
Seluruh guru SMK menghadiri rapat di Sekolah yang menjadi rayon, di SMK Nusa Bangsa. Rapat berjalan dengan lancar dan sebagaiamana mestinya. Rapat berlangsung 2 jam dan tepat pada waktu makan siang. Pihak sekolah penyelenggara menyediakan catering dan snack. Sehingga mereka peserta undangan rapat dapat menikmatinya.
Zainab dan Sofia duduk bersebelahan. Mereka tengah menikmati santap siang dengan lahap. Begitupun Yusuf dan Dimas, yang duduk tidak jauh dari mereka berdua. Karena tempat duduk di atur sesuai dengan nama sekolah masing-masing.
"Kau tidak perlu mengantar ku pulang, sopir akan menjemputku nanti?." Kata Sofia.
"Hmm... baiklah. Aku juga akan mampir ke toko buku karena ada beberapa buku yan harus aku beli." Mereka berdua saling melepaskan senyum.
"Kebetulan sekali, tadi waktu di perjalanan Pak Yusuf juga bilang jika setelah ini akan pergi ke toko buku" Tutur Dimas ikut bersuara menimpali perkataan Zainab.
Zainab tidak tahu harus berkata apa, untuk menanggapi perkataan Dimas. Sedangkan Yusuf belum juga membuka suara. Sedari tadi dia masih menyelesaikan makan siangnya tanpa berbicara sepatah katapun. Zainab memandangnya, karena dirinya pun menjadi objek pembicaraan.
"Pak Dimas, mana mungkin Bu Zainab mau berangkat bersama Pak Yusuf. Bukan mahrom. Benar begitu kan Bu Zainab?." Dita yang merasa tidak senang menyela masuk dalam pembicaraan.
"Kan mereka naik kendaraan yang berbeda." Sofia tidak mau kalah. Dia berada di pihak Zainab.
"Yang namanya setan pasti bisa saja menggoda manusia dari arah manapun." Dita tetap bertahan meski tidak ada satu orangpun membantunya.
"Saya hanya mengatakan jika Pak Yusuf juga akan ke toko buku. Bukan berarti menyuruh mereka untuk datang bersama ke sana." Dimas meluruskan pernyataannya.
"Kita kan tidak tahu apa isi hati orang lain. Mungkin saja mereka berniat untuk datang bersamaan." Dita masih bertahan.
Sofia hendak berbicara lagi, namun Zainab memberi isyarat untuk tidak mempedulikannya. Meskipun dirinya pun tidak suka. Tangan Sofia mengepal karena menahan emosinya yang sudah tersulut. Ingin sekali menjejali mulut Dita dengan sisa tulang belulang ikan yang ada di hadapannya.
"Bu Dita, sudah cukup. Saya tidak jadi ke toko buku karena ada urusan yang harus saya selesaikan." Akhirnya Yusuf membuka suara dengan kalimat pamungkas. Agar tidak ada lagi perdebatan di meja itu.
Zainab tersenyum tipis. Namun dirinya juga merasa sedikit kesal, kenapa baru saat suasana setegang ini, dia baru membuka mulutnya itu.
Rapat itu pun segera diakhiri. Mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain.
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya." Ucap wanita itu mereka-reka.
Yusuf mengerutkan dahinya dan otaknya mulai membuka lembaran-lembaran lalu, ketika bertemu dengan seseorang yang pernah dia temui beberapa waktu lalu. Akan tetapi dia tidak mengetahui siapa nama perempuan itu.
"Iya, kita pernah bertemu di masjid tempoh hari." Yusuf berhasil mengingatnya. Dia teesenyum manis.
__ADS_1
"Rupanya dunia terkadang terasa sempit. Atau justru takdir yang membuat kita bertemu di sini." Tuturnya membalas senyum. "Dan kemarin kita tidak sempat mengetahui nama satu sama lain." Sambungnya.
"Ohh, rupanya ada Bu Almira. Apa kalian sudah saling mengenal?" Pak Agus tiba-tiba menghampiri mereka.
"Kami pernah bertemu beberapa waktu lalu." Terang Yusuf.
"Hmm begitu. Baiklah lanjutkan obrolan kalian. Jika dilihat kalian sangatlah cocok, siapa tahu berjodoh." Pak Agus terkekeh dan berlalu meninggalkan Yusuf dan Almira.
Hati Almira memanas. Entah sejak kapan dia merasakan hal itu. Perasaannya pun menerima apa yang menjadi dukungan Pak Agus.
"Jadi, nama anda siapa?." Tanya Almira mencoba meneruskan pembicaraan mereka yang sempat tertunda.
"Saya Yusuf."
Di sudut tempat yang tidak jauh dari mereka. Sepasang mata berpendar menyaksikan keakraban dua makhluk yang sedang bertemu di sana. Hatinya sedikit tergores. Tidak pernah sebelumnya dia melihat Yusuf berbincang sedekat itu dengan seorang wanita. Sekalipun itu dengan dirinya sendiri. Apakah dia merasa cemburu? Namun, Zainab tidak memiliki hak sedikitpun untuk merasakan perasaan itu. Dia masih bukan siapa-siapa.
Keraguan menghampiri. Hatinya mencelos. Akal sehat terus mengajaknya untuk berpikir bahwa mereka berdua hanyalah berteman baik. Meskipun pada kenyataannya mereka baru bertemu dua kali. Entah apa yang membuat Yusuf merasa betah untuk berlama-lama dengan Almira.
***
"Iya." Katanya singkat.
Almira terus mengajaknya bicara. Almira adalah tipe perempuan yang apa adanya, meskipun dia seorang religius namun tidak seperti perempuan kebanyakan yang cenderung jaga image. Dia perempuan yang supel, mudah bergaul, ramah dan murah senyum. Dengan lawan jenispun jika dia merasa ada ketertarikan, dia selalu membuka diri.
Yusuf pun tidak menyadari jika sedari tadi sosok Zainab memperhatikannya. Samar-samar terdengar apa yang tengah mereka bicarakan. Sesekali tawa ikut pecah.
Sampai pada akhirnya Yusuf menemukan alasan untuk minta dirinya ke toilet. Mau atau tidak, Almira harus mengucapkan salam perpisahan dan harapan semoga mereka dapat berjumpa kembali.
Aku sangat berharap kita akan bertemu lagi di lain hari. Dan satu hal, semoga Allah menpertemukan kita sebagai pasangan hidup semati. Gumamnya dalam hati.
Usai dengan urusan buang air kecilnya, Yusuf kembali ke ruang Aula. Matanya mencari-cari keberadaan Dimas, namun tidak di temukannya. Justru hanya tersisa Sofia yang masih berbincang dengan guru sekolah lain. Zainab pun sudah terlihat tidak nampak lagi batang hidungnya. Mungkin saja dia sudah pergi ke toko buku, pikirnya. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, atas apa yang telah terjadi dengan perasaan Zainab.
"Maaf, apakah Pak Dimas sudah pulang?." Tanya Yusuf kepada Sofia.
"Sepertinya begitu. Sudah sejak tadi saya tidak melihatnya." Jawab Sofia santai.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih." Ucap Yusuf.
"Iya, sama-sama." Balas Sofia.
Yusuf pun bergegas keluar dari Aula. Ia menuju parkir dimana tempat mobilnya berada. Setelah menemukan mobilnya, dia mulai melajukannya perlahan. Dan ikut membelah jalan raya.
***
Dan Zainab masih saja belum berhenti dengan hatinya yang terasa pedih. Dia sudah berusaha membuang jauh perasaan yang menganggu dirinya, namun tidak juga berhasil. Justru semakin menguat. Zainab mendesah. Jantungnya seperti di tembaki berulang kali.
Zainab mulai mengarang cerita atau malah mengada-adakan. Yang membuat dirinya semakin sakit hati. Memutuskan keputusan asaan. Dia tidak lagi bisa berpikir waras. Setan terus mengajaknya terbang dengan pikiran buruk.
Mungkin saja perempuan itu adalah teman sekolahnya. Atau teman kuliahnya. Atau tetangganya. Karena sebuah ketidaksengajaan mereka pun bertemu. Akan tetapi bagaimana jika perempuan itu menaruh hati kepada Yusuf? Aku tidak rela. Sudah teramat jelas kemarin, dia mau hubungan antara aku dan dia berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Jadi, tidak mungkin dia akan berkhianat. Tidak mungkin Yusuf akan memberiku harapan palsu. Dia bukanlah laki-laki dengan sematan bedebah atau semacamnya. Restu memang belum dikibarkan dari sang Ayah. Dia tidak mungkin menyerah semudah itu. Panjang lebar Zainab membuat cerita hidupnya.
Tin, tin, tin. Bunyi klakson mobil kembali menyadarkannya. Dia berada di urutan terdepan diantara kendaraan yang lain. Tengah menanti bergantinya lampu merah.
"Astaghfirullah. Maafkan aku." Gumamnya sendiri tanpa ada satupun orang yang mampu mendengarnya.
Mungkin saja pengendara lain sudah merasa kesal. Karena sudah beberaa menit lampu hijau menyala, motor Zainab tidak kunjung bergerak. Zainab pun segera kembali melajukan motornya ke toko buku. Setidaknya di tempat itu, dia bisa membenamkan kegelisahan hatinya untuk sementara waktu.
Selama di perjalanan, bibir Zainab tidak berhenti untuk beristighfar. Dia benar-benar takut apa yang dia pikirkannya menjadi kenyataan. Bagaimana jika Yusuf menyerah dan berpaling kepada perempuan itu.
***
Zainab dan Almira. Mengapa kedua nama perempuan itu datang menggangu Yusuf. Namun, Yuusf tidak mau ambil peduli dengan wanita bernama Almira itu. Apapun alasannya, tetap Zainablah yang akan memenangkan hatinya. Dirinya sudah terlanjur jatuh begitu dalam terhadap wanita itu.
Besok dia dan Ustadz Harun akan berkunjung ke kediaman Zainab untuk bertemu dengan Mujayasa. Meminta restu dari Raja, agar mengabulkan permohonannya untuk menikahi sang Putri. Rasa tidak sabar sudah memenuhi dirinya.
Ternyata Yusuf berada di antara orang-orang yang sedang berada di lampu merah. Dia juga mendengar bunyi klakson yang terus berbunyi. Dia melihat motor Zainab berada paling depan, dan merasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan wanita itu.
"Apa yang terjadi dengan Zainab, sampai orang-orang membunyikan klakson seperti itu. Apa motornya mogok?." Yusuf berbicara sendiri.
Namun tidak lama kemudian, motor Zainab mulai bergerak pergi. Yusuf pun mengikutinya dari belakang. Dia masih merasa khawatir jika motornya akan kembali mogok di tengah jalan, yang akan membahayakan dirinya dan juga orang lain.
*** Bersambung***
__ADS_1
Readers bagi like dong. Komen boleh, vote boleh. Favorite juga boleh. Biar aku makin semangat ngetiknya. Dan cerita ini sudah mulai merambah ke konflik yang akan terjadi di antara Zainab dan Yusuf.