Cinta Zainab

Cinta Zainab
Tamu Yang Tidak Diinginkan


__ADS_3

Sore itu langit cerah, mewakili dari hati seorang Dita yang akan berkunjung ke kediaman Yusuf. Ini adalah salah satu dari usahanya untuk mengambil hati seorang Yusuf, mungkin saja bisa dengan mudah memasuki ruang hatinya. Jikapun tidak, dengan mendekati sang Ibu, Dita bisa memperoleh dukungan. Begitu pikirnya.


Sebelumnya, Dita membeli buah tangan terlebih dahulu. Kalau usaha jangan setengah-setengah, ini merupakan niat baik. Siapa tahu hasilnya juga akan sesuai dengan permintaan hati.


Mungkin ini hal konyol yang pernah di lakukan Dita, sebelumnya Ia tidak pernah mengejar laki-laki hingga berada di tahap yang menurutnya merendahkan martabat seorang Radita Hilma Dewi. Baginya Yusuf berbeda dengan yang lain. Selain tampan, kesholehan Yusuf mampu membuat Dita nyaris kelimpungan karena tidak bisa menahan pesonanya.


Dita harus berusaha lebih keras, jika tidak Sofia akan lebih dulu mendapatkan hati Yusuf. Padahal Zainab lah rival sesungguhnya, yang harus Ia waspadai.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Bu Tina yang datang menyambutnya. "Cari siapa, Nak?." Tanyanya.


"Yusufnya ada? Saya Dita, Rekan Guru di sekolah."


Bu Tina sedikit terkejut. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani bertamu ke rumah seorang laki-laki. Sendiri pula.


"Oh Nak Dita ini temannya Yusuf. Mari masuk dan silahkan duduk." Ajak Bu Tina.


"Ini Bu saya bawakan oleh-oleh." Menyodorkan paper bag warna abu.


"Terimakasih, jadi merepotkan begini. Ibu buatkan minum dulu ya."


Dita menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Ini permulaan yang baik, pikirnya.


Dita terpaku melihat sebuah foto keluarga yang tegantung di dinding. Sebuah gambar keluarga yang harmonis. Dua pria yang menggunakan setelan jas warna hitam, pasti Ayah dan sang anak. Dan di sana Bu Tina menggunakan kebaya ala zamannya dengan jibab warna senada. Seorang anak perempuan cantik dengan gaun brokat terlihat begitu manis, itu pasti adik Yusuf. Dita iri melihatnya, Mama dan Papanya sudah lama berpisah. Dia memilih untuk menata hidupnya sendiri, jengah dengan adu mulut yang harus Dia dengar setiap hari, meskipun Ia sudah menutup kedua telinganya.


"Nak Dita." Suara panggilan itu mengejutkan Dita. Dan menyadarkan lamunannya.


"Oh I-iya, Bu." Dita mengulas senyum di bibirnya.


"Itu foto kami sekeluarga, meskipun Bapak sudah lebih dulu pergi menghadapa sang Khalik, namun kenangan dalam foto ini dan semasa hidupnya dulu, sudah membuat Ibu merasa bahagia karena pernah menjalani hidup bersamanya. Dan ini Rere, adiknya Yusuf. " Menunjuk gambar Rere yang tengah tersenyum." Terang Bu Tina menjelaskan.


Mereka berdua pun kembali duduk. Bu Tina menyediakan teh hangat dan kue kering. Bu Tina menangkap basah Dita yang celingukan mencari sosok yang sejak tadi belum muncul batang hidungnya.


"Maaf, Nak Dita. Yusuf sedang istirahat. Dia merasa agak tidak enak badan."


"Ohh, iya Bu tidak apa-apa." Cahaya wajahnya berubah suram. Ada kekecewaan memenuhinya.


"Ayo silahkan diminum dulu tehnya." Tawar Bu Tina.


Dita mengambil teh hangat yang disuguhkan kepadanya. Menyeruputkan perlahan. Teh itu memanglah terasa manis, namun rasanya berubah menjadi pahit, ingin rasanya Ia meluapkan kecewanya itu. Apakah Yusuf memang sengaja menghindari, dengan tidak ingin bertemu dengannya. Apakah ini rasanya gagal, padahal perjuangannya baru saja dimulai. Atau Ia yang terlalu dini menyimpulkan.

__ADS_1


Mereka berbincang, layaknya sebuah pengenalan diri. Dita yang tidak merasa canggung, dengan leluasa memperkenalkan siapa dirinya, dan bagaimana hubungan antara Dia dan Yusuf di sekolah.


"Yusuf memang seperti itu. Tapi Dia juga sosok yang penyayang."


"Iya, Bu. Maka dari itu saya menyukai Yusuf." Dita yang merasa keceplosan karena tidak bisa mengontrol diri, segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Bu Tina tersenyum mendengar pernyataan Dita, sebelumnya Dia sudah menduga jika gadis di hadapannya menyukai putranya itu. Jika tidak mana mungkin Ia akan akan menempuh perjalanan yang lumayan jauh, hanya untuk menemui Yusuf. Mana mungkin jika tidak menharapkan sebuah hati yang berbalas.


Dita malu bukan kepalang. Sekarang dia sudah tidak lagi bisa berlama-lama di rumah itu, Ia segera minta diri.


"Kalau begitu, saya pamit pulang. Saya takut kemalaman di jalan." Pintanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya."


Dita pun segera beranjak dari duduknya. Ia masih melihat kesembatang arah, berharap Yusuf akan mau menemuinya walaupun hanya sebentar saja. Hati ini tidak bisa menutup diri untuk bersembunyi di balik perasaan.


"Saya pulang dulu, Bu. Sampaikan salam saya kepada Yusuf." Dita mencium punggung tangan Ibu Tina. "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Dita melajukan mobilnya, keluar dari pekarangan rumah Yusuf, memecah jalanan yang ramai. Langit mulai menjingga, bianglala melukis langit dengan indah, tapi tidak dengan hati Dita yang penuh dengan guratan kecewa. Dia seperti tamu yang tidak diinginkan kedatangannya.


Dita meremas kemudinya, berusaha membangkitkan semangatnya lagi.


***


"Kenapa kau tidak mau menemuinya?."


"Yusuf tidak mau memberinya harapan, Bu. Yusuf takut jika nanti akan menyakiti hatinya. Apalagi jika sudah menyangkut perasaan. Lebih baik, Yusuf menghindar sedari awal, daripada Dita menyimpulkan jika Yusuf sudah membuka hati untuknya, padahal hanya menganggapnya tidak lebih." Yusuf mengemukakan alasannya. Ia tahu jika Dita menaruh hati kepadanya. Sama sekali Yusuf tidak tertarik kepada perempuan itu.


Sang Ibu mahfum akan sikap dan keputusan putranya itu. Ia tahu, Dita memang memiliki paras yang cantik, tapi itu bukan tolak ukur bagi anaknya itu untuk menjadikannya sebagai seorang menantu.


"Tapi setidaknya kamu tidak bersikap seperti itu. Dita pasti tersinggung. Dita anak yang baik, cantik. Apa kamu tidak tertarik kepadanya?."


Yusuf mendesah. "Apakah Ibu menginginkan Dita sebagai menantu?."


"Yang mau menikahkan kamu, yang menjalani hidup rumah tangga juga kamu. Jika Dita bukan perempuan pilihan yang tepat untuk dijadikan istri, itu artinya belum berjodoh. Siapapun nanti yang akan menjadi menantu Ibu, asalkan Dia bisa membuat kamu bahagia."


"Terimakasih ya, Bu. Sudah mengerti." Yusuf menaruh kepalanya dipangkuan sang Ibu.


"Seorang Ibu pasti tahu apa yang dirasakan oleh anaknya. Ibu selalu mendo'akan yang terbaik."

__ADS_1


"Besok Insya Allah, Yusuf akam berkunjung ke rumah ustadz Harun. Semoga beliau bisa membantu untuk mencarikan calon istri."


"Iya, pergilah. Ibu berharap semoga do'a-do'a segera dikabulkan. Ibu sudah kepengen punya cucu." Bu tina membuat gerakan menimang, membayang akan seorang bayi di sana.


Yusuf tersenyum geli melihat apa yang dilakukan Ibunya itu.


"Ternyata disini, Rere berulang kali salam tapi tidak ada yang menjawab." Rere berseloroh masuk dan ikut duduk ditepi ranjang setelah mencium punggung Ibu dan Yusuf.


"Pasti membahas soal calon istri. Emang udah ada Mas?"


"Do'akan saja." Pinta Yusuf.


"Pasti." Tukas Rere.


"Bu, Rere boleh pacaran gak?"


Pertanyaan itu membuat Yusuf terperajat. "Mas tidak mengujinkan kamu untuk pacaran. Itu dosa, Re. Tidak diperbolehkan dalam islam." Yusuf langsung mendadak tegas.


"Rere kan tanya sama Ibu, bukan sama Mas Yusuf." Rere bersidekap sambil memonyongkan mulutnya.


"Dengarkan apa kata Mas mu, pacaran itu memang tidak boleh. Nanti zina, kan banyak tub kejadian-kejadian hamil diluar nikah. Ibu tidak mau itu menimpa keoada nak gadis Ibu."


"Ibu selalu saja mendukung Mas Yusuf. Ibu lebih sayang Mas Yusuf daripada Rere."


"Rere, bicaralah yang benar kepada Ibu. Sejak kapan kamu jadi tidak sopan begitu?." Yusuf mulai mengeraskan suaranya.


Suasana sedikit menegang. Bu tina menatap anak gadisnya itu dengan wajah teduhnya. Rere menunduk, masih merasa kesal.


"Ibu tidak pernah pilih kasih, baik kepada Mas Yusuf ataupun Rere. Kalian berdua adalah harta yang paling berharga. Ibu sayang sama Rere, mana mungkin seorang Ibu akan bertindak tidak adil terhadap anak-anaknya. Ibu sedih jika Rere berkata seperti tadi." Meraih tangan Rere san mengusap-usapnya.


"Anak Ibu sudah remaja, wajar jika memiliki rasa suka terhadapa lawan jenis. Itu sudah menjadi fitrah manusia. Kita harus bisa mengendalikan dan menyikapinya agar tidak salah arah. Baik Ibu ataupun Mas Yusuf tidak ingin kamu terluka, nanti jika sudah waktunya pasti kamu akan mengerti" Sambungnya lagi.


Rere menaikan kepalanya menatap wajah Ibunya. Penuh sesal terlihat, sepetinya kata-katanya sudah menyakiti.


"Maafin Rere ya, Bu. Maafin juga ya Mas. Pinta Rere tulus, menyadari kesalahannya namun butuh waktu untuk mencerna kalimat nasihat Ibunya itu.


Yusuf menganggukan kepalanya pelan. Meskipun Rere sudah duduk di bangku SMA, tapi Dia gadis yang masih polos. Wajar jika Yusuf merasa khawatir akan pergaulannya di sekolah. Takut jika Dia salah memilih orang untuk dijadikan sebagai teman apalagi sahabat.


****


Maaf ya kalo up nya agak lama. soalnya sibuk banget ana. maklumlah.

__ADS_1


jangan lupa laek, komen, klik paporit. makasih.


__ADS_2