Couple AL

Couple AL
Membujuk


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Allia sedang mondar-mandir di kamarnya. Dia bingung harus bagaimana. Pada satu sisi Allia ingin meminta maaf, di sisi lain dia takut Tama dan Alvino tidak memaafkannya.


"Mungkin jika aku menjelaskan semuanya, Kak Al dan Kak Tama tidak akan marah lagi kepadaku." Allia yakin, hubungan mereka bertiga akan baik-baik saja seperti semula.


Pertama, Allia akan pergi ke kamar Tama. Setelah itu dia akan menemui kakaknya, Alvino.


Allia membawa sesuatu dari kamarnya untuk Tama. Dia pergi ke kamar Tama yang letaknya di sebelah kamar Alvino. Saat Allia melewati kamar Alvino, dia tidak mendengar apapun dari luar. Dia mengetuk pintu kamar Tama dari luar.


"Kak Tama, kau ada di dalam?" panggil Allia saat membuka pintu kamar Tama.


Tidak ada jawaban. Allia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Tama. Ternyata Tama ada di kamarnya, lalu kenapa tidak menyahut saat Allia memanggilnya? Tentu saja Allia tahu apa alasannya, Tama terlihat sedang sibuk dengan laptopnya. Lucu sekali wajahnya apalagi saat sedang berpikir, ditambah Tama memakai kacamata yang biasa dia pakai saat belajar.


Allia duduk di sebelah Tama. Tama yang merasakan kursi yang dia duduki bergerak melihat ke arah sampingnya. Dia melihat Allia yang duduk di sebelahnya.


"Al? Sejak kapan kau ada di sini? Aku tidak—" Tama menjeda ucapannya mengingat dia sedang marah kepada Allia.


Allia menahan senyumnya. Sepertinya Tama baru menyadari jika dia sedang marah kepada dirinya, pikir Allia.


"Aku baru datang, kok." Allia memiringkan kepalanya agar melihat wajah Tama. "Kak Tama sedang apa?"


Tama terdiam mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain agar dia tidak melihat Allia. Tama berpura-pura fokus lagi pada laptopnya.


Allia menyenderkan kepalanya pada bahu Tama.


"Kak Tama marah sama Al?" tanya Allia.


Allia memandangi wajah Tama yang berada dekat di sampingnya. Allia akui sepupunya itu sangat tampan.


"Kakak terlihat jelek jika sedang marah."


Tama melirik Allia sekilas tanpa berbicara.


Allia memegang kedua pipi Tama dengan tangannya, kemudian dia tarik.


"Ayo senyum, iii ...." Allia mempraktekkan bagaimana caranya tersenyum pada Tama.


Tama mencoba melepaskan tangan Allia tapi tidak bisa. Pertahanan Tama runtuh, dia tidak bisa marah lagi kepada Allia jika Allia bersikap lucu seperti ini.


"Sudahlah, Al. Kenapa kau selalu bisa membuatku luluh," ucap Tama memelas.


Allia tersenyum dan memeluk Tama.


"Maafin Al, ya. Al janji, Al tidak akan mengulanginya lagi."


Tama membalas pelukan Allia dengan erat.


"Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, Al. Aku sudah membentakmu tadi. Apa kau mau memaafkan Kakakmu yang bodoh ini, Al?" tanya Tama.


Allia menggeleng dan melipat kedua tangannya lalu membuang muka ke lain. "Kak Tama jahat."


"Aku tidak bisa mengontrol emosiku tadi, aku mohon maafkan aku. Kau boleh memukulku jika mau," ucap Tama menyesali perbuatannya karena sudah membentak Allia saat di mall.


Allia kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku akan mentraktirmu belanja besok, bagaimana?" tawar Tama agar Allia tidak merajuk lagi


Mata Allia berbinar. Allia mengangguk, penawaran yang cukup bagus. Padahal dirinya hanya berpura-pura marah tadi.


"Oke, Al sudah memaafkan Kak Tama."


Tama tersenyum. "Kita belanja besok."


"Tidak. Nanti saja jika Al mau, Al akan memberitahu Kakak."


"Baiklah." Tama teringat sesuatu yang harus dia tanyakan pada Allia sedari tadi, "Siapa lelaki yang bersamamu tadi?"


Allia berpikir sejenak. "Devan?"


Tama mengingat namanya. "Iya aku ingat, Devan namanya. Siapa dia Al? Pacarmu?"


Mata Allia membulat. "Tidak!" jawabnya cepat


"Teman sekolah, kemarin Al tidak sengaja bertemu dengannya.


Tama mengangguk-anggukkan kepalanya.


Allia menyodorkan sebuah kotak kecil pada Tama.


"Apa ini?" tanya Tama memperhatikan kotak yang tidak terlalu kecil di tangannya.


"Kak Tama buka saja sekarang."


Tama membuka kotak kecil itu, ternyata isinya adalah sebuah jam tangan yang sangat bagus.

__ADS_1


"Untukku?"


Allia mengangguk. "Iya, di sana ada alarm, suaranya cukup nyaring. Al sengaja membelinya untuk Kak Tama agar Kak Tama tidak kesiangan jika sudah kembali ke Harvard. Kak Tama, kan, susah dibangunkan."


Tama tertawa dan mencubit hidung Allia.


"Terimakasih sayang," ucap Tama dan memeluk Allia.


"Sama-sama," ujar Allia dalam pelukan Tama.


Allia melepaskan pelukannya. "Al akan ke kamar Kak Alvino dulu."


"Ya, sudah. Bujuk Alvino, dia sangat khawatir karena ulahmu tadi, haha ...." Tama terkekeh mengingat kejadian tadi, betapa pasrahnya Alvino.


"Hehe ...."


Tama mendorong bahu Allia pelan. "Sudah. Sana, kau temui Alvino."


...*****...


Allia sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamar Alvino. Dia mengumpulkan keberaniannya. Allia langsung masuk ke kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dia mencari Alvino tapi tidak ditemukan. Allia melihat pintu balkon terbuka, Allia mendekat untuk menutup pintu karena hari sudah semakin sore. Saat ingin menutup pintu, Allia melihat Alvino di sana. Alvino sedang melamun dengan segelas teh di sampingnya. Tatapannya lurus, Allia jadi semakin merasa bersalah.


"Kak Al?" panggil Allia.


Alvino tersadar dari lamunannya. Dia melihat ke sampingnya ternyata ada Allia.


Alvino tersenyum. "Iya?"


"Kakak sedang apa di sini? Hari sudah semakin sore, udaranya dingin, ayo kita masuk saja."


"Tidak, aku ingin di sini sebentar. Kau masuk saja."


Allia memeluk Alvino dari samping. "Jangan marah," ucap Allia tepat di telinga Alvino.


Alvino tidak menjawab ataupun melepaskan pelukan Allia. Allia melihat itu ingin menangis, dia menyembunyikan wajahnya di leher Alvino.


"Al minta maaf karena sudah membuat Kakak khawatir, maafkan Al karena sudah membuat Kakak mencari-cari Al di Mall," ucap Allia.


Alvino berbalik membuat mereka saling berhadapan. Allia yang tidak berani menatap Alvino menundukkan kepalanya.


"Al, tatap mataku," suruh Alvino saat melihat Allia menunduk.


"Kakak tidak marah kepadamu, Al."


"Lihat mataku Al." Alvino paling tidak suka jika Allia tidak menatapnya jika sedang berbicara dengannya.


Perlahan Allia mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu. Dia membalas tatapan Alvino yang begitu dalam.


"Aku tidak bicara kepadamu bukan karena marah, aku hanya sedikit kecewa pada diriku sendiri karena tidak bisa menjadi seorang Kakak yang baik untukmu."


Allia menempelkan tangannya pada bibir Alvino menyuruhnya untuk tidak meneruskan bicaranya.


"Jangan berbicara seperti itu. Kak Al hanya salah paham."


"Al," panggil Alvino.


Allia menatap Alvino.


"Kenapa Devan bisa bersamamu kemarin?"


Walau takut, Allia menceritakan kepada Alvino tentang kejadian tadi.


...———...


Allia yang sedang mencari-cari toilet di sekitar tempat makan, akhirnya ketemu. Toiletnya umum, untuk laki-laki dan perempuan. Saat Allia sudah keluar dari toilet dan ingin kembali ke meja tempat makannya tadi bersama Alvino dan Tama, Allia tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa makanan di tangannya. Makanan itu tumpah ke baju seseorang yang dia tabrak.


"Maafkan aku, aku tidak melihatmu tadi."


Allia membantu dia untuk bangun. Dan betapa terkejutnya Allia saat mengetahui yang dia tabrak adalah Devan.


"Dev?"


Devan tidak kalah terkejut mengetahui Allia lah yang sudah menabraknya.


"Al? Kau?"


"Biar aku bantu bersihkan bajumu," ucap Allia dan mencoba membersihkan baju Devan dengan tisu.


Ketika Allia membersihkannya, gelang yang Allia pakai tersangkut di baju Devan. Mata Allia membulat dengan cepat Allia menarik gelangnya, Allia menjadi sangat terkejut karena membuat baju Devan menjadi sobek.


"Kau?!"


"Bajumu ...." Allia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku, gelangku tersangkut. Aku akan menggantinya."

__ADS_1


"Sekarang."


Allia mengangguk. "Baiklah, aku akan menghubungi Kakakku dulu."


Allia mencari ponselnya di sakunya, tapi tidak ada. Mungkin tertinggal di mejanya.


"Ponselku tertinggal, bagaimana ini?"


Devan menarik lengan Allia.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"


"Kau hanya perlu menemaniku membeli baju, tidak usah melakukan apapun," ucap Devan tanpa menghentikan langkahnya.


Saat mereka sudah sampai di toko baju, Devan memilih baju yang akan dia beli untuk dipakai sekarang. Saat Devan ke luar dari ruang ganti, dia melihat Allia juga melihat-lihat beberapa baju yang ada di toko itu.


Devan menghampiri Allia. Dia melihat Allia memperhatikan baju couple yang ada di sana. Devan mengambil baju itu dan menyuruh penjaga toko untuk membungkusnya. Allia tersadar, untuk apa Devan membeli banyak baju? Sedangkan, Devan sendiri sudah mengganti baju yang dia pakai tadi.


"Sudah selesai?"


Devan mengangguk dan memberikan paper bag yang ada di tangannya pada Allia.


Allia mengangkat satu alisnya tidak mengerti.


"Ambillah, ini untukmu." Devan memaksa dengan mengambil tangan Allia.


Allia menolaknya tapi Devan terus memaksa. Dan akhirnya Allia menerimanya dengan berat hati karena Allia tidak biasa menerima barang pemberian dari orang lain. Alvino tidak memperbolehkannya menerima barang dari orang lain selain dari Alvino sendiri.


"Temani aku."


Mereka melihat toko-toko yang menarik. Allia menunjuk toko jam tangan, kemudian mereka memutuskan untuk membelinya dengan Devan yang membayarnya lagi, harganya lumayan tinggi. Allia membeli 3 jam tangan, untuk Tama, pamannya, dan juga kakeknya. Selanjutnya mereka mengunjungi toko sepatu. Allia sedikit kebingungan untuk apa mereka ke sini.


"Untuk apa kita ke sini?"


"Menurutmu?"


Devan mengambil salah satu sepatu high heels dan menyodorkannya pada Allia.


"Aku tidak suka memakai sepatu seperti itu."


Devan mengangkat satu alisnya. "Bukan untukmu, tapi untuk orang di rumahmu."


Allia tersipu. Pipinya memerah karena menahan malu. Allia teringat Tante Liza, akhirnya dia mengambil sepatu high heels itu dari tangan Devan.


"Apa ini juga kau yang akan membayarnya?" tanya Allia.


"Kau pikir siapa? Kau sendiri? Aku tahu kau tidak membawa uangmu."


"Kau yang menyuruhku untuk menemanimu secara paksa. Aku tidak memintamu untuk membelikan semua ini. Kau ambil saja semua ini, aku tidak membutuhkannya!" Allia sangat tersinggung dengan ucapan Devan.


"Kau yang menabrakku dan membuat bajuku sobek."


Allia ingin berbicara kembali tapi Devan kembali memotongnya.


"Sudahlah, lupakan. Kita harus segera kembali atau Kakakmu akan marah kepadaku."


Allia melihat jam, dia terkejut ternyata sudah satu jam dia meninggalkan Tama dan Alvino.


Allia melirik Devan yang masih berdiri di kasir, selesai membayar belanjaannya, Devan menghampiri Allia yang menunggunya di depan. Saat mereka ke luar dari toko sepatu, mereka melihat Alvino, Tama, dan juga seorang satpam.


...———...


Alvino menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan yang Allia berikan. Dia


"Kau menabrak Devan tapi Devan membelikan semua itu untukmu?" tanya Alvino yang diangguki Allia.


Alvino jadi bingung. Pantas saja Allia terlihat sangat senang saat melihat Alvino.


"Ini untukmu Kak Al," Allia memberikan baju kepada Alvino.


Alvino memperhatikan baju yang terlihat seperti baru dibeli. "Baju ini?"


"Iya, itu baju couple yang Al beli tadi. Satu untuk Kak Al, satu untukku."


"Devan maksudmu?"


Allia tersenyum. "Iya, hehe ...."


"Dasar. Sini peluk." Alvino membuka kedua tangannya dengan lebar yang langsung disambut pelukan oleh Allia.


"Jangan pergi tanpa memberitahuku lagi." Alvino mencium pipi Allia.


"Iya, kak Al. Sekarang Kak Al sudah tidak marah, kan?" Allia melepas pelukannya.


"Tidak. Ayo kita masuk," kata Alvino melihat hari hampir malam.


...•••...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2