Cinta Zainab

Cinta Zainab
Sofia


__ADS_3

Part ini khusus menceritakan Kehidupan Sofia sebelumnya.


***


Pintu lemari terbuka lebar, seluruh penghuninya keluar berserakan di tempat tidur dan di lantai. Pemandangan yang tidak biasa terjadi disebuah kamar seorang gadis. Koper turunkan, Ia masih bingung mana pakaian yang akan di bawa.


Besok pagi, Ia akan pergi ke kota untuk mengadu nasib menjadi asisten rumah tangga. Ia di ajak oleh seseorang yang dikenalnya 2 hari lalu, saat Ia tengah duduk di bangku terminal. Kala itu Ia sedang merasa frustasi, sebab sudah beberapa kali Ia melamar ke perusahaan, namun tidak ada satupun yang menerimanya dengan alasan sedang tidak membutuhkan karyawan.


Terbilang cukup mendadak memang, memutuskan untuk bekerja ke kota besar Sofia tidak berfikir panjang atas pekerjaan yang diterimanya itu. Ia sudah tergiur dengan iming-iming gaji besar, meskipun hanya menjadi asisten rumah tangga. Mungkin saja sang pemilik rumah adalah kalangan elit, sehingga seorang asisten rumah tangga saja bisa mendapatkan gaji cukup besar menurutnya.


Sang Ibu sangat berat melepaskan anak perempuan kesayangannya itu. Sebab baginya tidak apa lebih bersabar lagi, agar mendapatkan pekerjaan di kota tempat tinggalnya. Tinggal berjauhan akan membuatnya merasa dilanda kerinduan. Walaupun Sofia pasti akan senantiasa menghubunginya lewat sambungan telepon.


Namun demi memperbaiki perekonomian hidup. Ia harus tetap pergi. Ia tidak mempedulikan bahwa Ia baru saja lulus dari salah satu universitas. Pasti kebanyakan dari teman-temannya mencari pekerjaan yang layak dan pantas daripada harus menjadi asisten rumah tangga. Sofia mengaku siap dengan segala konsekuensinya. Baginya membuat Ibu bahagia dan kedua adiknya tetap dapat melanjutkan sekolah, adalah tanggung jawab besar dalam hidupnya.


"Kamu yakin akan pergi, besok." Entah sudah berapa kali beliau menanyakan hal itu kepada anaknya.


"Perasaan Ibu sungguh tidak enak. Ibu ingin kamu bekerja di sekitar sini saja." Sambungnya lagi.


Sofia menghentikan aktivitasnya. "Ibu jangan terlalu khawatir, di sana Sofia pasti akan baik-baik saja. Ibu do'akan saja, semoga Sofia betah dan majikannya juga baik." Senyumnya melebar meleburkan kekhawatiran hati sang Ibu.


"Mbak nanti kalau sudah tiba disana, langsung hubungi kami ya." Pesan si bungsu yang manja.


"Iya Nesya."


"Nanti kalau Mbak Sofia pergi, yang ngajarin aku belajar siapa?" Tita menampakan raut wajah sedihnya.


"Kan bisa belajar bareng sama teman-teman mu yang lain. Mbak pergi ke kota untuk bekerja, demi kalian agar tetap melanjutkan sekolah, untuk Ibu agar tidak terlalu lelah berjualan kue keliling. Mbak ingin kondisi kehidupan kita membaik, bisa melunasi hutang-hutang."


"Mbak hanya ingin melihat kalian rajin belajar. Jangan memiliki pikiran negatif. Selama Mbak pergi, jaga Ibu baik-baik. Jangan biarkan Ibu terlalu lelah, supaya tidak sakit." Tuturnya panjang lebar.


Tita dan Nesya menghambur ke dalam pelukan Sofia. Bagi mereka, ini adalah kepergian pertama Sofia. Terasa sangat berat. Mereka tidak bisa membayangkan suasana rumah yang ramai akan menjadi sepi, ketika Ia tidak ada. Tergambar jelas kesedihan menyita perasaan dan hati mereka.


Ibu yang melihat ketiga putrinya berpelukan erat, tidak bisa menahan laju kristal hangat dari kedua pelupuk matanya. Baginya mereka adalah permata yang berharga dari apapun di dunia ini. Meskipun tidak jarang diantara ketiganya pernah terlibat pertengkaran, tetapi sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Sudah malam, ayo lekas tidur. Besok kalian harus pergi ke sekolahkan" Perintah sang Ibu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Ibu, mereka melepaskan pelukannya. Tita dan Nesya mengusap sisa air mata yang jatuh di pipi. Sofia juga merasakan kesedihan yang sama, akan meninggalakan orang-orang yang disayanginya. Namun ini semua hanya sementara waktu, setelah kehidupannya membaik, Ia akan segera kembali pulang.


***


Suara deru mobil berhenti di depan rumah Sofia. Itu adalah mobil yang akan Ia tumpangi, rupanya ada beberapa orang perempuan lainnya yang akan mengadu nasib di kota yang sama dengannya.


"Sofia pamit ya Bu. Ibu baik-baik di rumah, jangan terlalu banyak pikiran, nanti Ibu sakit. Sofia pasti akan khawatir dan tidak tenang selama bekerja di sana. Sampaikan pesan Sofia pada Tita dan Nesya, agar mereka jangan selalu bertengkar."


"Iya, Nak. Kamu juga jaga diri, selalu beri kabar Ibu. Dan adik-adikmu juga pasti akan kangen." Pesannya. Wajah yang semula tersenyum itu kini surut.


"Ibu kenapa?." Tanya Sofia hati-hati.


"Soal perasaan Ibu yang tidak enak?." Tanyanya lagi meyakinkan.


Sofia tahu jika Ibunya masih belum merelakan Ia untuk pergi. Padahal bunyi klakson sudah beberapa kali menyahut. Namun tangan sang Ibu, belum mampu terlepas dari jemari Sofia.


"Semoga Allah selalu melindungi kamu, Nak. Di sana kamu dipertemukan dengan orang-orang baik.". Do'anya seraya melepaskan genggaman tangannya.


Sofia memeluk erat Ibunya untuk terakhir kali sebelum Ia melangkah pergi. Ibu berulang menciuminya. Ia ingin menangis, tapi berusaha menahannya agar tidak jatuh. Setelah mencium punggung Ibunya, Sofia melangkahkan kaki menuju mobil. Tangannya melambai kepada sang Ibu.


***


Pukul 20.00 malam. Mobil itu sampai di tempat tujuan. Sofia masih belum terjaga. Raut wajahnya begitu kusut dan rambutnya yang tidak terikat terlihat acak-acakan.


"Bangun, bangun, ayo cepat bangun. Enak sekali kalian dari tadi tertidur ya." Teriak salah seorang laki-laki yang tidak tahu datangnya dari mana.


Sofia beserta yang lain terbangun, karena mendengar teriakan yang mengagetkan itu. Sofia mengerjapkan kedua matanya karena silau akan cahaya lampu. Ia dan yang lain diminta untuk segera turun dari mobil, dengan membawa barang bawaan masing-masing.


Mereka berlima berbaris. Dan Mia, perempuan yang beberapa hari lalu bertemu di terminal berjalan ke depan.


"Kalian berlima sementara akan bermalam disini. Besok baru kalian akan tahu majikan masing-masing. Soal gaji sudah saya jelaskan berapa kisaran yang akan kalian dapatkan. Dan jika pelayanan kalian bagus dan memuaskan, bayaran kalian akan disertai bonus. Bahkan bisa saja bonus yang di dapat lebih besar dari gaji kalian." Katanya dengan nada menggiurkan.


Semua yang mendengar, termasuk Sofia seakan tidak percaya dengan ucapan Mia. Rasa penasaran masih merasuki pikiran mereka, sebenarnya pekerjaan asisten rumah tangga macam apa yang akan mendapatkan semenggiurkan itu. Siapa pun yang mendengarkanya pasti akan menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.


"Saya kira kalian sudah paham." Tambahnya.

__ADS_1


"Ayo Bon, bawa mereka semua masuk." Perintahnya kepada seorang laki-laki bernama Bono.


"Ayo bawa barang-barang kalian, dan ikut dengan saya." Perintah Bono.


Air muka lelaki itu sedikit menakutkan. Sofia begidik jika menatapnya, bulu tengkuknya berdiri jika seringainya muncul. Kulit hitam legam bertabur rambut-rambut kecil menambah kengerian lelaki itu.


Bono mencari sesuatu di dalam sakunya, setelah menemukan benda mungil itu dia segera membuka pintu. Aroma gelap dan pengap dari dalam rumah itu, seperti jarang berpenghuni. Tak lama cahaya terang berpendar ke setiap sudut, memperlihatkan seisi ruangan.


"Di sini ada 2 ruang kamar tidur. Kalian bisa membaginya sendiri." Bono menyerahkan 2 kunci dan juga menunjukan di mana letak dapur dan kamar mandi berada.


Sofia dan yang lain hanya mengangguk mahfum. Sofia merasa ada keganjilan, mengapa tidak langsung menuju rumah orang yang akan menjadi majikannya saja. Namun, lagi-lagi akal sehatnya memaksa harus menuruti perintah lelaki misterius itu.


Sofia duduk di tepi ranjang, setelah meletakkan barang bawaannya di lantai. Rasa lelah di tubuhnya semakin dirasa. Perutnya yang sedari tadi meminta jatah makan, belum juga terpenuhi.


"Nama kamu siapa?" Tanya perempuan yang akan tidur sekamar dengannya. Sepertinya Dia seumuran dengan Sofia.


"Saya Sofia, kamu? Tanyanya balik.


"Saya Alina."


Mereka bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Dan alasan mengapa mereka nekad pergi ke kota besar untuk mengadu nasib demi masa depan.


Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu membuat mereka berhenti dan saling pandang. Sofia memberanikan diri untuk membuka pintu.


Ceklek. Handel pintu itu diputar. Ternyata Bono sedang berdiri dihadapannya, membawa tengengan plastik di tangannya.


"Ini jatah makan malam kalian." Menyodorkan kepada Sofia.


Sofia meraih plastik itu. "Terimakasih." Ucapnya seraya kembali menutup pintu dan mnguncinya.


Akhirnya perut yang sedari tadi keroncongan terisi juga. Walaupun dengan lauk seadanya setidaknya sudah menghentikan rasa lapar. Usai makan Ia dan Alina bergegas tidur, mereka tidak sabar besok akan menemui siapa orang yang akan menjadi majikannya itu


***


Hai reader, terus dukung aku ya. Sertain juga dong Like dan comment nya. Biar aku semangat!!!

__ADS_1


__ADS_2