
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ini novel pertama aku, semoga kalian suka ^^
...Happy reading ♡...
...*****...
Seorang gadis berdiri didekat pintu kamar kakaknya. Dia sedang menunggu kakaknya yang sedang mencari sesuatu. Gadis itu mempout (mengerucutkan) bibirnya dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Kakak, cepatlah. Aku akan terlambat," ucap gadis itu.
"Sebentar. Apa kau tidak melihat aku masih mencarinya?" jawab Kakaknya.
Gadis itu mendengus dan berkata, "Lama."
"Lebih baik kau membantuku mencarinya."
Gadis itu tidak menjawab. Dia masuk ke kamar kakaknya dan ikut mencari benda tujuannya.
"Nah, ini dia! Kenapa bisa ada di sini? Perasaan kemarin aku menaruhnya di atas meja," bingung Kakaknya.
"Akhirnya ketemu juga, berikan padaku!" ucap gadis itu sambil merebut benda itu dari Kakaknya.
Gadis itu memasukan benda tadi ke dalam tasnya. Dia melirik kakaknya yang masih kebingungan.
"Sudahlah, lupakan. Antar aku ke sekolah," pinta gadis itu yang mendapat pukulan kecil di kepalanya.
"Ashh!" ringis gadis itu dengan mengusap kepalanya yang sedikit sakit akibat ulah Kakaknya.
"Kita satu sekolah, bodoh!" cetus Kakaknya.
"Aku lupa. Maksudku, ayo berangkat sekarang!" Gadis itu menarik tangan Kakaknya.
Sekali lagi gadis itu mendapat pukulan kecil di kepalanya.
"Aku belum memakai seragamku! Apa kau mau aku menjadi tontonan para murid?"
"Bukankah itu sudah biasa."
"Kau benar. Baiklah, ayo kita berangkat."
Gadis itu memperhatikan penampilan kakaknya dari atas sampai bawah. "Dengan penampilanmu yang seperti ini?"
"Hahaha ... Tidak, aku akan memakai bajuku di jalan."
Gadis itu mengangguk mengerti dan segera ke luar dari rumah yang disusul oleh kakaknya.
...*****...
Allia adalah seorang gadis cantik yang hanya tinggal bersama kakaknya, Alvino. Kedua orangtua mereka sudah meninggal karena tragedi lima tahun yang lalu. Mereka bertahan hidup atas bantuan kakeknya yang membiayai kebutuhan hidupnya sekaligus kebutuhan sekolah.
"Ayo," ajak Alvino saat dirinya sudah siap di atas motor lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Rumah sudah dikunci?" tanya Allia.
"Sudah, cepat naik."
Allia naik dan duduk di belakang Alvino. Merasa sudah pas dengan posisi duduknya, Allia menepuk bahu kakaknya.
"Aku bukan Abang ojek."
__ADS_1
Allia terkekeh mendengar ucapan kakaknya.
"Pegangan, atau kau akan terjatuh."
"Iya, Kakakku sayang." Keduanya pun tersenyum.
Allia langsung memeluk erat kakaknya. Disepanjang jalan tidak sedikit orang yang melihat mengira mereka adalah sepasang kekasih, mereka berdua tidak peduli hanya diam dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
...*****...
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 dimana para murid harus masuk ke kelasnya masing-masing karena pembelajaran akan segera dimulai.
SMA Bima Sakti adalah sekolah negeri disebuah kota hujan yang bernama Bogor. Sekolah tersebut termasuk sekolah elite. Kualias murid-murid di sekolah SMA Bima Sakti sudah tidak diragukan lagi. Bangunan-bangunan tinggi dan unik sudah menjadi ciri khas dari SMA Bima Sakti. Peraturan yang adapun sangat ketat agar para murid selalu disiplin akan peraturan yang sudah ditetapkan. Dan itu sudah terjadi sampai sekarang.
Allia dan Alvino adalah salah satu murid dari SMA Bima Sakti. Allia dan Alvino berada di bangku kelas XI. Para murid sudah pasti mengenal mereka. Mereka sering dijuluki sebagai Couple Al. Selain karena nama mereka yang memiliki kesamaan, paras yang tampan dan cantik membuat mereka semakin terlihat cocok. Selain itu, sisi baiknya yaitu mereka memiliki kemampuan berfikir di atas rata-rata. Banyak yang mengagumi mereka, termasuk para guru.
Kring ... Kring ... Kring ...
Suara bel sudah menggema di SMA Bima Sakti yang menandakan kelas akan dimulai. Para murid sudah duduk di kursinya masing-masing. Dan para guru akan mengerjakan tugasnya sebagai seorang guru yaitu memberikan pelajaran yang akan dipelajari oleh para murid.
Allia dan Alvino belum juga sampai, mereka masih diperjalanan menuju ke sekolah.
"Cepatlah, kita sudah terlambat," ucap Allia sedikit kesal, pasalnya Alvino mengendarai motor dengan santai.
Alvino tidak menjawab dan mempercepat laju motornya.
Saat mereka sampai di sekolah, mereka dihadang oleh penjaga gerbang karena terlambat datang ke sekolah.
"Pak, tolong buka gerbangnya," pinta Allia.
"Tidak, kalian sudah terlambat, kalian tidak boleh masuk karena sekolah sudah dimulai sejak tadi," ucap Pak Amir —penjaga sekolah— dengan tegas.
"Maaf, Pak. kami tidak akan mengulanginya lagi."
"Pak ...."
Allia merasakan tepukan di bahunya, dia menengok. Ternyata Alvino.
"Biarkan kami masuk atau kau tahu, kan, akibatnya, Pak Amir." Alvino berujar sambil menatap tajam, tidak lupa senyuman menakutkan di wajah tampannya sampai membuat Pak Amir bergidik ngeri.
"T-tapi kalian sudah terlambat," ucap Pak Amir dengan sedikit terbata menyembunyikan ketakutannya.
"Jalanan macet. Lagi pula ini pertama kalinya kami terlambat," ucap Alvino meyakinkan.
"Baiklah, kalian boleh masuk." Pak Amir berujar sambil membuka gerbang dan membiarkan mereka masuk.
Keduanya tersenyum dan berterimakasih kepada Pak Amir.
Mereka memasuki parkiran sekolah yang sudah dipenuhi oleh kendaraan bermotor milik para siswa dan ada juga beberapa mobil yang terparkir di sana.
"Pak Amir kelihatannya takut kepadamu," celetuk Allia sambil turun dari motor.
Alvino tersenyum dan melepaskan helm yang Allia pakai tanpa menjawab ucapan Allia tadi.
"Kak," panggil Allia.
"Hm ...." sahut Alvino.
"Kenapa Pak Amir kelihatan takut saat melihatmu tadi?" tanya Allia.
Alvino menggidikkan kedua bahunya.
__ADS_1
"Aneh," gumam Allia.
"Masuk kelas sekarang, kita sudah terlambat," ajak Alvino.
"Kakak benar, ayo!"
...*****...
Xl 1 adalah kelasnya Allia dan Alvino. Ya, mereka satu kelas. Saat mereka ingin memasuki kelas, Alvino mencegah Allia untuk masuk duluan. Karena pembelajaran sudah berlangsung, Alvino takut Allia dimarahi oleh guru yang sedang mengajar.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terbukalah pintu kelas menampilkan seorang guru lelaki yang sedang memegang penggaris besi yang membuat Allia takut.
"Pak, izinkan kami masuk," ucap Alvino sedikit tersenyum.
"Enak sekali kamu," ucap Pak Tio —Guru Matematika yang paling tegas—
"Kalian berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesai."
"Tidak, Pak. Biarkan Allia masuk dan saya akan berdiri di sini sampai selesai pelajaran," imbuh Alvino yang tidak disetujui oleh Allia.
"Tidak, Pak. Saya juga terlambat. Jadi saya juga akan berdiri di sini," ucap Allia.
"Al, jangan di sini, kau masuk saja."
"Aku juga terlambat sama seperti Kakak."
"Al--"
"Stop! Kalian ini, sudah terlambat membuat bising kelas lagi. Kemari kalian!" ucap Pak Tio.
Allia dan Alvino berdiri di depan kelas yang membuat mereka menjadi pusat perhatian satu kelas.
"Kenapa kalian terlambat?" tanya Pak Tio.
"Jalanan macet," jawab Alvino.
"Bohong, Pak," sahut salah satu murid laki-laki.
"Paling mereka baru pulang pacaran makanya terlambat," lanjutnya yang mengundang tawa dari semua murid di kelas.
Allia dan Alvino tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
"Sudah-sudah. Alvino, Allia, kalian boleh duduk tapi setelah menjawab pertanyaan saya dengan benar."
"Baiklah, Pak."
Pak Tio memberikan beberapa soal Matematika di papan tulis untuk dikerjakan oleh Allia dan Alvino.
Allia menjawab pertanyaan dengan cepat, Alvino agak sedikit kesusahan menjawabnya sampai akhirnya dia bisa menyelesaikannya.
"Sudah selesai? Cepat sekali kalian menjawabnya," ujar Pak Tio sambil melihat jawaban Allia dan Alvino.
"Kalian memang hebat. Jawaban kalian benar, sekarang kalian boleh duduk," ungkap Pak Tio jujur terkagum pada mereka.
Keduanya sama-sama tersenyum dan duduk dengan posisi bersebelahan. Sedangkan para murid merasa heran sekaligus terkagum dengan mereka berdua.
"Baiklah, mari kita lanjutkan materinya ...." ucap Pak Tio lalu meneruskan pelajarannya.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...