Cinta Zainab

Cinta Zainab
Malam


__ADS_3

Heningnya malam bertemankan suara bunyi-bunyian binatang malam. Yusuf masih asik dengan buku di tangannya. Baginya suara itu adalah sahabat malamnya. Jika mulai merasa penat, dia lebih memlilih menghilangkannya dengan membaca buku. Entah sudah berapa koleksi buku yang dia miliki, hampir 2 minggu sekali dia membelinya di toko buku. Sampai rak buku miliknya tidak muat lagi untuk menampung.


Dia berencana untuk membuat ruangan khusus untuk perpustakaan. Yang nantinya akan bermanfaat bagi siapapun, termasuk adiknya Rere yang juga gemar membaca.


"Suf, Ibu kangen ziarah ke makan Bapak." Bu Tina menyatakan keinginannya. Beberapa hari ini dia selalu memimpikan suaminya. Hatinya merasakan rindu yang teramat dalam. Sejak suaminya pergi, hari-harinya begitu sepi. Hanya anak-anak yang membuatnya bertahan menjalani hidup hingga saat ini.


"Insya Allah, ahad pekan ini kita mengunjungi makam Bapak. Sekaligus bersilaturahmi dengan Ustadz Harun." Yusuf menutup bukunya dan meletakan di meja. Dia mahfum akan perasaan Ibunya, yang sedang di landa kerinduan. Dia tidak ingin melihatnya bersedih. Baginya senyum yang menghiasi wajah sang Ibu adalah kebahagiaan untuknya.


"Ibu kangen rumah kita yang dulu. Apa boleh sekalian kita mampir?."


"Tentu saja, Bu. Pasti Rere juga akan senang." Yusuf menuruti permintaan Ibunya.


Senyum tercetak di bibir Bu Tina. Sudah 2 tahun, tidak pernah berkunjung ke tempat tinggalnya dulu. Banyak sekali kenangan di sana. Kenangan yang tidak akan pernah sirna, kenangan yang akan selalu tertanam di dalam kalbu.


"Oh iya, bukankah itu berarti kamu juga akan bertemu dengan gadis yang akan dikenalkan oleh Ustadz Harun?." Tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Benar. Dengan begitu Ibu juga bisa melihat bagaimana gasis itu. Ibu bisa mengutarakan pendapat, cocok atau tidak dia menjadi istri Yusuf."


"Ibu jadi semakin tidak sabar, ingin melihat rupa gadis itu, Suf. Semoga dia adalah calon istri yang selama ini kamu cari. Iya, kan?."


"Insya Allah. Yusuf pun berharap demikian."


"Iya sudah, Ibu pergi ke kamar dulu." Pamitnya masih dengan wajah berbinar.


Yusuf merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia pun amat penasaran siapakah gadis yang akan dipertemukan dengannya. Bayangan Zainab seolah menghilang sejenak dalam benaknya. Semoga ini adalah cerita baru yang akan dia tulis di masa depan bersama belahan jiwanya.


Meskipun tidak bisa dipungkiri, jika Zainab adalah salah satu wanita yang dia inginkan. Yusuf harus segera memupuskan perasaannya, mungkin dia bisa mendapatkannya, asalkan mau berusaha lebih keras dengan meyakinkan Ayah Zainab. Namun, rupanya dia tidak ingin bersusah payah memperjuangkan cinta Zainab.


***


Zainab merasakan dirinya sudah membaik, keluar masuk kamar mandi tidak sesering tadi. Dia sudah bisa bernapas lega dan dapat beristirhat. Perutnya juga sudah berhenti melilit. Dia bersyukur tidak perlu pergi ke dokter. Dia takut sekali dengan jarum suntik.

__ADS_1


Zainab memandangi makanannya di nampan, sejak tadi dia memang belum menyentuhnya. Hanya air dan air. Zainab perlahan menyantapnya, dia butuh pasokan energi untuk memulihkan tenaganya.


Belum habis nasi yang dia kunyah, Zainab teringat kepada Sofia lagi. Dia segera mengambil ponselnya di atas nakas. Ketika membuka panggilan, ada 10 panggilan tak terjawab dari Sofia. Zainab mencoba menghubunginya, namun operator menyampaikan bila nomor yang ia tuju sedang tidak aktif. Marah kah, ia? Bukan sifat Sofia jika hanya karena masalah ini. Toh, tadi Risa sudah memberitahu akan kondisinya.


Zainab keluar dari kamarnya dengan membawa nampan dengan piring kosong. Dia hendak menuju dapur, seluruh ruangan sudah gelap. Lampu sudah dimatikan oleh Mbok Cici. Zainab menuruni anak tangga, namun tiba-tiba cahaya lampu yang menyala membuatnya tersentak kaget.


"Astaghfirullah." Ucapnya seraya memejamkan kedua matanya karena sedikit merasa takut.


"Non belum tidur?." Pak Imran juga sedikit kaget atas kejadian itu.


Zainab membuka matanya dan melihat ke atah sumber suara. "Ya Allah, Pak. Mengagetkan saya saja. Saya pikir siapa."


"Maaf Non. Saya dan Tuan baru saja sampai di rumah." Jelasnya.


"Hmm, lalu dimana Ayah?." Zainab mencari sosok yang sejak tadi tidak mucul. Hanya ada dirinya dan Pak Imran.pp


"Tuan sedang menerima telpon di luar, mungkin sebentar lagi akan masuk."


"Kamu belum tidur, sayang?." Tanyanya yang membuat Zainab merasa senang karena kepulangan sang Ayah.


Zainab memberikan nampan itu kepada Pak Imran. Dan segera mencium punggung tangan Mujayasa lalu memeluknya.


"Belum Yah. Apa Ayah tahu, tadi aku sempat diare." Tuturnya memberi tahu sembari melepaskan pelukannya.


"Iya, tadi Mas Fikri memberitahu Ayah. Kami sedang meeting dengan klien. Dan Ayah memintanya untuk pulang lebih dulu, untuk memastikan keadaan mu." Sekhawatir itu Mujayasa tehadap Zainab. "Lalu bagaimana keadaan mu sekarang? Mujayasa menggiring putrinya untuk duduk di sofa panjang.


"Alhamdulillah, setelah meminum obat yang Mas Fikri beli, Zainab sudah merasa lebih baik." Zainab melepaskan dasi Ayahnya. "Apa Ayah mau Zainab buatkan teh atau kopi? Tawarnya.


Mujayasa tersenyum. "Tidak, tadi Ayah sudah minum kopi. Sekarang lebih baik segeralah beristirahat di kamar mu." Perintahnya.


"Baiklah. Ayah juga segera istirahat. Pasti hari ini Ayah sangat lelah karena sudah bekerja sampai selarut ini." Tatapan mata Zainab terlihat sendu.

__ADS_1


"Ayah bekerja keras demi kamu dan Mas Fikri. Jika suatu hari nanti Ayah sudah tiada. Setidaknya kalian tidak akan hidup susah. Karena sesuai dengan janji Ayah terhadap Almarhum Ibu mu, Ayah akan menjalani sisa hidup dengan membahagiakan kalian, anak-anak Ayah."


Kristal hangat di pelupuk mata Zainab tidak terbendung. Dia tahu sejak dulu, Ayahnya tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Kebahagiaan Zainab dan Fikri adalah hal terpenting bagi hidupnya. Zainab menghambur ke pelukan Ayahnya. Dia semakin tersedu. "Terima kasih, karena Ayah sudah menyayangi dan mementingkan kebahagiaan kami." Ucapan Zainab terdengar serak.


"Tidak perlu berterima kasih, Ayah melakukan ini karena sudah menjadi kewajiban sebagai seorang Ayah." Mujayasa melepaskan pelukan Zainab dan menyeka air mata putrinya itu.


Zainab menyunggingkan bibirnya tipis. "Jangan katakan jika seolah-olah Ayah akan pergi meninggalkan kami. Meskipun Zai tahu, semua jiwa yang hidup pasti akan merasakan mati. Tapi kalimat itu terdengar sangat menyedihkan."


"Baiklah, baiklah. Amal baik Ayah juga belum cukup. Ayah juga tidak ingin merugi jika nanti saat Tuhan benar-benar sudah meminta untuk kembali." Tuturnya.


"Zainab juga selalu berdo'a, agar kelak kita semua dapat berkumpul di surganya Allah."


"Aamiinn." Mujayasa mengaminkan. "Tidurlah, bukankah besok kau akan kembali ke sekolah?


Zainab menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawah. "Ayah juga." Dia beranjak.


Mujayasa memandang putri semata wayangnya dengan penuh cinta. Zainab sangat mirip sekali wajah dengan Ibunya. Dia sudah dewasa dan sebentar lagi akan segera menikah.


***


Sofia berusaha untuk memejamkan kedua matanya. Namun tidak juga berhasil. Nyala bola matanya masih terang, dia masih teringat kejadian beberapa saat yang lalu saat pertemuannya dengan Dimas secara pribadi, menyangkut perasaan dan hati.


Dia ingin menghubungi Zainab, tetapi dia urungkan. Dia tidak mau menggangu Zainab, pasti sedang beristirahat. Sofia.berencana akan menceritakan semuanya besok pagi di sekolah setelah bertemu dengannya.


Sementara pikiran Sofia melayang entah kemana, Nesya sudha berdiri di sampingnya tanpa dia sadari.


"Mbak, Nesya boleh tidur di sini gak?" Panggilan itu membangunkan Sofia dari lamunannya. Namun dia segera menyadari bahwa adiknya memang sering berpindah tidur, jika tidak di kamar miliknya atau ibunya. Kebiasaan buruk, menurutnya.


Setelah Sofia mengiyakan, dengan mata Nesya yang masih tetap terpejam segera meraba-raba di mana letak ranjang, Sofia membantunya dengan merebahkan tubuh adiknya itu.


Dia tersenyum melihat kebiasaan buruk adiknya yang satu ini. "Bagaimana jika kau sudah menikah nanti, apa mungkin kau juga kan berpindah kamar di tengah malam. Yang ada, pasti suami mu akan kebingungan mencari mu di semua tempat. Lantas bagaimana jika ternyata kau pindah di kamar mertua mu? Pasti itu sangat lucu sekali." Gumamnya sendiri pelan. Entah Nesya dapat mendengarnya atau tidak. Sofia mematikan ponselnya dan menyimpannya di meja nakas. Dia mencoba untuk tidur dengan memeluk Nesya.

__ADS_1


****


__ADS_2