
...Happy reading ♡...
...*****...
Allia mengatur nafasnya yang memburu karena sudah berlari. Semua orang hanya menatap Allia tanpa berbicara.
"Kakek, di rumah ini ada pencuri!"
Semua orang kaget Allia mendadak berbicara seperti itu.
"Pencuri? Apa yang kau katakan, Al?" tanya Alvino.
"Iya, Kak Al. Pencuri itu bersembunyi di gudang, dia tadi mengejar Al karena Al menggigit tangannya."
"Di mana dia sekarang?"
"Itu dia!" tunjuk Allia pada seseorang yang baru datang dengan berlari, "Cepat panggil polisi, Al takut!"
"Sini kau!" ucap orang itu mendekati Allia.
"Lihatlah, dia pencurinya!" Allia heran kenapa semua orang tidak ada yang bertindak, "Kenapa kalian semua diam? Cepat tangkap dia!"
"Apa katamu? Aku seorang pencuri?"
"Iya! Kak Al tolong aku," pinta Allia karena tangannya dicekal oleh pencuri.
"Lepaskan tanganmu dari adikku," ucap Alvino
"Tidak, dia sudah menggigit tanganku dan menuduhku seorang pencuri. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Bertanggung jawab apa maksudmu pencuri?! Lepaskan tanganmu!" Allia menengok ke arah prof. Glen dan menatapnya dengan tatapan memohon, "Kakek ...."
Prof. Glen menggeleng. Dia ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan pencuri! Aku bukan seorang pencuri!"
Allia mendongkak. "Kau bukan pencuri?" cicit Allia.
Orang itu menggeleng. "Bukan, enak saja kau bilang aku pencuri."
"Lalu?"
"Dia cucunya teman Kakek," ucap prof. Glen.
Allia melotot mendengar ucapan Kakeknya. Orang itu melepaskan tangannya dari Allia.
"Ini teman kakek, panggil dia Kakek Roy," tunjuk prof. Glen pada lelaki paruh baya, "Ayo beri salam."
Allia menyalami teman prof. Glen.
"Kau Allia? Cucu perempuan satu-satunya dari Glen temanku?"
Allia mengangguk.
"Semakin cantik saja cucumu, Glen," puji Roy.
"Tentu saja, Allia cantik karena Kakeknya saja tampan seperti ini." Semua orang tertawa mendengar ucapan prof. Glen, kecuali Allia yang hanya tersenyum ramah.
"Ini cucuku, Clara." Roy mengenalkan seorang gadis yang duduk di sebelahnya.
"Hai, aku Clara," ucapnya menyodorkan tangannya pada Allia yang langsung disambut dengan baik oleh Allia.
"Allia." Allia tersenyum pada Clara.
"Dan dia," tunjuk Roy pada lelaki tadi yang Allia sebut seorang pencuri, "Dia cucuku juga. Kenalkan dirimu pada Allia."
Lelaki itu melipat kedua tangannya. Allia tidak berani hanya untuk sekedar melihatnya saja.
__ADS_1
"Namaku Geo, cucu Kakek Roy. Dan aku bukan seorang pencuri, kau ingat itu, Nona Allia." Geo berucap sambil menarik tangan Allia kembali, "Sekarang kau ikut denganku."
"Kau akan membawaku ke mana?" tanya Allia takut.
"Tanganku sakit karena gigitanmu. Kau harus mengobatinya sekarang," ucapnya, "Kakek Glen, boleh aku membawanya untuk mengobati tanganku?"
Prof. Glen melirik Allia yang menggelengkan kepalanya.
Prof. Glen mengangguk memberi Geo izin membuat mata Allia membulat. Alvino ingin bicara segera dipotong oleh Tama yang berada di sebelahnya dengan alasan ada yang harus dibicarakan.
Geo membawa Allia ke dapur. Allia hanya mengikuti langkah Geo karena tangannya ditarik.
"Kenapa Kakek mengizinkannya membawa Allia?" tanya Alvino.
"Allia hanya mengobati tangannya saja karena perbuatannya sendiri, dia harus belajar bertanggung jawab Al," jawab prof. Glen.
"Kakek benar," ucap Tama membenarkan.
"Kau tenang saja Alvino, Cucuku itu tidak akan melakukan sesuatu kepada adikmu," kata Roy.
Clara mengangguk. "Kak Geo orangnya aneh, kelakuannya seperti orang yang tidak normal. Tadi pamitnya pergi mencari toilet kenapa jadi ke gudang?"
Mereka semua tertawa bersama. Alvino sedikit tenang mendengarnya.
"Al, kau bilang tadi, ada yang mau kau bicarakan?" tanya Paman Bram.
"Iya, Paman."
"Soal apa?" tanya Tante Liza.
"Besok Al dan Allia harus pulang."
Semua orang kaget dengan ucapan Alvino barusan. Terutama Tama karena akan jauh dari couple Al yang artinya rumah akan sepi lagi.
"Apa? Kenapa tiba-tiba? Bukannya kau bilang lombanya diadakan dua pekan lagi?" tanya Tama.
"Geo dan Clara?" tanya Taman.
"Mereka akan ikut bersama kalian," ucap prof. Glen.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Tama.
"Bukannya kau akan segera kembali ke Harvard?" ucap Paman Bram.
Tama mengangguk lesu. "Tapi Tama ingin ikut bersama mereka, Pa."
"Bagaimana jika kau mengantar mereka? Kau boleh pulang malam. Tapi ingat, berhati-hatilah," saran Tante Liza.
"Baiklah, Mam. Tama akan mengantar mereka."
"Motorku bagaimana?" tanya Alvino yang teringat dia ke sini membawa motor.
"Biar Geo dan Clara yang membawa motornya," ucap Roy.
Alvino menatap Clara yang kebetulan sedang menatapnya. Clara memalingkan wajahnya dari Alvino saat Alvino menatap balik dirinya.
"Bagaimana, Cla?" tanya Roy yang diangguki oleh Clara menandakan dia setuju dengan keputusan kakeknya.
"Glen, aku ingin bicara denganmu."
"Apa kau ingin mengenang masa lalu?" Prof. Glen tertawa.
Roy ikut tertawa. "Yang benar saja kau ini, Glen."
"Tama dan Alvino ke atas dulu. Al, ayo." Tama hendak berdiri.
"Kalian mau ke mana?" tanya Tante Liza.
__ADS_1
"Mau main game, Ma," jawab Tama, "Sepertinya ini obrolan untuk orang dewasa. Kami tidak mau mengganggu kebersamaan kalian dengan keberadaan anak kecil di sini, hehe."
Mereka terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan bermain game, lebih baik kalian ajak Clara ke luar untuk melihat-lihat rumah ini." Paman Bram berbicara.
"Tapi Pa--" ucap Tama yang terpotong oleh Alvino.
"Baiklah, Paman."
Tama menatap Alvino yang berdiri berjalan mendahului dirinya dan Clara. Tama menatap Clara yang hanya diam.
"Clara, ayo kita ke luar menyusul Alvino." Tama berdiri, berjalan ke luar yang diikuti Clara di belakangnya.
...*****...
Sesampainya di dapur, Allia melepas paksa tangannya dari Geo dan langsung melipat kedua tangannya.
Geo menatap Allia. "Hei, kau. Cepat katakan di mana kotak P3K."
"Cari saja sendiri," ketus Allia tanpa melihat ke arah Geo.
"Cepat ambilkan untukku," suruh Geo.
"Tidak mau."
"Cepat cari atau ...." Geo menggantung ucapannya membuat Allia menengok ke arahnya sambil mengangkat satu alisnya.
"Apa?" tanya Allia karena Geo tidak melanjutkan ucapannya.
Geo berjalan mendekati Allia, membuat Allia harus berjalan mundur.
"Berhenti atau aku akan berteriak memanggil Kakekmu." Allia berujar tanpa berhenti berjalan mundur karena Geo semakin maju mendekatinya.
Allia mulai gelisah karena punggungnya sudah mengenai dinding. "Stop! Baiklah, Akan aku ambilkan kotak obat untukmu." Ucapan Allia menghentikan langkah Geo yang tersenyum kemenangan.
Allia mendelik ke arahnya. Geo duduk di kursi dapur menunggu Allia yang mengambil kotak P3K untuknya.
"Ambil," ucap Allia dengan menyodorkan kotak P3K di tangannya.
"Tidak, kau yang akan mengobati tanganku." Geo berujar santai.
"Kenapa harus aku lagi?!" kesal Allia.
"Karena kau yang menggigit tanganku."
Allia berdecak. Lebay sekali lelaki di hadapannya, hanya digigit saja harus diobati. Sepertinya dia harus berhati-hati dengan Geo.
Geo menggeser kursi yang berada di depannya agar lebih dekat.
"Duduk," suruh Geo, tapi Allia hanya diam membuat Geo harus menarik tangannya untuk duduk di depannya.
Geo menyodorkan tangannya yang sempat digigit Allia kepada pelakunya. Allia meneliti tangan Geo, mencari luka bekas gigitannya. Tapi Allia tidak menemukannya.
"Tidak ada luka di tanganmu."
"Tapi tanganku terasa sakit, cepat kau obati saja."
Allia mendelik. "Dasar menyusahkan."
"Kau bilang sesuatu?"
"Berikan tanganmu." Allia mengobati tangan Geo dengan telaten, walau tidak terdapat luka di sana.
"Sudah selesai." Allia mendongkak melihat Geo yang sedari tadi hanya menatapnya dari dekat selama Allia mengobatinya. Mereka saling menatap dalam diam.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...