
...Happy reading ♡...
...*****...
Allia dan Alvino saling pandang, terlupa, mereka langsung memeluk sang kakek dengan erat. Mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Al rindu sekali pada Kakek," lirih Allia.
"Al juga," ucap Alvino.
"Kakek juga sangat-sangat merindukan kedua Al-nya kakek." Mereka bertiga tersenyum dengan keadaan masih saling berpelukan.
"Ayo kita masuk, Kakek pegal berdiri terus," ajak Prof. Glen.
Mereka melepas pelukannya dan masuk ke dalam rumah. Dari dalam rumah terlihat Bibi Yana, asisten rumah tangganya kakek.
"Den Al, Non Al, kenapa baru ke sini? Bibi rindu sekali sama kalian," ucap Bibi Yana yang datang dari arah dapur.
"Kami sibuk sekolah, Bi, makanya kami baru sempat ke sini sekarang." Alvino dan Allia menyalami Bibi Yana.
"Den Al sama Non Al akan menginap, kan?" tanya Bibi Yana.
"Tentu saja, Bi. Al, mau melepas rindu sama rumah ini," ucap Allia.
Bibi Yana terkekeh mendengar ucapan cucu dari majikannya yang sudah besar.
"Bibi akan siapkan minum dulu," pamit Bibi Yana ke dapur.
"Paman dan Tante ke mana, Kek?" tanya Allia celingukan.
"Mereka sedang ke luar, paling sebentar lagi juga pulang."
"Pantas saja Kakek jadi tahu jika kita ke sini, ternyata mereka sedang pergi," ujar Alvino.
Bibi Yana datang dari dapur membawa minuman dan beberapa cemilan untuk diberikan pada Prof. Glen dan couple Al.
"Terimakasih, Bi Yana." Allia tersenyum.
"Iya, Non. Bibi pamit mau masak untuk makan malam," ucap Bibi Yana kemudian kembali ke dapur.
"Kalian ini, setiap kalian ke sini tidak memberitahu kakek dulu, tapi akhirnya kakek yang memergoki kalian." Prof. Glen tertawa.
"Kita mau memberi kejutan untuk Kakek, tapi selalu gagal." Allia cemberut.
"Kebiasaan." Mereka bertiga tertawa lepas menertawakan betapa konyolnya couple Al.
"Al mau bersih-bersih dulu, badan Al lengket." Allia beranjak dari tempat duduknya.
Alvino langsung menutup hidungnya. "Pantas saja dari tadi aku mencium bau yang tidak sedap, ternyata kau, Al. Sana, mandilah."
"Iiih, Kak Al!" rengek Allia.
Alvino dan Prof. Glen tertawa bersama melihat betapa lucunya tingkah Allia dan Kakaknya. Dia begitu beruntung memiliki cucu seperti mereka.
...*****...
Allia yang sedang merajuk pada Alvino dan kakeknya naik ke atas menuju ke kamarnya, yang dulunya merupakan kamar mamanya. Dia ingin segera mandi.
__ADS_1
Saat berjalan menuju kamarnya, Allia mendengar ada sesuatu yang jatuh dari gudang. Allia yang penasaran perlahan mendekati ruangan itu. Saat sudah di depan gudang, Allia memegang kenop pintu untuk mencoba membukanya. Dan ternyata, pintunya terkunci. Allia mencari-cari kunci gudang di sekitarnya. Mulai dari pot bunga, lemari, alas meja, Sampai akhirnya dia melihat sesuatu yang kecil menggantung di belakang lemari, ternyata kunci. Tempatnya sangat sempit. Allia berusaha untuk menggapainya. Saat Allia sudah hampir mendapatkan kunci itu, ada seseorang yang memanggilnya.
"Al?" panggil seseorang di belakang Allia sampai membuat Allia terjatuh.
Allia mengusap bokongnya yang sakit dan melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Kak Tama?!" seru Allia kemudian mencoba untuk bangun.
Seseorang yang disebut Tama tadi membantu Allia untuk bangun. Mereka berpelukan beberapa saat.
"Kau membuatku kaget," ucap Allia.
Tama adalah sepupu dari couple Al. Dia adalah anak satu-satunya dari paman Bram dan tante Liza. Dia berkuliah di Harvard, satu semester mendatang dia akan mendapat gelarnya sebagai Dokter termuda di angkatannya. Tama sangat menyayangi Allia. Apalagi sebagai anak semata wayang dirinya ingin mempunyai adik perempuan. Terkadang, Tama dan Alvino akan bertengkar jika menyangkut sesuatu tentang Allia.
"Aku melihat seseorang yang mirip denganmu seperti seorang pencuri yang ingin mengambil sesuatu, makanya aku memanggilmu untuk memastikan apakah itu dirimu atau orang lain, dan ternyata itu benar kau, Al," ucap Tama.
"Bokongku sakit," keluh Allia.
Tama tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jarinya yang membentuk huruf V.
"Kapan kau pulang dari Harvard? Mengapa Kak Tama tidak memberitahu Al, jika kakak sudah pulang ke Indonesia?" tanya Allia sedikit marah karena baru mengetahui bahwa kakak sepupunya sudah pulang dari Harvard tanpa memberitahu Allia.
"Sudah satu pekan, aku takut kau sibuk dengan sekolahmu," jawab Tama sejujurnya.
"Ish!" Allia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Tama mengalihkan pembicaraan agar Allia tidak marah.
"Aku akan pergi ke kamarku untuk mandi, tapi aku mendengar sesuatu jatuh dari dalam gudang. Karena aku penasaran, jadi aku ke sini, tapi gudangnya terkunci dan aku mencari-cari kuncinya kemana-mana ternyata menggantung di atas sana," jelas Allia panjang lebar.
Tama mengangguk kemudian merangkul Allia. Tapi hanya sebentar, dia langsung melepaskan rangkulannya.
"KAK TAMA NYEBELIN SAMA SEPERTI KAK AL DAN KAKEK!"
...*****...
Alvino sedang menonton televisi bersama Prof. Glen. Alvino jadi teringat bahwa dirinya harus membicarakan sesuatu yang penting bersama kakeknya.
"Al ingin bicara sama Kakek," ucap Alvino.
"Bicaralah," sahut Prof. Glen.
"Tidak di sini, Al ingin bicara berdua saja dengan Kakek." Alvino terlihat sangat serius dan terlihat sangat rapuh.
Prof. Glen bisa menebak ke arah mana pembicaraan Alvino. Prof. Glen langsung tersenyum pada Alvino agar menguatkannya.
"Nanti malam datanglah ke kamar Kakek, Allia akan turun sebentar lagi," kata Prof. Glen.
"Baiklah, nanti malam Al akan datang."
"Assalamualaikum," ucap Paman Bram dan Tante Liza dari arah pintu.
"Waalaikumussalam," sahut Prof. Glen dan Alvino.
"Al? Kamu sudah datang? Cepat sekali," kaget Tante Liza melihat keponakannya sudah datang.
"Bibi saja yang lama, Al jadi gagal memberi surprise pada Kakek."
__ADS_1
"Bibi sudah menyuruh Kakekmu agar istirahat di kamar tapi dia tidak mau," ucap Bibi Liza.
"Sudahlah, jagoannya Paman sekarang makin besar, ya. Kau semakin mirip dengan Papamu, Al." Paman Bram berujar sambil menepuk bahu Alvino.
"Al akan menjadi seperti Papa," ucap Alvino.
"Jaga adikmu, ya, Al."
"Itu pasti."
"Allia kemana? Kenapa keponakan cantikku tidak terlihat di sini?" tanya Tante Liza.
"Dia sedang mandi, tadi dia sempat marah karena Al mengejeknya," ucap Alvino.
"Alvino, kau ini ada-ada saja." Paman Bram tertawa.
Tama terlihat menuruni anak tangga. Alvino yang melihatnya langsung melempar pertanyaan kepada Tama.
"Kenapa kau pulang dari Harvard?" tanya Alvino.
"Pertanyaanmu sangat aneh. Memangnya kenapa jika aku pulang ke rumahku sendiri? Aku sangat merindukan Allia, karena itu aku pulang ke Indonesia," ucap Tama, dia tahu Alvino takut jika Allia akan lebih dekat dengannya dibanding dengan Alvino jika ada dirinya.
Alvino menatap tidak suka. "Lebih baik kau kembali saja ke Harvard, Allia tidak mau bertemu denganmu."
"Kata siapa? Aku sudah bertemu dengannya dan dia langsung memelukku. Apakah itu yang kau maksud tidak mau bertemu denganku?"
Alvino menatapnya sengit seperti orang yang ingin menerkam mangsanya.
"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja bertengkar jika menyangkut dengan Allia. Tama, Allia sekarang di mana?" tanya Bram pada anaknya.
"Dia sedang mandi, mungkin sebentar lagi akan tur--" ucapan Tama terpotong oleh suara Allia.
"KAKEK, KAK AL, KAK TAMA, ALLIA SUDAH WANGI SEKARANG!" teriak Allia turun dari tangga dengan sedikit berlari.
"Belum juga selesai bicara, orangnya sudah datang." Tama menatap Allia.
Semua orang terkekeh dan menatap Allia yang baru saja turun.
"Cucunya kakek yang satu ini emang beda, paling cantik."
"Allia, kan, Cucu cewek satu-satunya." Allia cemberut.
Semua orang tertawa melihat tingkah Allia.
"Sini-sini, keponakan cantiknya Tante, peluk," ucap Tante Eliza kemudian memeluk Allia.
Allia menghampiri Tantenya dan memeluknya. Rasanya dia jadi teringat pelukan terakhir mamanya, dan dia menginginkan lagi pelukan itu. Kemudian Allia duduk ditengah-tengah antara Alvino dan Tama.
"Sekolah kalian bagaimana?" tanya Paman Bram.
"Baik," jawab mereka dengan serempak.
"Bagus, Paman ke atas dulu, nanti kita makan malam bersama," pamit Paman Bram.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka dengan bercanda tawa sambil menunggu makan malam.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...