Cinta Zainab

Cinta Zainab
Fobia


__ADS_3

Yusuf segera di bawa ke ruang UKS. Semua merasa terkejut dengan kejadian dilapangan. Mereka semua bertanya-tanya, mengapa Yusuf tiba-tiba tidak sadarkan diri. Zainab dan Sofia saling berpandangan, kebanyakan dari mereka hanya bisa berspekulasi atas kejadian itu.


"Apa yang terjadi dengannya?." Sofia menanyakan hal yang sejak tadi dipikirkan oleh Zainab.


"Aku juga tidak tahu." Zainab menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


"Apa mungkin dia takut?." Sofia masih menerka-nerka jawaban dari beberapa perkiraan.


"Entahlah. Bisa jadi. Yang pasti aku sangat merasa bersalah kepadanya, tadi." Zainab mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Dia tahu jika Yusuf merasa ragu untuk mengikuti perlombaan itu. Namun, pada saat dia memberi anggukan kepala untuk meyakinkan dirinya, kemudian akhirnya dia menyetujuinya.


Sofia mengernyitkan keningnya. "Kenapa kau merasa bersalah? Aku tidak mengerti apa maksudmu."


"Itu tidak penting. Sebaiknya kita ke UKS, memastikan bagaimana keadaanya sekarang. Sudah siuman atau belum." Ada kekhawatiran di wajah Zainab.


"Ok." Sofia mengiyakan.


Mereka berdua bergegas ke ruang UKS. Di sana juga ada Pak Agus dan Dimas, dan Yusuf baru saja sadar dari pingsannya. Zainab dan Sofia masuk ke ruangan, melihat Yusuf yang tengah duduk sedang minum segelas air yang disodorkan oleh Dimas.


"Apa yang terjadi denganmu, Pak Yusuf? Kenapa tiba-tiba sampai pingsan tadi?." Tanya Pak Agus penuh kekhawatiran.


Belum sempat Yusuf menjawabnya, Dimas menambahinya dengan pertanyaan lain. "Apa kau sedang kurang sehat?."


"Tidak, saya baik-baik saja." Jawabnya datar.


"Lalu, kenapa bisa sampai pingsan?." Sofia berseloroh. Tidak mungkin jika Yusuf merasa baik-baik saja, pasti ada sesuatu yang dia tidak ketahui. Dan Yusuf menyembunyikan dari semua orang.


Zainab hanya diam memaku diri. Tapi tidak dengan jantungnya yang kini menyerukan detakan yang semakin menguat saja. Yusuf melayangkan tatapan kepadanya. Ingin tahu apa yang tersirat dalam kedua netra cokelat itu. Dia tidak menemukan apapun disana, kecuali bekas luka yang dipaksa untuk sembuh lebih cepat.


"Dulu sejak kecil saya memiliki fobia dengan ikan bernama belut itu. Ingatan saya masih begitu jelas sekali, karena setiap melihatnya saya jadi geli dan otak saya mengatakan bahwa dia sejenis dengan spesies ular." Yusuf merasa begidik jika menceritakan ulang semasa kecilnya itu. "Entah tiba-tiba kemudian saya demam pada malam harinya. Semenjak kejadian itu, saya menyimpulkan bahwa saya fobia terhadap ikan belut." Yusuf tertawa kecil mengingat kejadian yang menurutnya konyol.


"Saya jadi merasa bersalah sekali. Sebab saya tadi memperlihatkan ikan itu tepat di wajah bapak." Ujar Pak Agus merasa tidak enak hati.


"Ohh, tidak Pak. Jangan merasa seperti itu." Yusuf segera menampik.


"Tapi karena perbuatan saya, kemudian bapak pingsan. Tolong maafkan saya." Pintanya.


"Pak Agus tidak bersalah atas kejadian ini. Ketika mendengar atau melihat secara langsung ikan belut itu, memori otak saya membuka kejadian semasa kecil dulu, secara otomatis saya merasa fobia itu kembali datang. Ketakutan tanpa alasan yang seharusnya mungkin saja sudah menghilang, seiring dengan bertambahnya usia. Akan tetapi pada kenyataannya masih ada di dalam diri saya."

__ADS_1


"Apa fobia itu tidak bisa dihilangkan?." Tanya Sofia penasaran.


"Bisa. Yakni konseling dengan psikolog dan psikiater merupakan cara efektif untuk mengatasi fobia.


"Tentu saja itu harus diiringi dengan tekad yang kuat, harus mampu mengubah pola pikir menjadi lebih positif dan melihat sesuatu yang ditakuti selama ini secara objektif." Pak Agus menambahkan.


Sofia manggut-manggut mahfum. Sedari tadi Zainab hanya menyimak pembicaraan mereka. Tidak sepatah katapun yang keluar.dari pita suaranya. Padahal Yusuf ingin mendengar beberapa kata darinya.


Seolah mengerti Sofia menegurnya basa-basi. "Zai, apakah kau tidak ingin mengucapkan sesuatu kepada Pak Yusuf?." Pertanyaan itu membuat Zainab gelagapan.


"Hmm." Zainab cukup lama meneruskan kalimatnya. "Apa yang anda rasakan sekarang?." Zainab mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya tak tenang.


"Alhamdulillah sudah membaik, hanya saja tubuh ini masih agak lemas." Jawabnya dengan mengulas senyum.


"Istirahatlah, agar segera kembali pulih. Dan semoga anda bisa mengatasi fobia itu secara perlahan." Pesannya membalas senyum.


"Terimakasih." Ucapnya yang mendapat anggukan kepala dari Zainab.


***


Malam harinya Yusuf merasakan kepalanya pusing, mual dan dadanya terasa sesak. Apakah serangan panik yang dialaminya masih berlanjut? Dia kesulitan untuk tidur. Yusuf memang tidak menceritakan apa yang sudah menimpanya hari ini di sekolah kepada Ibunya. Dia bukan anak kecil lagi, yang musti mengadukan apapun.


"Mas mu kenapa Re?." Tanya Bu Tina.


"Mana Rere tahu, Bu." Rere menaikan kedua bahunya.


Bu Tina masih berpikir keras, tapi masih juga belum ada jawaban memecahkannya.


"Tanya Mas Yusuf langsung saja, Bu!." Rere memberi saran.


"Kira-kira masih ada hubungannya dengan Zainab tidak ya, Re?."


"Mungkin. Bisa jadi." Rere melahap keripik singkong dihadapannya.


"Apa iya Mas Yusuf belum mode on?." Bu Tina menarik sebelah bibirnya kesamping.


Rere yang kini berpikir keras, mencerna kalimat sang Ibu yang sebenarnya aneh atau memang tidak pas. "Move on kali, Bu." Akhirnya Rere membenarkan.

__ADS_1


"Alah sama saja, mau move on, mode on, se ons. Iya tho?."


Rere menepuk jidatnya. Sejak kapan Ibunya mengerti bahasa gaul seperti itu. Pasti korban media sosial yang salah kaprah.


"Kenapa kamu, Re? Nepuk nyamuk?." Tanya Bu Tina.


"Iya, nyamuknya sok gaul." Jawab Rere seraya terus memasukan keripik dalam jumlah banyak ke dalam mulutnya.


"Ibu ke kamar Mas mu dulu ya!." Bu Tina beranjak dari duduknya.


"Hmm." Rere menjawab tanpa menoleh.


Sementara di dalam kamarnya, Yusuf sama sekali tidak bisa mengistirhatakan mata ataupun tubuhnya barang sejenak. Perasaan cemas sesekali datang menghampirinya. Masih begitu besarkah fobia yang dia rasakan.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Yusuf. Dia beranjak bangun dan bersandar di ranjang kayu. Bu Tina pun ikut duduk di tepinya.


"Subhanallah, wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?" Tanya Bu Tina penuh kekhawatiran. Dia meraup wajah putranya itu.


"Tidak, Bu." Jawaban Yusuf menbuat Bu Tina tidak percaya.


"Jika kamu tidak sakit, lalu kenapa wajahmu pucat? Apa ini masih ada hubungannya dengan Zainab?." Tanyanya lagi.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Zainab. Fobia terhadap ikan belut itu kembali membuat Yusuf seperti ini." Yusuf pun akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya di sekolah, untuk menghapus rasa khawatir yang dirasakan Bu Tina.


Bu Tina menghela napas panjang. "Astaghfirullah, kenapa kamu tidak cerita sejak tadi? Jika kamu tidak menemuimu, Ibu tidak akan tahu semua itu." Bu Tina menjeda kalimatnya. "Apa yang kau rasakan?." Lanjutnya.


"Kepala Yusuf terasa pusing, mual, dan dada terasa sesak." Katanya memberitahu.


"Kita pergi ke dokter ya!." Ajaknya.


"Tidak usah, Bu." Tolak Yusuf. "Aku hanya butuh istirahat saja, dan besok pasti akan kembali pulih."


"Baiklah jika kau menolaknya. Tapi katakan kepada Ibu, apabila kau merasa tidak nyaman dan merasakan sakit." Pesannya seraya memknta Yusuf untuk kembali berbaring. Perempuan paruh baya itu menyelimuti dan mengecup keningnya. "Semoga Allah memberimu kesembuhan." Do'anya sebelum benar-benar berlalu.


Entah ada energi apa yang merasuki tubuhnya. Perasaan cemas itu terkikis secara perhalan namun pasti. Dulu, pelukan dari sang Ibu mampu menghalau segala ketakutan yang ada pada dirinya. Mana mungkin dia memintanya, meskipun Ibunya tidak pernah mungkin akan menolaknya.

__ADS_1


Perlahan mata Yusuf terpejam. Suara jarum panjang pada jam dinding mengantarnya tidurnya. Suara jangkrik menambah kelelapan sang pemilik rumah. Diluar sana, mega berhiaskan bintang sebagai penjaga langit dan bulan indah yang terang. Mungkin saja mereka tengah berbincang tentang keagungan ciptaan Tuhan yang lain, dan tidak pernah berhenti mengucapkan rasa syukur mereka kepada Sang Pencipta.


***Bersambung***


__ADS_2