
...Happy reading ♡...
...*****...
Allia semakin dekat dengan Geo. Saat berangkat sekolah pun Allia bersama Geo dan Alvino dengan Clara. Allia duduk bersama Geo di kelas, sedangkan Alvino bersama Rifki.
Sekarang ini mereka berempat sedang berada di kantin. Mereka duduk di meja paling pojok kantin sambil memakan makanan mereka yang sudah dipesan. Allia menikmati makanannya dengan sangat nikmat. Berbeda dengan Alvino, dia hanya mengaduk makanan di depannya sembari menatap Allia yang duduk di hadapannya.
Clara menyadari jika Alvino memperhatikan Allia.
"Al," panggil Clara pelan.
Alvino tersadar dan menoleh pada Clara yang berada di sampingnya.
"Makanlah." Clara tersenyum kecil seolah memberi semangat kepada Alvino.
Alvino menghembuskan napasnya kemudian mengangguk. Alvino mulai memakan makanannya walau dia enggan.
Allia mengedarkan pandangannya pada sekitar. Kemudian matanya tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang dia cari. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman saat Devan menatapnya.
Allia menyuruh Devan mendekati meja mereka lewat tangannya. Alvino, Geo dan Clara menyadari pergerakan Allia. Mereka mengikuti arah pandang Allia. Mereka melihat Devan dan Arka yang memasuki kantin.
"Apa kau mendengarkan apa yang aku ucapkan, Dev?" tanya Arka setelah menceritakan tentang Sheila dan Mona yang mengganggunya setelah Devan pergi.
Arka menoleh pada Devan yang diam tidak menyahut. Arka melihat Devan sedang menatap Allia yang juga sedang menatap Devan di meja yang berisi empat orang itu.
Arka menarik Devan membuat Devan sedikit terkejut saat Arka membawanya ke meja Allia.
Allia mengembangkan senyumnya. Arka mengernyit saat melihat sikap Allia yang berbeda.
"Hai Dev," sapa Allia.
Devan tidak menjawabnya namun matanya terus menatap Allia. Arka yang melihat itu langsung menjawab Allia.
"Hai Al," sahut Arka.
"Apa kau sudah makan, Dev?" tanya Allia.
"Belum, makanya kita ke kantin," jawab Arka karena Devan tidak menjawab pertanyaan Allia.
Allia menatap Arka kesal. "Kenapa kau yang menjawab pertanyaanku, huh?"
Arka tersenyum lebar. "Dev tidak menjawab pertanyaanmu Al."
Arka menyenggol lengan Devan. "Bicaralah Dev."
Devan melirik Arka tajam.
"Kau belum makan, Dev?" ulang Allia.
"Belum," jawab Devan singkat.
"Kalau begitu kalian makan di sini saja bersama kami," saran Allia.
"Tidak. Mejanya sudah penuh, Al," ucap Alvino yang sedari tadi diam.
Allia menoleh dan menatap sinis pada Alvino yang menyahut. "Aku tidak sedang berbicara kepadamu, jadi diamlah."
Arka yang melihat itu sontak tidak percaya. Seorang Allia berbicara dengan nada seperti itu kepada Alvino. Arka belum mengetahui jika Allia sedang lupa ingatan. Arka menatap Devan seolah meminta penjelasan. Devan tidak cerita apapun kepadanya sepulang dari rumah sakit.
"Apa kau tidak lihat meja ini besar? Mereka bisa duduk bersama kita," ucap Allia lalu beralih melihat Geo.
"Mereka bisa duduk di sini bersama kita, kan?" tanya Allia.
Geo mengangguk ragu karena takut salah bertindak.
"Dev, ayo duduk. Kau juga, duduklah."
"Tidak." Devan menolaknya dengan cepat saat melihat Arka ingin duduk. Devan tahu jika Alvino tidak menginginkan dirinya ada di dekat Allia.
"Kenapa Dev? Mejanya masih muat, kok. Kau bisa duduk di sini dan dia di sana." Allia menunjuk kursi di sebelahnya dan di sebelah Clara.
"Dev, Arka, duduklah. Sebelum bel bunyi kita harus sudah ada di kelas," ucap Clara mengingat mata pelajaran di kelasnya adalah Pak Tio.
"Kita duduk di sini saja, Dev." Arka pergi untuk memesan makanan untuknya dan Devan lalu duduk di sebelah Clara.
"Duduk, Dev!" Allia menarik tangan Devan dan menyuruhnya duduk di sebelahnya.
Alvino mengalihkan pandangannya saat Devan melirik ke arahnya.
Arka melihat di kening Allia terdapat plester obat.
"Bagaimana dengan kepalamu, Al?" tanya Arka.
"Sudah baik, ini semua karena Kak Al." Allia menatap Geo dan tersenyum.
__ADS_1
Arka mengangkat satu alisnya. Kenapa Allia menatap Geo dan tersenyum? Ada yang berbeda dengan Allia.
Bu Nana datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan Arka tadi untuknya dan Devan.
"Ini pesanannya. Ini untukmu dan ini untuk Nak Dev." Bu Nana menyimpan semangkuk bakso di hadapan Arka dan mie ayam untuk Devan.
"Terimakasih Bu Nana cantik," ucap Arka genit.
Bu Nana tersenyum. "Iya sama-sama. Ibu kembali dulu, ya?"
Arka mengangguk.
Bu Nana pergi kembali ke tempatnya untuk melayani pelanggan yang lainnya.
Tidak lama Sheila dan Mona menghampiri meja mereka. Sheila berdiri di samping Alvino.
"Hai Al! Kau sedang makan?" ucap Sheila pada Alvino.
Alvino menghiraukannya dan tetap makan makanannya.
"Oh, ya. Aku senang atas kemenangan tim basket sekolah. Kau hebat melatih mereka Al!"
Alvino menghentikan makannya dan melirik Devan yang sedang makan.
"Sekolah kita menang?" tanya Allia.
Mona mengangguk. "Iya, sekolah kita menang, Al. Itu semua karena Dev!"
"Benarkah?" sahut Clara memandang Devan yang masih tenang memakan makanannya.
"Iya, Cla," jawab Arka.
"Aku sampai melupakan pertandingan itu," ucap Allia mengalihkan pandangannya pada Devan yang ada di sampingnya. "Dev kau memenangkannya?"
"Iya Al," jawab Arka karena tahu jika Devan tidak akan menjawabnya.
Allia tersenyum senang dan menatap Geo.
"Kak Al, kenapa tidak mengajak Dev untuk bergabung dengan tim basket sekolah?" tanya Allia.
Sheila dan Mona mengernyit heran. Mereka menatap Geo dan Alvino secara bergantian kemudian tertawa.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Allia.
"Kami tertawa karena kau!" ucap Sheila. "Kenapa kau menyebutnya 'Kak Al'? Dan aku juga baru menyadari jika kau duduk di sebelah Geo. Ada apa denganmu, Allia?" tanya Sheila.
"Apa maksudmu?" tanya Allia.
"Pergi dari sini!" Alvino menatap tajam Sheila. Alvino takut Allia akan stress jika mengetahui yang sebenarnya.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Kenapa? Apa yang terjadi dengan adikmu itu, Alvino?" tanya Sheila melipat kedua tangannya di depan dada.
"Alvino?" gumam Allia pelan. "Apa yang kau katakan? Dia Geo!"
Alvino menghembuskan napasnya dan menatap Sheila yang juga menatapnya.
"Geo? Sejak kapan kau menjadi Geo, Al?" tanya Sheila.
"Mungkin hari ini mereka semua mengganti namanya dengan nama orang lain. Bagaimana kalau kita mengikuti mereka? Aku jadi kau, dan kau jadi aku, Shei. Ya, itu bagus sekali!" saran Mona.
"Aku tidak mau menjadi bodoh sepertimu, tutup mulutmu Mona!" ucap Sheila membuat Mona menutup mulutnya.
Sheila menatap Geo. "Geo, apa yang terjadi?"
Geo tidak menjawab. Sheila beralih menatap Clara.
"Kenapa kau duduk di sebelah Alvino?" tanya Sheila.
"Aku hanya ingin makan bersama Allia," jawab Clara gugup.
"Kenapa tidak mencari tempat duduk yang lainnya? Kenapa harus duduk di samping Alvino? Dia adalah pacarku! Cepat pindah sekarang juga!" perintah Sheila dengan suara tingginya.
"Kenapa kau berteriak kepadanya?" tanya Allia berani.
"Apa kau tidak bisa melihatnya? Dia duduk di sebelah Alvino, pacarku!" bentak Sheila.
"Kenapa kau terus menyebutnya 'Alvino'? Dia Geo! Dan Clara adalah adiknya, kenapa kau harus mengusirnya? Jika harus ada yang pergi, maka itu adalah kalian berdua."
Sheila membulatkan matanya. Berani-beraninya Allia mengusirnya dari kantin. Walaupun Allia adalah adik dari Alvino tapi dia tidak akan membiarkan itu terjadi kepadanya.
Orang-orang mulai melihat ke arah meja mereka. Allia terlihat berani sekali untuk melawan Sheila. Kantin yang awalnya tidak terlalu ramai sekarang banyak orang yang berpura-pura datang hanya untuk melihat kejadian itu.
"Kau berani mengusirku?"
Allia berdiri dan menatap Sheila tanpa takut. "Ya!"
__ADS_1
Sheila mengambil segelas air milik Geo yang ada hadapannya. Banyak orang yang menyaksikan saat Sheila menumpahkan air itu pada Allia. Sontak semua orang terkejut dan membulatkan matanya tidak percaya.
Alvino bangkit dan menatap Sheila tajam membuat semua yang berada di meja itu ikut berdiri.
"Apa?" tanya Sheila.
"Kau sudah membuat kesalahan!"
"Kau mau apa Al? Kenapa kau membela Allia yang bahkan tidak menganggapmu sebagai kakaknya? Aku adalah pacarmu!"
"Kau bukan pacarku!"
"Kenapa tidak? Apa ini semua karena wanita itu?" tunjuk Sheila pada Clara. "Apa yang kau harapkan darinya Al? Aku lebih cantik darinya dan tidak ada yang bisa menandingi diriku termasuk Allia!"
"Cukup!" bentak Alvino membuat Sheila terdiam.
Alvino menatap Allia yang diam menatapnya dengan seragam sekolah yang basah. Alvino menyiratkan pada Devan untuk membawa Allia pergi dari kantin.
Devan memegang tangan Allia dan menariknya pergi dari kantin. Itu membuat banyak pasang mata yang memperhatikannya karena seorang Devan berjalan bersama Allia dengan memegang tangannya. Termasuk Arka, dia menatap kepergian Devan dan Allia yang leegi dari kantin.
"Jawab pertanyaanku Al!"
Memastikan Allia dan Devan sudah tidak ada, Alvino kembali menatap Sheila tajam. Sheila memperhatikan apa yang akan Alvino lakukan.
Tangan Alvino bergerak mengambil gelasnya yang sama sekali belum diminum olehnya dan dengan cepat menumpahkan isi gelas itu tepat pada muka Sheila yang langsung basah hingga bajunya. Alvino menaruh gelasnya dengan tenang tanpa mempedulikan semua orang yang menatapnya kagum. Alvino melakukan apa yang Sheila lakukan pada Allia.
Sheila mengusap wajahnya yang basah. "Al!"
"Jangan menggangguku atau Allia, kau mengerti?" ucap Alvino datar.
Sheila menatap Alvino geram dan hendak menjawabnya namun Alvino kembali bicara.
Clara sangat terkejut saat Alvino meraih tangannya dan menyatukannya dengan tangannya sendiri.
"Dan satu lagi. Kau bukanlah pacarku!" Alvino menggenggam sebelah tangan Clara dan menunjukkannya pada Sheila.
Alvino menatap Clara. "Dia adalah pacarku."
Sheila membulatkan matanya. Semua orang yang menyaksikan itu melongo saat mendengar pernyataan Alvino. Geo sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak.
"Dia benar-benar pacarmu?" ulang Sheila.
Alvino mengangkat satu alisnya tanpa menjawab pertanyaan Sheila. dan itu membuat Sheila marah dan hendak menghampiri Clara.
Alvino berdiri di depan Clara untuk menghalangi Sheila.
"Jangan dekati dia," ucap Alvino penuh penekanan.
Alvino menarik tangan Clara dan ke luar dari kantin meninggalkan Sheila yang menatap punggung mereka dengan rasa marahnya.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu," ucap Geo.
"Kenapa tidak? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau dan kau tahu itu, Geo."
"Clara adikku," ucap Geo membuat Sheila membulatkan matanya.
"Jadi, Clara benar adikmu?" tanya Sheila memastikan.
Geo mengangguk.
"Tapi, kenapa Allia memanggil Alvino dengan namamu dan juga sebaliknya?" Sheila ingin tahu apa yang terjadi hingga melihat sikap Allia yang aneh kepada Alvino.
"Allia lupa ingatan," jawab Geo.
"Lupa ingatan?!" kaget Sheila dan Mona bersamaan.
"Lupa ingatan?" gumam Arka pelan.
Pantas saja Allia bersikap aneh saat dia dan Devan datang ke kantin dan mengajaknya makan bersama. Arka juga ingat saat Allia memanggil Geo dengan sebutan "Kak Al" dan tersenyum pada Geo.
"Apa kau juga marah kepadaku?" tanya Sheila.
"Tentu saja, dasar bodoh." Geo meninggalkan mereka semua.
Seketika kantin menjadi hening. Murid-murid mulai meninggalkan kantin. Sheila memikirkan perkataan Geo barusan. Kemudian satu sudut bibirnya terangkat.
"Kenapa kau tersenyum, Shei?" Mona menatap Sheila dengan seragam sekolahnya yang basah.
"Tidak. Cepat hubungi Daddy dan suruh untuk membawakan seragamku ke sini sekarang juga!"
"Baiklah." Mona mengambil ponselnya dan mulai menelepon Daddy-nya Sheila.
"Gara-gara mereka bajuku basah. Awas saja, aku akan membalas mereka semua!" ucap Sheila pelan.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...