Couple AL

Couple AL
Perhatian Kecil


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Setelah latihan basket selesai, mereka semua langsung pulang. Termasuk Allia, Alvino, Geo dan Clara. Mereka pulang sekolah bersama, sesuai dengan perintah Kakek Roy. Geo dengan Clara dan Alvino tentu saja bersama adiknya, Allia.


Saat sampai Clara langsung pamit masuk ke kamarnya. Sedangkan Alvino, Allia dan Geo mereka duduk di kursi.


"Kak Al, Al ke kamar, ya. Capek, mau istirahat," ucap Allia.


"Capek? Memangnya dia sudah melakukan apa?" sahut Geo pelan tapi masih terdengar oleh Allia dan Alvino.


"Apa kau?!" sinis Allia.


"Tidak," jawab Geo acuh.


Allia mengalihkan pandangannya pada Alvino.


"Jangan lupa bersihkan dulu badanmu," ujar Alvino.


Allia mengangguk dan bangkit dari duduknya berjalan pergi ke kamarnya. Saat melewati Geo, Allia menghentakkan kakinya keras dengan sengaja karena kesal. Geo yang melihatnya tersenyum kecil merasa senang jika melihat Allia kesal atau marah, apa lagi karena ulahnya sendiri.


Perginya Allia ke kamarnya, Geo menatap Alvino yang sedang menatap televisi menyala dengan lurus. Dia jadi teringat ucapan Sheila dan Mona saat di kantin.


"Kau tahu Sheila menyukaimu?" tanya Geo memulai pembicaraannya dengan Alvino.


Tanpa diberitahu pun Alvino sudah tahu Geo sedang bertanya kepadanya.


"Tidak," jawab Alvino tanpa menengok.


Alvino memang tidak mengetahui nama Sheila, dia hanya mengetahui wajah wanita itu dan sifatnya saja. Selama Alvino sekolah, dia tidak pernah bertanya kepada siswa lain ataupun penasaran dengan wanita yang selalu mengejar-ngejarnya. Bahkan dengan tidak tahu malunya wanita itu menyatakan perasaannya pada Alvino di hadapan banyak murid. Dan itu membuat Alvino semakin tidak suka kepada wanita itu.


Dahi Geo berkerut. "Aku kira kau sendiri sudah tahu."


Alvino menengok. "Siapa Sheila?"


"Sheila, wanita yang tadi berteriak memanggil namamu saat kau latihan basket."


Mendengar itu Alvino kembali mengalihkan pandangannya pada televisi.


"Oh," jawab Alvino singkat tanpa berkata apa-apa lagi.


"Dia bilang padaku jika dia menyukaimu, aku kira kau sendiri sudah tahu." Geo ikut menatap televisi.


"Aku baru tahu nama wanita itu Sheila."


Sekarang Geo merasa bingung. Selama Alvino bersekolah dari kelas sepuluh sampai sekarang kelas sebelas, bagaimana dia bisa sampai tidak mengetahui nama Sheila yang menurutnya terkenal di sekolah? Sedangkan, dia yang baru satu hari sekolah di sana langsung bisa tahu dan dekat dengan Sheila juga temannya yang lambat berpikir, Mona.


"Selama ini, bagaimana bisa kau tidak tahu?!"


"Tidak penting," ucap Alvino lalu menengok lagi.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa tahu wanita itu?" lanjutnya bertanya.


"Aku hanya bermain-main saja dengan mereka tadi."


Geo berdiri dari duduknya.


"Baiklah, aku akan masuk ke kamarku."


Geo meninggalkan Alvino sendirian. Alvino tidak memikirkan ucapan Geo tentang Sheila, sangat tidak penting baginya.


Hari ini sedikit melelahkan baginya, dia sudah melatih timnya dengan serius. Belum lagi saat latihan Alvino terdorong dan terjatuh cukup keras.


Alvino menutup wajahnya menggunakan tangannya. Dia menutup matanya mencoba untuk tertidur dengan posisi terlentang dan kepalanya bersandar pada ujung kursi. Akhirnya Alvino tertidur.


...*****...


Tidak lama kemudian, Clara datang dari kamarnya. Clara melihat Alvino tertidur menutupi wajahnya menggunakan tangannya di kursi tapi di hadapannya televisi masih menyala.


Clara berjalan untuk mematikan televisi. Awalnya Clara ke luar dari kamarnya dia mengira jika kakaknya dan Allia masih ada di ruang tengah, tapi ternyata mereka sudah pergi dan hanya ada Alvino di sini.


Clara mendekati Alvino yang sedang tertidur. Dia tidak bisa melihat wajahnya karena tangan Alvino yang menutupinya. Clara memutuskan untuk pergi takut mengganggu tidur Alvino. Tapi tatapannya jatuh pada kaki Alvino yang terluka bekas jatuh. Memang tidak banyak darah yang ke luar, tapi Clara bisa melihatnya dengan jelas warna memar dan sedikit darah yang ke luar dari kaki laki-laki yang sedang tidur itu.


"Ck." Clara berdecak pelan.


Bagaimana bisa dia tertidur dengan pulas? Sedangkan, kakinya terluka lumayan parah.


Clara pergi ke dapur untuk mengambil kotak P3K. Dia berjongkok, di depannya kaki Alvino yang terluka.


Hitung-hitung berterimakasih karena memperbolehkan dia dan Geo tinggal di rumahnya.


Pertama-tama, Clara membersihkan daerah sekitaran luka di kaki Alvino terlebih dahulu agar tidak terjadi infeksi pada lukanya. Lalu, dia mulai mengobati lukanya dengan hati-hati agar Alvino tidak terbangun. Sesekali Alvino meringis tanpa membuka matanya.


"Selesai," bisik Clara sesudah mengobatinya.


Dia membereskan kembali memasukan barang-barangnya kembali ke dalam kotak P3K. Saat ingin memasukkan betadine, benda kecil itu terjatuh. Alvino membuka matanya terbangun, Clara menutup mulutnya takut.


"Maaf, aku tidak bermaksud membangunkanmu," ucap Clara merasa bersalah.


Alvino bangun kemudian duduk. Dia melihat kakinya sudah diobati oleh Clara.


Alvino menatap Clara. "Terimakasih," ucapnya.


Clara mengangguk. Dia kembali membereskan semuanya dengan cepat ingin pergi dari hadapan Alvino yang dari tadi terus menatapnya membuat Clara gugup.


"Aku akan menyimpan ini," ucap Clara, dia pergi dengan cepat tanpa melihat Alvino terlebih dahulu.


Sebelum benar-benar pergi, Clara sempat berkata sesuatu pada Alvino.


"Jangan biasakan membiarkan luka, jika luka itu masih bisa diobati."


Senyum Alvino terbit setelah melihat Clara pergi dari hadapannya dengan terburu-buru. Lalu pandangannya jatuh pada kakinya yang sudah Clara obati.

__ADS_1


...*****...


Allia ke luar dari kamarnya dengan membawa laptop di tangannya. Dia ingin mengajak kakaknya menonton film horor yang sedang booming saat ini karena Allia tidak berani jika menonton film horor sendirian.


Saat pintu kamar Alvino terbuka, dia melihat kakaknya itu sedang tidur. Allia menghela napas kecewa. Dia harus menunggu kakaknya bangun untuk menonton filmnya. Kemudian Allia ingat Clara, dia memutuskan untuk pergi ke kamar Clara dan mengajaknya menonton bersamanya.


Allia mengetuk pintu kamar Clara. Pintu kamar terbuka menampakkan sang pemiliknya.


"Allia," ucap Clara melihat siapa yang datang ke kamarnya lalu tersenyum.


"Hai," sapa Allia.


"Ayo masuk," ajak Clara membuka pintunya lebar membiarkan Allia masuk.


Allia mengangguk dan masuk ke dalam mengikuti Clara. Ternyata di dalam kamar Clara ada Geo yang sedang tiduran di kasur sambil memainkan ponselnya.


"Kau?!" ucap Allia sedikit berteriak.


"Iya, aku kenapa?" Geo tersenyum.


Allia mendelik dan menatap Clara.


"Kenapa dia ada di sini?" tanya Allia.


Clara menggelengkan kepalanya. "Dia bilang bosan, makanya pergi ke kamarku."


"Kau sendiri, untuk apa kau ke kamar adikku?" tanya Geo.


"Aku ingin mengajak Clara menonton, sekarang juga sebaiknya kau cepat pergi," usir Allia.


"Ini kamar adikku, kau tidak bisa mengusirku. Kau saja yang pergi dari sini," usir Geo membalikkan.


Allia membulatkan matanya. Berani sekali Geo mengusir tuan rumah, padahal dia sedang menumpang tinggal di rumahnya.


"Kak Geo, kau pergi ke kamarmu. Aku mau menonton bersama Allia," ucap Clara.


"Kau dengar apa yang adikmu katakan?" ledek Allia.


"Tidak, aku akan tetap di sini."


"Kau–" ucap Allia terpotong oleh Clara.


"Sudah, Al. Biarkan saja."


Clara naik ke kasurnya. Geo menggeser tempatnya karena Allia juga ikut naik ke kasur. Allia membuka laptopnya untuk memilih filmnya.


"Kita akan menonton film apa?"


"Horor."


...•••...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2