
"Sofia, bangunlah. Segera sholat shubuh!." Zainab membangunkan Sofia. Malam ini dia menginap di rumahnya. Tubuh Sofia menggeliat, matanya masih terasa berat untuk terbuka. Rasa kantuk belum mau beranjak pergi dari dirinya. "Ayo bangunlah! Nanti kita terlambat ke sekolah." Cobanya sekali lagi.
Tubuh mungil itu memaksakan diri untuk bangun. Kedua mata Sofia perlahan terbuka dan melihat Zainab dengan merapihkan mukena. Dia telah selesai sholat shubuh. Dengan masih terhuyung, Sofia beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah kembali Sofia menunaikan sholat.
Sedangkan Zainab, dia sedang berkutat dengan bukunya. Mempelajari ulang materi yang akan di berikan hari ini. Dan membuat beberapa soal untuk latihan di rumah.
"Zai sudah lama ya, aku tidak menginap di sini. Tidak ada yang berubah banyak dari kamar ini." Sofia melepas dan meletakkan mukena di tempat semula.
"Jika semalam aku tidak memaksa mu, mungkin kau akan tetap pulang. Padahal sudah larut malam." Pandangan Zainab tidak berpindah.
"Hmm, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin Ibu merasa khawatir." Tuturnya.
"Baiklah, hari ini kita berangkat bersama ke sekolah. Aku akan ganti pakaian terlebih dahulu dan meminta Mbok Cici untuk menyiapakan bekal untuk kita, nanti. Setelah itu kita akan ke rumah mu" Kata Zainab sembari memasukan beberapa buki ke dalam tasnya. Kemudian dia pun segera bersiap.
"Aku turun ke bawah dulu, aku haus." Sofia beranjak keluar tanpa menunggu jawaban Zainab.
Zainab memperhatikan tubuh Sofia yang hilang dari balik pintu. Detik itu, campur aduk perasaan Zainab. Dia masih memandangi dirinya di cermin. Tidak pernah sebelumnya selama itu dia berada di meja rias miliknya. Kali ini bukan seberapa polesan yang akan dia pakai, melainkan menyiapkan mental akan bertemu dengan Yusuf kembali di sekolah.
Apakah cukup dengan tersenyum saja, jika bertemu dengannya? Mungkin hanya itu satu-satunya cara agar menghindari deguban jantung yang selalu ingin melepaskan diri.
Zainab akan berangkat lebih awal. Sebenarnya dia ingin menemui Ayahnya terlebuh dahulu. Meski tidak dapat dipungkiri, dirinya ingin segera memberitahu kabar baik itu. Namun Zainab teringat pesan sang Paman. Bahwa biarlah beliau yang menyampaikan kepada Ayahnya. Nyalinya menciut dan memilih turun ke bawah menuju dapur menemui Sofia yang belum juga kembali.
Seperti biasa sapaan selamat pagi diucapkan oleh Zainab kepada Mbok Cici yang tengah sibuk memasak di dapur.
"Masak apa hari Mbok?." Tanyanya.
"Si Mbok masak nasi goreng. Telur dadar. Itu menu sarapan pagi hari ini." Jawabnya memberitahu. "Non, mau di masakin apa buat bekal?." Tawarnya mungkin Zainab tidak tertarik dengan menu yang di siapkan pagi itu.
"Tidak usah, Mbok. Itu saja sudah cukup. Seperti biasa siapkan bekal untukku. Karena hari ini, Zai akan berangkat lebih awal." Zainab meminum susu hangat yang dibuatkan oleh Mbok Cici sebelumnya di meja. Sofianpun tengah menikmati susu hangat miliknya tanpa sepatah katapun, sejak Zainan berada di situ.
"Tumben, pagi-pagi sekali Non." Mbok Cici meletakkan bekal Zainab di atas meja.
"Ah iya Bi. Karena aku harus mengantar Sofia terlebih dahulu. Zainab pamit dan sampaikan salam kepada yang lainnya." Zainab pergi dengan tergopoh-gopoh yang diikuti oleh Sofia.
"Hati-hati Non." Pesan Mbok Cici setengah berteriak.
__ADS_1
Zainab meluncur dengan motor maticnya, Sofia duduk di bonceng dibelakang berpegangan erat di pinggang Zainab. Udara masih terasa dingin menyusup ke dalam pori-pori kulit. Jaket tebal pun belum cukup mampu menghalau dingin yang terus hinggap. Jalanan lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Lampu penerangan jalan beberapa diantaranya masih terlihat menyala. Butuh waktu 15 menit untuk sampai ke rumah Sofia.
****
"Apa adikmu belum bangun?." Tanya Mujayasa saat mereka siap untuk sarapan pagi.
"Tadi Mbok Cici bilang, jika dia berangkat lebih awal hari ini. Karena semalam Sofia menginap di sini. Jadi, Zainab memutuskan mereka untuk berangkat bersama. Mungkin saja mereka ke rumah Sofia terlebih dahulu, karena dia tidak sempat membawa pakaian ganti." Tutur Risa menyampaikan apa yang di jelaskan Mbok Cici.
"Anak itu, sampai lupa dengan Ayahnya."
"Zainab hanya sedang sibuk, Yah. Akhir-akhir ini dia juga jarang mengobrol dengan kami berdua." Fikri ikut bersuara. Meskipun dirinya tahu alasan di balik mengapa Zainab terlihat sesibuk itu. Hanya ingin segera memenuhi janjinya untuk mencari calon suami. Sebab waktu yang di sepakati sebentar lagi akan berakhir.
"Benar, Yah. Zainab juga selalu pulang kelelahan." Risa ikut membenarkan suaminya.
Mujayasa berdecih. "Kalian berdua, kompak mendukungnya. Dan Ayah belum bicara dengannya sejak kemarin, setelah dia kembali dari rumah Harun."
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Fikri dan Risa mengunci rapat mulutnya, tidak ingin merusak sarapan pagi dengan perdebatan yang mungkin saja akan berlanjut.
Sementara di rumah Sofia. Zainab terbatuk-batuk saat meminum teh yang dihidangkan Bu Tina.
"Tidak, Bu. Mungkin Zainab terburu-buru tadi." Zainab menoleh ke arah Bu Desi yang kembali duduk di tempatnya.
"Bagaimana kabar Ayahmu?."
"Alhamdulillah, baik. Ayah juga masih sering pergu keluar kota untuk urusan bisnisnya."
"Syukurlah. Ayah mu memang pekerja keras. Demi masa depan putra dan putrinya."
Zainab tersenyum dan mengiyakan. Ternyata Sofia sudah selesai berganti pakaian seragam guru hari ini. Diikuti dengan kedua adiknya. Tita dan Nesya.
"Sarapanlah dulu dengan kami, Ibu tadi sudah memasak." Ajak Bu Desi pada Zainab dengan tatapan memohon.
"Iya kak. Kan tidak setiap hari sarapan bersana kami." Tita menggoyang-goyangkan lengan Zainab.
Zainab tidak mungkin menolak ajakan itu. Toh, sudah lama sekali dia tidak berkunjung. Akhirnya Zainab pun di giring menuju meja makan. Dia pun sempat memikirkan nasib bekal paginya. Namun kembali tidak mempedulikan.
__ADS_1
Melihat pemandangan pagi yang berbeda, Anak dan Ibu menyantap sarapan pagi dengan obrolan hangat yang menyatu. Membuat Zainab merasa iri. Tidak seperti Ayahnya yang kaku. Apa mungkin karena dia seorang Ayah, bukan seorang Ibu? Dirinya merindukan sosok Ibu yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Kristal hangat ingin meloloskan diri dari pelupuk matanya, sebisa mungkin dia tahan agar tidak jatuh.
"Ibu, hari ini Tita akan mengikuti lomba puisi antar sekolah. Do'akan semoga lancar!."
"Ibu do'akan semoga nanti kamu bisa melakukannya dengan baik. Dan menjadi pemenangnya." Bu Tina mendo'akan anak keduanya itu.
"Aku juga." Nesya ikut berceloteh tidak mau kalah.
Tita menoleh ke arah Nesya. "Memangnya kau juga ikut lomba puisi?."
"A-aa tidak." Jawab Nesta terbata.
"Lalu?"
"Apa salahnya jika aku juga ingin mendapatkan do'a dari Ibu. Agar hari ininaku bisa menjalani sekolah dengan baik." Nesya menaikan dagunya ke atas.
"Baiklah. Terserah kau saja. Selalu saja ikut-ikutan." Tita mencebikan bibirnya.
Inilah suguhan tambahan kala sarapan pagi. Tita dan Nesya yang acap kali bertengkar di meja makan. Bahkan seringkali salah satu diantara mereka menangis. Bukan pemandangan asing bagi Sofia dan Bu Tina. Akan tetapi bagi Zainab, mereka berdua samgatlah lucu. Tidak pernah sebelumnya melihat mereka berdua bertingkah seperti itu. Terkadang keduanya tampak akur.
"Tita, Nesya!." Seru Sofia dengan mengeraskan suara. Sontak Tita dan Nesya kembali tenang. "Habiskan sarapan pagi kalian, Pak Udin sudah menunggu di depan." Perintahnya tegas.
"Iya Mbak." Jawab mereka berdua.
"Maafkan mereka berdua, yang membuat mu tidak nyaman saat menikmati sarapan pagi." Pinta Sofia.
Zainab mengelus tangan Sofia dan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa. Hal ini juga pernah terjadi kepada ku dan Mas Fikri saat kami masih duduk dibangku sekolah. Sebuah hal yang wajar, jangan marahi mereka lagi. Kasihan kan. Pasti akan mempengaruhi mood mereka nanti."
"Tapi mereka selalu berulah. Tidak melihat sedang berada di mana mereka." Sofia masih menahan emosinya.
"Tita, Nesya ayo segera habiskan susu kalian." Perintah Bu Desi . Keduanya menurut. Kemudian berpamitan.
Setelah Tita dan Nesya lenyap bersama mobil yang membawa mereka. Kini Zainab dan Sofia pun bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah helm terpasang di kepala masing-masing, Zainab mulai menjalankan roda duanya bersaing dengan kendaraan yang lain.
***Bersambung***
__ADS_1