
...Happy reading ♡...
...*****...
Allia meminta untuk pulang dari rumah sakit. Alvino berbicara kepada dokter untuk meminta izin. Akhirnya dokter memperbolehkan Allia pulang dengan memberikan syarat tertentu dan Alvino menyetujuinya. Sekarang mereka berada di parkiran motor rumah sakit.
Alvino menatap Allia yang sedang bicara pada Geo dengan mengatasnamakan dirinya. Sedari tadi Allia tidak mau lepas dari Geo. Bahkan Clara saja tidak berani untuk bicara. Alvino berusaha mengontrol dirinya sendiri mengingat Allia sedang sakit.
"Kak Al, apa aku boleh pulang bersama Dev?" tanya Allia.
Geo melirik Alvino yang menatapnya tanpa ekspresi. Geo menatap Allia lalu menggeleng.
"Tidak," tolak Geo.
"Kenapa tidak boleh? Dev kan pacar Al. Ayolah Kak Al." Allia memegang tangan Geo.
Geo melihat Devan sekilas. "Dev pacarmu tapi aku adalah kakakmu."
"Al mau pulang bersama Dev!" seru Allia kemudian meringis merasakan pusing di kepalanya.
Dengan cepat Alvino menghampiri Allia dan menahan tubuh Allia.
"Hati-hati Al," ucap Alvino.
Allia menatap Alvino sebentar lalu menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!"
Alvino terdiam. Dia lupa sekarang Allia menganggap Alvino adalah Geo dan Geo adalah dirinya. Semua orang yang melihat itu ikut terdiam.
Allia menatap Geo dengan tatapan yang sulit diartikan.
Geo mengalihkan pandangannya tidak bisa menatap mata Allia karena tubuhnya kembali merasakan sesuatu yang aneh.
"Baiklah," ucap Geo menyerah membuat mata Allia berbinar.
"Terimakasih Kak Al!" Allia menghampiri Devan yang sedari tadi menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun.
Alvino menatap Geo tajam. "Kenapa kau menyetujuinya?"
"Maafkan aku. Tapi apa kau tahu? Aku tidak bisa menjadi dirimu." Geo memelas.
Alvino membenarkan ucapan Geo. Bagaimana Geo bisa menjadi dirinya? Sikap mereka sangat berbeda dan berlawanan.
Clara mengusap tangan Geo. "Allia sedang lupa ingatan, kau ingat?"
Geo mengangguk. "Tapi berapa lama lagi?"
"Kak Geo tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kita harus membantu Allia agar kembali pulih dan Allia akan mengingat semuanya dengan baik." Clara tersenyum.
Semoga itu cepat terjadi. Batin Alvino.
"Antarkan aku pulang, kau mau kan Dev?" tanya Allia.
Devan terdiam sejenak berpikir kemudian mengangguk membuat Allia tersenyum.
Allia segera naik ke motor Devan. Namun Allia sedikit kesusahan membuat Devan mengulurkan tangannya untuk membantunya. Allia menerimanya dan duduk di belakang Devan.
"Sudah," ucap Allia.
Devan menyalakan motor motornya. Devan menghidupkan mesinnya dan tidak lupa untuk memakai helmnya. Motor Devan berhenti di depan motor Geo dan Alvino.
Allia yang melihat Clara diboncengi oleh Geo mengernyit. Sedangkan Alvino sendiri.
"Kak Al pulang bersama Clara?" tanya Allia pada Geo.
Geo menoleh pada Clara. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. Mereka melupakan kebiasaan mereka saat ini.
Clara segera berpikir untuk mencari alasan.
"Motor Kak Geo sedikit bermasalah, karena itu aku ikut dengan Alvino." Clara tersenyum agar Allia percaya kepadanya.
Allia melirik Alvino yang diam.
"Baiklah, ayo kita pulang."
...*****...
Di perjalanan pulang Devan masih diam. Allia pun demikian. Allia melihat pepohonan di pinggir jalan saat melewati jalan itu. Motor Geo berada di depan mereka, sedangkan Alvino ada di belakang mereka.
"Dev pelan sedikit, kepalaku masih pusing."
Devan tidak menjawabnya namun dia menurut untuk memelankan laju kendaraannya. Devan melirik Allia dari kaca spionnya. Kemudian badan Devan menegang saat merasakan Allia menaruh kepalanya di bahunya.
Devan menelan air ludahnya sendiri mencoba untuk tetap tenang. Devan kembali menatap Allia, Allia sedang memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya yang cantik. Devan mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada jalanan.
...*****...
Sejak Allia pulang dari rumah sakit, Alvino jadi lebih banyak diam. Clara melihat itu dengan tidak tega. Geo pun sama, dia tidak tahu harus bagaimana agar Allia ingat semuanya dengan baik seperti semula.
__ADS_1
Sekarang Alvino berada di ruang tengah. Alvino duduk dengan tatapan kosong sembari menunggu Allia ke luar dari kamarnya sampai tidak sadar jika ada yang datang dan duduk bersamanya.
Alvino memikirkan kejadian tadi saat pulang dari rumah sakit. Allia begitu dekat dengan Geo. Itu sangat menyakitkan untuknya. Melihat adiknya dekat dengan orang lain, apa lagi orang itua adalah Geo. Dan yang lebih parahnya adalah Devan. Laki-laki dingin yang sudah membantunya untuk memenangkan pertandingan. Tapi kenapa Allia bisa berpikir jika Devan adalah pacarnya? Apakah sebelumnya mereka pernah dekat tanpa sepengetahuan Alvino?
Geo mengambil remote dan menyalakan televisi di depannya. Geo melirik Alvino yang melamun. Nampaknya Alvino terlalu memikirkan Allia.
"Apa kau memikirkan adikmu?" tanya Geo tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi.
Alvino menoleh dan terlihat terkejut saat melihat Geo di sampingnya. Alvino mengalihkan pandangannya menatap televisi tanpa menjawab pertanyaan Geo.
"Jangan lakukan apapun selama kau menjadi diriku di hadapan Allia," ujar Alvino dengan dingin.
"Tergantung." Geo berujar santai.
Alvino menoleh dan menatap tajam Geo. "Apa maksud ucapanmu?"
Geo terkekeh melihat reaksi Alvino. "Santai saja, aku hanya bercanda. Tapi aku akui menjadi dirimu memang sulit. Allia sangat manja dan ...," jeda Geo pada ucapannya saat melihat Alvino yang menatapnya tidak bersahabat.
"Baiklah-baiklah, aku mengerti," lanjut Geo.
Tatapan mereka teralihkan dengan datangnya Clara yang baru saja ke luar dari kamar Allia.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alvino menegakkan tubuhnya.
Clara menghentikan langkahnya dan melihat Alvino.
"Allia baik-baik saja, dia sudah makan obatnya juga," jawab Clara.
Alvino mengangguk.
"Tapi dia menyuruh Kak Geo untuk datang ke kamarnya," ujar Clara membuat Geo menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Untuk apa?" tanya Geo.
"Dia akan tidur jika aku menemaninya."
Baik Geo maupun Clara sama-sama menatap Alvino dengan kasihan. Alvino terlihat sangat menyayangi Allia sampai tahu kebiasaan Allia dan semua tentang Allia.
Alvino menatap Geo. "Kau datanglah ke kamar Allia."
Mata Geo membulat. "Apa kau tidak waras?"
Kenapa ada seorang kakak yang akan membiarkan kamar adiknya didatangi oleh laki-laki. Meski Geo sering menjahili Allia dan membuat Allia marah, tapi Geo tahu kesopanan dan etikanya yang harus dipakai. Geo tidak mungkin berani memasuki kamar seorang wanita malam-malam dengan seorang diri.
"Aku akan ikut denganmu," lanjut Alvino membuat Geo membuang napas panjang.
"Kita makan malam dulu, setelah itu kalian boleh menemui Allia."
"Kau yang memasak?" tanya Geo mengernyitkan dahinya karena setahunya Clara tidak bisa memasak.
Clara mengangguk ragu.
"Aku sudah membuat spaghetti. Aku hanya membuat apa yang aku bisa karena aku tidak bisa memasak makanan lainnya seperti Allia "
Clara menatap Alvino. "Tapi kalau kau tidak mau memakannya tidak apa-apa."
Alvino terdiam sebentar. "Aku akan mencobanya."
Clara tersenyum mendengarnya. "Ayo, lebih baik kita makan malam sekarang."
Geo mematikan televisinya. Mereka bertiga memasuki dapur untuk makan malam bersama. Dapur yang cukup besar tidak membuat Clara kesusahan saat memasak makanannya. Masakan Clara sudah berada di tengah-tengah meja makan.
Clara menggigit bibir bawahnya saat melihat Alvino memasukkan suapan pertamanya. Clara takut Alvino tidak menyukai masakannya dan memuntahkannya. Itu akan mempermalukan dirinya sebagai seorang perempuan.
Alvino menatap Clara sembari mengunyah makanannya.
"Enak," ujar Alvino singkat dan meneruskan makannya.
Clara tersenyum bangga. Setidaknya makanannya hari ini sudah menyelamatkannya dari rasa malu.
Geo yang mendengar itu langsung memakannya dan ternyata rasanya lumayan enak. Sedari tadi Geo menunggu reaksi Alvino terhadap makanan yang dibuat oleh Clara. Geo takut dirinya keracunan setelah memakan masakan Clara. Geo memang tidak percaya masalah dapur pada Clara.
"Benar, rasanya enak. Sejak kapan belajar membuat ini Cla?" tanya Geo sembari makan.
"Tempo hari aku pernah melihat Allia memasak ini dan aku melihat caranya," jawab Clara jujur.
"Kau tahu? Tadi aku merasa takut untuk memakan ini," ucap Geo.
"Kenapa begitu?" tanya Clara.
"Aku takut keracunan," ucap Geo kemudian tertawa melihat wajah Clara yang cemberut.
Tidak lama kemudian Geo tersedak. Melihat itu Clara tersenyum karena Geo sudah mendapatkan balasannya. Geo mengambil minum dan meneguknya sampai habis.
Alvino hanya memperhatikan Geo dan Clara sambil makan dengan diam. Melihat kebersamaan mereka membuatnya ingat pada Allia. Alvino buru-buru menghabiskan makanannya agar segera menemui Allia.
Mereka melanjutkan makan malam sampai habis. Clara membereskan piring kotor bekasnya juga Geo. Kemudian dia melihat Alvino yang ingin membersihkan piring makannya.
"Tunggu, biar aku yang membersihkannya."
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa melakukannya," tolak Alvino.
"Biar aku saja, kau dan Kak Geo pergilah ke kamar Allia, dia sedang menunggu kalian."
"Baiklah," ucap Alvino. "Terimakasih."
Clara mengangguk.
...*****...
"Kak Al kenapa baru datang?" tanya Allia pada Geo yang memasuki kamarnya.
"Kita baru saja makan malam," jawab Geo.
Allia mengangguk kemudian mengernyit melihat kedatangan Alvino ke dalam kamarnya.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Allia bangkit dan duduk di kasurnya.
"Aku hanya ingin duduk di sini," sahut Alvino mendudukkan dirinya di kursi.
"Kak Al lihat dia, cepat suruh dia pergi dari sini," pinta Allia.
"Sudah, biarkan saja dia ada di sini. Lagi pula kau tidak akan kesepian kan kalau ada dia di sini?" ujar Geo.
"Kenapa Kak Al ingin Geo ada di sini?" tanya Allia heran.
Geo mengatupkan bibirnya bingung harus menjawab apa. Geo melirik Alvino sebentar sembari mengkode lewat alisnya yang di naik turunkan.
"Sudah malam, cepat tidur Al," ucap Alvino mengalihkan pembicaraan.
Allia menatap Alvino. "Kenapa kau sendiri malah berada di kamarku? Cepat ke luar!" usir Allia
Karena kau tidak bisa tidur tanpaku Al.
"Kau tenang saja Al, ada kakakmu di sini. Anggap saja dia tidak berada di sini. Sekarang tidurlah," ucap Geo.
Allia menepuk-nepuk tempat sebelahnya yang kosong.
"Kak Al sini, tidur bersamaku," pinta Allia.
Geo membulatkan matanya mendengar permintaan konyol Allia. Geo menggelengkan kepalanya.
"Aku ada di sini, kau tidur saja."
Allia mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
Ah, bagaimana ini. Geo melirik Alvino yang diam saja. Apa Alvino memperbolehkannya atau tidak? Geo sangat bingung.
"Kak Al cepat ke sini, Al ngantuk."
"Baiklah." Setelah mendapat anggukan kepala dari Alvino, Geo mendekati Allia dan duduk di tepi ranjang besar Allia.
"Sudah, cepat tidur."
Hal tidak terduga justru dilakukan oleh Allia. Allia mendekati Geo dan memeluk sebelah tanganya dari samping.
"Kak Al, kenapa Geo terus menatap kita seperti itu?" bisik Allia pada Geo.
"Tidak apa-apa. Sekarang kau tidur, ini sudah malam!"
Allia mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Merasa ada yang kurang, Allia mengambil tangan Geo yang satunya lagi dan menyuruhnya mengusap-usap kepalanya dan itu membuat Allia tertidur dengan cepat.
Alvino berjalan mendekati mereka membuat Geo menyudahi gerakan tangannya yang mengusap-usap kepala Allia. Geo mencoba melepaskan tangannya dari Allia dengan hati-hati. Namun, rupanya Allia sulit untuk melepaskan tangan Geo. Dengan bantuan dari Alvino, Geo bisa bernapas dengan lega.
"Terimakasih," ucap Alvino.
Geo mengangguk.
"Apa kau bisa melakukan ini setiap malam?" tanya Alvino membuat Geo menatapnya dengan tidak mengerti.
"Aku tahu ini tidak benar dan aku akan menyusahkan kalian. Tapi aku mohon, sampai Allia kembali mengingat semuanya."
"Baiklah," ucap Geo. "Boleh aku pergi?"
Alvino mengangguk.
Geo berjalan ke arah pintu, namun dia tidak benar-benar pergi dari sana. Dia melihat apa yang Alvino lakukan pada Allia.
"Aku harap kau cepat kembali Al. Ini sangat menyiksaku. Kau tahu kan Al? Aku tidak bisa jauh darimu."
"Semoga kau cepat mengingat semuanya lagi Al." Alvino mencium kening Allia cukup lama.
"Selamat malam Al," bisik Alvino di telinga Allia.
Melihat Alvino bangkit, dengan cepat Geo pergi dari sana dan pergi ke kamarnya.
...•••...
...Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...
__ADS_1