
...Happy reading ♡...
...*****...
Pertandingan dimenangkan oleh tim basket SMA Bima Sakti. Poin yang didapat oleh SMA Bima Sakti sangat jauh dengan SMA Galaksi. Devan tidak membiarkan bola basket lepas dari kendalinya saat pertandingan berlangsung. Devan juga berkerja sama dengan baik dengan tim basketnya Dan itu membuat mereka memenangkan pertandingan ini.
Dimas sangat kewalahan menghadapi permainan Devan. Ditambah lagi luka yang diberikan oleh Alvino masih bisa dia rasakan rasa sakit dan perih di tubuhnya. Dimas memang egois. Dia tidak membiarkan ada yang mengganti posisinya padahal kondisinya sedang tidak baik. Dia tidak percaya pada siapapun. Dimas merasa dirinya yang paling hebat dari anggotanya.
Rifki, Reno serta anggota basket yang lainnya menggendong Devan di pundak mereka saking senangnya. Para pendukung Devan bersorak gembira sampai banyak yang berjoget absurd mengikuti alunan musik yang menggema di lapangan. Para guru juga ikut serta dalam memeriahkan kemenangan sekolah mereka. Sheila dan Mona berjingkrak-jingkrak sambil berteriak senang akibat kemenangan yang mereka dapat.
Devan tersenyum kecil merasa puas dengan kemenangan yang dia dapatkan. Devan melirik Dimas dan timnya yang sedang menahan malu akibat kekalahannya. Devan melihat Dimas sedang memarahi timnya dengan caciannya. Kemudian Dimas membalas tatapan Devan dengan tajam.
Devan mengangkat satu alisnya dan itu membuat Dimas naik pitam karena Devan seolah menantang dirinya.
Dia melihat Dimas menghampiri dirinya dan melayangkan satu pukulan di pipinya dengan tiba-tiba. Semua orang yang melihat adegan itu langsung memisahkan Dimas dan Devan saat dilihatnya Dimas yang hendak kembali memukul Devan.
"Urusan kita belum selesai!" ucap Dimas sebelum pergi karena tubuhnya dipaksa menjauh dari Devan oleh orang-orang yang menariknya.
Devan menyentuh pipinya yang terasa sedikit ngilu. Pukulan yang dilayangkan Dimas sangat keras sampai terasa pada tulang pipinya.
"Apa kau baik-baik saja Dev?" tanya Rifki.
Devan hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Lalu dia melihat Arka di ujung lapangan yang memberi kode pada dirinya.
"Biar aku panggilkan PMR," ucap Reno. "PMR cepat ke sini!" teriaknya kencang.
Devan mengangkat satu tangannya pertanda jika dia tidak membutuhkan pertolongan. Reno mengernyit tidak mengerti.
"Ada apa Dev?" tanya Reno.
Devan tidak membutuhkan PMR untuk saat ini. Lagi pula itu hanya luka kecil saja menurut Devan. Devan hampir melupakan sesuatu yang penting. Devan berjalan cepat meninggalkan kerumunan orang-orang yang masih merayakan kemenangan sekolah. Devan menghampiri Arka yang masih berdiri menunggunya.
"Kau mau ke mana Dev?" tanya Reno yang tidak digubris Devan.
Rifki menepuk pelan pundak Reno membuat sang empu menengok. "Kau tahu Dev memang seperti itu. Mungkin dia tidak mau diobati," ucap Rifki yang diangguki Reno.
"Yang penting kita sudah menang, dan itu karena bantuan darinya." Reno berujar sembari melihat dua orang PMR yang datang menghampirinya.
"Kalian pergi saja, orangnya sudah pergi," kata Rifki pada dua orang itu.
Mereka melirik Reno secara bersamaan. Reno langsung mengangkat dua jarinya yang membentuk sebuah huruf V dengan senyuman lebarnya.
"Kalian obati aku saja," ucap Reno membuat Rifki menatapnya dari bawah ke atas.
"Kau sakit?" tanya Rifki heran karena Reno tidak terlihat sakit.
"Hatiku, biar mereka mengobati hatiku saja. Kalian mau?" Reno menaik-turunkan alisnya membuat dua orang di hadapannya salah tingkah dan tersenyum malu.
Dengan refleks Rifki melayangkan pukulan pelan pada kepala Reno. Reno tertawa keras melihat ekspresi Rifki yang membuatnya tidak bisa menghentikan tawanya.
"Kalian pergi saja," ucap Rifki.
Dua orang PMR itu mengangguk dan segera meninggalkan mereka.
"Hei, kalian mau pergi ke mana? Cepat obati hatiku!" teriak Reno.
"Sudahlah, aku akan memberi tahu Kapten kita jika tim kita menang."
Reno mengangguk setuju. Alvino, kapten yang sesungguhnya dari timnya itu pasti akan senang jika mendengar kabar ini.
Rifki menjauh dari lapangan yang begitu berisik selagi dia menelepon Alvino. Rifki mencari kontak Alvino yang dia beri nama "Kapten" di ponselnya. Setelah ketemu, dia langsung menyambungkan panggilannya. Setelah tersambung, Rifki terkekeh saat mendengar Alvino bicara dengan sinis. Rifki memberi tahu kabar kemenangannya pada Alvino. Rifki dapat mendengar jika Alvino terkejut. Rifki langsung menceritakan jika itu semua adalah berkat Devan. Saat Rifki memberi saran pada Alvino agar Devan masuk dalam tim basket sekolah, tiba-tiba Alvino memutuskan panggilannya.
__ADS_1
Rifki mengusap dadanya mencoba sabar dengan kelakuan kaptennya. Rifki bertekad untuk memasukkan Devan dalam timnya. Bagaimanapun caranya Rifki akan melakukannya, dia akan memberi tahu Reno agar membantunya untuk menyusun rencana. Tim basket sekolah pasti akan lebih sportif dengan adanya Devan.
Setelah itu Rifki memutuskan untuk kembali ke lapangan melanjutkan merayakan hari kemenangannya.
...*****...
"... Sepertinya Dimas mengincar Allia," ucap Arka di akhir ceritanya.
Devan dan Arka sekarang berada di koridor sekolah. Devan yang awalnya tidak mengerti langsung mengepalkan tangannya dengan napasnya memburu begitu mengetahui kebenarannya jika Dimas yang melemparkan bola basket pada Allia hingga wanita itu pingsan. Pantas saja Alvino memukul Dimas tanpa henti.
"Untung saja kau menang di pertandingan ini Dev. Jadi, Dimas tidak akan berani macam-macam kepada sekolah kita, terutama pada Allia. Apa lagi kalau sudah ada Alvino, mungkin nasibnya akan berakhir seperti tadi."
Arka melihat perubahan sikap Devan. Biasanya Devan akan berdeham atau tidak menyahut sama sekali jika dia bercerita tentang sesuatu. Tapi sekarang, Devan terlihat menahan amarahnya. Apa benar jika Devan menyukai Allia? Pikir Arka.
Arka melirik kepalan tangan Devan.
"Apa kau menyukainya, Dev?"
Devan menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Kau menyukai Allia?" ulang Arka lebih jelas.
Devan diam tanpa menjawab apapun. Namun wajahnya terlihat seperti sedang berpikir. Devan mengalihkan pandangannya dari Arka ke arah lain.
Arka menahan untuk tidak tersenyum. "Aku tahu kau sudah menyukainya Dev. Sejak kapan kau menyukainya? Ayolah ceritakan kepadaku."
"Tidak, aku tidak menyukainya." Devan berujar tanpa mengalihkan pandangannya pada Arka.
"Kau tidak bisa berbohong kepadaku Dev. Aku adalah sahabatmu. Kita sudah sama-sama dari kecil."
Devan menatap Arka. "Sejak kapan kita menjadi sahabat?" ucapnya tajam lalu berlalu dari hadapan Arka.
Arka yang mendengar itu membulatkan matanya. Seolah Devan tidak menganggap kebersamaan mereka selama 17 tahun kebelakang. Devan memang kejam sekali kepadanya. Arka mengikuti Devan dengan langkah cepat.
Tiba-tiba langkah Devan terhenti saat melihat dua orang wanita menghampirinya dengan senyum lebar. Devan mengangkat satu alisnya melihat tampilan mereka berdua yang sudah seperti orang gila di matanya. Seperti biasanya, Devan menatap mereka datar.
"Hai Dev!" ucap Sheila menautkan tangannya pada tangan Devan.
"Selamat atas kemenanganmu! Aku sangat bahagia. Karena berkat kau Dev, sekolah kita menang! Kau juga pasti bahagia kan, Dev?!" seru Sheila melihat raut wajah Devan yang lurus-lurus saja.
"Ya! Kalau tidak ada kau yang menggantikan posisi Alvino, mungkin sekolah kita akan dikalahkan oleh mereka," sahut Mona sembari mengipasi Devan.
Devan menepis tangan Sheila dengan kasar membuat Sheila meringis. Kemudian Devan pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
"Dev kau pergi ke mana!" panggil Sheila.
Arka mundur satu langkah dengan pelan mencoba mengundurkan diri tanpa diketahui oleh mereka. Dia takut bahaya akan memanggilnya sebentar lagi. Arka membalikkan badannya dengan hati-hati agar tidak ketahuan.
Mona menyadari jika ada Arka di belakangnya. Dia langsung memberi tahu Sheila dengan membisikkannya.
"Shei lihat, dia sedang main petak umpet sepertinya. Bagaimana kalau kita ikut main bersamanya?" bisik Mona dengan kepolosannya saat melihat Arka yang melangkah dengan hati-hati.
Mendengar itu Sheila berbalik, dan benar, dia melihat Arka berjalan menjauhinya.
"Bukan bermain petak umpet bodoh! Dia sedang melarikan diri dari kita."
"Bukan petak umpet, ya?" ulang Mona pelan.
Sheila berjalan cepat ke arah Arka yang diikuti oleh Mona di belakangnya. Sheila berhenti tepat di depan Arka dan itu membuat Arka sangat terkejut sampai memegang dadanya.
"Hantu!" teriak Arka menutup matanya saking terkejutnya melihat Sheila.
__ADS_1
Sheila memukul tangan Arka. "Kau bilang apa? Apa kau tidak melihat wajah cantikku? Sheila cantik bukan hantu!"
Mona tertawa mendengarnya. Sheila menatap Mona tajam membuat Mona menutup mulutnya.
"Maaf, aku kira tadi hantu bukan kau," ucap Arka.
Sheila memutar bola matanya. Sheila tidak terima wajah cantiknya dan penampilannya yang elegan disamakan dengan hantu.
"Kau temannya Dev, kan?" tanya Sheila. "Siapa namamu? Aku lupa."
"Arka, Shei," jawab Mona.
"Ya, Arka. Aku ingat sekarang." Sheila menyetujui ucapan Mona.
"Apa kau tahu Dev mau ke mana?" tanya Sheila.
Arka menggeleng. "Tidak."
"Jangan berbohong!" seru Sheila.
"Aku tidak tahu."
"Kenapa kau tidak tahu?" tanya Mona.
"Karena aku memang tidak mengetahuinya."
Mona mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang bodoh.
"Dia tidak mengetahuinya Shei, ayo kita pergi."
"Dasar bodoh!" umpat Sheila melihat kepolosan Mona.
Sheila mulai memarahi Mona karena Mona terlalu polos menjawabnya. Mona yang tidak terima langsung menentangnya jika Arka memang tidak tahu di mana Dev. Mereka mulai adu mulut tanpa menyadari Arka yang mencoba melarikan diri dari mereka. Dan kali ini berhasil, Arka lari dengan cepat dan itu menyadarkan Sheila jika Arka kabur dari mereka.
"Kau lihat? Dia kabur karena kebodohanmu Mona!"
"Kenapa kau terus menyalahkan diriku?" sahut Mona tidak terima.
Mereka kembali beradu mulut, saling menimpali karena salah satu dari mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
...*****...
Devan sudah berada di parkiran sekolah. Dia terdiam sebentar kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Lalu Devan teringat percakapannya dengan Arka saat di koridor.
Apa perkataan Arka benar? Jika dirinya menyukai Allia? Devan tidak tahu itu. Tapi dia merasa nyaman jika di dekat Allia.
Devan tersadar, dia menggeleng pelan kemudian menatap ponselnya. Apa Devan harus menghubungi Allia? Tapi Devan sangat ingin mengetahui keadaan wanita itu saat ini.
Dengan cepat dia mencari kontak Allia di ponselnya dan menghubungkan panggilannya. Panggilannya tersambung namun Allia tidak mengangkatnya. Hal itu membuat Devan merasa khawatir. Devan tidak menyerah, dia menyambungkannya kembali. Setelah agak lama menunggu akhirnya panggilannya tersambung. Devan bernapas lega.
"Al?" panggil Devan namun Allia tidak juga menyahut.
Devan mencoba memanggilnya lagi dan dia mendengar jawaban dari ponsel Allia. Namun yang dia dengar bukan suara Allia, melainkan seorang laki-laki, Geo. Devan tahu jika itu adalah Geo. Geo menjawab jika Allia sedang berada di rumah sakit dan Allia masih belum sadar. Kemudian panggilan itu terputus karena Devan tidak menjawab apapun lagi.
Ada banyak pertanyaan di pikirannya yang salah satunya adalah kenapa harus ada Geo di sana? Dan kenapa Geo yang mengangkat ponsel Allia? Kenapa tidak Alvino saja yang mengangkatnya jika Allia memegang belum sadar?
Devan menaruh kembali ponselnya. Devan mulai melajukan motornya dengan cepat agar cepat sampai ke rumah sakit.
Akhirnya Devan sampai di rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Devan yakin jika Alvino membawa Allia ke sini. Devan masuk ke dalam dengan terburu-buru. Devan bertanya kepada satpam yang sedang berjaga. Dan satpam menjawabnya jika ciri-ciri yang Devan maksudkan memang ada di rumah sakit itu. Setelah berterima kasih, Devan berjalan dengan cepat dan dengan tidak sengaja ada yang menabraknya saat melewati ruang administrasi dan Devan sedikit terkejut saat mengetahui jika ternyata yang menabraknya adalah kakaknya Allia, Alvino.
...•••...
__ADS_1
Aku bakal langsung up part selanjutnya kalau udah diLike & komen. Yuk tinggalin jejaknya yuk 🤍
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...