Couple AL

Couple AL
Rumah Kakek


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Sepulang sekolah Allia menunggu Alvino di parkiran sekolah karena Alvino harus mengurus sedikit urusan tentang tim basketnya. Sesuai dengan keinginan Allia, hari ini dia dan Alvino akan pulang ke rumah kakek.


Banyak murid yang berlalu-lalang keluar dari gerbang untuk pulang ke rumahnya masing-masing setelah seharian penuh belajar di sekolah.


"Hai," sapa seseorang pada Allia.


Allia melirik melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata Devan.


Allia sebenarnya tidak terlalu mengenal Devan, dia bisa mengenalnya karena Devan tidak sengaja pernah menumpahkan minuman pada Allia di kantin. Itupun di hadapan Alvino. Alvino langsung menarik kerah Devan dan memukulnya. Allia menghentikan pertengkaran itu dan menyuruh Alvino untuk tenang. Devan meminta maaf kepada Allia dan memberitahu bahwa dirinya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Allia memaklumi Devan, kemudian Devan menawarkan agar dirinya membersihkan baju Allia, tentu saja Alvino langsung menolaknya. Dari sana Allia mengenal Devan. Jika mereka bertemu Devan pasti akan menyapanya, kecuali bila ada Alvino, Devan hanya tersenyum saja pada Allia.


"Iya?" sahut Allia.


"Kau belum pulang?" tanya Devan.


"Aku sedang menunggu kakakku, kau sendiri belum pulang?"


"Arka baru mengumpulkan tugasnya, dia menyuruhku untuk menunggunya, menyusahkan sekali dia," ucap Devan dengan sedikit tertawa.


Allia tersenyum menanggapinya. Sangat jarang sekali dia melihat Devan tertawa. Setelah itu, terjadi keheningan beberapa saat.


Devan adalah siswa paling dingin di sekolah. Wajah tampannya yang datar tanpa ekspresi membuat para murid segan jika bertemu dengan dirinya. Meskipun begitu, banyak wanita yang menyukai dirinya. Dia adalah pemain basket yang handal setelah Alvino dan itu membuat para wanita semakin menyukai dirinya. Sayangnya, Devan tidak mengikuti tim basket di sekolah. Karena jika bertemu dengan Alvino, akan terjadi perang dingin diantara mereka berdua. Sedangkan Alvino adalah kapten tim basket di sekolah.


"Dev, ayo, aku sudah selesai." Suara itu terdengar menuju ke arah Allia dan Devan dan memecahkan keheningan yang sempat terjadi.


Allia dan Devan bisa menebak jika itu adalah suara Arka. Arka adalah teman Devan. Kelas mereka bersebelahan dengan kelasnya couple Al.


"Lama," ucap Devan pada Arka.


"Aku melihat lapangan sebentar tadi, ternyata anak basket sedang berkumpul," ucap Arka.


Devan melihat ke arah Allia dan Arka mengikuti pandangan Devan. Dia batu sadar ternyata Devan sedang bersama Allia.


"Eh, ada Allia," Arka sedikit terkaget.


Allia tidak menjawab, hanya sedikit tersenyum.


"Kau sedang menunggu kakakmu, ya, Al?" tanya Arka.


"Menurutmu?" Bukan Allia yang menjawab tapi Devan.


"Menurutku dia menunggu Alvino, kakaknya," jawab Arka.


"Kenapa bertanya lagi kalau begitu?" ucap Devan lagi.


"Aku hanya sedikit berbasa-basi pada Allia."


"Lebih baik kau diam saja." Lagi-lagi Devan yang menjawab.


"Kenapa kau yang menjawab pertanyaanku? Aku bertanya kepada Allia bukan kepadamu, Dev." Arka terheran dengan temannya ini, tumben sekali Devan banyak bicara.


Devan terdiam. Devan baru menyadari bahwa dirinyalah yang menjawab pertanyaan yang Arka ajukan pada Allia.


Arka menatap Devan dan Allia secara bergantian. Senyum jahilnya muncul membuat Devan ingin memukul Arka. Allia yang ditatap seperti itu tidak mengerti dan merasa canggung sendiri, padahal dari tadi dirinya hanya diam.


Allia yang merasa tidak nyaman dengan keadaan ini memilih untuk menjemput kakaknya saja di lapangan daripada harus ditatap aneh oleh Arka.


"Aku akan menyusul kakakku," pamit Allia.

__ADS_1


"Hati-hati, Al," sahut Devan.


Allia tersenyum kepada Devan kemudian pergi dari sana.


Baru beberapa langkah, Alvino berjalan ke arah mereka bertiga. Alvino menatap tajam Devan. Devan yang ditatap seperti itu hanya diam. Alvino melewati Devan dan Arka untuk menghampiri Allia.


Allia tersenyum pada Alvino. Akhirnya kakaknya datang juga.


"Apakah mereka mengganggumu, Al?" tanya Alvino pada Allia.


Allia menggeleng. "Tidak."


Alvino mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian berkata, "Maafkan aku, Al. Aku harus mengurus timku dulu, kau pasti merasa bosan karena menungguku."


"Tidak. Kak Al, ayo kita pulang saja," ajak Allia.


Alvino mengangguk. Alvino menghampiri Devan dan Arka.


"Jangan berani mengganggu ataupun mendekati adikku." Alvino berbalik menghampiri Allia kembali setelah berkata seperti itu kepada Devan.


Alvino memakai jaket dan helmnya. Dia memakaikan helm terlebih dahulu pada Allia sebelum menyuruh Allia untuk segera naik. Setelah Allia naik, Alvino mengendarai motornya keluar dari gerbang sekolah sampai tidak terlihat dari pandangan Devan dan Arka.


"Apa kau mempunyai masalah dengan Alvino?" tanya Arka.


"Tidak."


"Kau yakin?" tanya Arka sekali lagi.


Devan tidak menjawab, dia memilih untuk meninggalkan Arka.


...*****...


Couple Al masih diperjalanan menuju ke rumah kakek yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah.


"Kita mampir makan dulu, Al," ucap Alvino sedikit berteriak agar Allia bisa mendengarnya.


Alvino meminggirkan motornya di sebuah cafe. Mereka memutuskan untuk membeli makanan.


Couple Al memasuki cafe tersebut. Cafe yang cukup bagus menurut mereka.


"Kau mau pesan apa, Al?" tanya Alvino.


"Al mau mie goreng ayam crispy sama minumnya hot chocolate," ucap Allia.


Alvino segera memesan pesanan mereka. Tidak lama kemudian, seorang waiters datang membawa pesanan mereka berdua.


"Ini pesanannya, selamat menikmati," ucap waiters sambil tersenyum.


"Terimakasih," ucap Allia menghargai.


"Panggil saja aku jika kalian membutuhkan sesuatu." Allia tersenyum dan mengangguk.


Waiters itu pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain. Waiters tersebut melayani couple Al dengan sangat baik.


"Kenapa tidak pesan makanan?" tanya Allia melihat kakaknya yang hanya memesan hot chocolate saja tanpa memesan makanan.


"Kakak sudah kenyang, aku akan makan di rumah kakek, kau makan saja makanannya, Al."


Allia makan dengan lahapnya, dan itu tidak lepas dari pandangan Alvino. Sambil menatap Allia yang sedang makan, Alvino menelepon seseorang.


"Assalamualaikum," ucap Alvino pada seseorang di sebrang telepon.

__ADS_1


"Al sama Allia akan ke rumah, tolong jangan memberitahu kakek, ya. Kita akan memberi surprise pada kakek." Alvino menelepon bibinya memberitahu dirinya akan ke sana tanpa sepengetahuan kakeknya.


"Iya, Tan. Kita sedang mampir makan dulu, sebentar lagi Al sama Allia akan segera sampai."


"Al tutup dulu teleponnya, wassalamu'alaikum." Alvino menutup teleponnya.


Allia sudah menghabiskan makanannya. Dia sedang meminum minumannya.


"Sudah habis? Cepat sekali," ucap Alvino.


"Al sangat lapar, hehe." Allia tertawa membuat Alvino menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mau tambah sesuatu?" tawar Alvino.


"Tidak, sekarang Al sudah kenyang."


"Cepat habiskan minumannya, kita harus cepat ke rumah kakek."


Sambil menunggu Allia menghabiskan minumannya, Alvino membayar seluruh total yang sudah dia dan Allia pesan.


"Sudah?" tanya Alvino saat kembali ke meja mereka.


Allia mengangguk sebagai jawaban.


Couple Al keluar dari cafe dan melanjutkan pekerjaannya yang hampir sampai.


Alvino menambah kecepatan motornya agar segera sampai ke tempat tujuan yaitu rumah kakek.


...*****...


Motor Alvino memasuki kediaman kakeknya, Prof. Glen. Rumah besar itu hanya diisi oleh Prof. Glen, satpam, dan asisten rumah tangga. Tapi, rumah itu sekarang tidak lagi sepi, karena sudah sekitar lima tahun yang lalu ada paman dan bibinya couple Al yang tinggal di sana untuk menemani Prof. Glen.


Suara motor Alvino yang sangat khas itu terdengar di telinga Prof. Glen yang kebetulan sedang duduk di kursi sambil membaca surat kabar. Prof. Glen sangat senang mengetahui kedua cucunya menjenguk dirinya setelah sekian lama.


Prof. Glen melihat kedua cucunya itu masuk secara sembunyi-sembunyi. Bibir lelaki paruh baya itu tersenyum. Dia mengetahui bahwa kedua cucunya pasti akan memberikan kejutan atas kedatangan mereka. Tapi sekarang dia sudah mengetahuinya, sayang sekali.


Prof Glen menghampiri mereka yang sudah bersiap-siap akan masuk, dia membuka pintunya. Seketika couple Al terkejut saat melihat sang kakek.


"Kakek!" seru keduanya.


Allia menutup mulutnya dan menatap tajam ke arah Alvino. "Kau bilang Kakek tidak tahu bahwa kita akan ke sini!"


Alvino terbengong bingung harus menjawab apa. Dirinya juga tidak tahu kenapa kakeknya bisa mengetahui dirinya akan datang.


"Aku sudah menelepon Tante agar tidak memberitahukan kepada Kakek jika kita akan ke sini," bela Alvino pada dirinya sendiri.


"Lalu, kenapa Kakek bisa tahu sekarang?" tanya Allia sedikit kesal karena gagal memberi surprise.


"Kakak tidak tahu, Al."


Prof. Glen yang sedari tadi melihat pertengkaran cucunya tersenyum. Dirinya jadi teringat anak dan menantunya —Orang tua couple Al- yang jika bertengkar seperti anak kecil.


"Sudah, jangan bertengkar. Kalian ini sudah besar." Prof. Glen menyuruh mereka agar tidak bertengkar.


"Kak Al nyebelin, kek." Allia memberenggut.


"Kenapa jadi aku?" tanya Alvino.


Allia tidak menjawab dan membuang mukanya ke arah lain.


Prof. Glen menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua cucunya yang semakin besar tapi masih berperilaku seperti kanak-kanak kemudian berkata, "Kalian tidak mau memeluk kakek?"

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2