Couple AL

Couple AL
Menunggu


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Allia sangat senang, kedua kakaknya sudah memaafkannya. Satu lagi yang Allia hampir lupakan. Dia harus memberikan jam tangan untuk kakek, tapi kakek belum juga pulang sampai saat ini padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.00 di mana biasanya mereka sudah duduk di meja makan untuk menikmati makan malam sebelum tidur.


Allia mencoba menghubungi nomor kakeknya tapi tidak aktif. Allia memutuskan turun ke bawah untuk bertanya kepada bibinya siapa tahu Allia mendapatkan suatu informasi tentang kakeknya. Saat menuruni tangga, kebetulan Allia melihat Tante Liza di dapur bersama Bibi Yana. Allia segera menghampiri bibinya itu.


"Kakek belum pulang, Tan?" tanya Allia kemudian duduk di kursi yang tersedia di dapur.


"Belum," jawab Tante Liza.


"Kapan kakek pulang? Apa paman tidak menelepon Tante?" tanya Allia lagi.


"Sudah, mereka sedang menuju perjalanan pulang. Kau tidak perlu khawatir, Al."


"Al sudah mencoba menghubungi Kakek tapi ponselnya tidak aktif."


"Kau sudah hubungi pamanmu?" tanya Tante Liza.


"Belum, Al lupa."


"Mungkin Kakeknya mematikan ponselnya agar tidak terganggu saat bertemu dengan temannya." Bibi Liza mencoba menenangkan Allia.


Allia sedikit lega mendengar kakeknya sudah dalam perjalanan pulang.


"Non Al tidak berubah, ya. Dari kecil sampai sekarang jika ditinggal Tuan Glen pasti selalu bertanya kapan pulang," ucap Bibi Yana mengingat memori saat Allia masih kecil yang ditanggapi dengan senyuman dari Tante Liza.


"Iya, nih. Allia dari kecil tidak mau jauh-jauh dari Kakeknya, tapi disuruh tinggal di sini bersama kami tidak mau," ujar Tante Liza.


"Al sama kak Al tidak mau menyusahkan Kakek dan kalian semua. Kami juga ingin belajar hidup mandiri tanpa bergantung pada siapapun," kata Allia dengan sejujurnya.


Tante Liza mendekati Allia, mengelus kepalanya dengan sangat lembut. Dirinya merasa kasian sekali kepada nasib kedua keponakannya. Dengan umurnya yang masih terbilang sangat muda, mereka harus kehilangan kedua orang tua mereka.


"Kita semua adalah keluarga. Kau jangan berbicara seperti itu lagi sayang." Tante Liza memeluk Allia.


Allia mengangguk dalam pelukannya.


Tante Liza tersenyum membuat Allia ikut tersenyum.


"Sekarang tolong panggilkan Tama dan Alvino, kita makan duluan saja. Sepertinya Paman dan Kakeknya masih lama pulangnya."

__ADS_1


"Baiklah."


Allia berjalan menuju tangga kemudian berhenti. Allia terlebih dahulu menutup kedua telinganya dengan tangannya.


"KAK AL, KAK TAMA, CEPAT TURUN, MAKAN MALAM SUDAH SIAP!" teriak Allia dengan lantang.


Tante Liza dan Bibi Yana menutup telinga mereka dan menggelengkan kepalanya karena melihat kebiasaan Allia yang selalu berteriak.


Tama dan Alvino turun dengan cepat secara bersamaan, mereka langsung menjewer telinga Allia masing-masing satu.


"AAAA!" pekik Allia merasakan sakit di kedua telinganya karena dijewer oleh kedua kakaknya.


"Suruh siapa bikin telinga orang sakit karena teriakanmu. Benarkan, Tam?" tanya Alvino.


Tama mengangguk. "Alvino benar, apa kau tidak tahu kami berdua sedang bermain game? Gara-gara teriakanmu itu aku jadi kalah."


"Baiklah, Al minta maaf. Al malas ke atas, ya sudah Al teriak saja biar kalian turun. Dan buktinya kalian langsung turun, hehe. Lepaskan, telinga Al sakit," kata Allia meminta agar mereka segera melepaskan tangannya dari kedua telinganya.


Mereka berdua melepaskan tangannya dari telinga Allia, mereka cubit kedua pipi Allia secara bersamaan kemudian mereka tertawa bersama.


"Al, nanti kita lanjutkan main gamenya, ya." Tama mengajak Alvino untuk bermain game kembali.


"Nanti kau kalah lagi seperti tadi," ujar Alvino dengan sombong.


"Jangan berbicara lagi, apalagi menyalahkan Al." Allia menarik tangan Alvino dan Tama.


"Sekarang kita makan." Allia menggandeng tangan Alvino dan Tama ke meja makan.


...*****...


Makan malam sudah selesai. Mereka sudah memasuki kamarnya masing-masing kecuali couple Al. Allia sedang menunggu kedatangan kakeknya. Alvino sebagai seorang kakak menemani Allia yang menunggu kakeknya sambil menonton televisi. Alvino sudah mengantuk sedari tadi, dia sudah mengajak Allia untuk segera tidur tapi Allia menolak. Dia akan tidur jika prof. Glen dan pamannya sudah pulang ke rumah.


"Kita tidur saja, Kakek dan Paman sebentar lagi juga pulang," ajak Alvino untuk kesekian kalinya.


Allia menggeleng. "Al mau menunggu sampai Kakek pulang. Kalau Kak Al sudah mengantuk, tidur duluan saja."


Alvino menghembuskan nafasnya. "Ya, sudah. Aku akan tetap di sini menemanimu. Sini duduk di samping Kakak, kau pasti mengantuk Al."


Allia duduk di samping Alvino dan menyenderkan kepalanya. Alvino mengusap-usap kepala Allia. Allia yang diperlakukan seperti itu menjadi mengantuk. Tidak terasa, matanya tidak bisa menahan untuk tertutup. Allia pun tertidur dengan posisi duduk menyamping sambil memeluk Alvino yang terus mengusap kepala Allia.


Alvino yang hanya fokus kepada televisi baru tersadar saat menengok ke sampingnya ternyata adiknya itu sudah tertidur. Kasihan sekali Allia sampai menunggu kakeknya pulang. Sebenarnya Alvino juga bingung ke mana kakek dan pamannya pergi sampai belum kembali hingga sekarang.

__ADS_1


"Aku akan memindahkan Allia ke kamarnya."


Alvino mematikan televisi dengan remote control yang berada di genggaman tangannya. Dia menggendong Allia layaknya seorang anak kecil. Badan Allia yang kecil tidak terlalu berat menurut Alvino, hanya saja badan Allia yang tinggi membuat Alvino harus melebarkan tangannya. Alvino menaiki tangga menuju ke kamar Allia. Dia membuka kenop pintu dan membukanya. Alvino merebahkan tubuh Allia dengan hati-hati agar adiknya itu tidak terbangun. Allia sedikit terusik kemudian melanjutkan tidurnya. Alvino melihat sekitar kamar Allia. Dirinya jadi teringat Mamanya.


Alvino menatap Allia yang sedang tertidur. Wajahnya terlihat sangat tenang. Setiap Alvino melihat Allia bayangan kedua orang tuanya selalu muncul. Itu sebabnya Alvino sangat menyayangi Allia. Dia merasa kedua orang tuanya ada bersamanya jika dia sedang bersama Allia.


"Ma, Pa, Al akan selalu menjaga Allia sampai kapanpun. Al akan menjadi seorang kakak yang baik bagi Allia. Al tidak akan membiarkan Allia merasa kesepian karena kehilangan kalian. Al akan menggantikan posisi kalian sebagai orang tua sekaligus seorang Kakak. Al sangat menyayangi kalian dan juga Allia. Al janji, Al akan menemukan siapa pelaku yang sudah merusak mobil kalian sehingga membuat kalian kecelakaan. Al janji itu."


Alvino sangat bersungguh-sungguh mengucapkannya. Dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum dirinya mengetahui siapa yang menjadi pelakunya yang tega melakukan itu kepada kedua orang tuanya.


Alvino mengecup kening Allia, mengusap kepala Allia sekilas sebelum mematikan lampu kamar dan keluar dari kamar Allia.


Saat Alvino ingin memasuki kamarnya, terdengar suara prof. Glen dan paman Bram dari luar. Alvino segera menghampiri mereka.


"Kakek, Paman, kenapa kalian baru pulang?" tanya Alvino.


"Alvino, kenapa kau belum tidur?" tanya Paman Bram.


"Al baru saja memindahkan Allia ke kamarnya, dia tadi menunggu Kakek pulang."


Prof. Glen tersenyum. "Kakek sudah menemui teman kakek, sudah lama kita tidak bertemu. Oh, iya. Besok akan ada tamu, dia cucunya teman Kakek. Dia akan ikut pulang ke rumah kalian. Dia juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengan kalian."


Alvino penasaran dan langsung bertanya, "Siapa dia?"


"Tunggu saja besok," ucap Paman Bram kemudian tersenyum dengan prof. Glen.


Alvino sangat penasaran siapa orang yang akan datang besok.


"Kakek akan melihat Allia."


Prof. Glen berdiri tapi Alvino segera menahannya.


"Tidak, Kek. Kakek baru saja pulang, pasti lelah sekali menempuh perjalanan yang cukup jauh. Lebih baik Kakek dan Paman langsung istirahat, bertemu Allia besok pagi saja, dia juga baru saja tertidur. Al takut dia merasa terganggu kemudian terbangun," jelas Alvino panjang lebar.


"Kau benar. Kalau begitu, Kakek akan bertemu Allia besok saja. Sekarang Kakek akan tidur." Prof. Glen pergi ke kamarnya.


Alvino mengangguk. "Paman, kau juga sebaiknya tidur."


"Paman ingin di sini sebentar. Kau masuk saja ke kamarmu, Al."


"Baiklah," ucap Alvino dan masuk ke kamarnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2