
...Happy reading ♡...
...*****...
Akhirnya mereka sampai di depan ruang UKS. Allia mendekati pintu tersebut untuk membukanya. Masih dengan membawa Geo, tangan Allia terulur untuk membuka pintunya. Dan ternyata pintunya terkunci. Allia membuang napas beratnya. Pekerjaannya bertambah lagi. Dia harus mencari siapa yang memegang kunci UKS.
"Kenapa pintunya terkunci?!" Allia frustasi.
Allia menurunkan Geo perlahan. Dia menyenderkan Geo ke tembok agar tidak terjatuh. Sebelum pergi dia membenarkan posisi kepala lelaki yang sudah membuatnya harus mengerjakan semua ini. Allia bangkit dan berlari mencari siapa orang yang memegang kunci ruang UKS meninggalkan Geo sendiri yang masih menutup matanya dengan duduk bersandar pada tembok.
...*****...
Allia berlari ke ruang guru. Dia bertanya kepada siapapun guru yang lewat di hadapannya. Kebetulan Bu Nadiya sedang berjalan menuju ruang guru, sepertinya baru selesai mengajar dari kelas lain. Allia langsung menghampirinya dengan napas yang naik turun karena kecapean habis berlari.
Bu Nadiya memperhatikan Allia yang berada di hadapannya sedang mengatur napasnya yang tidak teratur.
"Allia, apa yang terjadi padamu?" tanya Bu Nadiya cemas.
Allia menggeleng. "Ibu tahu siapa yang memegang kunci ruang UKS?"
"Apa kau sakit?" tanya Bu Nadiya memastikan.
Allia menggeleng lagi. "Bukan Allia, tapi Geo."
"Geo? Kenapa dia?" ulang Bu Nadiya.
Allia menceritakan semuanya kepada Bu Nadiya tanpa ada yang terlewat. Allia mengatakan itu semua agar Bu Nadiya tidak ikut salah paham kepadanya seperti Pak Tio.
Bu Nadiya mendengarkan cerita Allia tanpa berniat memotongnya. Muridnya itu tampak membutuhkan pertolongannya. Setelah mengetahui semua hanyalah salah paham, dia langsung mengajak Allia menemui siapa yang memegang kunci UKS.
"Allia, kamu tunggu di sini sebentar. Ibu akan menyimpan buku ini ke meja, Ibu akan ikut denganmu ke sana."
Allia sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya ada yang membantunya. Beruntung sekali dia dipertemukan dengan Bu Nadiya yang baik hati sehingga bersedia menolongnya.
Bu Nadiya memasuki ruang guru untuk menyimpan bukunya. Dia kembali dengan cepat menghampiri Allia yang masih setia menunggunya.
"Allia, ikut dengan Ibu. Ibu tahu di mana kunci UKS," ucap Bu Nadiya yang langsung diangguki Allia.
Allia berjalan di samping Bu Nadiya. Dia mengikuti ke mana gurunya pergi.
Allia sedikit terheran ketika Bu Nadiya memasuki kelas tetangganya. Kebetulan kelas itu tidak ada gurunya. Bu Nadiya masuk ke kelas diikuti Allia. Kelas yang awalnya bising langsung sunyi saat Bu Nadiya dan Allia masuk. Mereka semua menatap ke depan tanpa ada yang berani bersuara.
Clara tersenyum melihat kedatangan Allia. Allia membalas senyumnya. Kemudian tatapannya jatuh pada Devan yang tidak berhenti menatap Allia sejak wanita itu datang.
__ADS_1
"Arka," panggil Bu Nadiya.
Yang dipanggil celingukan bingung. Arka menengok pada Devan teman sebangkunya yang sedang menatap Allia di depan kelas bersama Bu Nadiya.
Arka mengangkat tangannya. "Saya, Bu?"
Bu Nadiya mengangguk. "Kamu ikut dengan Ibu sekarang, jangan lupa bawa kunci UKS juga."
Suasana di kelas menjadi ricuh. Para murid laki-laki langsung menanggapi perkataan Bu Nadiya.
"Saya ikut juga, ya, Bu. Biar Ibu nggak kesepian." Banyak yang menyoraki siswa tersebut sambil tertawa.
"Bu, kenapa harus Arka? Saya bisa kok menggantikannya menemani ke manapun Ibu mau pergi dengan seperangkat alat salat," ucap salah satu siswa lagi, kelas menjadi tidak terkendali.
"Berisik, woi! Nanti Ibu cantik dan cewek cantik di sebelahnya nggak betah ada di sini," sahut yang lainnya lagi membuat suasana kelas menjadi lebih parah dari sebelumnya.
Devan menatap tidak suka pada teman sekelasnya yang baru saja berbicara seperti itu. Dia kembali menatap Allia yang acuh tak menanggapi apapun.
"Sudah-sudah, kalian membuat Ibu pusing saja."
"Ibu pusing? Sini saya pijit, Bu. Gratis, kok, nggak usah bayar. Dikasih cinta dan kasih sayang dari ibu saja sudah cukup." Masih saja ada yang menanggapi ucapan Bu Nadiya.
Bu Nadiya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, Bu. Saya sedang belajar bersungguh-sungguh mencintai Bu Nadiya, kok." Mereka kembali menyorakinya sambil tertawa karena ucapan murid laki-laki tersebut.
"Sudah, kalian ini ada-ada saja."
"Arka, Allia, sekarang kita pergi," lanjutnya ke luar dari kelas diikuti oleh Allia dan Arka.
Arka adalah pemenang kunci UKS karena dia merupakan pengurus sekaligus ketua dari PMR sekolah. Banyak yang Arka tidak mengerti. Dia memutuskan untuk bertanya saja pada Allia.
"Siapa yang sakit, Al?" tanya Arka di tengah perjalanan menuju ke ruang UKS.
"Kau lihat saja nanti," jawab Allia seadanya.
...*****...
Mereka sampai di depan UKS. Bu Nadiya langsung menghampiri Geo. Arka membuka pintu UKS dan membantu membawa Geo ke dalam ruangan penuh obat tersebut.
Geo ditidurkan di atas kasur yang tersedia di sana. Arka memeriksa keadaan Geo, mulai dari suhu badannya dan yang lainnya. Allia duduk di kursi di sebelah kasur yang sedang Geo tiduri, melihat lelaki itu sedang diperiksa. Bu Nadiya menjadi lebih lega dari pada sebelumnya.
"Dia baik-baik saja," ucap Arka setelah selesai memeriksa keadaan Geo.
__ADS_1
Kening Allia berkerut. "Kau yakin?"
"Iya. Kau tenang saja," kata Arka meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Bu Nadiya.
"Arka, ambilkan air hangat untuknya," lanjutnya.
Arka mengangguk dan ke luar dari ruang UKS mengambil air hangat untuk Geo. Bu Nadiya menoleh pada Allia.
"Allia, kamu tunggu Geo di sini. Jaga dia sampai bangun, Ibu harus pergi sekarang. Kamu nggak papa, kan di sini sendirian?" tanya Bu Nadiya.
Allia mengangguk. "Iya, Bu. Terimakasih sudah membantu saya."
"Oh, iya. Karena Geo sedang sakit saat ini, lusa saja dia suruh menemui Ibu. Nanti kau temani dia, ya." Bu Nadiya mengingat tadi dia menyuruh Allia memanggil Geo tapi sekarang Geo sedang sakit.
Bu Nadiya tersenyum pada Allia sebelum meninggalkan wanita itu bersama Geo di ruangan itu berdua.
Allia menatap Geo yang masih belum membuka matanya, tidak lama Arka kembali dengan membawa segelas air hangat di tangannya.
Arka menyimpan air hangat tersebut di meja, dia melirik Geo sebentar kemudian menatap Allia.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Arka.
Allia mengangkat kedua bahunya kemudian menghembuskan napas panjangnya. Dia menoleh pada Arka yang masih menatapnya menunggu jawaban dari mulutnya.
"Kau kembali saja ke kelasmu," ucap Allia.
"Baiklah. Jika kau membutuhkan bantuan, panggil saja aku."
Allia mengangguk. Kemudian dia melihat lelaki itu mulai berjalan ke luar dari sana kembali meninggalkan dirinya bersama Geo berdua, tidak lupa menutup pintunya juga. Allia menatap wajah Geo, terlihat menyebalkan di matanya walau sedang tidur juga.
"Apa aku setampan itu, sampai kau harus terus menatapku seperti itu?"
Allia sangat terkejut saat tiba-tiba Geo berbicara seperti dengan keadaan mata yang masih tertutup rapat. Kata-kata itu. Kata yang sama persis Allia ucapkan saat di rooftop. Allia menjauhkan badannya dari Geo, kemudian dia berdiri saat melihat Geo membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Dia duduk menghadap ke arah Allia yang masih mematung karena shock tidak percaya.
"Hai," sapa Geo.
"Bagaimana? Kau suka acting yang aku lakukan?" lanjutnya sembari menunjukkan senyum miringnya.
...•••...
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...
__ADS_1