Cinta Zainab

Cinta Zainab
Kepulangan Ayah


__ADS_3

Kabar kepulangan orang yang dirindukan, akhirnya akan tiba. Sudah lebih dari dua minggu berada di luar kota untuk menyelesaikan urusan bisnis dengan klien. Melebarkan sayap bisnis ke kota-kota lainnya, menjalin kerjasama yang sangat penting, menjaga agar perusahaan tetap berkembang.


Hari ini adalah hari minggu. Jadi, Zainab pun bisa ikut menyibukan diri di rumah untuk membantu Risa dan Mbok Cici memasak di dapur. Menyiapkan beberapa menu, termasuk makanan kesukaan sang Ayah tercinta.


Tak jarang disela-sela obrolan mereka sembari memasak diselingi canda dan tawa. Mbok Cici yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, karena sudah hampir dua puluh tahun bekerja di rumah itu, sehingga rasa canggung diantara mereka sirna. Tidak ada jarak diantara mereka. Bahkan jika Mbok Cici merasakan duka, kesakitan, pastilah si Empunya rumah akan turut merasakannya juga.


Terlebih lagi sosok Ibu bagi Zainab yang sudah tiada. Ibunya meninggal saat melahirkannya karena kehabisan darah. Jadi, cinta dan kasih sayang Mbok Cici sudah dirasakan cukup bagi Zainab dan Fikri. Apalagi Mbok Cici tidak memiliki anak selama pernikahannya. Sehingga Fikri dan Zainab sudah Ia anggap seperti anaknya sendiri, walau tidak ada hubungan darah sedikitpum.


Suaminya juga bekerja di rumah Zainab sebagai sopir pribadi sang Ayah. Sudah barang tentu Mbok Cici dipastikan juga sangat merindukan suaminya itu.


Deru suara mobil terdengar menuju halaman rumah, Zainab yang mengetahui langsung berlari keluar ingin menyambut kedatangan Ayahnya, yang disusul kemudian oleh Risa dan Mbok Cici.


Pintu mobil terbuka.


"Ayah." Zainab berhambur memeluk sang Ayah sesaat setelah keluar dari dalam mobil.


"Putri Ayah." Membalas erat pelukan itu. Seakan ada rasa kerinduan yang berat di sana.


"Bagaimana kabar Ayah selama di sana." Risa mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Alhamdulillah, selama di sana Ayah dan Pak Imran baik-baik saja." Melempar senyum pada Risa dan Zainab.


"Tadi sebelum pulang, Ayah membelikan kalian oleh-oleh. Tolong Mbok Cici bisa membantu Pak Imran untuk mengambilnya di dalam bagasi mobil."


"Baik Tuan." Mbok Cici bergegas untuk membantu suaminya, mengeluarkan barang-barang bawaan. Kopor isi pakaian dan juga kardus yang berisi buah tangan.


"Dimana Fikri, sejak tadi Ayah tidak melihatnya menyambut kepulangan Ayah. Apa dia tidak tahu?."


"Mas Fikri masih tidur Yah. Seperti tidak tahu saja kalau hari minggu adalah hari kebasannya untuk tidur sepuasnya." Zainab mengadu.


"Anak itu tidak berubah."


"Sudahlah biarkan saja dia. Perut Ayah sudah sangat lapar, sekarang Ayah ingin makan. Ayah rindu makan bersama dengan kalian."


Mereka semua masuk ke dalam rumah, langsung ke ruang makan yang mereka tuju. Aneka makanan tersedia di atas meja makan, semakin membuat air liur tidak bisa dikendalikan.


"Wah, kelihatannya nikmat sekali." Kata Mujayasa memandangi satu persatu makanan itu.


"Jangan hanya dipandangi Ayah, ayo kita makan. Zainab juga sudah lapar, sejak tadi menunggu Ayah." Pintanya.


Beberapa saat hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar. Tidak ada perbincangan diantara mereka sampai selesai makan.


"Risa, apakah selama Ayah di luar kota, Fikri selalu ke kantor?." Tanya Mujayasa kepada menantunya memecah keheningan.

__ADS_1


"Iya Ayah, Mas Fikri setiap hari berangkat ke kantor. Terkadang Mas Fikri pulang larut, karena lembur atau menemui klien.


"Ini kabar baik, Ayah senang mendengarnya. Bagaimanapun kelak Fikri yang akan mengambil alih atas jalannya perusahaan. Ayah ini sudah semakin menua, ingin merasakan duduk di rumah sambil bermain dengan cucu-cucu Ayah."


"Apakah Ayah ingin mendengar sebuah kabar yang sangat baik lagi?." Tiba-tiba suara itu muncul dari arah anak tangga.


Fikri mendekati sang Ayah mencium punggung tangannya. Tersenyum penuh makna.


"Sebentar lagi, Ayah akan menjadi kakek." Jelasnya memberitahu.


Mujayasa terperajat mendengar kabar bahagia itu.


"Benarkah ucapan mu itu Fik?." Mengoyangkan lengan Fikri berungkali, masih belum percaya.


"Itu benar Ayah, Risa sedang mengandung cucu Ayah." Mengelua perutnya yang masih terlihat rata.


Mujayasa menatap anaknya bergantian, masih meminta kepastian. Dan saat tatapan itu datang keda Zainab, Ia menganggukan kepalanya.


Sang Ayah pun aegera memeluk putranya itu dengan erat.


"Alhamdulillah, Ayah bahagia sekali mendengarnya. Selamatnya, kamu akan menjadi seorang Ayah. Jaga Risa dan cucu Ayah dengan baik." Tuturnya seraya melepaskan pelukannya.


"Itu pasti Ayah."


***


"Ambu, apa tidak rindu sama Abah." Kata Pak Imran menggoda istrinya.


Abah dan Ambu, adalah panggilan mesra mereka berdua. Pak Imran yang selalu senang menggoda Istrinya, bagaimana tidak meskipun sudah di usia lima puluh tahun, tapi mereka masih terlihat romantis. Cinta mereka masih begitu sama besarnya sesari dulu, meskipun Tuhan tidak mengaruniakan seorang anak diantara mereka. Itu bukan suatu alasan untuk melunturkan cinta dan kasih keduanya.


"Iihh si Abah, malu nanti didengar sama Tuan dan yang lain." Sambil melirik dari arah pintu dapur, berjaga jika mungkin saja ada yang mengawasi ataupun mendengar percakapan mereka.


"Sini, Abah makan dulu. Ambu sudah masak enak hari ini." Pintanya.


"Abah cium dulu atuh, baru mau makan." Godanya lagi.


"Si Abah teh kayak anak ABG, kita ini sudah umur. Tahu malu kenapa." Tolak Mbok Cici.


"Udah cepat di makan, nanti keburu dingin. Ambu mau bikin kopi dulu buat Abah."


***


Rintik hujan mulai perlahan turun, sepertinya awan sudah tidak dapat menampung uap air di dalamnya. Angin berhembus tidak terlalu kencang, tapi cukup bisa membuat kulit merinding.

__ADS_1


Dari balik jendela kamarnya, Yusuf mengintai air yang berjatuhan dari genting rumah. Ia mencari-cari hatinya di sana. Mungkin saja, sang hujan memberi jawaban atas kegundahannya. Tiba-tiba wajah Zainab muncul dalam benaknya.


"Ahhh, perempuan itu memang membuatku penasaran." Desahnya pelan.


Dia memang cantik, sholeha, dan banyak teka-teki yang ada di dalam dirinya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Tetapi apakah dia pantas untuk ku peristri? Apakah aku ini termasuk salah satu kreteria idaman calon suami baginya? Yusuf pun tersenyum mengatakannya itu di dalam hatinya.


"Astaghfirullah. Apa yang aku pikirkan tentang Dia." Yusuf segera menyadari kekeliruannya. Bagaimana mungkin Ia menaruh hati kepada perempuan yang baru beberapa hari Ia kenal.


Tok, tok, tok.


Ceklek. Pintu terbuka.


"Mas Yusuf ko melamun. Hayo mikirin apa.?" Ledek Rere


"Siapa yang melamun? Sok tahu kamu." Sangkalnya tidak mengakui.


"Ibu minta Mas segera bersiap untuk ikut hadir di acara pernikahan anaknya Bu Ratmi."


"Kapan?


"Sekaranglah Mas."


"Masih hujan, pengantin prianya juga pasti belum datang. Nanti sajalah tunggu setelah hujan reda." Dengan sedikit malas.


"Yusuf, Suf." Ibu Tina datang dengan tergopoh-gopoh.


"Astaghfirullah, dari tadi belum ganti baju. Apa Ibu belum memberitahu kamu, kalau nanti kamu yang diundang sebagai pembicara di pernikahan anaknya Bu Ratmi.


Yusuf terperangah mendengar ucapan Bu Tina. Semakin menambah rasa enggannya untuk pergi.


"Kenapa mesti Yusuf, Bu. Yusuf kan belum menikah, setidaknya mereka yang sudah menikah, kan lebih tahu?." Tolaknya mentah-mentah.


"Kamu kan pinter, ya Ibu mengusulkan kamu."


"Kalau soal menikah, bukan urusan pinter atau tidak Bu. Aku ini kan masih lajang, ceramahnya ya paling soal jomblo fisabilillah."


"Kan banyak Mas, materi di google, youtube." Rere memberi saran.


"Benar apa yang dikatakan Adik mu, Ibu akan malu nanti. Kan siapa tahu nanti kalau ada orang yang tanya, Ibu bilang kalau itu Yusuf anak Ibu, masih jomblo, masih cari pasangan."


Melihat Ibunya yang memasang wajah memelas, membuat Yusuf tidak tega untuk menolaknya lagi.


Demi melihat senyum dan membahagiakan Ibunya, akhirnya Yusuf mengiyakan permintaan itu, meskipun dengan berat hati. Ia pun segera mencari materi yang akan disampaikan nanti.

__ADS_1


****


__ADS_2