Couple AL

Couple AL
Khawatir


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Alvino membawa Allia ke rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Sepanjang perjalanan Alvino merasa khawatir pada adiknya itu.


Sesampainya di rumah sakit, Alvino langsung memanggil-manggil dokter dan suster. Tidak lama beberapa perawat laki-laki dan perempuan datang dengan membawa brankar agar Alvino bisa menidurkan Allia di sana. Mereka mendorong brankar itu ke suatu ruangan periksa yang di mana sudah ada dokter di dalamnya.


Saat Alvino ingin ikut masuk ke dalam ruangan itu, seseorang menahannya.


"Maaf, Anda tidak diperbolehkan masuk selagi dokter memeriksa keadaan pasien," ucap seorang wanita yang Alvino tebak adalah seorang suster.


Dengan lemah Alvino mengangguk. Kemudian Alvino mulai melihat suster itu menutup pintu ruangannya. Alvino bertengger pada dinding, di pikirannya hanya ada Allia saja. Dia tidak akan memaafkan Dimas jika sampai sesuatu terjadi pada Allia.


Lima menit berlalu, pintu ruangan Allia masih belum ada tanda-tanda akan terbuka. Alvino melihat lewat jendela kecil yang menempel pada pintu, dia melihat Allia dikelilingi oleh beberapa orang di sekitarnya. Satu dokter laki-laki yang sedang memeriksa luka di kepala Allia, dua orang suster dan satu orang perawat laki-laki.


Kemudian Clara dan Geo datang, setelah mencari ruangan Allia, mereka menghampiri Alvino yang terlihat khawatir.


"Allia di mana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Clara.


Alvino menoleh, dia tidak mengetahui jika Clara dan Geo akan mengikutinya ke rumah sakit.


"Masih di dalam," jawab Alvino sekenanya.


Geo memilih untuk duduk di kursi sambil memainkan ponselnya dari pada berdiri seperti Clara dan Alvino. Ada yang berbeda, Geo merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Seperti merasa khawatir dengan kondisi Allia.


Tidak lama setelah itu pintu ruangan terbuka menampakkan dokter yang tadi mengobati Allia. Alvino menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok?"


"Dia adikmu?" tanya Dokter yang langsung diangguki oleh Alvino.


"Sekarang adikmu baik-baik saja. Dia akan dipindahkan ke ruangan lain untuk sementara," papar Dokter.


Alvino bernapas lega mendengarnya. Kemudian Alvino memesan ruang VIP untuk Allia. Dia tidak mau sampai Allia merasa tidak nyaman dengan sekelilingnya.


"Syukurlah."


Clara tersenyum mendengar kabar baik jika Allia baik-baik saja. Kemudian dia menengok pada Geo yang masih duduk sambil memainkan ponselnya. Clara berjalan menghampiri Geo.


Geo mendongkak merasa ada seseorang di depannya.


"Apa Cla?" tanya Geo.


Clara memberi kode pada Geo agar melihat ruangan Allia lewat matanya.


Awalnya Geo tidak mengerti. Namun saat dia menoleh ke ruangan Allia, di sana terlihat brankar Allia ke luar dari ruangannya yang di dorong oleh beberapa orang seakan akan di pindahkan. Alvino berjalan mengikuti dari belakang.


Saat brankar itu melewatinya, Geo bisa melihat Allia dengan mata tertutup. Namun yang dilihatnya Allia seperti sedang tidur nyenyak.


"Mau ke mana mereka?" tanya Geo dengan pandangannya yang masih melihat Allia yang didorong.


"Kak Geo ikuti mereka," suruh Clara.


"Ayo," ajak Geo sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Tidak, Kak Geo sendiri."


Geo menatap Clara seolah meminta penjelasan. Clara yang mengerti langsung memberitahukan alasannya.


"Cla mau cari makan di sekitar sini," jelas Clara.

__ADS_1


"Kau lapar Cla? Ya sudah, kita makan saja. Aku juga merasa lapar," kata Geo lalu menarik pergelangan tangan Clara.


Clara menggeleng. "Makanannya bukan untukku, tapi Allia."


"Baiklah, tapi aku juga lapar Clara. Sekarang aku akan ikut denganmu saja," kata Geo tetap ingin ikut bersama Sang Adik.


"Tidak enak kalau kita berdua meninggalkan mereka. Salah satu dari kita harus tetap menemani mereka. Nanti Cla bawakan makanan untuk Kak Geo juga." Clara menatap Geo seolah meminta agar Geo tidak keras kepala untuk saat ini dan mau menuruti keinginannya.


Geo terdiam sejenak. "Baiklah."


Jika dipikir kembali, ucapan Clara memang benar. Salah satu dari mereka harus menemani Allia dan Alvino. Jika tidak kakak beradik itu akan berpikiran buruk padanya dan Clara. Setelah itu mungkin yang terjadi adalah Geo dan Clara akan diusir dari rumah mereka. Pikir Geo berlebihan.


...*****...


Allia sudah dipindahkan ke ruangan yang sudah Alvino pesan. Sekarang tinggal menunggu waktu kapan Allia sadar dari tidurnya.


Alvino duduk di samping Allia yang sedang terbaring, dia menatap Allia dengan tangannya yang tidak lepas untuk menggenggam tangan Allia.


Tidak lama pintu ruangan terbuka. Seorang suster masuk ke dalam dan menghampiri Alvino. Suster itu melihat Alvino canggung seolah terpanah melihat ketampanan Alvino. Baju basket masih melekat di tubuh Alvino membuat kesan keren untuknya.


"Apa kau keluarga dari pasien?" tanya Suster sedikit gugup.


Alvino mengangguk.


"Dokter menyuruhmu untuk mengisi data dari pasien, kau bisa ikut denganku ke bagian administrasi sekarang."


Alvino menatap Allia sebentar, masih tidak ada tanda-tanda jika Allia akan terbangun. Kemudian matanya menangkap Geo yang sedang duduk di kursi sofa sambil memainkan ponselnya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu Suster."


Alvino menatap Geo tidak yakin. Apa dia harus mempercayai Geo untuk beberapa menit ke depan selama dia mengurus administrasi Allia?


"Apa kau bisa menjaga Allia sebentar?"


"Baiklah," sahut Geo melirik Allia sekilas.


"Jangan lakukan apapun pada adikku, kau mengerti?"


Geo menaikkan satu alisnya. Kenapa Alvino berbicara seperti itu? Apa selama ini dia terlihat seperti seorang penjahat hingga Alvino mengingatkan dirinya? Meski begitu Geo mengangguk.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan melakukan apapun."


Sebenarnya Alvino lebih percaya jika Clara yang menjaga Allia. Tapi, Alvino tidak menemukan keberadaan wanita itu di sini. Apa dia harus menanyakannya pada Geo? Walau ragu, Alvino tetap menanyakan hal itu pada Geo.


"Di mana Clara?" tanya Alvino.


"Beli makanan di sekitar sini," jawab Geo.


"Baiklah."


Geo merasa heran, Alvino terlihat sangat tidak percaya kepadanya sampai menanyakan Clara di mana. Mungkin setiap kali Geo dan Allia bertemu, Geo akan membuat Allia marah dan kesal. Tapi untuk sekarang Geo bisa berpikir jika bukan waktu yang tepat untuk menjahili Allia. Karena percuma saja, wanita itu tidak akan marah. Mungkin Geo akan melakukannya setelah Allia bangun.


Kemudian Geo melihat Alvino ke luar dari ruangan itu, diikuti suster di belakangnya meninggalkan Geo dan Allia berdua.


Geo menatap Allia penasaran. Kenapa Allia masih belum bangun juga? Padahal Allia hanya terbentur bola basket saja. Namun Geo bisa mendengar suara saat bola itu mengenai kepala Allia. Suaranya sangat jelas terdengar di telinganya.


Perlahan Geo berjalan mendekati Allia. Dia memperhatikan wajah cantik Allia. Tanpa sadar tangan Geo menyentuh dadanya sendiri.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Geo pada dirinya sendiri.


Geo bergidik ngeri. Sepertinya tubuhnya seperti merasakan sesuatu saat di dekat Allia. Geo menoleh saat mendengar dering ponsel seseorang yang jelas bukan miliknya. Geo mengira ponsel itu berada pada tas Allia. Geo menghiraukan ponsel itu karena menurutnya tidak sopan jika menyangkut barang pribadi, sampai akhirnya ponselnya berhenti berdering.

__ADS_1


Geo mengernyit ketika kembali mendengar dering ponsel dari tas Allia. Ada rasa penasaran siapa yang menelepon Allia saat ini sampai menelponnya dua kali. Dengan perlahan Geo berjalan ke arah tas Allia. Dia membuka tas Allia dan mengambil ponselnya. Dia melihat tertera nama "Dev" pada layar ponsel Allia. Nama yang tidak asing. Sepertinya Geo pernah mendengar nama itu. Jarinya bergerak ke atas menerima panggilan tersebut.


"Al?" panggil seseorang di seberang sana.


Geo mengenali suara itu. Itu adalah suara Devan. Devan yang dingin dan datar kepada semua orang di sekolah. Untuk apa dia menelepon Allia? Geo jadi mengingat saat dia dan Clara tidak sengaja bertemu dengan Devan di suatu tempat makan. Dia juga mengingat saat Devan menatap Allia tanpa melihat sekitar jika ada seseorang yang memperhatikannya. Betapa dalamnya tatapan Devan saat itu. Apa Devan dan Allia mempunyai suatu hubungan? Atau mungkin akan mulai menjalin suatu hubungan?


"Al? Bagaimana keadaanmu?" tanya Devan.


Geo tersadar dari lamunannya saat Devan kembali memanggil nama Allia.


"Dia belum sadar, sekarang dia ada di rumah sakit." Geo menjawabnya dengan cepat.


Geo mematikan sambungan teleponnya secara sepihak saat tidak mendengar suara lagi dari telepon.


Geo menoleh saat melihat pergerakan dari tangan Allia. Geo menyimpan kembali ponsel Allia dan menghampiri wanita itu. Mata Allia terbuka dengan perlahan. Allia menatap Geo lurus. Kemudian Allia melihat sekitarnya dengan aneh.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Allia dengan suara seraknya kemudian meringis merasakan sakit di kepalanya.


"Kepalamu terbentur," sahut Geo.


Allia menatap Geo bingung.


"Kau siapa?"


...*****...


Alvino mengurus administrasi Allia dengan cepat. Saat Alvino mengisi data tersebut, banyak yang memperhatikannya. Termasuk para perawat wanita yang salah tingkah karena berhadapan dengan Alvino.


Alvino yang merasa terganggu segera menyelesaikannya dengan cepat agar segera pergi dari sana dan kembali ke ruangan Allia.


"Terimakasih," ucap Alvino sebelum pergi dari sana.


Kemudian ponselnya berdering, menandakan ada seseorang yang menghubunginya. Alvino berdecak kesal karena selalu saja ada gangguan untuk kembali ke ruangan Allia.


"Ada apa? Cepat katakan," tanya Alvino saat melihat yang meneleponnya adalah Rifki.


"Kita menang Kapten! Sekolah kita menang melawan mereka!" seru Rifki semangat.


Alvino terdiam sebentar. "Benarkah?"


Alvino sampai melupakan pertandingan basketnya karena terlalu khawatir pada Allia. Namun, untung saja Devan menggantikan posisinya. Alvino yakin Devan memecahkan rekor pada pertandingan basket di sekolah hingga mengalahkan tim basket SMA Galaksi. Alvino sangat bahagia mendengarnya. Karena dengan begitu, Dimas tidak akan berani macam-macam padanya juga Allia.


"Kapten, kenapa kau diam? Apa kau ada di sana?"


"Apa Dev yang—"


"Iya! Semua ini berkat Devan! Dia banyak memasukkan bolanya dengan waktu yang cepat." Rifki memotong ucapan Alvino.


Alvino sudah menduganya. Dia tahu Devan sangat ahli dalam bidang itu. Namun entah, rasanya Alvino tetap tidak mau jika Devan bergabung dengan tim basket sekolah.


Alvino mematikan sambungan teleponnya saat Rifki masih terus bicara. Dia harus kembali ke ruangan Allia secepatnya.


Saat dia mulai berjalan, dengan tidak sengaja Alvino menabrak seseorang. Beruntung dia tidak terjatuh.


"Maaf aku tidak melihatmu," ucap Alvino.


Mata Alvino membulat saat melihat yang dia tabrak adalah seseorang yang baru saja dia bicarakan dengan Rifki. Devan. Dia melihat Devan dengan kaos basketnya yang sama dengan yang dia pakai saat ini.


Devan tidak kalah terkejut saat melihat Alvino, namun laki-laki itu kembali menormalkan dirinya agar terlihat seperti biasa di hadapan Alvino.


"Allia di mana?"

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2