
Mobil Yusuf melesat dijalanan kota, lampu jalanan yang temaram menerangi setiap sudut jalan. Langit penuh gemintang, walaupun bulan tak menampakan dirinya. Yusuf mampir ke kedai buah, sebelum dia melanjutkan kembali perjalanannya ke rumah sakit.
Semoga Ayah Zainab akan menerimanku dengan baik. Batin Yusuf.
Yusuf segera memarkirkan mobilnya. Dan setelah bertanya di mana letak ruangan Mujayasa di rawat, Yusuf segera melangkah kan kakinya. Namun, ketika sudah menemukan ruang dimana Mujayasa di rawat, suara lembut yang memanggil mengalihkannya.
"Yusuf." Panggilnya pelan. Dirinya tidak tahu harus merasakan perasaan senang atau takut akan kedatangan laki-laki itu. Mengingat kondisi sang ayah yang masih lemah dan tidak boleh banyak bicara. Mungkin saja dengan melihatnya berada disini, Mujayasa akan kembali semakin buruk.
"Assalamualaikum." Ucap Yusuf seraya mengatupkan kedua tangannya memberi salam kepada Zainab.
"Walaikumsalam."
"Saya kemari hendak menjenguk Ayah anda." Katanya.
"Terimakasih, anda sudah mau mengunjungi Ayah. Akan tetapi, saya masih merasa khawatir atas kejadian kemarin." Tutur Zainab.
Seolah mengerti, Yusuf memilih mengajak Zainab untuk duduk di kursi tunggu yang ada diluar ruangan. Dan menyodorkan bingkisan buah yang dia bawa.
"Terimakasih." Ucapnya sekali lagi.
"Saya mengerti dan mungkin saja kedatangan saya bukanlah diwaktu yang tepat untuk menemui beliau." Yusuf memaksakan diri untuk tersenyum.
"Saya minta maaf. Saya hanya takut kondisi Ayah akan kembali memburuk." Sahut Zainab dengan pandangan tertunduk.
"Tidak apa-apa. Semoga Allah memberikan kesembuhan."
"Aamiinn."
"Saya pamit." Yusuf minta diri dan mulai beranjak berdiri.
"Yusuf." Panggilan itu membuat Yusuf menoleh dan memndang perempuan yang dia inginkan itu. Tapi, mungkinkah???
"Iya. Katakanlah jika ada yang ingin kau sampaikan!" Ujarnya. Yusuf kembali duduk.
__ADS_1
Zainab menghela dan mengatur napasnya. Agarjantungnya netral akan deguban yang selalu saja lepas kendali saat bertemu dengan Yusuf. Dia harus sesegera mungkin menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya. Dia tidak ingin memperpanjang harapan yang mungkin saja Yusuf sedang rasakan. Dia tidak ingin menggantung impian seseorang yang sebenarnya Zainab juga ingin hidup bersamanya. Keputusan yang berat untuk dia ucapkan namun pahitnya akan lebih terasa jika Yusuf mengetahui ataupun mendengarnya dari orang lain. Begitu pikir Zainab.
"Sebaiknya kita sampai disini saja!." Ucap Zainab yang membuat Yusuf merasa bingung.
"Maksunya?." Yusuf ingin penjelasan yang lebih detail.
"Anda jangan mengharapkan saya lagi. Anggap saja kita tidak berjodoh. Demikian pula halnya dengan saya, saya tidak ingin melihat anda dihinakan seperti kemarin." Bola-bola kristal hangat itu melaju dari mata Zainab.
Yusuf menduduk dan menangkup kepala dengan kedua tangannya. Kacau.
"Semudah itu kah dirimu menyerah?." Yusuf mendongak ke arah Zainab yang sedang mengusap air matanya.
"Aku tidak mau melihatmu terluka dengan hinaan-hinaan itu. Hatiku tersayat menyaksikan semuanya. Tolonglah, kita akhiri perjuangan ini dan mencoba kembali hidup normal seperti sebelumnya." Pintanya dengan memohon.
Yusuf tidak mampu menahan diri untuk melihat perempuan yang dicintainya itu menangis dan memohon kepadanya. Netra itu begitu dalam. Dirinya pun tidak sanggup untuk melihatnya. Dirinya tahu bahwa Zainab merasakan duka yang sama dengannya. Dia hanya tidak ingin Yusuf kembali tersakiti.
"Aku akan menuruti permintaan Ayah. A-aku akam menikah dengan Dinan. Anak dari rekan bisnisnya." Sambungnya dengan terbata.
Yusuf merasa dirinya tak ditempatnya lagi. Pikirannya benar-benar tak menentu. Gadis pilihannya lebih memlilih menikah dengan anak dari rekan bisnis Ayahnya dibandingkan memperjuangkan cintanya sendiri.
Dari kejauhan, rupanya Fikri dan Risa sudah sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Mungkin saja mereka mendengar apa yang sudah mereka bicarakan di sana. Setelah melihat Yusuf pergi. Risa segera menghampiri Zainab yang masih terisak. Risa segera memeluknya. Sedangkan Fikri ingin menyampaikan beberapa hal dengan Yusuf.
"Aku tahu ini berat untuk kalian berdua." Fikri dan Yusuf berjalan di area rumah sakit. "Aku bisa melihat kegigihan mu untuk mendapatkan adikku itu."
"Saya harus menghargai apa yang sudah menjadi keputusan dan pilihan Zainab." Yusuf bersedekap. Udara dingin mulai menguap ke udara.
"Itu adalah keputusan yang sulit untuknya. Dia memilih pilihan yang sebenarnya mungkin tidak sesuai dengan hatinya. Dia tidak ingin melihatmu semakin tersakiti. Kau harus tahu, jika Ayah kami memang pendiriannya sukar untuk dirobohkan. Jadi, biarkan lah Zainab bersama dengan keputusannya." Tutur Fikri.
Yusuf tahu ini pengorbanan yang Zainab lakukan untuk dirinya. Dia rela berjalan di atas penderitaan yang akan dia rangkai seorang diri. Hati Yusuf merasa tidak ikhlas melepaskannya begitu saja. Mana mungkin dirinya sanggup melihat perempuan yang dia idamkan malah bersanding dengan orang lain.
"Saya tahu dia telah berani menentukan pilihan itu bagi hidupnya. Semoga laki-laki yang bersanding dengannya kelak, akan membuatnya selalu bahagia." Ujar Yusuf.
"Aku pun berharap demikian." Fikri tersenyum dan dapat melihat bahwa Yusuf amat sulit untuk menerima keputusan itu.
__ADS_1
Gerimis mulai turun. Yusuf segera berpamitan untuk pulang. Dia segera menuju mobilnya yang tidak jauh darinya. Fikri masih memperhatikannya dari kejauhan hingga dia kembali ke jalan raya.
***
"Apa kau sudah mengatakan semuanya kepada Yusuf?." Tanya Risa.
Zainab melepaskan pelukannya kemudia mengangguk.
"Ohh Zainab. Tidakkah kau berpikir ulang sebelum menyampaikan semua itu kepadanya?." Risa tidak habis pikir dengan adik iparnya itu. Bodoh sekali menurutnya.
"Zainab tidak mau membuatnya semakin terluka Mbak. Biarlah, semua ini aku yang akan menangung risiko atas keputusan yang Zai buat sendiri." Ujarnya seraya mengusap sisa air mata di pipinya.
"Baiklah. Mbak yakin kamu sanggup melewati ini semua."
Fikri yang baru saja tiba dari luar, ikut duduk bersama keduanya. "Dia sudah pulang." Katanya memberitahu. "Dia sangat berat untuk melepaskan mu Zai. Tapi dia juga mendo'akan, semoga Dinan bisa membahagiakanmu." Sambungnya lagi.
Zainab mencerna kalimat kakaknya itu. Ini akan terasa sulit dipermulaan saja. Toh dengan berjalannya waktu, semua akan berubah. Dan Yusuf akan menemukan jodoh yang tepat baginya. Sungguh sakit merelakan laki-laki itu menikah dengan perempuan lain. Mungkin saja itu perasaan yang sama seperti Yusuf melihatnya bersanding dengan yang lain pula. Bukankah itu adil?
"Dia akan bahagia dengan yang lain kan, Mas?." Pertanyaan Zainab seakan penuh ketidakrelaan.
"Mungkin."
"Kenapa mungkin?."
"Karena aku tidak tahu apa isi di dalam hatinya. Atau jika dia nanti menemukan perempuan yang tepat, tentu saja dia bahagia."
"Tapi, apa aku juga akan bahagia dengan Dinan?."
"Hanya kau yang bisa menjawabnya seorang diri. Hatimu tidak akan pernah berdusta, bukan?
Zainab menekan salivanya. Membayangkan kehidupannya di masa depan bersama Dinan. Dia tidak tahu apakah benar Dinan adalah laki-laki yang tepat untuknya atau tidak.
Sedangkan Risa hanya menyimak pembicaraan kakak beradik itu. Entah sudah berapa banyak buah jeruk yang habis dia lahap sendiri.
__ADS_1
***Bersambung***