Couple AL

Couple AL
Bertemu Lagi


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Hari masih sangat pagi, sebentar lagi matahari akan muncul dari arah timur. Di hari Minggu pagi ini Allia berencana akan melakukan lari pagi. Sepertinya tubuh dan otaknya harus melakukan peregangan agar tidak terlalu stress menjalani hari-hari untuk ke depannya seperti yang sudah ia jalani belakangan ini. Sudah lama juga dia tidak melakukannya dan dia akan melakukannya lagi sekarang.


Allia ke luar dari kamarnya, tidak ada siapapun. Sepertinya mereka belum bangun. Allia berjalan menuju ke kamar Alvino. Setelah di depan pintu, Allia langsung membukanya.


Kening Allia berkerut tidak melihat Alvino di kamar. Kasurnya juga sudah rapi dan tidak berantakan.


"Kak Al? Kau di mana?" Allia berjalan membuka gorden dan jendela kamar membiarkan udara segar memasuki kamar Alvino.


Allia mendekat ke kamar mandi Alvino. Tidak ada suara gemericik air. Allia membukanya dan ternyata kosong.


"Di mana Kak Al?" Kemudian Allia ke luar dari kamarnya Alvino, tidak lupa untuk menutup pintunya kembali.


Allia memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat memasuki dapur dia melihat Alvino sedang duduk sambil sarapan. Pakaian yang Alvino kenakan sangat rapi seperti akan pergi ke suatu tempat.


"Kak Al ternyata ada di sini," ucap Allia membuat Alvino menghentikan aktivitasnya dan menengok ke sumber suara.


Alvino tersenyum ketika melihat Allia. "Sini, duduklah di sampingku."


Allia menurut, dia duduk di samping Alvino.


"Kak Al mau ke mana?" tanya Allia sembari mengambil teko kaca di hadapannya dan menuangkannya ke dalam gelas kemudian meminumnya.


Alvino terdiam sebentar. "Aku ada kerjaan, Al."


"Sepagi ini? Bukannya nanti siang?"


Alvino menoleh pada Allia. "Ada yang harus aku selesaikan. Kenapa?" tanya Alvino melihat Allia yang cemberut.


"Yah, Al ingin mengajak Kakak untuk lari pagi. Tapi Kakak tidak bisa. Ya sudah, tidak apa-apa. Al sendiri saja," ujar Allia.


"Kenapa tidak ajak Clara saja?" tanya Alvino.


"Clara belum bangun."


Alvino melihat pakaian Allia. Baju kaos dan celana panjang. Tidak lupa dengan jilbabnya yang tidak pernah terlepas dari kepalanya. Dengan Earphone yang selalu menemaninya jika berolahraga. Sangat cantik.


"Maafkan aku Al." Alvino terdiam sebentar menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan.


"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku dulu." Alvino tidak mau membuat Allia kecewa kepadanya.


"Tidak, jangan meminta maaf. Kak Al lanjutkan saja makannya, Al akan pergi sendiri saja sekarang sebelum matahari akan naik." Allia menghabiskan air minumnya yang tersisa sedikit.


"Makan dulu, perutmu tidak boleh kosong." Alvino khawatir jika tiba-tiba Allia akan pingsan. Masalahnya adalah dia tidak bisa menemani Allia. Walaupun selama ini itu tidak pernah terjadi.


"Al makan nanti saja," kata Allia kemudian bangkit.


Allia mendekat pada Alvino dan mencium pipinya. Kemudian dia tersenyum manis. "Al pergi dulu ya Kak. Bye!" Allia melambaikan tangannya ke arah Alvino.


Alvino tersenyum melihat sikap manis Allia. "Hati-hati Al!"


Hari ini Alvino akan menuju kantor polisi untuk mencari tahu apakah ada perkembangan informasi dari kecelakaan orang tuanya. Alvino sengaja tidak memberi tahu Allia, adiknya itu pasti ingin ikut bersamanya. Dia sudah ada janji dengan prof. Glen untuk bertemu di kantor polisi. Karena sekarang sudah ada yang bisa menemani Allia di rumah jika dia sedang pergi ke luar.


Maafkan aku, Al.

__ADS_1


...*****...


Jam dinding menunjukkan angka 07.30 dan seseorang baru saja bangun dari tidurnya. Dia meregangkan tubuhnya. Tangannya bergerak mengucek matanya. Setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya, dia duduk dan melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia mengambil benda pipih tersebut.


Kedua sudut bibirnya terangkat ketika layar ponselnya menyala menampilkan foto dirinya dan seorang wanita ketika di Bioskop waktu lalu. Dia dengan ekspresi kesakitan karena kakinya diinjak oleh wanita di sampingnya, sedangkan yang wanita melipat kedua tangannya dengan ekspresi cemberut karena menolak untuk berfoto bersama. Mengingat itu dia terkekeh kecil. Dia menjadikan foto itu sebagai wallpaper layar ponselnya.


"Kak Geo! Kak Geo! Bangun! Ini sudah siang, cepat bangunlah!" Suara itu mengagetkannya.


Pintu kamarnya digedor oleh Sang Adik, Geo menghembuskan napas beratnya. Dia menyimpan kembali ponselnya dan beranjak ke arah pintu untuk membukanya. Pintu kamarnya tidak pernah dikunci, kenapa Clara malah berdiri di depan kamarnya dan menggedor pintu tanpa mengeceknya terlebih dahulu? Ck, kebiasaan. Batin Geo.


Saat pintu sudah terbuka Clara langsung masuk begitu saja kemudian duduk di tempat tidur yang masih berantakan.


"Astaga! Berantakan sekali," cibir Clara. "Kau baru bangun?" lanjutnya bertanya.


Geo menjatuhkan dirinya lagi di atas tempat tidur. "Aku sangat mengantuk Cla," ucapnya dengan suara khas bangun tidur.


"Jangan tidur lagi Kak," ujar Clara menggoyang-goyangkan badan Geo berharap agar Kakaknya itu segera bangun. "Rumah ini kosong, cuman ada kita berdua."


Beberapa menit yang lalu Clara baru bangun. Kebiasaannya jika hari libur adalah bangun kesiangan. Dia menyesalinya karena membawa kebiasaan buruknya ke rumah orang lain. Saat melihat ke luar keadaannya sangat sepi. Clara mencoba mencarinya ke kamar Allia, tidak ada jawaban sama sekali saat dia mengetuk pintu dan memanggil-manggil Allia. Sedangkan untuk ke kamar Alvino, Clara tidak berani. Jadi dia pergi ke kamar Geo yang sudah pasti belum bangun.


Mata Geo akhirnya terbuka. Dia menoleh. "Kita berdua?"


Clara mengangguk.


"Memangnya ke mana mereka?" tanya Geo sembari memutar badannya agar menghadap Clara.


Clara mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu."


Geo menguap. "Lebih baik kau kembali tidur, aku juga akan tidur." Geo menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Clara yang melihatnya berdecak. "Ish. Kak Geo bangun!"


"Tidak ada lima menit. Kau harus bangun sekarang juga atau aku akan bilang pada Kakek!" Clara menarik selimut yang Geo kenakan dan memaksa lelaki itu agar duduk.


Geo mengucek matanya. "Baiklah, aku sudah bangun Cla."


"Dengar, mulai sekarang kita tidak boleh bangun kesiangan seperti ini lagi. Ingat, sekarang kita tinggal di rumah Allia. Memalukan sekali," tukas Clara.


Geo menoleh. "Memangnya kau sendiri bisa bangun pagi?"


Clara cengengesan menunjukkan giginya. "Kan ada alarm."


"Dasar!" Geo tertawa dan melempar bantalnya pada Sang Adik.


"Kak Geo!"


...*****...


Allia duduk di sebuah taman setelah kurang lebih satu jam dia berlari. Udaranya sangat sejuk untuk dirinya yang sudah berolah raga. Banyak burung yang sedang beterbangan hinggap di pohon-pohon. Pemandangan yang sangat indah. Allia merasa sedikit haus, tapi dia malas untuk berdiri karena masih kelelahan.


Allia mengusap keringat yang ada di sekitar wajahnya. Mulutnya mengikuti alunan musik yang sedang berputar di telinganya. All I Ask, yang dinyanyikan oleh Adele. Allia menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh Adele. Bukan hanya Adele, Allia juga menyukai lagu-lagu dari Ariana Grande, Selena Gomez, Charlie Puth, John Legend, Alan Walker, Ed Sheeran, One Direction dan lainnya.


Kening Allia berkerut ketika melihat sebotol air minum tepat di depan wajahnya. Kemudian Allia melihat siapa pemilik tangan tersebut. Sedikit terkejut melihat Devan lah yang melakukannya. Rupanya Devan juga terlihat seperti sudah berolah raga sama seperti dirinya.


"Dev?"


"Apa kau tidak mau mengambilnya? Tanganku pegal," ucap Devan dengan muka datarnya.

__ADS_1


"Untukku?" tanya Allia.


"Ya."


"Terimakasih." Allia menerima air minum tersebut dan meminumnya hingga tersisa setengahnya. Devan hanya memperhatikannya saja sampai Allia selesai minum.


"Boleh aku duduk?"


Allia menoleh, ternyata masih ada Geo. Allia lupa menyuruhnya untuk duduk. Allia mengangguk memperbolehkan Devan duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka saling membisu sembari menikmati pemandangan taman.


"Kau suka datang ke sini?" Devan memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa menit yang lalu.


"Tidak terlalu sering." Allia melirik Devan sekilas. "Kau sendiri?"


"Rumahku di sekitar sini," sahut Devan.


"Benarkah?" Allia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Devan memutarkan kepalanya 90° Celcius. Dia menatap Allia dari samping. Devan baru menyadari baju yang dipakai Allia adalah baju yang dibelikan olehnya saat di Mall. Terlihat sangat cocok di badan Allia.


"Mau ice-cream?" tanya Devan ketika menyadari sedari tadi Allia menatap anak kecil yang sedang makan ice-cream.


"Ah?" kaget Allia.


Allia yang merasa terpergok oleh Devan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Allia memang sedang melihat anak kecil yang sedang memakan ice-cream. Dia merasa tergiur melihat ice-cream yang terlihat sangat enak sehingga berlumuran ke sekitar mulut anak kecil itu. Terlihat sangat lucu.


"Kau sudah makan?" tanya Devan tiba-tiba membuat kening Allia berkerut.


"Belum," jawab Allia.


"Apa kau lapar?" tanya Devan.


Allia terdiam sesaat tidak menjawab. Dia memegangi perutnya yang kosong. Dia belum makan apapun dari rumah, Allia hanya minum segelas air putih. Sepertinya perut Allia harus segera diisi agar tenaganya kuat kembali.


"Kita cari tempat makan." Tanpa menunggu jawaban Allia, Devan bangkit dan berjalan duluan.


Sikap Devan membuat Allia merasa bingung. Apakah Devan mengajak Allia mencari tempat makan dan mereka akan makan bersama? Tapi kenapa Devan pergi begitu saja? Ataukah ada maksud lain? Sekarang apa yang harus Allia lakukan? Ikut dengan Devan atau memilih untuk pulang saja? Tapi dia mau makan, memakan waktu yang lama jika dia pulang ke rumah.


Devan mengajak Allia ke salah satu tempat makan yang tidak terlalu jauh dari taman. Tempatnya sangat bagus dan menarik, Allia menyukainya. Mereka dilayani dan disambut dengan ramah ketika memasuki tempat itu. Allia menunduk melihat pakaiannya juga Devan, rasanya sangat malu karena dia masih mengenakan kaos untuk berolah raga. Sedangkan orang di sekitarnya berpakaian sangat rapi. Untung saja hari masih pagi sehingga pengunjung yang datang belum terlalu banyak.


"Mau makan apa?" tanya Devan.


Allia melihat menunya. "Mie ayam sama orange juice." Allia cukup tahu diri untuk tidak memesan banyak, dia tidak membawa uang banyak.


"Mie tidak baik untuk kesehatan," ucap Devan.


"Burger McD," ujar Allia memesan makanan yang lain.


"Masih pagi, tidak sehat." Devan kembali menyahut.


Allia menatap Devan. Lalu Devan memesankan makanan lain untuk Allia dan dirinya sendiri. Sambil menunggu makanannya datang, Allia memainkan ponselnya. Sedangkan Devan memperhatikan Allia tanpa sepengetahuan orangnya.


"Boleh bergabung?"


...•••...


Suka banget liat apresiasi dari kalian.🙏🤍

__ADS_1


Buat yang lagi ulangan semangat!!🥰


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2