
...Happy reading ♡...
...*****...
Dua orang wanita lari dengan tergesa menuju toilet wanita, siapa lagi jika bukan Sheila dan juga Mona temannya. Mereka baru menyadari kesalahan mereka setelah Geo mengatakan jika toilet wanita adalah tempat umum yang siapa saja bisa masuk ke sana dan menemukan benda itu.
Setelah sampai, mereka sangat terkejut saat benda yang mereka simpan di tempat yang menurut mereka aman tapi ternyata saat dilihat benda itu tidak ada.
"Di mana alat pompa itu?!" seru Sheila marah. "Siapa yang sudah mengambilnya?!"
"Manusialah Shei," jawab Mona.
Sheila menatap Mona tajam. Otak temannya itu sangat tidak bisa diajak kompromi walau keadaan sedang membahayakan dirinya.
"Maksudku siapa yang menemukan benda itu dan mengambilnya dari sini!" bentak Sheila membuat Mona ber-oh ria.
"Oh ya, Shei. Sekarang bagaimana dengan tim basketnya? Mereka bisa latihan untuk perlombaan hari Rabu nanti? Dan bagaimana dengan semua rencana kita?" tanya Mona.
"Itu yang sedang kupikirkan, Mona bodoh!"
Keduanya mulai panik dan ingin mengetahui siapa yang sudah berani mengambil alat pompa itu dari toilet. Padahal mereka sudah membalutnya dengan keresek hitam agar tidak ada yang curiga dan mengambil alat pompa itu. Ternyata usaha mereka percuma saja.
"Apa kau sudah menaruhnya dengan benar?" tanya Sheila yang diangguki Mona.
"Aku menggantungnya di belakang pintu toilet," jawab Mona yang ternyata semakin mengundang amarah Sheila.
Mata Sheila membulat. "Mona kenapa kau ini sangat bodoh! Kenapa kau menyembunyikannya di sana! Kau lihat? Sekarang alat itu sudah tidak ada!"
"Aku tidak salah Shei. Aku kira di sana akan aman dan tidak ada yang melihatnya," ujar Mona.
"Sudahlah, kau ini memang tidak bisa apa-apa." Sheila membuang napas beratnya.
"Sekarang bagaimana dengan Alvino? Apa mereka yang menemukannya, Shei?"
Mulut Sheila terbuka. "Kau benar! Ayo kita ke lapangan sekarang!"
...*****...
Berkat Clara, Alvino dan tim basketnya dapat melakukan latihan. Wanita itu sudah menyelamatkannya dari masalah ini. Alvino tidak tahu jika sampai alat pompanya tidak ketemu. Apa yang akan timnya katakan kepada Alvino? Mungkin Alvino tidak masalah jika hari ini dia tidak mengikuti latihan. Tapi Alvino tidak mau sampai timnya kecewa kepada dirinya.
Allia dan Clara menunggunya di pinggir lapangan. Tidak sedikit juga dari siswa yang melihat latihan tim basketnya. Ada yang memang benar melihat bagaimana mereka latihan untuk pertandingan antar sekolah, ada juga yang ke lapangan hanya untuk melihat ketampanan Alvino dan mengagumi beberapa pemain basket lainnya. Pasalnya, semua pemain basket bisa dikatakan good looking. Karena itu mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melihat pangeran-pangeran dari sekolahnya.
...*****...
Sheila dan Mona sampai di lapangan. Mata mereka membulat melihat keberlangsungan latihan dari tim basket Alvino.
"Dengar, ini semua gara-gara kebodohanmu Mona!" ucap Sheila tajam.
"Tidak, ini bukan hanya kesalahanku. Tapi yang mengambil alat pompa itu juga salah Shei!" seru Mona tidak terima.
"Baiklah, apa kau tahu siapa yang mengambilnya?" tanya Sheila.
"Tidak Shei," jawab Mona. "Tapi kenapa kau marah kepadaku?"
"Kau masih bertanya? Aku marah karena aku tidak mengetahui siapa yang sudah mengambil alat pompanya, jika aku tahu siapa yang mengambilnya, aku tidak akan semarah ini kepadamu!"
"Sudah!" Geo datang dari belakang mereka dan melerai keduanya. "Apa yang terjadi?"
"Geo, ada yang mengambil alat pompanya," rengek Sheila menautkan tangannya pada Geo.
__ADS_1
"Aku sudah tahu," sahut Geo melepaskan tangan Sheila.
Sheila mengerutkan keningnya. "Dari mana kau tahu? Apa jangan-jangan kau yang sudah mengambil alat pompanya?" tuduh Sheila.
Geo memutar bola matanya malas. Sepertinya otak Sheila sudah tertular oleh temannya.
"Aku tahu karena melihat mereka latihan," ucap Geo sembari menunjuk tim basket yang sedang latihan dengan dagunya.
Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku kira kau yang mengambilnya," ujarnya.
"Lalu siapa yang mengambilnya?" tanya Mona.
Geo mengangkat kedua bahunya pertanda bahwa dia tidak mengetahuinya.
Dalam hatinya Geo bersorak sorai sekaligus ingin tertawa sekeras-kerasnya karena gagalnya rencana Sheila juga Mona. Awalnya Geo ingin memberitahu Alvino jika alat pompa itu berada di toilet wanita dan memberitahukan juga jika Sheila dan Mona lah dalang masalah itu. Tapi untung saja ada seseorang yang mengambil benda itu sebelum Sheila.
"Sudahlah, lihat saja jika aku sudah mengetahui siapa yang mengambilnya aku akan memberi dia pelajaran. Siapapun itu, termasuk jika Allia yang mengambilnya!" Sheila mengepalkan kedua tangannya sembari tersenyum miring.
Geo mengangkat satu alisnya. Memangnya apa yang akan Sheila lakukan jika dia sudah mengetahui siapa yang mengambilnya? Menyangkut Allia, bukankah Allia adalah adiknya Alvino, laki-laki yang Sheila sukai. Geo tidak percaya Sheila akan senekat itu.
"Sekarang aku akan mendukung Alvino agar dia menang di pertandingan nanti," ujar Sheila mendekati garis lapangan serta mengusir siswa-siswi yang menghalangi langkahnya agar lebih dekat dengan Alvino.
"Alvino semangat! Sheila cantik di sini!" teriak Sheila lalu tersenyum lebar melihat Alvino yang sedang bermain.
Lagi-lagi wanita itu. Alvino sangat malas meladeninya apa lagi melihat wajahnya. Alvino menghiraukannya dan tetap bermain dengan sebaik mungkin agar saat pertandingan nanti dia lebih menguasai permainannya.
"Yes! Kau memang hebat! Kalian lihat itu? Alvino pacarku memasukkan bolanya!" teriak Sheila lagi ketika melihat Alvino memasukkan bola basket dan mendapatkan poinnya.
Banyak yang melihat Sheila aneh. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut mendapat balasan yang lebih dari Sheila. Termasuk Clara. Ketika Sheila berteriak memanggil nama Alvino, Clara jadi berpikir jika Sheila menyukai Alvino. Terlihat jelas dengan sikapnya yang terang-terangan. Dia tahu jika Sheila dan temannya adalah kakak kelasnya. Allia yang memberitahunya. Dan kenapa Clara melihat Geo, Kakaknya itu berada di tengah-tengah Sheila dan Mona. Untuk apa Kakaknya ada di sana? Clara harus menanyakan itu pada Geo.
Peluit dibunyikan pertanda waktunya para pemain basket istirahat untuk beberapa menit sebelum latihan ke dua. Para pemain ke luar dari lapangan.
Keringat di wajah Alvino membuat Clara memalingkan wajahnya. Untuk kedua kalinya saat dia melihat Alvino seperti itu ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Tangannya bergerak mengeluarkan sapu tangan yang ada di dalam sakunya untuk memberikannya pada Alvino agar Alvino dapat membersihkan keringatnya.
Saat Clara menyodorkan sapu tangan itu, seseorang di belakang mendorongnya jauh dari Alvino seakan melarang Clara. Untung saja ada Geo yang datang dengan cepat dan menahan tubuhnya. Clara menoleh, ternyata Sheila lah yang sudah mendorongnya.
Sheila melebarkan senyumnya ketika sudah di hadapan Alvino. "Kau pasti capek ya? Mona cepat berikan kipasnya," perintah Sheila.
"Ini Shei." Mona memberikan kipas kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana.
"Kau sepertinya sangat kelelahan. Aku melihat kau bermain dengan sangat baik, aku yakin kau akan menang! Belum lagi semua bolanya tadi kempis, benar kan? Kasihan sekali calon pacarku ini," ucap Sheila tanpa sadar.
Sheila mengipasi bagian wajah Alvino. Alvino yang merasa terganggu mengambil alih kipas itu dan membuangnya ke tanah.
Satu alis Alvino terangkat ketika dia mendengar apa yang seharusnya tidak ke luar dari mulut Sheila. Karena tidak ada yang mengetahui permasalahan bola kempis selain Allia, Clara, Rifki dan Alvino sendiri. Jika Sheila juga mengetahuinya, maka Alvino tahu kalau wanita itulah yang melakukan perbuatan itu.
Tidak hanya Alvino, Allia dan Clara juga merasa aneh ketika mendengar ucapan Sheila. Geo menggelengkan kepalanya, sedangkan Mona tampak biasa saja karena belum menyadarinya.
"Kau tidak mau aku mengipasimu? Ah, aku tahu. Kau pasti kau tidak mau sampai Sheila yang cantik ini kecapean. Romantis sekali calon pacarku. Benar kan, Mon?"
Mona mengangguk. "Ya. Alvino kau romantis sekali!"
Sheila melihat wajah dan badan Alvino yang dibasahi dengan keringat. "Astaga, keringatmu! Aku akan membersihkan keringatmu. Mona berikan sapu tangannya!"
"Tutup mulutmu!" pungkas Alvino membuat Sheila terdiam. "Berhenti memanggilku seperti itu!"
"Kenapa? Sebentar lagi kita juga pacaran kan? Jadi kau adalah calon pacarku. Dan aku tidak mau melihat pacarku kelelahan," ujar Sheila.
Diam-diam banyak pasang mata yang melihat awal mula terjadinya keributan. Mereka yakin seratus persen jika Alvino akan membuat Sheila malu seperti biasanya.
__ADS_1
"Jawab satu pertanyaanku." Alvino maju langkah.
Sheila tersenyum mendengarnya. Sheila yakin Alvino akan menyatakan perasaan untuknya. Sheila menyiapkan dirinya agar saat Alvino menyatakan perasaannya dia tetap terlihat cantik.
"Apa?" tanya Sheila tidak sabar.
"Kenapa kau melakukan itu?"
Sheila mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Bola basket!" tukas Alvino.
Mata Sheila membulat sempurna. Hanya dua kata yang Alvino ucapkan, tapi Sheila tahu apa yang dimaksud dari perkataan Alvino. Seakan dijatuhkan dari langit, Sheila tertampar oleh ekspetasinya. Dia mengira Alvino akan menyatakan perasaannya, tapi sekarang Sheila gelagapan untuk menjawab pertanyaan Alvino.
"Bola apa yang kau maksud? Aku tidak tahu apa-apa tentang bola basket itu." Sheila melirik Mona yang hanya diam. Sheila menatap Mona tajam sebelum kembali tersenyum pada Alvino.
Para pemain basket yang lainnya berjalan mendekati Alvino, melihat banyaknya orang yang berkumpul di sana.
"Ada apa Al?" tanya Reno -salah satu anggota basket- mewakili yang lainnya.
Alvino menatap Rifki. Rifki yang mengerti dengan tatapan matanya langsung menceritakan semua yang terjadi di hadapan semua orang. Semua orang yang mendengarnya kaget tidak percaya.
"Semua bola basketnya kempis? Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana jika ini terjadi saat pertandingan nanti?" tanya Reno beruntun.
Alvino menoleh pada Sheila dan temannya yang diam tidak berkutik. "Kau tanya saja pada mereka kenapa mereka melakukan itu."
"Jadi mereka yang melakukannya?" Reno menatap Sheila. "Kenapa kau melakukan itu? Tega sekali, padahal ini adalah pertandingan penting untuk sekolah kita. Benarkan teman-teman?"
"Ya, benar! Benar!"
Banyak yang menyoraki Sheila dan Mona. Ada pula yang mengatainya tidak punya hati. Sheila yang tidak terima dirinya dipermalukan langsung menyuruh mereka untuk diam.
"Diam! Jangan ada yang berani bicara lagi!" teriak Sheila lantang.
"Alvino lihat, teman-temanmu jahat sekali," adu Sheila memegang lengan Alvino.
Alvino menepisnya kasar. "Dengar, jika kau melakukan ini lagi, kau akan lebih malu dari pada ini."
"Sekarang pergilah!"
Sheila mencoba memegang tangan Alvino lagi. "Aku tidak—"
"Pergi!" tekan Alvino.
Sheila yang takut segera pergi dengan cepat. Sebelum pergi dia menatap tajam sekelilingnya karena berani menyorakinya tadi. Mona mengikuti langkah Sheila yang berada di depannya. Mereka pergi dengan membawa malu.
Setelah puas dengan tontonan yang terjadi, orang-orang yang berkumpul di sana perlahan berkurang. Allia melihat sekitar, banyak yang melihat kejadian barusan. Ketika matanya menangkap sosok Geo yang kebetulan sedang menatapnya, Allia segera memalingkan wajahnya dengan cepat. Geo yang melihat itu tersenyum kecil.
Waktu istirahat habis dan para pemain segera memasuki area lapangan untuk melanjutkan latihan yang sempat terhenti. Saat Alvino ingin memasuki lapangan, Clara memanggilnya.
Clara menyodorkan sapu tangan yang harusnya dia beri tadi pada Alvino. Alvino menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Keringatmu," ucap Clara.
Sejenak Alvino terdiam, lalu mengambilnya.
"Terimakasih." Alvino mengusap pelipisnya sembari berbalik menuju ke lapangan untuk kembali latihan.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...