Couple AL

Couple AL
Ada Apa Dengan Allia?


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


"Apa maksudmu?" tanya Geo tidak mengerti.


Allia mencoba bangun untuk duduk. Allia memegang kepalanya tiba-tiba rasa pusing menghampirinya. Geo yang melihat itu segera membantu Allia dan membenarkan letak bantal Allia agar lebih tinggi.


Allia menatap Geo dengan lekat. Geo yang ditatap seperti itu menjauhkan wajahnya dari Allia. Allia memejamkan matanya mencoba mengingat siapa orang yang sedang berbicara dengannya. Wajahnya seperti tidak asing lagi di matanya.


"Kak Al?" ucap Allia ketika nama itu tiba-tiba muncul di pikirannya.


"Dia belum kembali. Kau tunggu saja, sebentar lagi mungkin dia datang."


Geo mengernyit ketika melihat perubahan sikap Allia.


"Kau Kak Al, kan?" tanya Allia.


Geo membulatkan matanya. Ada apa dengan Allia? Kenapa wanita itu memanggilnya dengan sebutan yang biasanya dia digunakan untuk Alvino? Oh, Geo mengerti. Sepertinya wanita itu sedang berpura-pura lupa kepadanya dan ingin membuatnya khawatir dengannya. Allia pikir Geo akan percaya begitu saja? Tidak semudah itu, Geo akan mengikuti permainan Allia.


"Ah ya, kau benar. Aku adalah Kak Al, kakakmu. Dan kau adalah adikku." Geo tersenyum ingin melihat apa yang akan lakukan selanjutnya.


"Kak Al, kenapa aku ada di sini?" tanya Allia memperhatikan sekelilingnya.


"Jadi begini adikku, tadi saat pertandingan kepalamu yang cantik itu tercium bola basket kemudian kau pingsan dan aku membawamu ke sini," jawab Geo dengan gayanya. "Apa kepalamu masih tersisa sakit?"


Allia mengangguk.


Geo memperhatikan Allia, kenapa wanita itu terus saja berpura-pura?


Allia memegang tenggorokannya yang terasa kering. Kemudian Allia menerima segelas air yang disodorkan Geo. Geo membantu Allia memegang gelasnya selagi Allia minum. Setelah selesai, Geo menaruh gelasnya kembali.


"Terimakasih Kak Al."


"Apa yang kau katakan? Sudahlah, berhenti berpura-pura. Aku tidak akan percaya kepadamu." Geo berujar dengan nada yang sedikit tinggi.


Allia menatap Geo tidak percaya. Kenapa dia membentaknya? Padahal selama ini kakaknya itu tidak pernah berani membentak padanya dan selalu lembut jika bicara dengannya.


"Kenapa kau diam?" tanya Geo.


Mata Allia mulai berkaca-kaca. "Kak Al."


"Aku Geo dan aku bukanlah kakakmu, kau mengerti? Berhentilah berpura-pura sekarang juga."


"Hei, kenapa kau menangis?"


Geo mulai panik karena melihat air mata mengalir di pipi Allia, dan hidung Allia juga memerah. Geo melirik pintu berharap ada seseorang yang datang. Clara masih belum kembali, kenapa lama sekali? Dan Alvino juga masih belum kembali. Ke mana mereka berdua pergi saat ini? Apa yang harus Geo lakukan? Pikir Geo frustasi.


Geo mendekati Allia yang tangisannya semakin keras.


"Baiklah aku minta maaf, sekarang berhentilah menangis."


Bukannya berhenti, tangisan Allia semakin keras.


"Kak Al jahat!" ucap Allia di tengah tangisannya.


"Sstt. Aku mohon jangan menangis." Geo mencoba menenangkan Allia.


Saat itu juga pintu terbuka memperlihatkan Alvino dan Devan. Mata Alvino membulat kala melihat pemandangan pertama saat memasuki ruangan Allia. Allia menangis? Ini pasti gara-gara Geo. Geo memang tidak bisa dipercaya. Alvino sangat menyesal karena telah mempercayakan Allia pada Geo untuk beberapa menit saja. Alvino berlari ke dekat Allia.


Devan mengerutkan keningnya saat melihat Allia menangis. Kemudian ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Alvino memegang wajah Allia dengan hati-hati.


"Al kau kenapa? Apa kepalamu sakit?" Alvino mencoba untuk memeluk Allia.


Allia melihat Alvino dengan bingung. Allia menepis tangan Alvino dan menjauhkan badannya.


"Lepaskan!" ucap Allia.


Devan dan Geo menatap tidak percaya. Kenapa Allia bersikap seperti itu kepada Alvino?


Alvino menatap Allia lekat.


"Apa yang terjadi padamu, Al?"


Allia tidak menjawab, Allia beralih melihat Geo dengan tatapan sendunya. Geo dengan cepat mengalihkan pandangannya.


Kemudian mata Alvino menuju pada Geo. Dia menghampiri Geo untuk mendapatkan jawabannya.


"Apa yang kau lakukan kepadanya?!" tanya Alvino tersulut emosi.


Geo melirik Allia sebentar lalu menggeleng.


"Aku tidak melakukan apapun," ucap Geo sedikit terbata karena melihat tatapan Alvino yang begitu tajam.


Alvino menarik kerah baju Geo.


"Cepat katakan!"


"Aku tidak tahu, dia sudah seperti itu saat bangun."


Alvino menggertakkan giginya. Geo tidak mau menjawab pertanyaannya dengan benar. Alvino yang marah mengangkat tangannya untuk memukul Geo. Namun gerakannya terhenti saat ada yang mendorong badannya.


"Berhenti!"


"Kenapa kau ingin memukulnya?" Allia menatap tajam Alvino.

__ADS_1


"Al?" Alvino tidak percaya dibuatnya. Kenapa Allia bersikap seperti itu kepadanya?


Allia membalikkan badannya. Dia melihat Geo dari atas sampai bawah memeriksa keadaan laki-laki itu.


"Apa kau baik-baik saja, Kak Al?" tanya Allia pada Geo.


Geo membulatkan matanya. Kenapa Allia masih saja belum berhenti berpura-pura? Apa wanita itu sudah tidak waras? Padahal Alvino ada di hadapannya.


"Kak Al?" ulang Alvino.


Devan mengangkat satu alisnya.


"Kak Al?" bisik Devan pelan.


Rasanya Geo ingin pingsan saja saat ini. Dia tidak mengerti kenapa Allia harus bersikap seperti itu kepadanya. Apa wanita itu sedang membalas dendam kepadanya? Ini sangat menyiksa untuknya. Dia jadi harus menghadapi Alvino.


"Apa kau bilang tadi? Kak Al?" tanya Alvino memastikan pendengarannya.


Allia kembali membalikkan badannya dan menatap Alvino tajam. Allia mengusap air matanya yang ada di pipinya.


"Dengar, jangan berbuat apapun pada kakakku atau kau akan berhadapan denganku. Sekarang pergilah dari sini!" ucap Allia menunjuk ke arah pintu.


"Apa yang kau katakan Al? Aku kakakmu, bukan dia." Alvino meraih tangan Allia namun Allia langsung menepisnya.


"Aku Alvino, Al. Kakakmu."


"Pergi!"


Allia berbalik dan memeluk Geo.


"Kak Al suruh dia agar pergi dari sini."


"Bagaimana bisa? Dia benar, dia adalah kakakmu. Bukan aku." Geo mencoba melepaskan pelukan Allia.


Allia menggeleng.


"Tidak, kau adalah Kak Al!"


"Aku kakakmu Al. Aku Kak Al!" ucap Alvino dengan sedikit keras.


Rasa pusing kembali menghampirinya. Allia memegang kepalanya. Dengan refleks Geo memegang tangan Allia agar Allia tidak terjatuh


Alvino yang panik langsung mendekati Allia untuk membantunya. Alvino menghela napas saat Allia menolak bantuan darinya.


Geo membantu Allia untuk kembali ke kasurnya. Devan mendekati Alvino yang menatap Allia.


"Biarkan dia tenang," ucap Devan.


Alvino menatap Allia lurus. Devan yang melihat itu mengerti. Alvino pasti sangat ingin berada di dekat Allia.


"Aku akan memanggil Dokter."


"Kau di sini, Dev?" ucap Allia.


Devan menoleh dan menatap Allia.


Alvino mengernyit heran. Kenapa Allia bersikap biasa saja pada Devan? Bahkan sekarang Allia sedang tersenyum ketika melihat Devan.


Allia mengangkat tangannya memberi kode pada Devan agar mendekat.


"Aku?" ucap Devan.


Allia mengangguk dengan senyumnya.


Perlahan Devan mendekati Allia. Dia berdiri tepat di samping Allia. Devan melirik Geo sekilas. Sekarang Allia berada di tengah-tengah antara Geo dan Devan.


Allia menoleh pada Geo.


"Kak Al, aku akan memberi tahukan sesuatu."


Geo mengangkat satu alisnya. Apa lagi yang ingin Allia katakan?


"Dia Devan, pacar Al."


Semua yang berada di ruangan itu seketika terdiam, terkejut mendengar perkataan Allia. Devan sendiri terkejut saat Allia bicara dengan tiba-tiba seperti itu.


Alvino menatap Allia dan Devan tidak percaya. Apa lagi yang katakan barusan? Devan adalah pacarnya? Sebenarnya apa yang terjadi pada Allia? Sikapnya sangat berbeda hari ini.


Entah kenapa saat Allia mengatakan itu, Geo tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya yang seperti tidak terima. Sejak kapan? Pikir Geo.


"Benarkan Dev?" Allia menatap Devan.


Devan diam membuat Allia cemberut.


"Kenapa kau diam Dev? Cepat katakan pada Kak Al."


Devan melirik Alvino. Devan melihat Alvino mengangguk. Devan kembali menatap Allia yang menunggu jawabannya.


"Apa kau sedang marah kepadaku Dev?"


Devan menggeleng pelan.


"Baiklah, cepat katakan pada Kak Al kalau kau adalah pacarku." Allia melipat kedua tangannya di depan dada menunggu Devan.


Devan mengalihkan pandangannya pada Geo yang sedang menatapnya.


"Iya."

__ADS_1


Allia menatap Devan tidak percaya. Kenapa Devan hanya mengatakan satu kata saja?


"Iya apa? Katakan dengan benar Dev," rengek Allia dengan lucu.


Devan menggigit bibir bawahnya. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh saat dia ingin bicara.


"Allia adalah pacarku," ucap Devan dengan cepat.


Allia tersenyum. Allia mengalihkan pandangannya pada Geo yang terdiam dengan menatap Devan. Kemudian tatapannya kembali melihat Alvino yang menatapnya.


"Kak Al, kenapa dia belum pergi?" tanya Allia pada Geo.


"Dia adalah kakakmu, kenapa kau ingin dia pergi?" tanya Geo tidak habis pikir dengan sikap Allia sedari tadi.


"Kak Al kenapa kau berkata seperti itu padaku? Apa kau sudah tidak menyayangi aku lagi?"


Alvino terenyuh saat mendengar Allia mengatakan itu.


Aku sangat menyayangimu Al. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Batin Alvino.


Alvino menatap tajam Geo agar Geo menjawab pertanyaan Allia dengan benar.


"Ah, maksudku adalah aku sangat menyayangimu Al," ucap Geo sembari menunjukkan senyumnya.


Allia kembali memeluk Geo. Alvino yang melihat itu ingin segera menjauhkan Geo dari Allia. Tapi, Alvino tidak ingin gegabah dan malah membuat Allia tidak nyaman karena kehadirannya. Alvino mencoba mengontrol dirinya dengan tetap diam.


Tidak lama pintu terbuka menampakkan dokter dan Clara dengan membawa satu keresek makanan. Mereka mendekati Allia. Mereka masuk ke dalam, Clara menaruh makanannya di meja. Clara dibuat terkejut saat melihat Allia sedang memeluk Geo.


Devan dan Geo segera mundur agar dokter bisa memeriksa Allia.


"Bagaimana keadaanmu Allia?" Dokter tersenyum pada Allia.


"Baik," jawab Allia.


"Ayo tidur, aku akan memeriksa keadaanmu." Dokter membantu Allia agar berbaring.


Kemudian dokter mulai memeriksa keadaan Allia.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Alvino melihat raut wajah Dokter.


Dokter menoleh pada Alvino.


"Kau tahu siapa kakakmu?" tanya Dokter pada Allia.


Allia mengangguk kemudian tangannya menunjuk pada Geo.


"Kau ingat siapa dia?" tanya Dokter menunjuk Alvino.


Allia menatap Alvino dengan tajam. "Dia Geo."


Alvino menggeleng. Ingin sekali dia memeluk Allia saat ini juga.


Aku Alvino, kakakmu Al.


"Dia siapa?" tanya Dokter lagi.


Allia diam sebentar untuk berpikir kemudian menjawab, "Clara?"


Clara mengangguk lalu tersenyum pada Allia. Allia membalas senyuman Clara.


"Kalau dia? Apa kau mengingatnya?" tanya Dokter sekali lagi.


Allia mengangguk. "Tentu saja. Dia Devan, pacarku."


Dokter menatap Alvino. "Kau ikutlah denganku."


...*****...


"Apa yang terjadi sebenarnya, Dokter? Kenapa Allia bersikap berbeda dari biasanya?" tanya Alvino.


Dokter menghembuskan napasnya. "Sepertinya dia amnesia."


Sekarang mereka sedang berada di ruangan dokter untuk membicarakan tentang masalah Allia.


"Amnesia?" ulang Alvino.


Dokter mengangguk. "Kepalanya cedera karena bola itu dan ingatannya mengalami kerusakan. Apa yang dia lihat saat ini adalah benar menurutnya. Apa dia pernah mengalami trauma?"


Alvino mengangguk. Alvino sangat ingat Allia pernah mengalami trauma saat mengetahui orang tua mereka kecelakaan dan meninggal dunia.


"Kau tidak perlu khawatir, ingatan adikmu akan pulih karena ini hanya untuk sementara waktu saja dan tidak terlalu serius."


"Ingat, jangan memaksanya untuk mengingat semuanya. Kepalanya akan mengalami gangguan dan kemungkinan dia akan stress."


"Kau harus selalu berada di dekatnya agar Allia mengingat dengan perlahan. Ingatannya akan kembali dengan seiring waktu."


Alvino mengangguk pelan. Dia harus membuat Allia mengingatnya kembali siapa dia yang sebenarnya.


"Terimakasih, Dokter."


Dokter membalas dengan senyumannya.


...•••...


Hargai karya seseorang dengan hal terkecil.


Tinggalkan Like dan jejaknya di kolom komentar 🤍

__ADS_1


Yuk ramein, biar aku langsung up part selanjutnya!


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2