
...Happy reading ♡...
...*****...
Sinar matahari pagi menembus jendela menyinari penglihatan Allia yang sedang tertidur pulas. Allia terbangun dan mengucek matanya sebentar, dia duduk dan menatap kosong ke depan. Entah apa yang dia pikirkan.
Prof. Glen masuk ke kamar Allia untuk membangunkannya, tapi ternyata cucunya itu sudah bangun.
"Cucu Kakek baru bangun?" Prof. Glen menghampiri cucunya yang terdiam dengan tatapan kosongnya.
Allia yang sedang melamun terkejut dengan kehadiran kakeknya.
"Kakek!" seru Allia memeluk prof. Glen.
"Masih pagi sudah melamun, cucu Kakek lagi mikirin apa?" tanya prof. Glen.
Allia terdiam sebentar kemudian menggeleng. "Tidak. Al hanya bingung, kenapa Al bisa berada di sini? Seingat Al, kemarin Al sama kak Al sedang menunggu Kakek dan paman pulang."
"Kakakmu yang memindahkan ke kamar ini, dia tidak tega melihat adiknya tertidur karena menunggu Kakek. Maafkan Kakek, ya, karena sudah membuat cucu Kakek yang cantik ini sampai tertidur karena terlalu lama menunggu," ucap prof. Glen.
"Tidak masalah," ucap Allia kemudian mengambil sesuatu di laci yang tidak lain adalah jam tangan.
"Kotak apa itu?" tanya prof. Glen.
"Kakek buka sekarang, Al harap Kakek suka, hehe."
Prof. Glen membuka kotak yang tidak terlalu kecil itu. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan yang sangat indah dengan bahan perak. Motifnya yang tidak terlalu kuno mempercantik jam tangan itu.
"Bagaimana? Kakek suka?"
"Kakek suka apapun yang cucu Kakek berikan." Prof. Glen.
"Biar Allia pakaikan jam tangannya di tangan Kakek."
Allia mengambil jam itu kemudian memakaikannya di tangan prof. Glen. Tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil, sempurna. Jam tangan itu terlihat sangat cocok di tangan prof. Glen.
"Waw! Kakek terlihat semakin tampan dengan jam tangan ini," ucap Allia.
"Kamu ini, ada-ada saja." Prof. Glen dan Allia tertawa bersama.
"Cepat mandi, akan ada yang datang nanti," suruh prof. Glen.
"Siapa?" tanya Allia.
"Teman Kakek yang kemarin Kakek kunjungi, dia akan kemari bersama dengan cucunya."
Allia menggeleng. "Tidak. Al mau di sini saja. Hari ini Al malas ke bawah."
Prof. Glen menautkan kedua alisnya. "Kenapa, Al? Apa kau sedang sakit?"
Allia menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak, hanya malas saja. Mungkin bawaan karena Al sedang datang bulan."
"Kau seperti mamamu, Al. Kakek jadi teringat waktu itu, saat mamamu sedang datang bulan, Mamamu pasti malas seperti dirimu. Kakek menyuruhnya makan saja Mamamu tidak mau, dia bilang malas." Prof. Glen terkekeh.
Allia terdiam, kemudian sedikit tertawa mengikuti kakeknya dengan terpaksa.
"Ya, sudah. Kau di sini saja, Al. Nanti Bi Yana akan mengantarkan sarapan untukmu. Jangan lupa mandi," ucap prof. Glen.
__ADS_1
Allia mengangguk. "Al akan mandi sebentar lagi, kok."
"Kakek akan ke bawah. Terimakasih untuk jam tangannya, Kakek sangat menyukainya."
Allia tersenyum. "Sama-sama, Kek."
Prof. Glen ke luar tidak lupa untuk menutup pintu kamar Allia.
Allia kembali terdiam. Mama. Kata itu membuat dirinya memikirkan kedua orang tuanya kembali. Dia merindukan Mama dan Papanya. Andai dirinya ikut bersama mereka saat itu, mungkin dirinya masih bersama kedua orang tuanya walau tidak di dunia.
"Kenapa Kak Al tidak memberitahuku?" tanya Allia lirih pada dirinya sendiri.
Allia menutup seluruh badannya dengan selimut.
...****...
Alvino sedang meminum coklat panas bersama dengan Tama di ruang tamu. Mereka menunggu prof. Glen yang sedang menemui Allia dan mereka akan turun bersama.
Tante Liza sedang menyiapkan makanan yang ditemani oleh Bi Yana.
"Kakek, Allia mana?" tanya Alvino saat melihat prof. Glen dari arah dapur.
"Adikmu tidak mau turun," jawab prof. Glen.
"Kenapa?" Alvino terheran.
"Malas katanya."
"Al akan menemui Allia sekarang." Alvino berdiri untuk ke kamar Allia.
"Tidak, kau di sini saja. Sebentar lagi akan ada tamu."
"Adikmu sedang datang bulan, kau di sini saja. Apa kau tidak tahu bagaimana jika wanita sedang datang bulan? Nanti dia bisa memarahimu. Kau tenang saja, Kakek sudah menyuruh Bi Yana agar mengantar sarapannya ke atas." terang prof. Glen.
"Biar Al yang mengantar sarapan Allia nanti," ucap Alvino yang diangguki prof. Glen.
"Benarkah?" tanya Tama yang sedari tadi hanya diam.
"Apa?" tanya Alvino.
"Yang tadi Kakek bilang," jelas Tama.
Prof. Glen mengangguk. "Iya, wanita yang sedang datang bulan biasanya lebih sensitif dari biasanya. Mereka bisa tiba-tiba marah tanpa alasan, entahlah, Kakek juga tidak mengerti mengapa mereka seperti itu."
"Al, kau sudah punya pacar?" tanya Tama tiba-tiba.
Alvino mengangkat satu alisnya. "Belum."
"Benarkah?" tanya prof. Glen.
"Kenapa?" tanya Alvino yang tidak suka membahas tentang pacar.
"Aku tidak percaya kau belum mempunyai pacar, apa tidak ada yang mau denganmu? Wajahmu lumayan menurutku," ucap Tama tidak yakin.
"Apa kau menyukaiku?"
Tama memukul kepala Alvino. "Dasar bodoh. Aku bukan menyukaimu. Maksudku, jika aku lihat wajahmu lumayan tampan juga walaupun masih tampan diriku. Apa tidak ada satu wanita pun yang tertarik kepadamu?"
__ADS_1
"Banyak. Hanya saja aku yang tidak tertarik dengan mereka."
"Sombong."
"Itu adalah kenyataannya."
"Jangan bilang kau menyukai sesama jenis? Atau jangan-jangan selama ini kau menyukaiku?!"
Alvino melempar remote control yang berada di depannya kepada Tama. Dan, sasarannya sangat tepat. Remote itu mengenai pipi Tama. Tama mengaduh kesakitan.
"Al," tegur prof. Glen.
"Apa kau tidak waras?!" Tama marah.
"Kau yang tidak waras berkata aku menyukai sesama jenis, apalagi orangnya itu dirimu. Cih," ketus Alvino berdecih.
"Aku hanya mengira saja," kilah Tama.
Alvino ingin menimpali Tama tapi terpotong oleh suara ketukan pintu dari luar. Alvino dan Tama saling menatap satu sama lain.
"Mungkin itu teman kakek, Kakek akan membuka pintunya. Kalian diam di sini dan jangan bertengkar lagi." Prof. Glen berjalan ke arah pintu untuk melihat tamunya.
...*****...
Akhirnya setelah sekian lama Allia tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Alvino mengetuk pintu kamar Allia untuk memberikan sarapan kepada Allia.
"Al, kau masih tidur?" Alvino meletakkan nampan berisi sarapan dan segelas air di meja.
Alvino membuka selimut Allia, dan menepuk-nepuk kedua pipi Allia dengan pelan. Tidur Allia terusik, Allia membuka matanya dan langsung melihat keberadaan Alvino di depannya.
"Al, cepat makan sarapanmu. Kau pasti lapar sedari tadi karena belum makan dari pagi." Alvino mengambil piring untuk menyuapi Allia.
Allia memalingkan tubuhnya ke arah samping tanpa menjawab perkataan Alvino.
"Al?" Alvino menyimpan piringnya di atas meja. "Kau kenapa? Apa kau marah kepadaku?"
"Tidak, aku tidak lapar. Cepat kau ke luar dari kamarku."
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau marah kepadaku? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Diam dan cepat pergi!" bentak Allia.
Alvino mengingat Allia sedang datang bulan, dia memutuskan untuk pergi dari kamar Allia.
"Baiklah, Kakak akan turun sekarang. Jika kau membutuhkanku, panggil saja. Aku mohon jangan marah kepadaku, Al. Jangan lupa makan sarapanmu."
Allia tidak bergeming. Alvino menghela napas dan beranjak dari tempat tidur Allia. Saat Alvino sudah di depan pintu, Allia berbalik dan menahan tangan Alvino.
"Kak Al, jangan pergi," lirih Allia sangat pelan.
Alvino berbalik mendengar permintaan Allia.
"Al, kau kenapa?" panik Alvino melihat air mata mengalir di kedua pipi Allia.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...