
...Happy reading ♡...
...*****...
"Al, kau kenapa?" panik Alvino melihat air mata mengalir di kedua pipi Allia.
Alvino memeluk Allia yang menangis, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada Allia. Apa karena Allia sedang datang bulan? Alvino jadi teringat ucapan prof. Glen.
Alvino menenangkan Allia, dia mengusap-usap punggung Allia agar Allia merasa tenang. Akhirnya setelah sekian lama tangis Allia sedikit mereda.
"Al, apakah perutmu sakit?" tanya Alvino.
Allia menggeleng dan terus menangis di pelukan Alvino.
"Al, aku mohon katakan sesuatu ...," pinta Alvino.
Tangis Allia berhenti yang menyisakan cegukan.
"Kak," panggil Allia pelan.
Alvino mengusap air mata yang tersisa di pipi Allia.
"Kenapa Kak?"
Alvino mengerutkan keningnya. "Kenapa apa? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, Al."
Allia menjauh dari Alvino.
"Pergilah!" seru Allia.
"Al," panggil Alvino.
"Ke luar!" teriak Allia.
"Al, bicaralah apa yang kau mau! Aku tidak mengerti jika kau bersikap seperti ini!" bentak Alvino.
Allia terdiam dan menunduk. Sebelumnya Alvino tidak pernah membentaknya seperti itu. Alvino memejamkan matanya menyesal.
"Maafkan aku." Alvino terduduk dan membuang nafas beratnya.
"Kenapa Kak Al tidak memberitahu Al jika kecelakaan mama dan papa itu ada yang merencanakannya?" tanya Allia tiba-tiba tanpa melihat Alvino.
Alvino terkejut, sangat terkejut. Bagaimana adiknya bisa mengetahui soal itu? Yang tahu itu hanya dirinya dan prof. Glen saja. Apa mungkin kakeknya yang memberitahukan kepada Allia? Tapi itu tidak mungkin. Dari cara prof. Glen bicara waktu itu, Alvino sangat yakin bukan kakeknya yang memberitahu Allia.
"Al, siapa yang memberitahukan ini kepadamu?" tanya Alvino dengan terbata.
"Kenapa? Kak Al kaget karena aku mengetahuinya? Memangnya kenapa jika aku mengetahui tentang ini? Kenapa Kak Al harus menyembunyikan sesuatu yang menyangkut kematian Mama-Papa? Apa aku bukan bagian dari kalian? Sebenarnya aku siapa di mata Kak Al?!"
__ADS_1
Alvino memeluk Allia. "Ssstt, berhenti bicara."
"Kenapa Kak, kenapa?" Air mata Allia kembali turun.
"Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu, tapi setelah kau tenang dan berhenti menangis."
Setelah Allia tenang dan berhenti menangis, Alvino menjelaskan semuanya kepada Allia agar adiknya itu tidak salah paham. Sebelum itu, Alvino memberikan segelas air putih agar Allia lebih tenang. Allia mendengarkan semua penjelasan yang Alvino berikan kepadanya tanpa memotongnya.
"Aku harap kau mengerti setelah aku menjelaskan ini. Aku menyembunyikan hal ini darimu karena aku tidak ingin melihat adikku sedih lagi, kau sudah cukup terpuruk dengan kehilangan Mama dan Papa, jadi aku dan Kakek memutuskan untuk menyembunyikan tentang ini darimu. Aku mohon kau jangan benci ataupun marah kepada Kakakmu ini, aku sangat menyayangimu Al. "
Allia memeluk Alvino. Dirinya merasa bersalah karena sudah bersikap kasar kepada kakaknya tadi.
"Al tidak marah sama Kakak, Al hanya kecewa. Kenapa hal sebesar ini harus Kak Al sembunyikan dari Al."
"Kakak minta maaf," sesal Alvino.
Allia mengangguk. "Tidak apa-apa, sekarang Al sudah tahu. Al akan membantu Kakak mencari pelakunya."
"Terimakasih adikku," ucap Alvino tersenyum "Al, bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?"
"Dari Kak Al."
"Aku?"
"Iya. Semalam Al terbangun saat Kakak memindahkan Al ke kamar, karena itu Al mendengar semua yang Kak Al katakan," jelas Allia.
Allia menggeleng. "Bukan menguping. Karena Kak Al bicara di depanku bukan pada orang lain."
"Kau benar. Ya, sudah, lupakan. Sekarang kau makan, aku akan menyuapimu adik kecilku yang nakal. Setelah makan kau mandi, lihatlah, wajahmu sangat kusut dan menjadi jelek karena menangis."
Allia memukul tangan Alvino kemudian mereka tertawa bersama.
Alvino mengambil piring dan menyuapi Allia.
"Di bawah ada siapa?" tanya Allia di tengah makannya.
"Teman kakek dan cucunya," jawab Alvino.
"Untuk apa mereka ke sini?"
Alvino menggidikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Yang pasti, cucunya itu akan ikut pulang bersama kita untuk bersekolah di sekolah kita. Cepat buka mulutmu, ini yang terakhir."
Allia membuka mulutnya dan memakan suapan terakhirnya.
"Habis, mau aku ambilkan lagi?"
Allia minum dan menggeleng. "Al sudah kenyang."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan turun. Kau cepat mandi, jangan lupa bersihkan wajahmu atau mereka akan bertanya kenapa kau menangis."
"Iya Kak Al."
Ponsel Alvino berdering menandakan ada seseorang yang menelponnya. Alvino melihat siapa yang menghunginya, ternyata nama Rifki yang muncul di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Allia.
"Rifki."
Allia mengangguk. "Angkat saja, siapa tahu penting."
Alvino mengangkat panggilannya dan berbicara dengan Rifki. Allia hanya melihat dan mendengarkan saja.
"Ada apa?" tanya Allia saat Alvino sudah memutuskan panggilannya.
"Sepertinya kita harus pulang besok. Sekolah akan dimulai dan tim basket sekolah harus berlatih untuk perlombaan yang akan dilaksanakan dua pekan lagi."
"Kenapa sangat mendadak?"
"Aku juga tidak tahu. Cepat mandi dan bersiap-siap untuk besok, aku akan turun sekarang untuk memberitahu kakek."
Allia mengangguk. Alvino ke luar dari kamar Allia dengan membawa nampan kosong bekas makan Allia.
...*****...
Allia turun ke bawah setelah selesai mandi. Dia ingin melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
Untuk ke dua kalinya, saat dia melewati gudang, terdengar suara di sana. Dia ingat, waktu itu gara-gara Tama dia tidak jadi melihat gudang. Karena terlanjur penasaran, sekarang Allia memutuskan untuk melihat suara apa itu.
Allia mengambil kunci gudang yang sudah dia ketahui di belakang lemari. Dia membuka pintu gudang. Gelap, hanya kata itu yang bisa mewakili keadaan gudang. Allia tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Dia mencari di mana letak saklar listrik gudang. Akhirnya Allia menemukannya. Ruangan itu terang, banyak barang-barang sudah tidak terpakai di sana. Allia mencari sumber suara apa yang dia dengar dari gudang. Allia tidak menemukan keanehan apapun, termasuk suara yang tadi dia dengar.
Dia berjalan melihat-lihat isi ruangan itu. Saat dirasa tidak ada apapun, Allia memutuskan untuk ke luar dari gudang. Allia menajamkan penglihatannya ketika melihat sebuah buku kecil yang menarik perhatiannya. Allia berjalan berniat untuk mengambilnya, dari sampul buku itu Allia bisa mengetahui jika buku itu sudah lama. Bukunya kotor. Allia akan membawa buku itu pulang dan membacanya di rumah. Allia berbalik untuk kembali, seketika matanya membulat, mulutnya terbuka berteriak ketika melihat ada seseorang tepat di hadapannya.
"AAAA!" teriak Allia dan orang itu bersamaan.
Orang itu tersadar duluan dan segera menutup mulut Allia menggunakan tangannya.
"Sstt! Diamlah, kenapa kau berteriak?" tanya orang itu.
Allia ketakutan, ternyata di gudang ada seseorang. Apakah dia pencuri? Entahlah, Allia tidak tahu. Allia yang panik menggigit tangan orang itu dengan keras untuk melarikan diri. Dia segera berlari dan turun untuk memberi orang rumah bahwa di rumahnya ada seorang pencuri yang tinggal di gudang.
"Awh! tanganku sakit. Hei, kau, mau pergi ke mana?!" Orang itu meringis kesakitan dan mengejar Allia.
Allia semakin cepat berlari dan akhirnya dia sampai di ruang tamu. Kebetulan semua orang ada di sana. Prof. Glen, Paman, Tante, Alvino, Tama, dan ada dua orang yang tidak Allia kenali. Allia segera menghampiri mereka semua dengan nafas yang terengah-engah. Mereka menatap Allia dengan tatapan bingung.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...