Couple AL

Couple AL
Rencana Sheila


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Jam istirahat sudah berbunyi. Seluruh siswa mendapatkan waktu luangnya untuk beristirahat selama 30 menit. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengisi perutnya ke kantin, sebagian lagi ada yang lebih memilih berdiam di kelas ataupun membaca buku di perpustakaan.


Tim basket sekolah akan mengadakan latihan yang terakhir kalinya sebelum pertandingan basket dengan sekolah lain yang akan dilaksanakan 2 hari lagi yang tepatnya hari Rabu. Jadi, mereka akan latihan sampai sore hari.


Rifki, salah satu anggota basket sekaligus teman sekelasnya Alvino. Dia datang dari luar setelah selesai mengganti pakaiannya lalu menghampiri meja Alvino yang sedang bicara dengan Allia adik tercintanya. Rifki melihat Alvino sudah memakai kaos basketnya tidak lupa dengan yang menempel di tangan sebelah kirinya yang menandakan bahwa Alvino adalah kapten tim basketnya.


"Al!" panggil Rifki.


Baik Alvino maupun Allia, mereka berdua sama-sama menoleh pada Rifki karena yang dia panggil hanya "Al" saja. Tidak dengan nama lengkapnya agar lebih jelas siapa yang Rifki maksud.


Rifki terkekeh melihatnya. "Maksudku Kapten Al." Rifki menoleh pada Allia. "Hai Al," sapa Rifki pada Allia yang dibalas dengan senyumnya oleh Allia.


"Apa?" tanya Alvino.


"Kita jadi latihan?" tanya Rifki.


Satu alis Alvino terangkat. "Kenapa bertanya lagi jika kau sudah tahu jawabannya?" sarkas Alvino.


"Baiklah-baiklah. Maksudku adalah, semua bola basket di sekolah tiba-tiba kempis (Kurang gas / longgar). Padahal terakhir latihan aku melihat bolanya dalam keadaan baik-baik saja. Tapi hari ini semuanya kempis, sekarang bagaimana kita bisa latihan?" Rifki menatap Alvino yang mengerutkan keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kapan terakhir kau mengeceknya?" tanya Alvino.


"Kemarin sore," jawab Rifki.


Bagaimana bisa kejadian seperti ini terjadi saat mereka akan latihan untuk pertandingan penting antar sekolah yang akan dilaksanakan besok lusa? Kalau hanya satu bola saja yang kempis, mungkin itu masuk akal. Tapi ini bukanlah hal yang kebetulan jika semua bola basket kempis. Ya, Alvino yakin itu.


"Untuk apa kau ke sekolah di hari Minggu?" tanya Allia heran.


Rifki menunjukkan cengirannya sehingga membuat matanya seperti terpejam karena sipit.


"Kau tidak boleh tahu Al. Ini adalah urusan laki-laki." Rifki berujar sembari menaik turunkan alisnya.


Allia memutar bola matanya.


"Pompa semua bola, aku tunggu di lapangan," suruh Alvino. Dia berhak memerintah karena dia adalah seorang kapten dari timnya. Tidak ada yang berani membantahnya juga.


"Alat pompanya hilang, maka dari itu aku memberitahumu Al," ucap Rifki menatap Alvino.


Alvino berpikir sejenak kemudian berdiri dari kursinya, Allia memegang pergelangan Alvino membuat sang empunya menoleh.


"Al mau ikut," ujar Allia.


Alvino diam sebentar kemudian dia mengangguk. "Kau harus selalu berada di dekatku selama latihan. Kau mengerti Al?"


Dengan semangat Allia mengangguk. "Ya Kak Al!"


Rifki yang melihat itu memutar bola matanya jengah melihat keromantisan antara Kaptennya dengan adiknya. Berbeda dengan Rifki yang jika bertemu adiknya langsung menjahilinya dan berakhir dengan adiknya menangis karena ulahnya. Apalagi adiknya suka mengadu kepada orang tuanya. Rifki habis dengan omelan ibunya yang cerewet dan adiknya tertawa puas melihat dirinya diomeli oleh ibunya.


Mengingat itu Rifki bergidik ngeri. Allia yang melihat itu mengangkatnya alisnya seolah bertanya. "Kenapa?"


Rifki menggeleng. Tidak mungkin dia bercerita kepada mereka, yang ada dia akan ditertawakan oleh mereka berdua karena hubungannya dengan adiknya bertimbal balik dengan Allia dan Alvino yang selalu menempel juga perhatian.

__ADS_1


Alvino dan Allia berjalan bersampingan sedangkan Rifki berjalan di belakang mereka berdua. Rifki menghela napasnya meratapi nasibnya.


Tanpa diketahui oleh Allia, Alvino dan Rifki, di ujung sana Geo mendengar percakapan mereka bertiga. Lebih tepatnya dia menguping pembicaraan tadi. Dia berpura-pura sibuk dengan ponselnya sembari membaca pesan terakhir dari Sheila.


...Shei...


Geo apa kau tahu? Sebenarnya aku dan Mona sudah merencanakan sesuatu. Tadi pagi kita mengempiskan semua bola basket agar Alvino tidak bisa latihan. Setelah itu aku akan datang dan menjadi penyelamat untuknya. Alvino pasti senang dan dia akan segera menjadi pacarku!


Mata Geo membulat selesai membaca pesan dari Sheila. Rupanya kakak kelasnya itu sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana Geo bisa memberitahu mereka jika Sheila lah penyebabnya. Demi mendapat perhatian dari Alvino, wanita itu melakukan berbagai cara yang di luar akal sehat manusia biasanya.


Ck. Ada saja perbuatan wanita ini. Batin Geo.


...*****...


Geo berjalan menuju ke kantin untuk menghampiri Sheila karena wanita yang memintanya. Entah apa tujuannya Geo belum tahu pasti, tapi dia akan segera mengetahuinya ketika melihat Sheila dan Mona melambai-lambaikan tangan ke arahnya.


"GEO SINI!" teriak Mona.


Sheila memegang telinganya yang mendengung akibat mendengar teriakkan Mona lalu memukul sang pemilik suara.


"Aduh." Mona mengaduh kesakitan lalu menoleh pada Sheila. "Sakit Shei!"


"Kecilkan suaramu!" seru Sheila.


Mona tersenyum lebar. Membuat Sheila berdecak.


Seperti biasa, Geo menghampiri meja khusus yang sering mereka tempati. Tidak ada yang berani duduk di meja itu, jika ada yang duduk sudah pasti habis di tangan Sheila karena malu.


Meja itu dipenuhi dengan makanan. "Kenapa kalian bertengkar?" tanya Geo sembari duduk di kursi yang ada tepat di hadapan Sheila dan Mona.


Hanya ini yang membuat dia tahan menghadapi dua wanita di hadapannya. Mereka selalu mentraktir dirinya makan sepuasnya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Ingat, hanya itu. Jika tidak, mungkin Geo sudah memberi pelajaran kepada mereka karena tingkah, perilaku, dan cara berpikir mereka yang memang sangat tidak pantas dan di luar dugaan.


Geo memakan bakso yang sudah dipesan oleh Sheila untuknya tanpa mendengarkan ocehan Sheila dan Mona tentang rencananya, sesekali dia mengangguk agar dua wanita di hadapannya tidak marah. Tanggung sekali jika dia hanya makan setengah porsi saja, lagi pula menurut Geo makanan kantin enak-enak. Jadi, ini sangat menguntungkan untuknya.


"Dan setelah itu, tim basket tidak jadi latihan dan Alvino akan marah. Aku akan membawa alat pompa kepada Alvino. Jika seperti itu, dia akan berpikir jika aku adalah penyelamat untuknya dan sekolah. Dan yang terjadi selanjutnya adalah ...," kata Sheila menggantungkan ucapannya.


"Alvino akan menyukaiku dan menjadi pacarku!"


Mendengar itu Geo tersedak oleh baksonya. Dia berbatuk-batuk dan meraih minum yang disodorkan oleh Mona. Geo meneguk minumnya sampai habis.


"Geo kau kenapa?!" tanya Sheila panik.


Geo menggeleng dan memegang dadanya yang masih merasa kaget karena tersedak bakso. Ucapan Sheila sangat tidak sehat untuknya.


Setelah merasa baikan, Geo berkata, "Bagaimana jika rencanamu gagal?"


"Ya, Shei. Bagaimana jika rencana kita gagal?" ulang Mona.


"Itu tidak mungkin terjadi! Kita kan sudah menyembunyikan alat pompa itu di tempat yang aman Mon," ujar Sheila.


Mona mengangguk lalu tersenyum. "Kau benar Shei, rencana kita pasti berhasil."


"Memangnya di mana kalian menyembunyikan alat pompanya?" tanya Geo.


"Di toilet wanita."

__ADS_1


...*****...


Para pemain basket sudah berkumpul di lapangan, tinggal menunggu Alvino dan Rifki yang belum datang karena mengambil bola basket di ruangan penyimpan alat-alat untuk olahraga. Mereka semua tidak tahu jika Alvino dan Rifki sedang mendapat masalah karena semua bola basketnya kempis dan alat pompanya hilang dari tempatnya.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Alvino dengan mulai merasa bingung melihat semua bola basket kempis di hadapannya.


Allia sampai menutup mulutnya kaget karena melihat itu semua.


"Cari alat pompanya sampai ketemu," suruh Alvino yang diangguki oleh Rifki.


Mereka bertiga mencari alat pompa di sekitar ruangan itu. Setelah mencari ke semua tempat, alat pompa itu tidak juga di temukan dan itu membuat Alvino frustasi.


Alvino menatap Rifki. "Kau pergi ke lapangan dan suruh mereka untuk peregangan sambil menungguku, aku dan Allia akan segera menyusul."


"Baiklah," ucap Rifki meninggalkan kakak beradik itu dengan perasaan tidak jelas. Apa mereka berdua akan menemukan alat pompa itu dan segera menyusulnya ke lapangan? Apa yang akan dikatakan olehnya kepada anak-anak timnya tentang ini? Sudahlah, lebih baik Rifki melakukan apa yang sudah jelas diperintahkan oleh Alvino untuk pergi ke lapangan dan melakukan peregangan sembari menunggu Alvino dan Allia datang.


Allia memegang tangan Alvino. "Kak Al tenang, kita pasti menemukannya."


"Ini adalah latihan terakhir, dan aku malah melakukan kesalahan sebesar ini Al." Alvino menjambak rambutnya sendiri.


"Tidak, ini bukanlah kesalahan Kak Al. Ayo kita cari sekali lagi."


Alvino mengangguk dan mencari alat pompanya sekali lagi.


Ponsel Allia bergetar menandakan bahwa adanya pesan yang masuk dari Clara. Wanita itu bertanya di mana keberadaan Allia karena dia tidak melihat Allia di kelasnya. Allia pun menceritakan semuanya kepada Clara. Clara akan segera datang untuk membantunya.


...*****...


Clara bernapas lega karena sudah membuang air kecil. Setelah dari toilet dia akan menghampiri Allia untuk membantunya. Dia membersihkan tangannya terlebih dahulu agar bersih. Saat ingin ke luar dari toilet, dia melihat suatu benda yang asing di toilet yang menggantung di belakang pintu toilet.


"Apa itu?" gumam Clara sambil berjalan mendekati benda yang terbungkus dengan keresek hitam.


Saat sudah tepat di depan matanya, tangannya bergerak mengambil keresek hitam dan melihatnya. Matanya membulat seketika melihat alat yang baru saja Allia sebutan.


Alat pompa. Clara menemukan benda itu di toilet. Kenapa ini bisa terjadi? Apa ada yang lupa membawanya hingga sampai ke sini? Atau mungkin sengaja menaruhnya di sini? Tapi, untuk apa? Banyak pertanyaan yang muncul di otaknya.


Clara yang tersadar langsung ke luar dari toilet dan berjalan dengan cepat menuju ke ruang olahraga untuk memberikan alat pompa itu yang sedang dibutuhkan oleh Allia. Lebih tepatnya Alvino. Tapi menurutnya itu sama saja.


Clara sudah sampai di depan pintu ruangan yang dituju. Pintu itu tertutup, Clara mengetuknya sambil memanggil nama Allia.


"Al? Allia ini aku, Clara."


Pintu terbuka menampakkan Alvino dengan wajahnya yang sedang berantakan. Clara mengerti, Alvino pasti sangat pusing karena mencari alat pompa itu agar bisa latihan untuk pertandingan antar sekolah.


Alvino menyuruh Clara untuk masuk. Allia melihat Clara membawa sesuatu di tangannya.


Clara tersenyum menyodorkannya pada Alvino.


"Ini alat pompanya."


...•••...


COUPLE AL tambah genre romantis boleh? Boleh ya? Boleh kan? Biar yang baca pengen juga hihi!


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...

__ADS_1


__ADS_2