
Zainab membelokan motornya ke toko buku. Sampai di depan toko, pikirannya tentang Yusuf dan wanita itu tidak terjamah lagi. Dirinya sudah tidak sabar melihat koleksi buku-buku terbaru di tempat itu.
Zainab mendorong pintu kaca yang bertuliskan push tertempel. Ramai pengunjung hari ini. Karena memang ada sedang ada pameran. Beberapa koleksi buku terbaru terpajang di bagian meja khusus. Dan hari ini, 100 pengunjung akan mendapatkan harga istimewa. Semoga Zainab menjadi salah satu diantara mereka.
"Selamat datang Kak, ini adalah kumpulan koleksi buku terbaru. Besok akan ada meet and great bersama penulisnya. Jika kakak berminat, boleh datang kembali lagi besok." Kata salah seorang pramuniaga.
Zainab tersenyum. "Saya kan melihat beberapa buku yang lain dulu yang akan saya cari."
"Oh iya, silahkan Kak. Dan karena Kak adalah pengunjung yang ke 99, maka Kakak berhak untuk mendapatkan harga istimewa jika nanti membeli 2 buku." Kata pramuniaga itu.
"Hmm, terimakasih. Saya kan kembali lagi nanti." Pamitnya.
Zainab menyusuri rak-rak yang berjejer dengan rapi. Buku-buku juga disesuaikan dengan koleksinya masing-masing. Memudakan para pembaca untuk mencari buku yang mereka inginkan.
Zainab membaca beberapa judul buku diantara deretan buku dan dari para penulis. Dia hendak mengambil satu buku yang menurutnya sangat menarik. Namun, buku itu tidak dapat ia ambil, entah seperti ada orang lain juga yang sedang menariknya di seberang arah rak itu. Zainab tidak mau kalah, dia tetap berusaha untuk mendapatkan buku itu. Tarik menarik pun terus terjadi, buku itu masih bertahan di tempat dan belum ada satupun yang mampu mengambilnya.
Dia mulai merasa jengah. Rasa jengkel memenuhi dirinya. Siapa orang yang tidak mau mengalah demi sebuah buku untuknya. Pada akhirnya Zainab sendiri yang mengalah, akan tetapi bibirnya menyeringai. Seperti mempunyai rencana untuk orang yang ada di seberang sana, dia ingin memberinya pelajaran.
Ketika tarik menarik berlanjut, Zainabpun semakin menguatkan tarikannya. Begitupun orang di seberang rak itu, dia menambah kekuatannya. Saat itu juga, Zainab melepaskan tarikannya. Dan apa yang terjadi orang itu jatuh terjerembab ke belakang. Zainab terkikih dengan ulahnya sendiri.
"Awhh, sakit." Erangan mengasuh terdengar. Zainab mencoba mengintip dari celah buku yang sudah terlepas tadi. Dia pun menutup mulutnya karena terperajat dengan apa yang dia lihat. Zainab pun segera berlari ke seberang rak, tempat orang itu jatuh.
"Pak Yusuf? Sedang apa anda di sini?." Tanya Zainab agak sedikit kebingungan. Diapun melihat Yusuf yang terduduk di lantai.
Yusuf mengusap-usap kepalanya yang sakit. Akibat terpentok rak buku yang berada dibelakangnya. "Sa-saya sedang mencari buku." Tuturnya pelan. Tidak mungkin dia akan bicara jujur jika sejak tadi dia memang mengikuti Zainab.
"Bukankah Pak Yusuf tadi bilang, jika tidak jadi kemari karena ada urusan?." Zainab bertanya lagi.
"Urusan itu ternyata di tunda." Elaknya dua kali. Maafkan aku telah berbohong kepadamu, tapi semua itu karena ada alasannya. Suatu saat kau akan mengerti, mengapa aku melakukannya. Bisiknya dalam hati.
"Ohh." Zainab melirik buku yang di pegang Yusuf. Bukankah itu adalah buku yang hendak dia ambil tadi. Jadi, perebutan terjadi antara dirinya dan Yusuf. Atau Yusuf tengah mengikutinya? Tapi, untuk apa? Zainab berpikir logis dan dia tidak ingin melibatkan hati di sini. Biarlah jika Yusuf menginginkan buku itu, dia bisa menggantinya dengan judul buku yang lain dengan tema yang sama.
Yusuf beranjak berdiri. Sejenak dia membaca sekilas tentang buku yang kini ada ditangannya. "Andai Aku Tidak Menikah Dengannya" Penulis Dr. Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah. MA." Dia tersenyum kemudian memberikan buku itu kepada Zainab. "Ini aku kembalikan kepadamu." Tangan itu masih menggantung.
Zainab tersipu malu. Sungguh. Dia menundukan kepalanya. Seolah terlihat begitu menginginkan pernikahan itu terjadi antara dirinya dengan Yusuf. Tetapi, salahkah jika memang dia memiliki harapan itu?
__ADS_1
"Bu Zai, pegel nih tanganku." Keluh Yusuf dengan nada di buat-buat.
Zainab reflek meraih buku itu. "Maaf. Bukankah anda tertarik buku ini?." Tanya Zainab sambil menggerak buku yang sudah berpindah tangan kepadanya.
Yusuf menyunggingkan bibirnya. "Iya, saya memang tertarik. Biar nanti saya akan mencari buku yang lain saja." Sahutnya. "Saya juga ingin calon istri saya kelak bisa mengambil manfaat dari buku itu." Sambungnya.
Zainab dan Yusuf berjalan menyusuri rak-rak yang tersusun buku-buku. Yusuf juga seringkali meluangkan waktu ke tempat itu. Yusuf menunjukan beberapa buku favorit nya kepada Zainab. Mereka saling bertukar pikiran dan bercerita apapun tentang buku yang pernah mereka baca. Percakapan santai di antara mereka di bumbui dengan canda tawa. Seperti seorang teman. Mereka lupa akan perasaannya sendiri. Keduanya sibuk membicarakan koleksi bukunya masing-masing.
"Apa Pak Yusuf sengaja mengikuti saya kemari?." Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Karena sejak tadi selalu mengganggu Zainab.
"Apakah Bu Zai sedang mencurigai saya?." Bukannya menjawab, Yusuf bahkan balik bertanya.
"Ti-tidak, saya hanya memastikan saja. Sebab mana mungkin kita tadi bisa memperebutkan buku yang sama." Jawabnya terbata seraya membuang pandangan ke segala arah.
Sudah ketahuan. Mana mungkin Yusuf akan kembali mengelaknya. "Iya. Saya memang sengaja mengikuti, sejak melihat motor anda di lampu merah." Yusuf pun menjelaskan kronologisnya mengapa dia bisa sampai kemari.
"Lantas, mengapa anda berbohong tadi?" Zainab menatapnya dengan sendu. Ada kekecewaan tersirat di sana. Meskipun dia telah mendengar penjelasan dari Yusuf tentang alasannya.
"Maaf. Saya tidak bermaksud membohongi anda. Saya hanya menjaga perasaan anda."
"Sekali lagi, maafkan saya. Saya khawatir jika terjadi apa-apa dengan anda tadi." Akhirnya kata-kata itu terurai juga.
"Iya." Hati Zainab seperti dipenuhi bunga. Mendengar perkataan Yusuf yang menyadarkan kembali pikiran baiknya. Seharusnya dia harus mengerti dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Dan jangan menyimpulkan sesuatu secara sepihak.
"Insya Allah, besok malam saya akan berkunjung ke rumah Bu Zai bersama Ustadz Harun. Beliau juga sudah menghubungi saya semalam." Kata Yusuf memberitahu kabar yang sebenarnya Zainab juga sudah mengetahui itu.
"Semoga Allah memudahkan segala urusan kita." Do'anya penuh harap dan Yusuf pun mengaminkan.
Waktu sudah menunjukan pukul 13.20. Adzan Ashar sebentar lagi akan berkumandang. Keduanya segera menuju kasir untuk membayar buku yang telah mereka pilih. Termasuk dua buku yang mendapatkan harga istimewa. Ternyata Yusuf adalah pengunjung ke 100 yang mendapatkannya.
Mereka keluar dari toko buku menuju parkiran. "Hati-hati, dan sampaikan salam saya kepada Ibu. Beliau adalah sosok Ibu yang begitu hangat." Tutur Zainab menciba mengingat kebersamaannya bersama Ibu Yusuf.
"Insya Allah akan saya sampaikan. Beliau pasti akan merasa senang mendengar hal ini." Sahutnya seraya tersenyum.
Zainab pun segera memakai helmnya. Dan segera pamiy untuk pulang lebih dulu. "Assalamualaikum." Salamnya.
__ADS_1
"Walaikumsalam." Balas Yusuf.
Yusuf pun segera menaiki mobilnya. Dia hendak mencari masjid terdekat, untuk menunaikan sholat ashar.
***
Di perjalanan Zainab tidak berhenti merasakan keindahan bunga-bunga di hatinya. Bibirnya tiada henti untuk tersenyum, mungkin saja orang yang melihatnya akan mengira dirinya gila. Dia juga perempuan biasa yang juga dapat merasakan cinta. Namun, dia juga tidak ingin melangkah pada sebuah cinta yang salah. Dia ingin melabuhkan dirinya dalam sebuah pernikahan.
Zainab dapat merasakan ponselnya bergetar, meskipun deringnya tak dapat dia dengar. Zainab pun segera menyalakan lampu sen, agar kendaraan yang berada di belakangnya mengerti jika dia akan berhenti di bahu jalan.
Zainab segera menggeser ikon warna hijau di layar ponselnya. "Hallo."
"Kemana saja kau? Sudah sejak tadi aku mennggumu di rumah, tapi kau belum juga kembali." Ocehan Sofia terdengar nyaring di seberang sana.
Zainab menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya. Setelah terdengar suara "Hallo Zai, apa kau mendengarkan aku?." Zainab mulai mendekatkan kembali ke telinganya. "Iya Sofia aku mendengarnya."
"Kau di mana?." Tanya Sofia.
"Aku masih dalam perjalanan pulang, mungkin 15 menit lagi sampai." Jawabnya memberitahu.
"Baiklah, aku akan menunggu mu." Sofia menutup sambungan teleponnya.
Setelah menaruh ponsel ke dalam tasnya. Zainab kembali melajulan motor maticnya dengan kecepatan sedang.
Awan hitam terlihat menggantung di langit. Angin berkecepatan rendah menggiring awan -awan itu menuju bumi yang kering kerontang. Hujan akan segera melepaskan kerinduannya, dengan membawa ribuan titik cinta berupa air untuk membasahi bumi.
Zainab pun sedikit menambah kecepatan motornya. Agar segera tiba di rumah sebelum hujan turun.
***
Air wudhu membasuh wajah Yusuf. Titik-titik air yang berjatuhan, berjatuhan pula dosa-dosa diri. Sungguh, Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Yusuf segera mengambil shaff sholat paling depan.
"Ya Robb. Sungguh aku menginginkannya. Ingin ku segera menghalalkannya. Ingin ku segera menjalani hidup bersamanya. Ya Allah. Bukalah hati Ayah Zainab. Agar restu itu dapat ku raih. Berilah kemudahan. Amin."
***Bersambung***
__ADS_1