Couple AL

Couple AL
Harapan Kecil


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Hampir putus asa dengan kenyataan. Singkatnya waktu sampai tidak terasa sudah lima tahun berlalu. Alvino merenung dengan menundukkan wajahnya. Tapi rasa penasaran dan rasa sayang kepada kedua orang tuanya lebih besar dari pada semuanya. Dia berada di kantor polisi. Sesuai janjinya di sampingnya ada prof. Glen yang menemaninya dan di hadapannya ada Pak polisi yang bekerja sama dengannya yang selalu membantunya selama lima tahun terakhir, Pak Dika.


Pak Dika yang berjabat sebagai kepala kepolisian dikenal dengan ketegasan dan keluwesannya dalam bekerja. Sudah banyak kasus yang dia tangani dengan hasil yang memuaskan. Sikapnya yang pantang menyerah membuat banyak orang percaya kepadanya, termasuk Alvino. Usianya sekarang hampir berkepala empat. Tidak terlalu tua, dan tidak muda juga. Seringnya berkomunikasi, Alvino merasakan kembali kasih sayang yang membuatnya teringat akan kedua orang tuanya.


"Kau anak yang cerdas dan bijaksana," ucap Pak Dika tiba-tiba membuat kepala Alvino yang asalnya menunduk menjadi menatap ke arahnya.


"Katakan saja kepadaku apa yang terjadi sebenarnya," kata Alvino seakan tahu ada yang ingin disampaikan oleh Pak Dika.


Pak Dika tersenyum melihat kepekaan Alvino. Cukup berat mengatakan hal ini kepada Alvino mengingat semangat Alvino yang sudah lima tahun bersamanya dan mempercayakan kasus orang tuanya padanya. Dia sudah menganggap Alvino sebagai anaknya sendri. Seharusnya kasus ini sudah terselesaikan sejak lama. Tapi ada hal ganjal yang membuatnya tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat karena sebuah pilihan yang bergantung pada dirinya.


"Kau tahu kan sudah berapa lama kita menjalani kasus ini? Lima tahun. Dan sampai sekarang kasus itu masih belum terpecahkan. Sebenarnya jasad orang tuamu tidak bisa dikenali saat diotopsi, karena akibat kecelakaan itu sangatlah parah. Pihak rumah sakit juga tidak yakin jika itu adalah jasad kedua orang tuamu."


Mata Alvino spontan membulat karena terkejut. Ternyata dugaannya benar. Jasad yang ada di mobil itu bukanlah orang tuanya. Ternyata masih ada harapan yang muncul di hatinya jika orang tuanya masih hidup, walau harapan itu sangatlah kecil, sekecil mungkin. Jika sudah meninggal pun Alvino ingin mengetahui siapa pelakunya dan apa penyebabnya. Sebab Alvino sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya.


Prof. Glen senang mendengarnya. Dia tidak menyangka usaha yang dilakukan Alvino selama ini begitu besar.


"Tapi ...," ujar Pak Dika menggantungkan ucapannya sembari menatap Alvino dan prof. Glen secara bergantian.


"Tapi apa?" Alvino menatap Pak Dika dalam.


"Kemungkinannya sangat kecil."


Alvino menghembuskan napas berat. Dia sudah menduga itulah yang terjadi. Dadanya sesak mendengarnya. Tapi itu tidak akan membuatnya menyerah begitu saja setelah perjuangannya selama lima tahun. Prof. Glen menepuk pundak cucunya agar tabah menghadapi tantangan yang ada.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kau tenang saja," ucap prof. Glen dengan senyumnya.


Alvino mengangguk.


Prof. Glen mengalihkan pandangannya pada Pak Dika. "Cucuku Alvino mengatakan kepadaku jika ada bukti-bukti tentang kecelakaan itu," ujarnya.


Pak Dika mengangguk. "Iya, itu benar. Semua bukti itu ada di tanganku Tuan. Sebuah cincin dan ponsel yang di dalamnya ada potongan video tentang tragedi kejadian," jelas Pak Dika.


"Cincin?" ulang prof. Glen.


"Iya."


"Bolehkah aku melihatnya?" tanya prof. Glen.


Pak Dika tersenyum. "Tentu saja Tuan, tunggu sebentar."


Setelah mengatakan itu, Pak Dika mengambil telepon seluler yang ada di ruangannya dan menelepon orang suruhannya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar pintu.


"Masuk." Pak Dika mengintruksikan agar orang itu masuk ke dalam ruangannya.


"Ini barang buktinya Pak," ucap orang itu dan menyodorkan dua amplop yang ternyata salah satu dari amplop itu di dalamnya berisi plastik kecil yang isinya adalah cincin. Pak Dika menyodorkan cincin itu prof. Glen tanpa membuka plastiknya.


"Terimakasih."


"Sama-sama, saya permisi Pak." Orang itu pergi dari ruangan itu setelah pamit kepada mereka.


Prof. Glen meneliti cincin tersebut. Matanya sedikit berair melihat cincin yang dia kenali. Itu adalah cincin yang diberikan olehnya kepada papa Alvino untuk menantunya. Cincin itu merupakan cincin turun temurun dari orang tuanya dan sudah lama cincin itu hilang setelah kecelakaan itu terjadi. Cincin polos dengan tiga permata kecil di tengahnya. Karena kecelakaan itu, dua permata diantaranya hilang dan hanya menyisakan satu permata saja.

__ADS_1


"Itu cincin Mama," lirih Alvino kembali teringat begitu cantiknya saat almarhum mamanya memakai cincin itu.


Saat prof. Glen ingin membuka plastiknya agar melihat cincinnya dengan jelas, Alvino langsung menahannya.


"Jangan dibuka Kek," larang Alvino.


"Kenapa?" tanya prof. Glen mengernyitkan dahi.


"Terdapat sidik jari di sana. Kita bisa menggunakannya sebagai bukti," terang Pak Dika dan prof. Glen mengangguk mengerti.


"Ya, baiklah. Dan tentang video yang kalian bicarakan itu ... Apa aku boleh melihatnya?" tanya prof. Glen lagi. Dia sangat penasaran dengan video apa yang dimaksudkan. Jika benar ada pelaku dari kecelakaan itu dan memang bukan murni kecelakaan biasa, dia ingin tahu siapa orang yang tega melakukannya sehingga mengorbankan anak dan menantunya. Karena ulah orang itu juga cucunya (couple Al) kehilangan kedua orang tuanya


"Aku sudah memindahkan video itu ke dalam memori karena ponselnya rusak parah. Potongan video itu hanya beberapa detik. Aku sendiri belum melihatnya, tapi mungkin kita bisa melihatnya sekarang. Bagaimana?" tanya Pak Dika pada keduanya.


"Baiklah."


Pak Dika membuka laptopnya kemudian mengambil sebuah memori yang ada di dalam amplop yang lainnya. Kepala kepolisian itu memasukkan memori itu ke dalam laptopnya dan menyambungkannya. Kemudian dia mencari video itu, setelah ketemu dia menunjukkan laptop itu ke hadapan Alvino dan prof. Glen.


"Kita lihat sekarang."


Pak Dika menekan tombol play, video itu berputar dengan tidak jelas. Dalam rekaman yang hanya berkisar 30 detik itu, mereka melihat keadaan di dalam mobil sangatlah gaduh. Mereka mendengar suara Mama Alvino berteriak minta tolong dan Papa Alvino berusaha mengontrol mobilnya agar berhenti. Tidak lama mobil masuk ke jurang dan Mama Alvino melemparkan ponselnya ke luar jendela dan tergeletak di jalan, ponsel itu terlindas oleh sebuah mobil yang membuat ponselnya rusak. Mobil itu meledak dengan sangat keras. Lepas dari kejadian itu, banyak orang yang datang ke sekitar daerah kejadian, polisi datang dan mengendalikan keadaan di sana.


Air mata menetes begitu saja. Harapannya hancur lebur. Alvino tidak kuasa menahan air matanya setelah melihat video tersebut. Dia menyesal karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya. Kenapa Alvino tidak ikut saja bersama mereka pada saat kecelakaan itu terjadi? Alvino merasa menjadi anak yang tidak berguna yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang tuanya. Di sisi lain Alvino sangat bersyukur masih ada Allia di sampingnya. Hartanya yang paling berharga dibanding semuanya adalah Allia. Hanya Allia.


Prof. Glen ikut menangis, tangannya langsung bergerak menghapuskan air matanya.


"Sudah, jangan menangis," ucap prof. Glen memegang tangan Alvino.


Alvino mengangguk dan menghapus air matanya. Dia harus kuat demi Allia.


"Terimakasih, berkatmu kami jadi tahu yang sebenarnya terjadi," ucap prof. Glen.


Pak Dika tersenyum ramah. "Itu adalah tugasku. Tidak hanya itu, aku ingin menyampaikan satu informasi penting lagi kepada kalian."


"Apa itu?"


"Ponselnya. Ponsel yang merekam video itu. Kita bisa melihat isi ponselnya sebelum waktu kejadian, apakah ada sesuatu di dalamnya seperti pesan atau nomor telepon terakhir yang dihubungi oleh orang tuamu. Kita bisa melacaknya agar lebih cepat menjangkau lokasi pelaku itu. Itu bisa menjadi bukti sekaligus petunjuk untuk kita."


Pak Dika menghembuskan napasnya. "Sayangnya ponsel itu rusak sangat parah karena terlindas oleh mobil. Tapi kalian tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya. Jika ponselnya sudah diperbaiki, aku akan memberitahu kalian."


"Usaha kita selama lima tahun akan segera terselesaikan Alvino." Pak Dika tersenyum, tapi dibalik hatinya dia merasa bimbang.


Alvino mengangguk dan ikut tersenyum. "Terimakasih, kau selalu membantuku selama ini. Aku tidak akan tahu semua ini tanpa bantuan darimu," ucap Alvino tulus dari hatinya.


"Kau sudah seperti anakku sendiri Al," ujar Pak Dika.


"Terimakasih sudah membantu cucuku," kata prof. Glen.


"Aku akan melakukan semuanya untuk kalian Tuan, karena ini adalah tugasku."


Pintu ruangan itu diketuk untuk kedua kalinya yang mengalihkan semuanya.


"Permisi Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucapnya.


"Baiklah, suruh dia untuk menunggu."


"Dia tidak mau menunggu, dia datang dengan seorang gadis cerewet. Sepertinya itu anaknya."


Kening Pak Dika mengernyit bingung. Siapa mereka? Berani sekali.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh pergi."


Orang itu mengangguk dan pergi dari hadapan mereka.


"Aku akan mengabari kalian jika ada informasi lain. Maaf, sepertinya aku harus melihat siapa mereka. Oh ya, satu lagi. Sampaikan kepada adikmu Allia jika dia sangat beruntung memiliki seorang Kakak seperti Alvino. Aku ke luar dulu, senang bertemu dengan kalian berdua Tuan Glen, Al." Pak Dika tersenyum kepada mereka sebelum ke luar dari ruangannya.


Alvino menatap prof. Glen yang tersenyum. "Dia benar. Kau harus ingat adikmu selalu, dia membutuhkanmu. Bahagianya bergantung kepadamu. Jika dia melihatmu seperti ini, dia kembali bersedih. Jangan mengingatkannya kembali tentang kecelakaan itu kepada Allia." Prof. Glen mengeluarkan petuahnya agar Alvino kembali semangat.


Alvino mengangguk dan sedikit tersenyum. "Terimakasih Kakek sudah mau datang ke sini."


"Aku adalah Kakekmu, tentu saja aku ingin membuat cucuku bahagia. Kakek akan terus mendukungmu Al."


"Lebih baik kau hubungi Allia dan tanya bagaimana keadaannya, apa dia sudah makan atau belum," saran prof. Glen yang langsung dipatuhi oleh Alvino.


Setelah berbicara dengan Allia lewat ponselnya, Alvino kembali bicara pada prof. Glen. "Sudah, dia baik-baik saja. Al akan pulang sekarang, Kakek mau mampir ke rumah?"


"Untuk sekarang Kakek tidak bisa. Kakek akan bertemu dengan Kakek Roy. Oh ya Al, bagaimana dengan cucunya Roy temanku? Apakah mereka nyaman tinggal di rumahmu dan sekolahmu?" tanya prof. Glen.


Alvino berpikir sejenak, menimang-nimang jawaban yang tepat untuk dikatakan kepada Kakeknya, lalu dia mengangguk "Mereka baik."


Tapi Alvino mau mereka ke luar saja dari rumah. Batin Alvino.


"Syukurlah jika tidak ada masalah."


Mereka ke luar dari ruangan Pak Dika. Saat ke luar, terjadi keributan di sana. Pak Dika mencoba mengusir seorang pria bersama anaknya yang kelihatan centil. Kening Alvino berkerut melihat seorang wanita centil itu ternyata wanita yang selalu mengejarnya ke mana-mana jika di sekolah. Sheila. Dia adalah wanita tersebut bersama Daddy-nya.


"Ada apa ini?" gumam prof. Glen melihat keributan yang yang terjadi.


"Shei tidak mau tahu Daddy, mereka harus dipenjara karena sudah menabrak Shei dan merusak heels mahal milik Shei," ujar Sheila dengan centilnya.


"Kau dengar apa yang anakku katakan? Cepat kau tulis laporannya dan penjarakan dia yang menabrak anakku."


"Apa kalian bercanda? Jangan membuang waktuku dengan laporan tidak berguna itu. Sebaiknya kalian pergi saja sebelum kalian yang aku masukan ke dalam sel tahanan." Kesabaran Pak Dika sudah habis meladeni dua orang di depannya.


Masalah sesepele itu harus dibesarkan dan berakhir dengan memasukan orang yang tidak bersalah ke dalam penjara? Alvino merasa jijik mendengarnya. Alvino tidak peduli, dia dan prof. Glen berjalan melewati kerumunan itu.


Saat ingin kembali marah, Sheila melihat laki-laki yang dipujanya. Senyumnya mengembang dan dia segera lari menghampiri Alvino. Sedangkan Daddy-nya terus berdebat dengan Pak Dika sehingga tidak menyadari jika anaknya lari membuntuti Alvino.


"Alvino!" teriak Sheila membuat langkah Alvino terhenti beberapa saat sebelum kembali berjalan dan menghiraukan panggilan dari Sheila.


"Alvino tunggu!" Sheila meraih tangan Alvino yang langsung dihempas oleh Alvino. Sheila tidak menyerah begitu saja, dia kembali memegang tangan Alvino kuat dan bergelayut manja tanpa tahu malu walaupun masih ada prof. Glen di sana.


"Alvino sayang, Kau tahu, ada orang yang jahat kepadaku maka dari itu aku ke sini untuk melaporkannya! Tapi aku senang karena bertemu denganmu di sini. Sepertinya kita memang berjodoh!" ucap Sheila semangat.


"Lepaskan tanganmu," tegas Alvino dengan muka datarnya membuat Sheila terpaksa melepaskan pegangannya.


"Pacarmu Al?" tanya prof. Glen.


"Kau siapa? Ya, aku adalah calon pacar Alvino. Kita terlihat cocok kan?" Sheila semakin membuat Alvino muak.


"Tidak penting Kek. Alvino pulang, sebaiknya Kakek juga cepat pergi dari sini." Alvino meninggalkan prof. Glen bersama Sheila.


Prof. Glen meneliti Sheila dari atas sampai bawah. Pakaiannya minim, dan tadi dia melihat wanita itu ribut di kantor polisi bersama orang tuanya.


"Jadi kau adalah Kakek Alvino?" tanya Sheila.


Dia merapikan rambutnya dan meraih tangan dengan prof. Glen.


"Halo Kek, kenalin namaku Sheila, calon pacar Alvino cucu Kakek."

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2