
...Happy reading ♡...
...*****...
"Allia!" teriak Alvino sembari berlari menuju Allia yang jatuh pingsan.
Seakan jadi manekin, semua orang yang berada di lapangan sangat terkejut. Keadaan mulai rusuh. Para penonton yang ada di lapangan semakin banyak melihat kejadian itu. Geo masih belum mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi. Clara sama terkejutnya sampai matanya membulat, dia berjongkok di samping Allia.
"Al, buka matamu Al!" Alvino menepuk-nepuk pelan pipi Allia agar Allia membuka matanya.
"Aku bilang buka matamu Al!" teriak Alvino di depan wajah Allia.
Melihat Allia tidak juga terbangun, kepalanya menoleh ke belakang. Dimas terdiam, matanya menatap Allia yang pingsan karenanya. Kemudian dia melihat Alvino yang berlari ke arahnya dengan pandangan yang sangat tidak bersahabat. Matanya memerah menyiratkan kemarahan.
Saat sudah di hadapan Dimas, Alvino langsung memukul Dimas dengan keras tanpa ampun. Dia memberikan pelajaran yang tidak akan dilupakan oleh Dimas di seumur hidupnya. Semua pukulan yang diberikan oleh Alvino karena kemarahannya tidak sebanding dengan rasa benci saat Dimas melemparkan bola basket pada Allia, juga saat menjadikan Allia sebagai barang taruhan.
Dimas yang diam saja membuat semua orang panik. Dalam keadaan seperti ini Alvino bisa saja membunuhnya yang pasrah menerima pukulannya. Keadaan yang sangat mencekam.
Geo yang melihat aksi pemukulan dengan cepat menggendong Allia bak bayi untuk membawanya ke UKS secepatnya. Clara ikut di belakang Geo. Saat sudah sampai di UKS, di ruangan itu mereka melihat Devan dan Arka. Keduanya sangat terkejut melihat Allia di pangkuan Geo dengan mata tertutup.
"Tidurkan dia di sini," ucap Arka yang sebelumnya sudah menyiapkan kasur berjaga agar jika ada yang sakit.
Geo merebahkan tubuh Allia dengan sangat hati-hati. Dia memposisikan tubuh Allia dengan benar.
Devan menatap pemandangan itu dengan sengit. Devan tidak tahu kenapa setiap kali dia melihat Allia dengan Geo dia tidak menyukainya. Entah apa itu alasannya Devan sangat tidak suka itu. Ingin sekali dia mengusir Geo dari ruangan itu sekarang juga. Tapi Devan melihat ada yang aneh. Kenapa Alvino tidak ada di samping Allia saat ini?
"Apa yang terjadi? Dia kenapa?" tanya Arka membuat Clara menoleh. "Di mana Alvino?"
Clara menatap Devan yang sedari tadi diam menatap Allia. Clara dapat melihat kekhawatiran di mata Devan, walau lelaki itu berusaha menyembunyikannya.
Clara menggumam lama, dia bingung harus menjelaskan dari mana kepada Devan. Ditambah Clara juga belum mengerti dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kepalanya terbentur bola basket saat pertandingan sedang berlangsung." Clara yang ingin menjelaskan menjeda ucapannya ketika Devan pergi begitu saja dengan langkah yang cepat dan itu membuat Geo dan Arka menatap kepergiannya.
"Kau mau ke mana Dev?" tanya Arka namun Devan tidak menjawabnya dan tetap melanjutkan langkahnya.
Geo melirik Arka. "Ambilkan kotak obat," suruh Geo yang langsung diangguki Arka.
Sebagai ketua PMR, Arka bertanggung jawab atas ini. Arka menyusuri tempat obat dan mengambil kotak obat. Dia menyodorkannya pada Geo.
Geo menerimanya. Dia membuka kotak obat itu. Perlahan dia membersihkan seluruh kening Allia agar tidak infeksi. Geo bingung, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Dia tidak pernah mengobati seseorang. Jika dirinya sakit atau terluka, dia selalu menyuruh Clara ataupun pembantu di rumahnya.
Geo menoleh pada Clara lalu tersenyum. Clara yang awalnya tidak mengerti langsung berdecak. Sikap Geo sedari tadi seakan mengerti semuanya, dan kenyataannya ternyata tidak.
"Kau saja yang obati Cla," ujar Geo beranjak mundur agar Clara bisa mengobati luka di kepala Allia.
Clara menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mendekati Allia. Clara mulai mengobati luka Allia dengan cekatan namun tetap hati-hati. Langkah terakhir yang dilakukan Clara adalah menempelkan plester pada luka Allia. Luka Allia tidak terlalu besar, namun itu tetap terlihat sakit.
...*****...
Kemarahan Alvino belum juga mereda. Beberapa orang berusaha untuk memisahkan Alvino dari Dimas. Namun gagal, yang terjadi malah Alvino ikut memukuli yang menghalanginya. Jadi tidak ada yang berani mendekat.
Bu Nadiya dengan berani menghampiri Alvino, awalnya Pak Tio melarangnya. Namun ini tidak bisa terus terjadi dan harus segera dihentikan. Semua orang menatap Bu Nadiya khawatir.
"Alvino berhenti!" ucap Bu Nadiya.
Alvino menghiraukannya.
__ADS_1
"Alvino berhenti! Ingat Allia!"
Alvino mematung mendengarnya. Dia memegang kaos Dimas hingga yang Dimas merasa seperti sedang tercekik.
Dimas mengusap darah yang ke luar dari sudut bibirnya kemudian tertawa pelan melihat Alvino diam. Saat tertawa Dimas merasakan sakit pada bibirnya karena pukulan yang Alvino berikan.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Dimas. "Jadi nama perempuan itu adalah Allia?"
Alvino menggertakkan giginya. Berani sekali Dimas menyebutkan nama Allia dengan mulutnya yang kotor. Saat Alvino hendak kembali mendaratkan pukulannya, seseorang kembali menahannya dengan teriakannya.
"Stop!" teriaknya saat memasuki lapangan.
Pandangan semua orang teralihkan pada seorang laki-laki yang sedang memasuki lapangan. Dia memakai kaos pertandingan tim basket SMA Bima Sakti. Wajahnya yang tampan dan datar membuat para wanita terperangah melihatnya. Langkahnya cepat tidak mempedulikan semua orang yang sedang menatapnya kagum.
Alvino mengangkat satu alisnya saat orang itu tiba di hadapannya.
"Jangan buang waktumu dengan hal bodoh seperti ini," ucap Devan dengan muka datarnya.
"Apa kau akan membunuhnya?" tanya Devan lurus.
Alvino melihat Dimas yang berada pada genggamannya. Banyak luka memar keunguan. Ada juga yang mengeluarkan darah di sudut bibirnya juga pelipisnya. Namun Dimas tetap menatap Alvino tajam.
"Kau melupakan satu hal yang lebih penting dari pada ini."
Alvino kembali menoleh pada Devan menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Allia. Dia membutuhkanmu."
Mendengar itu, Alvino membenarkan ucapan Devan. Kenapa dia bisa sebodoh ini? Karena kemarahannya, dia sampai melupakan Allia yang lebih membutuhkannya dari pada harus mengurusi Dimas yang tidak ada puasnya.
"Kau pergi dan temani Allia. Aku akan menggantikan posisimu."
Alvino menatap Devan tidak yakin. Namun dia tetap harus pergi dan menghampiri Allia. Sebelum pergi, Alvino menghempas tubuh Dimas keras sampai ke tanah. Dia memberikan kain kecil yang biasanya dia pakai di tangannya saat pertandingan pertanda jika Alvino adalah kapten. Alvino menyerahkan itu pada Devan. Devan menerimanya dan menatap Alvino bersama Bu Nadiya yang pergi menjauhi lapangan.
"Apa kau akan memukulku juga?" tanya Dimas membuat Devan melihat ke arahnya.
Devan maju dua langkah. Dia melihat Dimas tidak berdaya. Bahkan, untuk berdiri saja akan susah. Pikir Devan.
"Kita lanjutkan pertandingan ini, aku akan menggantikan posisi Alvino."
Rifki tersenyum mendengarnya, akhirnya Devan mau bergabung dengan tim basket sekolah. Rifki sangat tahu kehebatan Devan dalam memainkan bola basket. Walau keadaan seperti ini, Devan hanya menggantikan posisi Alvino, tapi dia percaya Devan akan banyak membantu tim mereka.
Salah satu anggota basket dari tim SMA Galaksi membantu Dimas untuk berdiri. Dimas berjalan dengan tertatih, dia dibawa ke pinggir lapangan. Petugas PMR mengobati semua luka Dimas. Pertandingan akan dimulai lagi setelah 10 menit. Dimas bersikeras memutuskan untuk tetap bermain dengan timnya. Devan mempersiapkan dirinya dengan tim basket sekolah.
"Terimakasih Dev," ucap Rifki.
Devan mengangguk kecil kemudian menangkap bola basket yang tiba-tiba dilempar oleh Reno. Beruntung dia bisa menangkapnya.
"Dev akhirnya kita bisa bermain bersama di satu tim. Benarkan teman-teman?" tanya Reno.
Para pemain basket yang lainnya mengiyakannya pertanda setuju. Devan membalasnya dengan senyum kecil.
Sepuluh menit berlalu. Semua luka Dimas sudah diobati tanpa ada yang terlewat. Pertandingan akan kembali dimulai.
Kedua tim kembali memasuki lapangan. Mereka menempati posisinya masing-masing. Hanya saja yang berbeda adalah Devan yang menggantikan posisi Alvino sebagai kapten tim SMA Bima Sakti.
Devan dan Dimas maju ke depan. Dimas melihat Devan penasaran, sebenarnya siapa Devan hingga bisa menggantikan posisi Alvino sebagai kapten. Padahal yang sebelumnya Dimas ketahui, dia tidak pernah melihat Devan bermain dengan tim basket Alvino. Tapi dia tidak peduli.
__ADS_1
Dimas menatap Devan heran. Wajahnya begitu lurus tanpa ekspresi ketika melihatnya. Tidak ada mimik wajah marah, benci atau apapun. Tidak seperti Alvino yang melihat matanya saja sudah jelas menyiratkan kebencian terhadapnya.
Sepertinya dia akan mudah dikalahkan. Batin Dimas.
Wasit kembali melemparkan koin. Bola berpihak pada SMA Bima Sakti.
Dimas yang melihat itu mengangkat satu alisnya. Mungkin mengalahkan Devan tidak akan sesulit saat dia bertanding dengan Alvino, pikirnya.
Pertandingan dimulai saat wasit meniup peluitnya. Devan segera memainkan bolanya. Dengan sangat baik dia mendribble bola basket yang ada di tangannya itu. Banyak yang melihatnya kagum tidak percaya. Tidak berbeda dengan Alvino, Devan memainkan bolanya tanpa terlihat kesusahan. Dimas yang melihat itu tidak percaya. Dia kira akan mudah untuk mengalahkan Devan, namun ternyata tidak semudah itu.
Banyak yang menghalangi Devan disetiap langkahnya. Dia menangkap bola yang yang dilemparkan oleh Rifki. Belum memasuki garis tim lawan, Devan melambungkan bola basketnya jauh. Tidak ada yang mempercayai saat bola basket itu tepat memasuki ring tim Dimas. Para penonton bersorak mendukung Devan. Dimas masih tidak percaya, dengan kejauhan garis yang lumayan, Devan bisa memasukkan bolanya dengan cepat. Tim Devan tersenyum. Mereka mendapatkan tiga poin sekaligus karena Devan.
...*****...
"Selesai," ucap Clara selesai mengobati luka Allia.
Tepat pada saat itu juga Alvino datang ke ruangan UKS. Dia datang dengan keadaan yang berantakan.
Clara menoleh. Saat melihat kedatangan Alvino, Clara mundur dan berdiri di samping Geo. Alvino berdiri di samping Allia yang belum juga terbangun.
Alvino melirik Clara dan Geo. Alvino juga dapat melihat Arka yang berada di samping tempat obat.
"Apa dia belum bangun dari tadi?" tanya Alvino.
Clara menggeleng. "Belum."
Alvino menghembuskan napasnya, dia semakin cemas dengan keadaan Allia.
Arka yang melihat Alvino ingin membawa Allia segera melarangnya.
"Kau mau membawanya ke mana?" tanya Arka.
"Rumah sakit."
"Tidak, jangan melakukan itu."
"Kenapa?" tanya Alvino di depan pintu UKS.
"Lukanya tidak terlalu parah, Clara sudah mengobatinya. Sebentar lagi juga dia akan bangun."
Alvino menatap Allia yang ada di pangkuannya kemudian melirik Arka.
"Dia adikku. Urus saja urusanmu sendiri." Setelah mengatakan itu Alvino pergi dari UKS.
"Kak Geo kita susul mereka," ucap Clara.
"Untuk apa Cla?" tanya Geo.
"Ish. Allia sedang sakit, aku khawatir kepadanya. Ayo kita susul mereka sekarang juga." Clara menarik paksa tangan Geo ke luar dari ruangan itu meninggalkan Arka seorang diri.
Arka menghembuskan napas berat. Dia lupa jika Alvino sangat posesif pada Allia. Kemudian dia mengingat Devan. Ke mana Devan pergi sampai belum kembali sampai sekarang? Biasanya jika ada Allia, Devan akan berlama-lama agar bisa melihat Allia. Arka menduga, sebenarnya Devan sudah menyukai Allia. Hanya saja gengsinya sangat besar untuk mengakuinya. Ditambah sikapnya yang dingin juga wajah datarnya akan berbeda jika sedang melihat Allia. Saat ditanya pun Devan tidak pernah menjawabnya dan hanya diam tanpa memandangnya.
Arka ke luar dari UKS untuk mencari Devan, dia harus memberitahukan kepada Devan semua yang sudah terjadi tadi.
...•••...
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...
__ADS_1