Couple AL

Couple AL
Devan?


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Alvino dan Tama mencari-cari Allia di sekitar tempat makan, tapi nihil, mereka tidak menemukan Allia di sana. Mereka sangat khawatir, sudah setengah jam mereka mencari Allia tapi belum juga ketemu.


Alvino merutuki dirinya sendiri kenapa tidak menemani Allia saja tadi, dan malah mempercayai Allia jika Allia akan segera kembali.


Tama dan Alvino berpencar ke arah yang berlawanan agar Allia segera ditemukan. Tama ke tempat pakaian, Alvino ke tempat permainan dan makanan. Tama mengelilingi semua toko pakaian di mall kemudian menghubungi satpam di mall untuk memberitahu dirinya sedang mencari seseorang, satpam pun membantu Tama mencari Allia.


Alvino bertanya pada setiap orang yang dia temui apakah ada yang melihat Allia sambil memperlihatkan foto Allia. Setiap orang yang Alvino tanyakan tidak melihat allia, Alvino hampir menyerah. Rasanya dia ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan Allia, sudah cukup dia kehilangan kedua orang tuanya.


Tama datang menghampiri Alvino dengan satpam di sebelahnya.


"Kau sudah menemukan Allia?" tanya Alvino.


Tama menggeleng. Alvino meremas rambutnya sendiri dengan keras.


"Allia kau di mana?!" teriak Alvino kencang dan langsung terduduk di lantai.


Tama berjongkok, berusaha menenangkan Alvino.


"Kau jangan begini, Al. Kau terlihat seperti orang yang tidak waras, lihatlah, orang-orang melihat kita dengan aneh. Kita pasti menemukan Allia. Kita harus terus mencarinya, Al. Kau akan bersama kembali dengan Allia, asalkan kau yakin."


Ingin sekali Alvino merobek bibir Tama yang dengan tenangnya berbicara seperti itu. Tapi, ucapan Tama benar, dia harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa dia bisa menemukan Allia.


Alvino berdiri. Dia akan mencari Allia sampai ketemu.


"Kita berpencar lagi, aku akan ke arah sana."


Saat Alvino melangkah, terlihat Allia sedang berjalan dengan senyuman yang lebar. Tapi Allia tidak sendiri datang sendiri, melainkan bersama seseorang yang tidak asing lagi bagi Alvino. Devan. Seketika banyak pertanyaan muncul di pikiran Alvino. Bagaimana Allia dan Devan bisa bertemu? Kenapa mereka bisa bersama? Dan satu lagi yang paling Alvino tidak mengerti, bagaimana bisa Allia kembali dengan senyuman di wajahnya dengan membawa paper bag yang begitu banyak di tangannya? Sedangkan Alvino, dia mengkhawatirkan Allia yang menghilang sampai membuatnya putus asa. Sehebat itu Allia.


Alvino langsung memeluk Allia dengan erat. Perasaan marahnya seketika menghilang saat sudah bertemu dengan Allia. Allia merasa sedikit bingung, walau begitu, Allia tetap membalas pelukan kakaknya.


Tama bernafas dengan lega. Dia menghampiri lelaki yang datang bersama Allia.


"Kau siapa?" tanya Tama.


"Namaku Devan," sahut Devan sedikit tersenyum menghormati Tama yang notabenenya adalah orang yang lebih tua dari dirinya.


"Aku tidak bertanya namamu. Kenapa kau bisa bersama Allia? Atau jangan-jangan kau ingin menculiknya?" Tama menarik kerah baju Devan.


"Ti-tidak, aku--" Devan terkejut.


Allia melepas pelukan dari Alvino dan lari ke arah Tama yang terlihat ingin memukul Devan.


"Kak Tama, apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" Allia berdiri di hadapan Devan.


"Minggir, Al. Aku akan menghabisinya. Berani-beraninya dia membawa adikku tanpa sepengetahuanku." Tama terbawa emosi.


"Tidak, jangan lakukan apapun kepadanya!"


"Siapa dia? Kenapa kau baru kembali? Apa kau tidak tahu kakakmu Alvino sangat mengkhawatirkan dirimu, Al!" bentak Tama tidak bisa mengontrol emosinya.


Allia menunduk, dia merasa takut. Dia sadar dirinya sudah melakukan kesalahan.


"Jangan bentak Allia di hadapanku," ujar Alvino dengan muka datarnya.


Alvino menghampiri Allia, memegang tangan Allia. Dia memegang dagu Allia agar menatapnya. Allia menatap Alvino dengan takut dan rasa bersalahnya. Alvino tersenyum pada Allia membuat Allia semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Kita pulang."


Allia mengangguk dan melirik ke arah Devan sebentar. "Terimakasih dan maaf."


Devan tersenyum kemudian mengangguk.


Mereka pergi meninggalkan Devan sendiri. Devan segera kembali melanjutkan aktivitasnya.


...*****...


Tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Mereka bertiga saling diam satu sama lain. Tama masih sedikit kesal, Alvino yang tidak dimengerti karena mukanya yang datar, dan Allia yang mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


Allia berdeham. "Kak Al, Al minta maaf."


"Aku sedang fokus menyetir, Al."


Allia menghembuskan nafas beratnya. Allia tahu, Alvino sangat marah kepadanya maka dari itu Alvino mendiaminya dari pada mengeluarkan amarahnya kepada Allia. Allia melirik ke arah Tama yang berada di sebelahnya. Tama memainkan ponselnya tanpa melihat Allia yang memperhatikannya. Fix, mereka marah kepada Allia. Allia harus melakukan sesuatu agar mereka memaafkannya dan kembali seperti semula.


...*****...


Mereka sampai di rumah. Alvino turun dari mobil tanpa mengatakan apapun. Tama juga melakukan hal yang sama seperti Alvino. Tapi, sebelum keluar dari mobil, Tama sempat melirik Allia sekilas. Kemudian dia menutup mobil dengan keras.


"Aku harus melakukan apa agar mereka tidak marah lagi kepadaku?" tanya Allia pada dirinya sendiri.


"Ayo Al, berpikirlah." Allia mencoba berpikir keras berharap menemukan ide di kepalanya.


Sudah 5 menit Allia berpikir, tapi dirinya belum mendapatkan ide.


"Aku akan masuk, dan melanjutkan berpikir di dalam rumah saja." Allia mengambil semua paper bag yang dia bawa dari mall.


Allia keluar dari mobil yang menjadi saksi keheningan mereka tadi dan masuk ke rumah kakeknya. Di ruang tamu, Allia melihat Tante Liza yang sedang menonton televisi. Allia menghampirinya dan menyalami Tantenya itu.


Allia mengangguk. "Iya. Al, Kak Al, dan Kak Tama baru saja pulang dari mall."


"Tapi kenapa mereka berdua masuk duluan tanpa mengatakan apapun?"


Allia menceritakan semuanya pada Tante Liza. Tante Liza mengangguk paham.


"Sudah, Al. Mereka tidak mungkin marah lama-lama kepadamu, apalagi kakakmu Alvino." Tante Liza tersenyum.


"Al harap begitu, Al akan meminta maaf kepada mereka."


"Bagus."


Allia teringat sesuatu. Dia mengambil salah satu paper bag yang dia bawa dan memberikannya kepada Tante Liza.


"Apa ini?" tanya Tante Liza.


"Al membelikan sesuatu untuk Paman dan Tante, semoga kalian menyukainya."


"Wah ... Baik sekali keponakan Tante, terimakasih cantik."


Allia tersenyum. "Al akan ke kamar dulu."


Tante Liza mengangguk.


"Eh, Kakek ada di mana?"


"Kakek sedang pergi menemui temannya bersama pamanmu. Mungkin mereka akan pulang malam."

__ADS_1


Allia mengangguk dan pergi ke kamarnya.


...*****...


Allia menaruh barang belanjaannya di kursi. Dia merebahkan tubuhnya dan melihat ke langit-langit kamarnya. Dia memikirkan kejadian di mall tadi.


Suara ponsel menyadarkan dirinya. Allia bangun dan mengambil ponselnya. Ternyata ada satu pesan dari nomor yang tidak diketahuinya.


+62832159754


Al?


Allia tidak membalas pesan itu. Dia takut itu adalah nomor nyasar yang sekedar bermain-main. Saat Allia ingin menaruh ponselnya, dia kembali menerima satu pesan lagi dari nomor tadi.


+62832159754


Aku Devan.


Ternyata Devan yang mengirimnya pesan. Allia berpikir sebentar, lalu menyimpan nomor Devan dan membalas pesannya.


^^^Iya?^^^


Tidak lama Allia mendapat balasan dari Devan.


Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja.


Allia sedikit bingung dari mana Devan mengetahui nomornya.


^^^Aku baik.^^^


Bagaimana dengan kakakmu Alvino?


^^^Dia mendiamiku.^^^


^^^Kau tidak perlu khawatir,^^^


^^^aku akan meminta maaf kepadanya.^^^


Maafkan aku.


"Maaf soal apa?" gumam Allia pada dirinya sendiri dan membalas pesannya.


^^^Untuk apa?^^^


Alvino jadi marah kepadamu.


"Kenapa dia harus meminta maaf?" gumam Allia lagi.


^^^Itu bukan salahmu.^^^


^^^Oh, iya. Terimakasih dan maaf sekali lagi.^^^


Sama-sama :)


Allia tidak membalas pesan terakhir dari Devan. Dia berniat untuk menghampiri Alvino dan Tama untuk meminta maaf. Tapi pesan dari Devan membuat Allia bingung dari mana lelaki itu bisa mendapatkan nomornya.


...•••...


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...

__ADS_1


__ADS_2