
...Happy reading ♡...
...*****...
Waktunya tiba. Hari di mana pertandingan basket antar sekolah akan dilaksanakan. SMA Bima Sakti sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Karena luas lapangan sekolah yang mereka punya sangat besar, pertandingan basket akan dilaksanakan di sekolah mereka. Samua peralatan yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Tidak akan ada kendala yang terjadi seperti kejadian kemarin saat hari terakhir latihan.
Banyak orang yang ada di lapangan. Tidak hanya guru, siswa dan siswi dari sekolah mereka saja, tapi juga para pendatang dari SMA Galaksi yang akan menjadi lawan SMA Bima Sakti. Baik itu guru, siswa-siswi dan para pendatang lainnya dari sekolah lain yang ingin melihat pertandingan basket antar dua sekolah sembari mendukung sekolah pilihannya masing-masing.
Hubungan antara SMA Bima Sakti dan SMA Galaksi terbilang sangat baik. Sayangnya, hubungan antar siswanya yang tidak baik. Meskipun demikian, perdebatan antar mereka tidak dengan melakukan kontak fisik seperti tawuran antar pelajar dan lainnya. Melainkan lewat prestasi sekolah. Maka dari itu mereka mempersiapkan segalanya agar tidak kalah dari lawannya dan membuktikan jika sekolah mereka lebih baik.
Para pemain dari SMA Galaksi sedang mempersiapkan diri mereka. Mereka melihat lawan mainnya dengan sinis. Mereka akui lawannya kali ini akan susah untuk dikalahkan. Mengingat Alvino adalah kapten tim basketnya. Tentu saja mereka sudah tahu banyak tentang Alvino. Alvino cukup terkenal di sekolah SMA Galaksi sehingga banyak yang membicarakannya. Dengan otak cerdiknya dan sikapnya yang tidak banyak bicara, Alvino bisa mengalahkan mereka dengan kegesitannya dan triknya sendiri seperti yang dia lakukan saat pertandingan tahun lalu. Tapi sekarang mereka tidak akan mengulanginya lagi, mereka sudah berlatih dengan keras untuk mengalahkan tim Alvino agar pulang membawa kemenangan.
...*****...
Wasit meniup peluitnya sebagai pertanda jika kedua tim harus segera memasuki lapangan dan memulai pertandingan.
Dimas, kapten tim basket SMA Galaksi. Dia memperhatikan wanita yang bersama dengan Alvino. Wanita itu sangat cantik dan terlihat berbeda dari yang lainnya. Tiba-tiba satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miringnya. Terlintas ide yang cukup menarik di pikirannya.
"Kali ini kau akan kalah Alvino!"
SMA Galaksi sudah berada di tempatnya. Mereka menunggu Alvino yang masih belum masuk ke lapangan. Mereka melihat Alvino masih berbicara dengan seorang perempuan cantik yang ada di sampingnya. Sebelum Alvino pergi, perempuan itu mencium pipinya dan dibalas dengan senyuman oleh Alvino. Banyak yang tidak percaya melihat kejadian itu. Alvino yang mereka ketahui tidak pernah dekat dengan siapapun. Perempuan itu tidak lain adalah Allia.
"Semangat Kak Al," ucap Allia setelah mencium pipi Alvino.
"Asal kau selalu ada di sisiku." Alvino tersenyum lalu pergi ke lapangan.
Masing-masing kapten tim maju ke depan. Saat mereka berhadapan, Dimas tersenyum sedangkan Alvino hanya menatapnya.
"Hai Al. Akhirnya kita bisa bertemu di pertandingan ini setelah sekian lama," ucap Dimas.
"Maksudmu setelah kekalahanmu?" tandas Alvino.
Tangan Dimas mengepal kuat bersiap untuk memukul Alvino. Tapi dia tahan agar tidak mendapat masalah.
"Kau benar. Bagaimana jika kita bertaruh?" tawar Dimas.
Alvino menatapnya tidak mengerti.
"Jika kau yang memenangkan pertandingan ini, kau boleh meminta apapun kepadaku dan aku akan menerima kekalahanku di hadapan mereka semua."
Alvino masih diam dengan pikirannya, dia mengangkat satu alisnya. Tawaran yang cukup bagus, tapi dia tidak berminat karena dia tahu Dimas bukan orang yang ceroboh memutuskan suatu keputusan. Alvino menunggu Dimas melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Dan jika aku yang memenangkan pertandingan ini, kau harus menyerahkan perempuan itu kepadaku," ujar Dimas sembari melihat Allia yang ada di pinggir lapangan.
"Bagaimana?"
Alvino mengikuti arah pandang Dimas, tangannya mengepal mengetahui perempuan yang dimaksud Dimas adalah Allia. Kemarahannya memuncak jika sudah menyangkut tentang Allia.
Pertandingan belum dimulai tapi sudah dikejutkan karena tiba-tiba Alvino meraih kaos Dimas hendak memukul bibir yang sudah lancang berbicara tentang Allia. Sebelum tangannya sampai untuk memukul Dimas, gerakannya tertahan karena Rifki menariknya dengan kuat agar tidak terjadi acara pemukulan. Alvino menatap Dimas tajam. Para penonton bersorak melihat pertengkaran itu. Sedangkan Dimas tertawa pelan melihat Alvino yang mudah terpancing.
Allia yang melihat itu hendak memasuki lapangan namun ditahan oleh Clara yang berada di sebelahnya. Allia menoleh, kemudian Clara menggeleng pelan melarang Allia masuk ke lapangan karena itu bisa berbahaya untuknya. Akhirnya Allia terdiam sembari melihat ke arah lapangan.
"Jaga mulutmu!" Alvino menatap tajam. Tubuhnya masih dicekal oleh Rifki. "Lepaskan!"
Rifki melepaskan tangannya. "Pakai cara baik-baik, jangan mudah terpancing olehnya."
Alvino diam mendengarnya. Mungkin jika bukan menyangkut tentang Allia, dia tidak akan marah. Alvino mencoba memendam kemarahannya.
"Baiklah jika kau menolaknya. Tapi aku akan tetap mendapatkan apa yang aku inginkan bagaimanapun caranya."
Setelah itu wasit yang berada di tengah-tengah mereka melempar koinnya untuk menentukan tim siapa yang mendapatkan bolanya. Keberuntungan ada di tangan Dimas, tim Dimas mendapatkan bolanya untuk bermain.
"Satu langkah menuju kemenangan." Dimas berucap sambil tersenyum miring saat melewati Alvino.
Sheila dan Mona dengan beberapa orang dibelakangnya berjoget untuk mendukung Alvino sembari meneriakkan nama Alvino. Beberapa orang lainnya membentangkan bendera sekolah SMA Bima Sakti. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pendukung SMA Galaksi.
Alvino kembali memainkan bolanya. Dia melempar bola itu pada Rifki. Rifki menangkap bolanya dengan sangat baik. Kemudian Rifki melemparkan bola itu pada Reno yang ada di dekat ring lawan. Dengan sigap Reno menangkap bolanya dan memasukkan bolanya ke dalam ring. Satu poin lagi tercetak untuk SMA Bima Sakti. Allia tersenyum melihatnya.
"Kak Al semangat!" teriak Allia.
Alvino yang mengenali suara itu menoleh dan tersenyum ke arah Allia. Matanya tidak sengaja melihat Clara, dia melihat Clara sedang tersenyum karena kemenangan timnya. Saat Clara mengetahui Alvino sedang melihatnya, Alvino memalingkan wajahnya dan kembali bermain.
Para penonton semakin meramaikan pertandingan. Dimas dan timnya mendesis melihat dua poin yang lawan timnya cetak. Kemudian Dimas mengintruksikan timnya untuk berkumpul di tengah lapangan. Dia membisikkan sesuatu yang tidak ketahui oleh orang lain. Lalu pertandingan kembali dimulai.
Alvino melemparkan bola ke arah Rifki. Dimas yang melihat itu segera menubruk pelan badan Rifki dan menangkap bolanya. Alvino melihat kecurangan dilakukan oleh Dimas. Para penonton yang mendukung SMA Bima Sakti pun bersorak tidak terima karena Dimas sudah berbuat curang.
"Jangan curang woi!"
"Lihat, dia curang!"
"Dimas curang! Dimas curang!"
Dan masih banyak lagi. Namun, wasit mengatakan jika dia tidak melihat kecurangan yang terjadi dan itu membuat para penonton kecewa. Dimas memainkan bolanya dengan sangat baik. Dia tidak melepaskan walau sedetik. Akhirnya Dimas memasukkan bolanya ke dalam ring tim Alvino. Dia tersenyum puas dan kembali melihat pada Allia.
__ADS_1
Peluit dibunyikan untuk jeda babak ke dua dengan skor 02 – 01. Dua untuk tim Alvino dan satu untuk tim Dimas. Para pemain ke luar dari lapangan. Alvino menghampiri Allia. Allia langsung menyambutnya dengan senyuman.
"Kak Al hebat! Benarkan Cla?"
Clara mengangguk.
"Kak Al pasti menang!"
Alvino tersenyum kecil ketika Allia mengusap keringat di sekitar wajahnya dengan hati-hati. Lalu tangannya bergerak menerima air mineral yang diberikan oleh Allia. Alvino meminumnya sampai habis.
"Alvino!" panggil Sheila yang berjalan ke arahnya.
Alvino menoleh, matanya mengernyit melihat tampilan Sheila dan Mona yang sudah seperti orang gila.
"Alvino kau sangat hebat! Lihat, aku mendukungmu dan menuliskan namamu di sini!" Sheila berujar sembari menunjuk keningnya sendiri.
"Ya Alvino! Sekolah kita pasti akan menang!" tambah Mona.
"Pergilah," usir Alvino.
Sheila yang mendengar itu tidak terima. Dia sudah bersusah payah melakukan ini semua untuk Alvino tapi laki-laki itu masih saja menolaknya bahkan mengusirnya.
Sheila bergelayut manja di tangan Alvino. "Alvino kenapa kau bicara seperti itu? Aku kan calon pacarmu."
Alvino menepisnya membuat Sheila mengerucutkan bibirnya. Clara dan Allia hanya diam memperhatikan mereka.
Babak ke dua dimulai, bola berada pada tim SMA Galaksi. Dimas sudah mengatur strategi agar sekolahnya bisa menang di pertandingan. Saat pemain dari tim Dimas melemparkan bolanya ke arah Dimas, dia menangkapnya. Dan saat sudah berada di dekat ring tim Alvino, dia melemparkan bolanya. Rifki yang ada di dekat ring menangkap bolanya dan melemparkannya ke arah Alvino.
Permainan semakin menegangkan. Saat Alvino ingin menangkap bolanya, seseorang dari tim lawannya menghalangi Alvino dan berhasil menangkap bolanya. Dia melemparkan bolanya pada Dimas, Dimas menangkapnya dan melemparkannya ke arah ring. Namun, kakinya terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri. Bola itu melambung ke arah lain, semua orang terkejut karena bola itu mengenai kepala seseorang. Mata Dimas membulat melihat seseorang yang terkena oleh serangan bola karena kesalahan yang dilakukan olehnya.
Duk!
Geo yang baru saja datang terkejut melihat tumbangnya tubuh seseorang di samping Clara. Dengan sigap dia menahan tubuh yang menurutnya kecil itu. Matanya membulat saat melihat wajah wanita yang ada di pelukannya.
"Allia!" teriak Alvino sembari berlari menuju Allia yang jatuh pingsan.
...•••...
Sudah follow author belum? Follow juga IG @stsfltfh
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...
__ADS_1