
Bagi sebagian orang, senin merupakan hari paling menyebalkan. Dimana harus berkutat kembali dengan pekerjaan. Begitu pun dengan para murid di sekolah, mereka malas harus berdiri dan berpanas-panasan untuk mengikuti kegiatan upacara. Namun sebagai pelajar, mereka harus menghormati pahlawan karena telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, dengan mengibarkan bendera merah putih di setiap senin pagi di sekolah.
Hari ini Zainab bersemangat untuk mengajar anak-anak di sekolah, entah semangat karena itu atau karena akan bertemu lagi dengan Yusuf. Jantungnya nya berdegub tidak beraturan, apakah diperlukan cek ke dokter mengenai masalah kenapa jantungnya sering merasakan hal itu.
"Bu Zai. Hari ini terlihat bersemangat sekali." Sapa Pak Karim.
Zainab menyunggingkan bibirnya simpul. "Tentu saja harus semangat, Pak. Kan saya akan mengajar anak-anak. Nanti kalau loyo, malah dikira sakit." Katanya menanggapi dengan tertawa.
"Betul itu." Pak Karim pun ikut tertawa.
Dari kejauhan, Yusuf dan Dimas berjalan beriringan. Nampaknya mereka sedang asik berbincang. Zainab yang melihat keberadaan Yusuf yang makin mendekat, menjadi salah tingkah. Dia harus segera mengendalikan diri supaya Pak Karim tidak mencurigainya.
"Selamat pagi Pak Karim, Bu Zainab. Saya perhatikan dari jauh sepertinya seru sekali obrolan kalian." Dimas menyapa lebih dulu.
"Iya Pak Dimas. Bu Zai ini yang suka melucu."
Zainab mengerutkan dahinya. "Lho kok jadi saya, Pak." Zainab menunjuk dirinya sendiri. Dia sudah merasa sedikit tidak nyaman. Yusuf pun sesekali memperhatikannya, bahkan ikut tersenyum kepadanya.
"Saya hanya bergurau, Bu Zai. Jangan marah nanti cepat tua, mana belum menikah lagi." Pak Karim belum usai menggodanya. Yusuf dan Dimas ikut terkekeh.
Pak Karim tidak tahu bahwa perasaan Zainab sudah tidak karuan. Jantungnya hampir copot, memerah kedua pipinya. Zainab menundukan pandangannya.
"Bukan hanya Bu Zai saja, tapi saya dan Pak Dimas juga belum menikah." Yusuf membuka suara, dia tidak ingin melihat Zainab merasa terpojok karena candaan Pak Karim. Jujur, hatinya juga tidak terkendali. Jantungnya terus berdegub melafatkan namanya.
"Benar apa yang dikatakan Pak Yusuf. Hampir para guru di sekolah ini masih berstatus single. Jadi itu artinya kita masih sama-sama mencari pendamping hidup." Dimas ikut menimpali dan arah obrolan pagi itu menjadi sedikit serius.
Zainab menaikan pandangannya. Dia sudah berada dalam posisi aman sekarang, terselamatkan oleh Yusuf dan Dimas. Pak Karim yang mendengarkan hanya manggut-manggut membenarkan keadaan sebenarnya. "Saya do'akan siapapun yang lebih dulu mendapatkan jodoh, yang lain harus tetap semangat untuk menjalani hidup." Pak Karim masih belum berhenti bergurau, bahkan ini menyangkut diri siapapun yang ada disitu.
"Aaminn." Jawab mereka serempak.
Bel masuk sudah berbunyi, mereka pun segera membubarkan diri. Begitu juga dengan anak-anak. Mereka masuk ke dalam kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
***
Di Dalam Kelas Zainab.
Saat Zainab sedang menjelaskan materi pelajaran, Maya dan Sinta berulah dengan membuat kebisingan di dalam kelas. Zainab menegur keduanya. "Maya, Sinta, apa yang kalian ributkan. Kalian tidak memperhatikan apa yang sedang Ibu jelaskan sejak tadi?."
Keduanya terdiam. "Iya bu, maaf. Sinta selalu menggangu saya, padahal saya kan lagi dengerin Ibu." Maya beralasan.
__ADS_1
Sinta yang merasa tidak terima dengan alasan Maya, karena seolah menyalahkan dirinya. Diapun segera membela diri. "Tidak Bu. Maya bohong, dia yang menggangu saya tadi." Maya menggeser tempat duduknya memberi jarak.
"Sudah cukup. Jika kalian terus membuat keributan maka yang lain juga akan merasa terganggu. Ibu harap kalian tidak mengulanginya lagi."
"Iya Bu." Maya menjawab seraya mencebikan bubirnya kepada Sinta.
Zainab meneruskan materi pelajarannya. Namun baru 10 menit, Maya dan Sinta kembali membuat keributan. Dia menghembuskan napasnya kasar dan memandang ke arah mereka berdua. "Sekarang kalian keluar dan lari berputar lapangan 5 kali atau membersihkan toilet." Tuturnya memberi penawaran hukuman dengan nada tegas.
Tanpa menjawab Maya dan Sinta segera keluar dari kelas. Mereka memilih berlari memutari lapangan, daripada harus membersihkan toilet. Panas matahari tidak terlalu terik, meskipun waktu sudah menunjukan pukul 09.00. Sepagi ini mereka sudah mendapat hukuman.
Usai memberi tugas kepada anak-anak dalam kelas, Zainab keluar untuk mengawasi Maya dan Sinta yang masih terus berlari. Mereka sudah terlihat lelah, keringat bercucuran. Semua ini agar mereka tidak mengulang kesalahan yang sama.
Zainab meminta mereka untuk menghampirinya. "Apa kalian akan melakukan keributan lagiScarlett seperti tadi?."
"Ti-ti-dak Bu." Jawab Maya dengan kalimat terpotong-potong karena napasnya masih lterdengar tersengal. Dia membungkuk, meletakkan kedua tangan di lututnya.
Sedangkan Sinta duduk dengan meluruskan kedua kakinya. "Aduh, capek banget. Gerah dan haus lagi." Tangan Sinta dikibas-kibaskan seperti berperan seperti kipas.
"Baiklah, kalian boleh kembali masuk ke dalam kelas. Dan nanti saat jam istirahat, kalian akan Ibu traktir untuk makan di kantin." Kalimat terakhir Zainab membuat Maya dan Sinta seakan sepeti sihir, mampu menghilangkan rasa lelah.
Sinta merasa bersemangat kembali, dia beranjak bangun. "Asik." Kini dia melompat kegirangan.
"Hei kok malah bengong. Ayo masuk ke dalam kelas. Nanti Bu Zai marah dan menghukum kita lagi. Emang kamu mau?." Sinta menarik lengan Maya.
"I-iya maaf." Kamu saja yang di hukum, aku sih ogah." Maya memanyunkan bibirnya.
***
Di Kantin Sekolah
Zainab memenuhi janjinya akan mentraktir Maya dan Sinta untuk makan siang di kantin. Tidak butuh menunggu lama, saat pesanan makanannya datang, Maya dan Sinta segera memakannya dengan lahap.
Zainab tidak luput dari kejaran Sofia, dia mengekor dan ikut menikmati pemandangan kedua anak didiknya yang tengah menyantap makan siangnya. "Apa kalian tidak pernah diberi makan? Sampai selahap itu. Sofia menopang dagu.
"Saya lapar sekali, Bu. Pagi tadi tidak semoar sarapan karena tidak ada makanan di rumah." Sinta menjawab dengan masih banyak makanan di mulutnya.
"Memangnya tidak ada yang memasak? Sofia terus bertanya. Hingga siku Zainab mengenai lengannya, tetapi Sofia tidak memperdulikannya.
"Ibu saya sakit, dan Ayah ..." Kalimat itu terhenti. Bersamaan dengan Sinta meletakkan sendok di mangkuknya. Dia kehilangan selera untuk melanjutkan makan siangnya.
__ADS_1
"Sudah, jangan diteruskan. Ayo habiskan makananmu. Jangan pedulikan pertanyaan Bu Sofia. Dia hanya menggangu mood kalian saja." Zainab menyela.
Sofia mendengus kesal. "Kau ini selalu saja pandai dalam menyalahkan aku."
"Setidaknya biarkan mereka menghabiskan makanannya dulu, baru kau boleh bertanya apapun." Zainab menyeruput es jeruknya.
"Bu Zai tidak pesan makanan?" Tanya Maya seraya memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Tidak, Ibu masih kenyang." Jawabnya tersenyum
"Kamu tidak bertanya kepada saya juga?." Sofia menaikan alisnya kepada Maya.
"Jawaban Bu Sofia itu pasti masih sama dengan kemarin, jika ditawari makanan." Maya meneguk es tehnya hingga habis.
"Memang apa jawaban saya?."
"Maaf ya, Ibu lagi diet. Nanti kalau makan tidak terkontrol, tubuh idela Ibu bisa berganti lemak semua." Maya menirukan gaya bicara Sofia. Zainab dan Sinta terkekeh mendengarnya, lucu.
Sofia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia terlihat menahan malu. "Anak pintar, selalu ingat apa kata Bu guru." Pujinya.
Setelah Zainab melakukan pembayaran, dia dan Sofia segera pamit untuk kembali ke ruang guru. Sedangkan Maya dan Sinta memilih tinggal di kantin. Mereka masih ingin mengobrol dengan teman-teman yang lain, sembari menghabiskan minumannya.
"Selama ini, aku salah sangka terhadap Bu Zainab. Ternyata beliau tidak seperti yang ku kira. Ku pikir dia itu hanya galak, tegas dan killer. Tapi ketika aku perhatikan saat kita mengobrol tadi, Bu Zai justru sangat ramah." Tutur Sinta.
"Aku juga berpikiran sama seperti mu. Tapi apa mungkin karena dia telah menghukum kita, sehingga dengan mentraktir itu bisa menebus rasa bersalahnya?"
"Hush, jangan suudzon. Emang Bu Zai itu sebenarnya baik lho." Bela yang lain.
"Itu kan hanya sekedar kemungkinan. Bisa jadi salah kan." Maya mengubah posisi duduknya.
"Semoga emang salah." Sinta menimpali.
Sudah selayaknya seperti umumnya para remaja. Mereka membicarakan hal dari yang penting dan juga tidak penting. Masa-masa indah memang banyak terjadi di SMA, di mana tidak akan pernah terulang kembali di saat kuliah.
*****
Hmm konflik cinta diantara Zainab dan Yusuf belum terjadi. Entah masih lama atau tidak, aku tidak tahu. Padahal aku sendiri yang mengarang cerita. 😂😅
Ditunggu aza ya readers. semoga kalia tetap setia dengan kuhhh. Akan ku usahan cepet menuju benang merah.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, paporite n vote.