Couple AL

Couple AL
Canggung


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


"Alvino, tunggu!"


Teriakan Tama menghentikan langkah Alvino. Alvino berbalik melihat ke belakangnya. Ternyata Tama tidak sendiri. Seperti yang telah diperintahkan oleh Paman Bram, Clara ikut di belakangnya.


"Kau main pergi saja tanpa menunggu kita, Al."


Alvino tidak menjawab, dia menatap Clara. Tama mengikuti arah pandangan Alvino yang sedang menatap Clara. Mereka saling diam untuk beberapa saat. Clara yang ditatap oleh mereka merasa tidak nyaman, dia meremas tangannya sendiri. Alvino yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya. Tama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Biar kita temani kau mengelilingi rumah ini." Tama memberanikan diri untuk berbicara.


Clara mengangguk setuju. Dia berjalan di belakang Alvino dan Tama. Rasanya dia sangat menyesal karena ikut dengan mereka. Seharusnya tadi dia menolak ikut bersama mereka dan diam saja bersama kakeknya.


Mereka mengelilingi rumah prof. Glen yang begitu besar. Mereka menunjukkan letak ruangan-ruangan kepada Clara. Clara hanya mengangguk-angguk saja sebagai jawaban. Mereka sampai depan kamar Tama.


"Ini kamarku, itu kamar Alvino, dan di sebelah kamar Alvino itu ada kamar Allia," ucap Tama menunjukkan kamarnya dan couple Al yang letaknya bersebelahan.


Clara mengangguk.


"Kau tidur saja bersama Allia, biar nanti Geo tidur bersama Alvino saja. Iya, kan, Al?"


"Tidak," tolak Alvino.


"Nanti dia akan tinggal di rumahmu, sekarang kalian harus mulai berkenalan satu sama lain," ujar Tama.


"Apa maksudmu?" tanya Alvino yang salah mengerti dengan perkataan Tama.


Tama menggeleng. "Biarkan Geo tidur bersamamu. Jika dia tidak tidur bersamamu, dia mau tidur di mana?"


"Denganmu saja," sahut Clara dengan polosnya.


Alvino tersenyum miring pada Tama. "Kau dengar apa yang dia katakan?"


"Tapi kasurku kecil, tidak akan muat untuk dua orang," kilah Tama.


"Kecil kau bilang?" Alvino membuka pintu kamar Tama, "Sepuluh orang juga bisa tidur di kamarmu ini jika kau tidur dengan benar."


Tama tersenyum lebar mendengarnya. Tama memang tidak bisa diam jika sedang tidur.


"Kak Geo biar tidur denganku saja," putus Clara membuat mereka berdua menengok ke arahnya.


Alvino melotot mendengar ucapan Clara. Apakah itu berarti Geo akan tidur bersama Allia juga? Alvino tidak akan membiarkan sampai itu terjadi.


"Tidak. Kau tidak boleh tidur bersamanya," kata Alvino.


"Kenapa? Dia, kan, tidur bersama kakaknya sendiri," tanya Tama.


"Tidak boleh. Geo tidur di kamarku saja," putus Alvino.


Dari pada membiarkan dia tidur bersama adikku, lebih baik dia tidur di kamarku saja, batin Alvino.


"Tadi bukannya kau yang menolak tidak mau tidur bersama Kakakku," ujar Clara.


"Iya, Al. Kau bilang tidak mau, kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Tama menyetujui ucapan Clara.


"Lupakan."


Tama dan Clara merasa heran dengan sikap Alvino. Alvino sendiri yang bilang tidak mau, dan barusan dia bilang biar Geo tidur di kamarnya. Maksud ucapan Clara tadi adalah, dia dan Geo tidur di kamar yang sama atau jika tidak di ruang tamu pun tidak masalah menurut Clara, toh hanya untuk satu malam saja.

__ADS_1


Alvino teringat Allia. Dia baru menyadari bahwa sedari tadi Allia bersama Geo. Alvino tidak tahu apa saja yang mereka lakukan tanpa sepengetahuannya. Apalagi mereka baru bertemu tadi.


"Kau mau pergi ke mana, Al?" tanya Tama saat melihat Alvino ingin melangkah.


"Allia."


"Kita akan ikut. Cla, ayo."


...*****...


Para orang dewasa masih berbincang ringan dengan diiringi canda tawa di dalamnya. Terutama prof. Glen dan kakek Roy. Mereka membahas soal masa lalu yang pernah mereka lewati saat remaja, sampai mereka masih menjalani pertemanan diusia yang sudah tua.


Paman Bram dan Tante Liza ikut menimpali mereka. Sesekali juga mereka menggoda dua orang yang sedang flashback itu. Setelah itu mereka juga membahas bagaimana couple Al, Tama, Geo, dan juga Clara ke depannya.


...*****...


"Allia?"


"Kak Geo?"


Alvino dan Clara mengucapkannya secara bersamaan ketika melihat pemandangan di hadapannya saat mereka memasuki dapur.


Suara itu menyadarkan kedua orang yang tadinya sedang saling menatap dalam diam. Alvino, Tama, dan Clara. Mereka sampai di dapur langsung menyaksikan Allia dan Geo sedang saling pandang dengan tangan yang seperti sedang berpegangan.


"Sudah saling pandangnya?" ejek Tama.


Allia memalingkan wajahnya dari Geo. Geo yang ikut tersadar mengalihkan pandangannya dari Allia. Allia menghempas tangan Geo membuat sang pemilik mengeluh kesakitan.


"Ashh, apa kau tidak waras?!" desis Geo meringis kesakitan.


Allia tidak menjawab. Dia melihat ke arah pintu dapur ternyata ada Alvino, Tama, dan Clara yang sedang menatapnya dengan tatapan horor. Allia takut terjadi kesalah pahaman diantara mereka. Dia memutuskan untuk bangkit untuk menghampiri Alvino. Tapi tidak bisa, tangannya ditahan oleh Geo.


"Lepaskan tanganmu," suruh Allia.


"Bukan urusanmu. Lepas!" Allia memaksa melepaskan tangan Geo.


Mereka bertiga menghampiri Allia dan Geo.


"Apa yang sudah kalian lakukan di sini?" tanya Alvino dengan tatapan tajamnya yang mengarah kepada Geo.


"Tidak ada," ucap Allia.


"Dia berbohong," ujar Geo.


Allia melotot. Alvino menatap Allia dengan memincingkan matanya.


Allia yang mengerti dengan tatapan Alvino berkata, "Aku hanya mengobati tangannya saja, Kak Al."


Alvino kurang mempercayai ucapan adiknya. Bukannya apa-apa, tapi kenapa saat Alvino masuk mereka saling menatap dan berpegangan tangan? Tapi, dari pada memperpanjang masalah, Alvino mengangguk saja yang membuat Alia bernapas lega.


"Aku rasa kedatangan kita bertiga mengganggu kalian, maaf, ya. Kami jadi merasa tidak enak karena sudah mengganggu kalian dengan kedatangan kami," ucap Tama sembari menahan tawanya.


"Kak Tama!" tegur Allia menekuk kedua tangan di pinggangnya.


"Hahaha ...." Tama tertawa.


...*****...


Malam ini Allia mempunyai teman tidur di kamarnya yang tidak lain adalah Clara. Allia tidak keberatan dengan adanya Clara, justru dia merasa sangat senang karena bisa mempunyai teman wanita.


Kakek Roy sudah pulang saat selesai makan malam. Dia sudah menitipkan kedua cucunya kepada temannya, prof. Glen. Ada alasan yang dimiliki Kakek Roy untuk membiarkan cucu-cucunya itu jauh darinya. Salah satunya agar mereka terlatih untuk hidup mandiri.

__ADS_1


"Clara, jika kau menginginkan sesuatu bilang saja padaku. Mulai sekarang kita berteman, ya?"


Clara tersenyum. "Tentu saja. Terimakasih sudah bersedia menjadi temanku, padahal kita baru bertemu beberapa jam yang lalu."


"Aku akan senang jika kau menjadi satu-satunya temanku."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak mempunyai teman."


Clara terkejut. Bagaimana mungkin gadis secantik seperti Allia tidak memiliki teman.


"Benarkah?"


Allia hanya tersenyum tanpa menjawabnya.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok kita akan pulang ke rumahku," ucap Allia.


"Iya, aku akan tidur sekarang."


Mereka mematikan lampunya dan menggantinya dengan lampu tidur. Akhirnya mereka tertidur dengan posisinya masing-masing. Allia memeluk guling dengan menghadap ke arah Clara, begitu juga dengan sebaliknya.


...*****...


"Untuk apa kau ke sini, Al?" Pertanyaan itu muncul saat Tama melihat Alvino memasuki kamarnya.


"Tidur," jawab Alvino singkat.


"Kenapa tidak di kamarmu saja?"


"Geo," ucap Alvino singkat tapi dapat dimengerti oleh Tama.


"Tapi tadi kau bilang—"


"Dia tidur di kamarku. Bukan tidur bersamaku," potong Alvino.


Tama tertawa. Dia baru menyadari ucapan Alvino.


"Berhenti tertawa, aku ingin tidur," kata Alvino dan menaiki tempat tidurnya Tama.


"Eh, tunggu. Aku tidur di mana jika kau tidur di sana?" tanya Tama


"Luar."


"Tidak mau. Enak saja, ini, kan, kamarku." Tama tidak setuju dengan usul Alvino.


"Kursi."


"Kau saja yang tidur di kursi," sahut Tama.


"Berhenti bicara. Kau mengganggu tidurku." Alvino menutup matanya.


"Baiklah," ucap Tama mengalah dan diam.


Tidak lama Tama kembali bersuara, "Menurutmu, Geo dan Clara itu bagaimana, Al?"


Tidak ada jawaban dari Alvino. Tama melihat ke arahnya, Alvino sudah tertidur dengan menutup kedua telinganya menggunakan bantal. Ingin sekali Tama memukul Alvino.


"Huftt ... Padahal aku ingin sekali membahas tentang mereka, tapi dia malah tidur. Ya, sudahlah, aku tidur saja."


Lain halnya dengan Allia, di tempat lain, Alvino malah pindah ke kamar Tama. Dia membiarkan Geo tidur di kamarnya. Sedangkan dia tidur di kamar Tama.

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...


__ADS_2