Couple AL

Couple AL
Menebus


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Allia merasa terganggu dengan suara bising di sekitarnya. Karena suara bel istirahat ke dua, akhirnya dia pun terbangun dari tidurnya. Allia mengucek pelan matanya dengan tangannya, mengumpulkan kesadarannya. Kala itu, setelah matanya mulai bisa melihat semuanya dengan jelas, Allia melihat Clara di sampingnya sedang duduk manis sambil memperhatikannya.


"Al, kau sudah bangun?" panggil Clara sambil tersenyum.


"Ehm," sahut Allia yang baru bangun, mengucek matanya lagi untuk memastikan.


Allia bingung, Ia ingat persis sebelum tidur Geo yang duduk di sampingnya. Itu pun Ia suruh ikut tidur juga agar tidak macam-macam terhadapnya. Tapi, saat dirinya terbangun dari tidurnya yang entah sudah berapa lama, Clara lah yang dia lihat. Bukan Geo.


"Kenapa?" tanya Clara saat merasa Allia seperti orang yang kebingungan.


Allia menggeleng dan mencoba untuk duduk. Dengan sigap Clara membantunya untuk duduk.


"Apa kepalamu sakit?" tanya Clara memastikan keadaan Allia.


"Tidak, hanya pusing sedikit."


Clara tersenyum mendengarnya. Bagaimana tidak, Allia tidur cukup lama. Mungkin itu efek kecapean karena sudah dikerjai oleh Geo. Clara sudah tahu semua yang terjadi kepada Allia dan Geo. Clara sangat tidak habis pikir, kenapa Kakaknya itu sangat suka mengganggu Allia? Padahal, saat di sekolah yang dulu, Geo jarang sekali dekat dengan wanita.


Clara mengambil segelas air hangat yang ada di sampingnya dan menyuruh Allia untuk meminumnya agar tenggorokan wanita itu tidak kering karena bangun tidur.


"Terimakasih, Cla," ucap Allia setelah selesai minum.


"Aku minta maaf atas kelakuan Kakakku kepadamu. Aku juga tidak mengerti kenapa dia selalu mengganggumu."


Allia pun menengok, dia memegang kedua tangan Clara sambil tersenyum.


"Itu bukanlah kesalahanmu, Clara."


"Tapi Al, jangankan dirimu, aku saja sebagai adiknya Kak Geo sangat bosan mendengar dia berulah lagi dan lagi kepadamu," ujar Clara.


"Mungkin itu jati dirinya yang tidak bisa dirubah," sahut Allia.


"Tunggu, apa kau menyadari sesuatu?" tanya Clara membuat kening Allia berkerut.


"Apa?"


"Apa mungkin Kak Geo melakukan itu semua karena dia menyukaimu? Maka dari itu dia selalu mengganggumu, agar menarik perhatianmu?" ujar Clara sembari memperhatikan wajah cantik Allia.


Mata Allia membulat, bisa-bisanya Clara berpikir jauh sampai ke sana. Allia menggelengkan kepalanya, jangan sampai itu terjadi. Allia tidak akan membiarkan itu sampai terjadi, untuk memikirkannya saja dia bisa membuatnya gila. Cukup, sudah cukup sebagai musuh saja. Allia bertekad akan membalas semua perbuatan Geo.


"Hei, apa yang kau katakan? Itu tidak mungkin dan tidak akan terjadi, ngaco sekali kau ini," jawab Allia.


Clara tertawa mendengarnya. Dengan arti lain, Allia menolak Geo. Sebagai adik yang baik, Clara turut kasihan dengan Kakaknya.


"Sudah, jangan membahas itu lagi. Di mana Kak Al?" Allia celingukan tidak melihat kehadiran Alvino sejak tadi.


"Dia sedang membeli makanan untukmu, sebentar lagi juga kembali."


Allia mengangguk dan memilih untuk menunggu Kakaknya kembali dengan membawa makanan untuknya karena tadi pagi Allia hanya minum sedikit air saja. Perutnya belum terisi makanan sedikit pun.


Tidak lama kemudian Alvino datang dengan membawa makanan untuk Allia. Allia pun segera makan dengan disuapi oleh Kakaknya yang sangat posesif kepadanya.

__ADS_1


...*****...


Ke luarnya Geo dari ruang UKS meninggalkan Allia yang masih tertidur bersama Clara. Ada perasaan tidak tega untuk membangunkan wanita di hadapannya. Geo memperhatikan wajah cantik Allia yang sedang tertidur, sangat tentram. Tidak seperti sudah bangun, pasti wanita itu akan marah jika mengetahui apa yang dia lakukan sekarang.


"Cantik, apa lagi jika sedang marah," ucap Geo lalu tertawa.


Sebelum pergi, Geo sempat mengirimkan pesan kepada Clara jika dia dan Allia sedang berada di UKS. Geo meminta Clara untuk menyusulnya dengan segera. Tidak mungkin dia akan meninggalkan Allia sendirian di tempat seperti itu. Clara datang dengan cepat, Geo menitipkan Allia pada Clara. Clara sempat menanyakan beberapa pertanyaan tapi tidak kunjung Geo jawab karena sedang buru-buru.


...*****...


Semua siswa sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Termasuk Allia. Saat Alvino selesai menyuapi makan, Allia meminta untuk kembali ke kelas. Tidak ada jalan lain selain mengabulkan permintaannya karena Allia merasa sangat bosan berada di ruangan serba putih yang berbau obat (UKS Sekolah).


Dengan diantar Clara sampai depan kelas, kedatangan Allia menarik perhatian satu kelas.


"Maaf ya, aku hanya bisa mengantarkan sampai sini saja, aku akan masuk ke kelasku. Kau jangan kecapean, ya, Al." Clara memegang tangan Allia.


Allia mengangguk patuh.


"Terimakasih," ucap Alvino pada Clara karena dia sudah menjaga dan menemani adiknya selama Alvino tidak ada di samping Allia.


Clara menatap Alvino sebentar, lalu tersenyum. Setelah itu Clara berbalik berjalan ke kelasnya yang letaknya tepat di samping kelas mereka.


Saat mereka masuk, semua menanyakan kabar wanita cantik itu. Karena mereka sudah tahu Allia tidak salah, tapi Geo. Dan dengan tenang Allia hanya menjawab, "Aku baik-baik saja."


Tapi sepertinya ada yang ganjal. Saat Allia duduk di samping Alvino, dia tidak melihat kehadiran Geo di kursi pojok paling belakang. Allia melirik ke samping, di mana kakaknya sedang sibuk menyalin catatan untuk dirinya.


"Kak Al," panggil Allia sambil menyenggol pelan tangan Alvino.


"Kakak sedang menulis, Al," kata Alvino tanpa melihat Allia.


"Di mana Geo?"


"Kenapa kau menanyakan Geo?" tanya Alvino.


"Hah?" bingung Allia menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya.


Apa yang sudah dia katakan barusan? Kenapa dia bertanya seperti itu? Bodoh sekali. Lagi pula, ada ataupun tiadanya Geo tidak ada urusan untuknya. Tapi adanya kehadiran pria itu adalah masalah baginya. Sampai-sampai mulutnya tidak sadar ketika bertanya tentang Geo pada Alvino.


Allia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Alvino.


"Ti-tidak Kak, maksud Al, tadi Clara bertanya di mana Geo. Sudah, lupakan saja, Kak," ujarnya sedikit terbata.


Kemudian dia menghadap ke depan untuk melihat pelajaran sembari merutuki dirinya sendiri. Alvino yang merasa ada yang aneh dengan sikap Allia hanya memperhatikannya saja, sambil menulis sesekali dia melirik Allia yang bicara sendiri.


...*****...


Setelah dari UKS, Geo memilih untuk pergi ke kantin. Kebetulan di sana ada Sheila dan Mona. Baru saja Geo masuk ke area kantin, Sheila sudah memanggil-manggil namanya.


"Geo!"


Dengan terpaksa Geo menghampiri mereka dengan senyum yang dipaksakan.


"Ada apa ini, kenapa dua wanita cantik di hadapanku memanggilku?" ucap Geo membuat Sheila dan Mona semakin menjadi.


"Jadi gini, tadi Mona sudah membeli dua tiket nonton bioskop. Tapi aku tidak bisa hari ini, Daddy akan mengajakku jalan-jalan. Dan Mona malah memaksaku nonton bersamanya. Dasar Mona bodoh!" ujar Sheila sembari bergelayut manja di tangan Geo.

__ADS_1


"Kau baru mengatakannya Shei, kalau aku tahu kau akan pergi jalan-jalan bersama Daddy-mu, aku tidak akan membeli tiket ini," kata Mona tidak mau kalah.


Oh ayolah, sekarang Geo harus memikirkan jalan ke luarnya agar mereka tidak bertengkar.


"Kau juga baru mengatakannya kepadaku, bodoh!" kesal Sheila.


"Itu karena aku tidak tahu jika kau akan pergi hari ini, Shei."


"Berhenti bertengkar!" ucap Geo keras membuat kedua wanita di sampingnya terkejut.


"Sekarang apa masalahnya?" lanjutnya bertanya.


"Sheila tidak mau menemaniku nonton," jawab Mona.


"Aku akan pergi bersama Daddy-ku!" sahut Sheila.


Geo memperhatikan Sheila dan Mona dengan dahi berkerut, memikirkan apa jawabannya. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa kau, Mona, tidak ikut saja bersama Sheila dan Daddy-nya?"


"Ya, aku mau! Bagaimana, Shei?" seru Mona.


"Apa yang kau katakan? Nanti yang ada dia akan mengganggu waktuku. Aku tidak mau," ucap Sheila membuat Mona murung.


"Bukankah dia sahabatmu?" tanya Geo.


Sheila berdecak. "Baiklah, baiklah! Kau boleh ikut bersamaku nanti."


"Tapi dengan syarat jangan minta uang jajan padaku ataupun Daddy, mengerti?" tambahnya.


Dengan semangat Mona mengangguk.


"Jika kita tidak jadi nonton, tiketnya bagaimana?" bingung Mona.


"Kau kembalikan saja tiketnya dan ambil kembali uangmu," ucap Sheila asal.


"Ide yang bagus!" Mona hendak berdiri tapi ditahan oleh Geo.


"Kau mau ke mana?" tanya Geo.


"Mengembalikan tiket—"


"Dasar bodoh," umpat Geo pelan. "Berikan tiketnya padaku."


"Untuk apa?" tanya Mona namun tetap memberikan kedua tiket itu pada Geo.


"Bukankah kau akan menikmati hari yang indah ini bersama sahabatmu. Jadi, aku akan menyimpan tiketmu. Bagaimana?"


"Ya, Geo kau baik sekali! Terimakasih!"


Astaga! Kenapa dia malah berterimakasih? Padahal tiketnya sudah aku ambil.


Geo tersenyum. Dalam hati dia bingung, antara harus merasa kesal dengan mereka atau tetap menahan emosinya.


...•••...

__ADS_1


...Alhamdulillah up, minta doanya ya. Lagi banyak masalah yang menimpa, ditambah belum sembuh. Dukung aku terus🥰...


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2