
Langit sore sudah berubah jingga, bianglala bersolek melambaikan keindahan. Matahari mulai akan mendarat ke peraduannya. Dan seolah alam menyulap dirinya sendiri.
Waktu seolah mengikuti sisa-sisa perasaan bahagia yang terbawa oleh Zainab. Sofia yang menyadari jika sejak tadi sahabatnya selalu senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras. Dia tidak ingin merusak pemandangan aneh dihadapanya itu, sebab dia pun pasti merasakan hal yang sama jika berkaitan dengan Dimas. Omong-omong, bagaimana cerita manusia yang satu itu. Tidak jelas.
Sofia melongok ke belakang, dia masih melihat mobil yang sama sejak beberapa menit yang lalu. Pikirannya mulai curiga.
"Zai, mengapa mobil hitam itu sejak tadi ada dibelakang kita. Apa mereka mengikuti kita? Jangan-jangan mereka orang jahat." Sofia meluapkan kecurigaan dan rasa takutnya.
Zainab melihat mobil hitam dibelakangnya lewat kaca spion. Dia seperti tidak asing dengan mobil yang terus saja mengikutinya itu. "Aku seperti mengenal mobil itu." Katanya masih menerka-nerka.
Sofia menoleh kebelakang. "Memang mobil itu milik siapa? Kau mengenali pemiliknya?." Tanya Sofia penasaran.
"Mereka adalah orang suruhan Ayah, untuk mengikuti kita." Jawabnya setelah melihat nomor plat mobil bagian belakang bertuliskan MJY yang artinya Mujayasa.
"Benarkah?." Sofia terperajat seraya menutup mulutnya. "Untuk apa, Ayah mu melakukan itu?." Tanyanya lagi.
"Entahlah. Biarkan saja. Bukankah kita sedang di kawal tanpa harus kita diketahui." Jawab Zainab santai.
"Hmm, benar. Aku benar-benar takut tadi." Sofia mengelus dadanya karena merasa lega.
***
Yusuf menatap kosong pekarangan depan rumahnya. Mobil yang dikendarai Zainab sudah tak terlihat lagi. Jiwanya masih juga enggan kembali ke dirinya, dia masih ingin tinggal bersama gadis itu.
"Maafkan Yusuf, Bu." Yusuf belum merubah pandangannya. Sungguh, dia masih berharap dengan Zainab.
"Maaf untuk apa?" Bu Tina mengeryitkan dahinya.
"Yusuf tidak bisa membawanya sebagai menantu Ibu." Ucapnya tanpa menyebutkan nama siapa yang dimaksud, namun Bu Tina mengerti.
Bu Tina mengusap lengan putranya itu. "Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah akan hal itu. Meskipun dia akan menjadi milik orang lain, bukan berarti kamu harus meratapinya terus menerus."
Yusuf membuang napas panjang. "Ini sungguh berat, Bu." Keluhnya.
"Ini juga berat bagi Zainab. Ibu melihat cinta yang begitu besar di matanya. Namun, pasti ada alasan lain dibalik ini semua. Mengapa dia memutuskan memilih orang lain dibandingkan dirimu." Bu Tina mulai mampu meraba apa yang menjadi dasar penolakan Zainab. Sebab Yusuf tidak menceritakan secara spesifik, hanya garis besarnya saja.
__ADS_1
Yusuf membenarkan semua ucapan Ibunya itu. Bukan hanya status sosial saja yang berbeda, namun penghinaan yang teramat kejam. Zainab tidak ingin melihat itu terjadi lagi terhadap orang yang dicintainya itu. Zainab lebih memilih Ayahnya dan menikah dengan Dinan, orang yang sama sekali dia tidak sukai.
"Sabar Mas!." Rere ikut menanggapi. Dia turut merasakan apa yang tengah melanda kakaknya itu.
"Masih banyak gadis lain. Yang lebih baik darupada dia."
"Tidak semudah itu untuk melupakannya, Bu. Ini menyangkut soal hati."
"Apa yang kamu rasakan itu belum ada apa-apanya. Belum ada seberapanya, jika dibandingkan kesedihan saat Ibu harus ditinggalkan oleh Bapakmu untuk selamanya."
"Ko jadi bahas Almarhum Bapak sih, Bu. Rere jadi sedih nih." Rere memasang wajah masam.
"Ibu hanya memberi perumpamaan saja, biar Mas mu bisa move on." Ujarnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Banyak petuah memang dari cerita orang tua. Sebab mereka telah mengalami hal apapun yang mungkin dia sendiri belum pernah mengalaminya. Tidak semudah kata yang diucapkan, butuh proses untuk berubah menjadi manusia yang lebih tegar. Ini hanya perkara cinta, tetapi cinta bisa membuat siapa saja menjadi gila karenanya. Mungkin itu tergantung dari siapapun yang menghadapi dan bagaimana cara untuk menyikapinya.
Cinta akan menjadi bumerang, jika salah arah. Dan cinta akan dirasakan begitu indah, jika ikut tuntunan Rasulullah. Mintalah kepada Sang Pemilik Hati, Dia berkuasa atas apapun di diri ini.
***
"Dari mana kamu, pulang sampai se sore ini?." Tanya Mujayasa. Dia tengah duduk menyesap kopi hitam yang masih ada sedikit uap panas mengepul di sana. Koran pagi hari ini, berada ditangannya. Dia belum sempata membacanya.
"Zainab, kenapa kamu malah menjawab dengan jawaban seperti itu?." Mujayasa mulai merasa kesal.
"Bukankah anak buah Ayah sudah mengikuti ku kemana pun hari ini? Sudah dipastikan, mereka memberi informasi ke mana pun aku pergi, bukan?." Mereka saling melemparkan tanya.
"Ya. Dan kau pergi menemui pemuda miskin itu!." Bentak Mujayasa yang membuat Zainab terlonjak.
"Ayah, namanya Yusuf. Tolong jangan panggil dia dengan embel-embel miskin." Zainab tersulut emosi, tubuhnya memanas. Dia merasakan kesakitan saat orang yang di cintainya kembali di hinakan.
"Ayah tidak peduli siapa nama pemuda itu. Dengan sangat tidak tahu malu, kau pergi untuk menemui dirinya. Kau sebentar lagi akan bertunangan dengan Dinan. Apa kata mereka jika mengetahui secara diam-diam, kau masih berhubungan dengan dia."
"Meskipun kami tidak jadi menikah, salahkah jika Zainab tetap menjalin silaturahmi dengannya?."
"Tentu saja salah. Ayah tidak mau tahu, setelah kau bertunangan dengan Dinan, kau harus mengundurkan diri sebagai guru!." Maklumat Mujayasa.
__ADS_1
"Apa?." Zainab terkejut atas keputusan Ayahnya.
"Itu adalah hukuman yang harus kau bayar karena telah pergi menemui pemuda miskin itu. Dan kemanapun kau pergi, harus ada sopir yang mengantar mu." Tutupnya sebelum beranjak pergi ke lantai atas.
Zainab sudah merasa tidak berdaya. Pengabdiannya sebagai guru, baik secara rela ataupun tidak rela, harus dia lepaskan begitu saja. Dimana hati Ayahnya kini? Mengapa dirasa begitu kejam menusuk hatinya. Zainab terkulai lemas di sofa. Air matanya luruh membasahi pipi. Bayangan para guru dan muridnya di sekolah, berputar dikepalanya. Mana mungkin dia bisa pergi dari rutinitas yang mengharuskan bertemu mereka setiap hari. Dan satu hal, dia tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan Yusuf. Apakah ini yang menjadi alasan terkuat, yang menyebabkan hatinya runtuh seketika? Hanya dia yang tahu.
***
Zainab memeluk bantal, dia masih terisak dalam tangisnya. Tenggelam dalam sepinya malam. Mendekap seluruh keputus asaan. Kabut hitam menyelimuti seluruh hidupnya. Bagaimana tidak, dia bak boneka yang harus mengikuti kemauan sang Ayah.
Biasanya di saat sedih seperti itu, Risa selalu ada disampingnya untuk mendengarkan keluh kesah dan menghabiskan detik waktu malam dengan air matanya yang ikut mengering. Namun, tidak sama dengan malam ini. Risa dan Fikri sedang berkunjung ke kediaman Risa untuk beberapa hari. Sedangkan Sofia, dia juga tidak bisa datang untuk menemaninya. Karena Bu Desi tengah sakit demam.
"Hallo, Assalamualaikum." Suara di seberang telepon.
"Walaikumsalam." Suara Zainab nasih dengan isakannya.
"Zai, kau menangis? Ada apa? Ceritakan kepadaku!." Sofia memburunya dengan beberpaa pertanyaan.
"Bisakah kau datang kemari untuk menemaniku!." Pintanya dengan sesenggukan.
Sofia mengehela napas. "Maaf, Ibuku sedang demam. Dan aku tidak mungkin untuk pergi meninggalkannya." Katanya sedikit tidak enak.
"Ohh, tidak apa-apa. Kesehatan beliau jauh lebih penting." Rasa kecewa terlihat di wajah Zainab, dan tentu saja Sofia tidak melihatnya.
"Maafkan aku. Besok aku pasti akan menemanimu."
"Iya. Tidak masalah. Semoga Ibu segera diberi kesembuhan."
"Aamiin. Terimakasih Zai. Assalamualaikum." Tutupnya.
"Walaikumsalam." Klik. Sambungan telepon itu berakhir.
Jadilah malam ini, malam yang sempurna bagi Zainab. Kesedihan yang harus dia lalap seorang diri. Tiada tempat untuk berbagi lara. Seandainya, Ibunya masih hidup. Pastilah akan berbeda jalan ceritanya.
Nyeri di ulu hatinya semakin mencuat. Ngilu membayangkan miris dirinya sendiri. Nasib apakah yang tergaris dalam hidupnya itu, sedikit saja dia ingin menuliskan sedikit kebahagiaan. Apakah tidak bisa?
__ADS_1
***Bersambung***
Readers, aku sudah mulai up lagi nih. Maafkan atas keterlambatan ku selama benerapa hari ini.