." Ujarnya seraya tersenyum membayangkan sesuatu. "Pasti Mbak Zainab akan merasa senang." Sambungnya.
"Kejutan apa?." Tanya Ibunya.
"Jika aku memberitahunya sekarang, nanti bukan kejutan lagi namanya Bu." Jawabnya masih merahasiakan.
Yusuf harus mencoba lagi, memperjuangkan cintanya. Dia harus membuktikan kepada Mujayasa, betapa besarnya cinta yang di miliki untuk putrinya itu. Dia harus berusaha lebih keras, agar hidupnya semakin membaik dan Mujayasa tidak lagi menghina dirinya.
"Apa yang harus Yusuf lakukan, Bu?." Tanyanya.
Kini mereka berbincang di beranda, menikmati suguhan pemandangan malam yang bertabur bintang di langit. Bulan sabit yang terang. Menambah cerah indahnya malam ini.
"Apapun keputusanmu, Ibu akan selalu mendukungnya. Ibu tahu, kau mencintai Nak Zainab. Tapi, Ibu tidak ingin jika kau terus memperjuangkannya, kau akan terluka nantinya. Apakah orang tuanya akan semudah itu menerimamu, dengan status sosial yang berbeda? Ibu takut jika mereka sampai mengina dirimu." Apa yang dikhawatirkan Ibunya memang sudab terjadi. Hinaan yang membuatnya memohon pun bahkan telah dia lakukan. "Carilah gadis lain saja, yang setara hidupnya dengan kita. Meskipun Ibu juga sebenarnya sangat ingin Zainab menjadi menantu di rumah ini."
"Yusuf akan mencobanya lagi, Bu. Do'akan saja semoga kali ini Yusuf bisa meruntuhkan dinding penghalang itu." Tuturnya yakin.
"Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, Nak. Jika gagal lagi, bagaimana?."
"Yusuf akan mengikhlaskan Zainab. Itu artinya dia bukan jodoh Yusuf."
Ibarat rembulan nan jauh di sana, sama seperti Zainab yang sulit untuk dia miliki. Meskipun rembulan itu tidak pernah akan turun ke bumi, setidaknya Yusuf dapat menikmati keindahannya.
***Bersambung***
__ADS_1
Maaf ya kalo di part ini agak ga nyambung ceritanya. karena di bagian jeda cerita ke 2 menceritakan Ayah Zainab masuk rumah sakit. Soalnya kepala ane agak pusing, jadi agak geser🤕.
Oke. Bagi like, koment, favorite and share. Semoga kalian tetap suka sama ceritaku.