Couple AL

Couple AL
Mengganjal


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Semua orang sudah terduduk manis di depan meja makan. Makanan sudah tersedia di depan mereka. Mulai dari nasi, sayur, ikan, lengkap dengan buah-buahan untuk cuci mulu tersedia di sana. Tinggal menunggu Prof. Glen untuk memulai makan malam bersama. Mereka takut terjadi sesuatu pada Prof. Glen karena belum keluar dari kamarnya.


Allia yang sudah tidak sabar ingin makan segera menjemput kakeknya itu.


"Kakek ke mana?" tanya Allia.


"Masih di kamarnya. Biar Tante lihat," ucap Tante Liza.


"Biar Al yang melihat kakek, Tante duduk saja."


Saat hendak ingin berdiri, Prof. Glen datang dari belakang Allia.


"Kakek, akhirnya kau datang juga. Kami semua sudah lama menunggumu, kami sudah lapar dari tadi," cerocos Allia.


"Kami atau kau yang lapar? Kenapa jadi kami semua yang kau sebut," protes Alvino.


"Kak Al!" Allia membulatkan matanya, menekuk kedua tangan di samping pinggangnya.


"Bukannya kau sudah makan sepulang sekolah? Sekarang kau sudah lapar lagi?" tanya Alvino.


"Sedikit, sih," cicit Allia dengan pipi yang bersemu karena menahan malu.


"Sudahlah Alvino. Biarkan Allia makan, kau ini sebagai kakak seharusnya tidak boleh sampai membiarkan adikmu kelaparan," ucap Tama membela Allia.


Allia tersenyum dan menjulurkan lidahnya pada Alvino.


"Diam, kau, Tama."


"Tidak sopan memanggil nama kepada orang yang lebih tua, benar, kan, Al?" tanya Tama pada Allia.


Allia mengangguk membuat Tama tersenyum.


"Kau tidak usah membuat suasana menjadi panas," ucap Alvino.


"Berhenti, sudah, jangan bertengkar. Al lapar mau makan." Allia menengahi.


Semua orang yang berada di meja makan menggelengkan kepalanya.


"Ajak Kakekmu untuk duduk, Al," suruh Paman Bram pada Allia.


"Kakek, ayo duduk," ajak Allia.


"Kakek sengaja baru datang biar cucu kakek kelaparan," ucap Prof. Glen membuat semua orang di meja makan tertawa.


Allia memegang perutnya dengan kedua tangannya. "Perut Allia butuh makanan, kakek gimana, sih."


"Ya sudah, mari kita mulai makan."


Mereka mengambil makanan sesuai dengan yang mereka inginkan.


"Al, kau makan yang banyak, ya." Tama mengambilkan banyak makanan untuk Allia.


Alvino yang melihatnya langsung menegurnya.


"Allia tidak boleh makan terlalu banyak, nanti bisa sakit perut. Kau ingat, kan, Al?" tegur Alvino memperingati Allia.


"Iya-iya. Al ingat, kok. Kak Tama, jangan terlalu banyak, perut Al akan sakit jika terlalu banyak makan." Tama mengangguk mendengar permintaan Allia.

__ADS_1


"Al mau ikannya," pinta Allia.


"Iya, akan aku ambilkan untukmu." Tama mengambil ikan goreng dan menaruhnya di piring Allia membuat sang pemilik piringnya tersenyum.


"Jangan lupa berdo'a dulu sebelum makan, agar makhluk lain tidak ikut makan bersama kita," sindir Allia saat melihat kakaknya ingin memakan suapan pertama dari makanannya.


Alvino yang tahu sindiran Allia untuk dirinya lalu berkata, "Aku sudah berdo'a, Al."


"Kita berdo'a bersama-sama. Berdo'a, dimulai."


Semua orang menundukkan kepalanya sejenak.


"Berdo'a selesai. Sekarang kita makan," tutur Allia.


Semua orang makan dengan tenang, kecuali Alvino. Dia menatap Allia yang berubah saat adanya Tama. Inilah salah satu alasannya malas ke rumah kakeknya jika Tama pulang dari Harvard.


...*****...


Makan malam telah selesai. Satu persatu dari mereka meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamarnya masing-masing.


"Kakek akan tidur duluan," ucap Prof. Glen kemudian memberi instruksi lewat matanya pada Alvino agar segera ke kamarnya untuk membahas sesuatu.


Alvino sedikit menganggukkan kepalanya pertanda dia akan segera menyusul setelah memastikan Allia sudah berada di kamarnya.


"Kami mengantuk, kami tidur duluan, ya, anak-anak. Ingat, jangan tidur terlalu malam, terutama kamu, Allia," ucap Tante Liza dan Paman Bram kemudian beranjak dari tempatnya menuju kamar mereka.


Tinggal tersisa couple Al dan Tama.


"Al, kau temani aku, ya. Malam ini film kesukaanku akan tayang," ajak Tama pada Allia.


"Tidak, Allia tidak boleh begadang. Apa kau tidak mendengar apa yang Tante Liza katakan barusan?" tanya Alvino.


"Ini hanya sebentar, Al. Biarkan adikmu menemaniku," bujuk Tama.


"Tapi, Kak Tama bagaimana?" tanya Allia sambil menoleh sebentar pada Tama.


"Aku yang akan menemaninya. Lagian, film itu tidak terlalu membosankan untukku," ucap Alvino agar Allia segera pergi ke kamarnya.


"Aku akan pergi ke kamarku. Kak Al, Kak Tama, jangan tidur terlalu malam, ya. Selamat menonton!"


Mereka mengangguk.


"Kak Tama, lain kali Al temani Kakak nontonnya, ya."


"Iya Allia adikku yang paling cantik," ucap Tama membuat Allia tersipu.


Alvino memutar bola matanya.


"Al ... Cepat tidur," peringat Alvino sekali lagi.


"Iya Kak Al bawel," ujar Allia kemudian segera pergi untuk tidur.


"Kau yakin akan menonton? Bukannya kau tidak suka menonton?" tanya Tama pada Alvino setelah Allia tidak terlihat.


"Tidak, itu hanya agar Allia segera tidur." Alvino berdiri dari duduknya.


Tama yang melihat itu tidak terima dirinya dibohongi oleh Alvino.


"Kau harus tetap menemaniku."


"Aku tidak tertarik sama sekali, filmnya sangat membosankan. Mereka hanya menayangkan manusia mati yang hidup kembali, kemudian manusia itu menyerang manusia lainnya," ucap Alvino yang sudah tahu film kesukaan Tama adalah zombie.

__ADS_1


"Kau tidak tahu sejarah zombie, makanya kau berbicara seperti itu."


"Kau menonton sendiri saja, aku mengantuk," ucap Alvino kemudian melangkah.


"Tapi bagaimana dengan zombie? Aku tidak mau menonton sendirian," ungkap Tama yang membuat Alvino menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


"Apakah kau takut?" tanya Alvino dengan mata yang memincing.


"Aku tidak takut. Aku hanya membayangkan bagaimana jika zombie itu keluar dari layar dan mengejarku saat aku sedang sendirian? Jika aku bersamamu, zombie itu pasti takut kepadamu dan tidak akan mengejar kita. Kau, kan, king of zombie," ucap Tama kemudian tertawa.


"Sialan. Kau nonton saja sendiri, aku tidak akan menemanimu. Hati-hati, jangan sampai zombie-zombie itu mengejar dan memakanmu." Alvino segera pergi meninggalkan Tama yang terus memanggil namanya.


...*****...


Alvino berjalan ke kamar Prof. Glen saat sudah memastikan Allia tertidur di kamarnya. Keadaan sudah aman. Tinggal mereka berdua saja.


"Kek?" panggil Alvino saat memasuki kamar Prof. Glen.


"Masuklah," ucap Prof. Glen.


"Maaf Al baru ke sini, Al melihat Allia dulu tadi," terang Alvino.


"Tidak apa-apa. Duduklah, Al."


Alvino duduk di kursi sofa yang tersedia di kamar Prof. Glen. Dia melihat isi kamar kakeknya yang ternyata tidak ada perubahan. Dari letak benda-benda sampai dia melihat foto keluarga besarnya. Di sana terdapat kakek, mama, papa, Allia, Tama, Paman Bram, Tante Liza, dan dirinya sendiri.


Alvino mengambil foto itu yang tersimpan di samping tempat tidur Prof. Glen. Alvino memperhatikan foto itu, didetik selanjutnya, Alvino menunduk, merindukan masa-masa indah yang pernah dia lewati bersama keluarganya saat masih kecil.


Prof. Glen mengerti perasaan Alvino saat ini. Dia menghampiri Alvino dan mengusap-usap pundak cucunya itu.


"Kau boleh mengenangnya dan merindukannya, tapi jangan sampai hal itu yang membuatmu lemah. Ingat, Al. Kau masih mempunyai Allia, adikmu. Kakek juga akan selalu mendukungmu," ucap Prof. Glen.


Air mata Alvino menetes. Alvino langsung mengusapnya. Kakek benar, dia harus kuat, demi Allia. Alvino mencoba untuk tersenyum.


"Al mau membicarakan sesuatu, Kek," ucap Alvino.


Prof. Glen mengangguk. "Bicaralah."


"Al baru saja mendapat informasi dari polisi yang sudah membantu Al menelusuri kejadian kecelakaan sejak lima tahun yang lalu, ternyata kecelakaan Mama dan Papa itu janggal, bukan murni kecelakaan."


Prof. Glen terkejut. "Maksudmu, Al?"


"Iya. Ada seseorang yang merusak mobilnya sebelum dipakai oleh Mama dan Papa untuk pergi mengunjungi rumah Kakek ini," jelas Alvino.


"Bagaimana kau tahu?"


"Polisi menemukan sebuah cincin dan potongan vidio dari ponsel Papa yang sudah rusak sebagai bukti. Untung saja masih bisa diperbaiki."


"Kau sudah melihat pelakunya?"


"Belum, ponselnya masih diperbaiki, kemungkinan sekitar satu sampai dua tahun lagi Al bisa melihatnya."


"Kakek akan mendukung apapun yang terjadi pada kalian," ujar Prof. Glen memberi semangat.


"Al yakin, Al bisa menemukan siapa yang sudah berani membuat Mama-Papa meninggalkan Al dan Allia untuk selamanya." Mata Alvino terpancar kebencian, Prof. Glen mengerti keadaan cucunya saat ini.


"Jaga adikmu, jangan sampai Allia tahu tentang ini atau dia akan bersedih lagi," peringat Prof. Glen.


Alvino mengangguk. Itu adalah tujuannya saat ini.


...•••...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2